Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Orang tua baru


__ADS_3

Sean meletakkan buah hatinya di samping Salwa, membaringkannya agar berada dalam rengkuhan istrinya yang sedari tadi merengek minta dipertemukan dengan anak tampannya. Sementara itu, dirinya duduk di sisi ranjang tepat di bawah kaki bayi mungil itu yang sedang tertidur lelap.


Salwa tersenyum penuh keharuan, melihat bayi mungil berkulit putih bersih yang sedang terlelap nyenyak dalam pembaringannya. Bayi itu terlihat montok dengan berat badan mencapai tiga setengah kilo gram dengan tinggi lima puluh satu senti meter. Pipinya yang tembam membuat Salwa tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium pipi gembulnya itu. Pergerakan Salwa yang sedikit agresif mengusik tidur bayi itu sehingga membuat kedua alisnya berkedut namun kemudian berangsur-angsur normal dan kembali terbuai dalam tidurnya.


"Mas, dia mirip sekali dengan mu." Salwa dan Sean seketika memeperhatikan dengan seksama bayi mungil itu dengan perasaan haru yang sama. Sean mengangguk, mengamini perkataan Salwa. Bayi laki-laki itu sangat mirip dengannya, seolah genetik Sean melekat kuat pada DNA anaknya.


"Itu karena kau sangat merindukanku sewaktu hamil, iya kan?" Sean mengusap kepala Salwa saat mengucapkannya dengan penuh sayang. Kedua orang di depannya itu adalah hartanya yang paling berharga dan tak ternilai ataupun tergantikan dengan segala sesuatu yang ada di dunia ini.


"Iih... terlalu percaya diri." Salwa memutar bola matanya menanggapi perkataan Sean yang selalu over percaya diri, lalu ia kembali memperhatikan bayi mungil kesayangannya itu.


"Apa mas sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya Salwa kemudian.


Sean tersenyum lalu membungkuk menghadiahi sebuah kecupan hangat di dahi Salwa. Alih-alih menjawab pertanyaan Salwa, Sean justru menanyakan hal yang sama kepada istrinya.


"Apa kau mempunyai nama yang bagus untuk anak kita?"


Salwa sedikit terkesiap dengan pertanyaan yang Sean ucapkan, hal itu membuatnya sedikit kikuk dan tercengang, tetapi kemudian Salwa segera mengangguk mengiyakan pertanyaan yang Sean ajukan kepadanya.


"Aku sudah mendapatkan beberapa, tetapi sepertinya .... kau tidak akan menyukainya."


Tentunya nama yang dimaksud Salwa adalah nama yang mudah diucapkan dengan lidah orang Indonesia, bukan nama kebarat-baratan atau kecina-cinaan yang akan membuat lidahnya belibet saat menyebutnya. Dan mungkin Sean akan menolak mentah-mentah nama yang sudah dipersiapkan Salwa untuk anaknya, sehingga Salwa lebih memilih diam dan menyerahkan sepenuhnya perihal pemberian nama anaknya kepada Sean saja.


Sean mengangkat kedua alisnya, dia tidak akan menyukainya? Mengapa Salwa menganggap Sean tidak akan menyukainya, padahal ia belum sempat mengutarakan apa nama yang dipilihkan untuk anaknya.


"Aku akan menyukainya, bukannya seorang ibu pasti akan memilihkan nama yang terbaik untuk anaknya? Kau memikirkan nama depan, dan aku yang akan memikirkan nama belakangnya. Setuju?"


Mata Salwa melebar dengan binar bening yang tidak bisa ditutup-tutupi. "Apakah boleh?"


Sean terkekeh, kenapa juga istrinya itu begitu takut dengan dirinya. "Tentu, kita akan menggabungkan dua nama indah yang menjadi satu kesatuan dengan makna terbaik sebagai perwujudan doa kita sebagai orang tua yang senantiasa mengiringi anak kita hingga dewasa."


Salwa tersenyum penuh haru, ia akan menyematkan nama pilihannya untuk anaknya. Sean mengizinkannya dan tidak mempermasalahlan apa nama yang akan dipilih olehnya.


"Aku memberinya nama 'Kinan', yang artinya melindungi, aku ingin agar dia tumbuh menjadi seorang pria yang bisa melindungi keluarga dan adik-adiknya kelak."


"Kinan?" Sean membeo, menirukan nama yang diucapkan oleh Salwa.


"Kalau kau tidak suka, aku tidak akan memakaikannya.."


"Aku menyukainya." Sean menyela dengan cepat sebelum Salwa melanjutkan kalimatnya yang terdengar merendah dan mengalah itu. Sean hanya ingin istrinya itu mempunyai peranan penting dalam pemberian nama, melihat bagaimana perjuangan Salwa melahirkan buah hatinya itu membuat Sean sadar, bahwa kehadiran seorang anak di dunia membutuhkan pengorbanan yang luar biasa dari seorang ibu, karena seorang ibu yang melahirkan mungkin bisa berakhir kehilangan nyawa saat di ruang persalinan demi mengeluarkan satu nyawa dalam tubuhnya. Dan hal itu membuat dirinya semakin mencintai dan menyayangi Salwa, mencintainya sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anak mereka.

__ADS_1


Salwa mengulas senyum, ketika Sean menyetujui nama yang ia pilihkan. Ia sudah lama memikirkan nama itu, tetapi enggan untuk mengutarakan, karena ia tahu kebanyakan pria berdarah asing, akan bangga dengan kewarganegaraannya sehingga mendominasi nama anak keturunan mereka dengan nama dari negara asalnya.


Tetapi hal itu berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Sean, lelaki itu tidak mempermasalahkan perihal dari mana nama itu berasal, yang penting adalah nama itu memiliki arti yang baik dan akan senantiasa menjadi doa yang mengiringi anaknya hingga tumbuh dewasa.


"Sander, iya namanya adalah Kinan Sander Paderson. Sander memiliki makna penolong. Anak kita akan tumbuh menjadi pria dewasa yang bisa melindungi dan menolong orang-orang yang dikasihinya. Apa kau menyukainya?"


Sean dengan tatapan lembutnya menanyai Salwa yang sedang mengusap-usap rambut halus putranya dengan senyum cerah yang tidak kunjung pudar dari bibirnya.


"Aku menyukainya." jawab Salwa cepat dengan menyeka air mata yang tiba-tiba lolos dari sudut matanya.


"Ada apa?" Sean yang melihat air mata Salwa tak henti-hentinya menetes dan membuat istrinya itu berulang kali menyekanya dengan punggung tangannya, merasa sedikit cemas akan kondisi Salwa.


"Aku... aku tidak menyangka sudah menjadi seorang ibu. Aku... aku bahagia." Salwa berucap dengan bibir yang bergetar bersamaan keluarnya air mata kebahagiaan melingkupi rasa syukur di hatinya.


Sean merengkuh tubuh istrinya itu yang masih berbaring, membawanya dalam pelukannya. Ia mendekap kepala Salwa dan memeluknya dengan meletakkan dagunya di pucuk kepala istrinya. Sean juga ikut meneteskan air mata, isak tangis kebahagiaan keduanya dipenuhi rasa syukur kepada yang Esa atas anugerah yang telah diberikan atas kesabaran dan keikhlasan mereka. Dengan segala cobaan juga ujian yang telah mereka lewati bersama, kehadiran sang buah hati tentunya menjadi hal yang sangat luar biasa bagi keduanya.


"Terimakasih sayang, atas hadiah terindah yang engkau berikan pada keluarga kecil kita. Aku berjanji akan menjadi seorang ayah yang baik, melindungi dan menjaga kalian berdua dengan seluruh tenaga dan kekuatanku. Dan untuk itu semua, aku membutuhkanmu bersamaku, di sisiku."


Salwa mengangguk di dalam dekapan Sean, perasaan bahagia menjadi orang tua sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya air mata kebahagiaan yang terus mengalir dihiasi dengan senyuman di bibir.


"Aku akan selalu di sampingmu, mendukungmu, sampai maut memisahkan kita."


Sean melepaskam pelukannya, menengadahkan wajah Salwa dalam tangkupan kedua tangannya, menghadapkan wajah istrinya itu ke arah wajahnya. Kedua ibu jarinya mengusap air mata bening yang mengalir di pipi Salwa, lalu mengecup kening istrinya itu dengan begitu lama menyalurkan rasa sayang yang meluap-luap dalam dirinya.


Sebelum sempat Salwa menjawab, suara tangisan baby Kinan mengalihkan perhatian keduanya. Suara tangisannya mendominasi seluruh ruangan, Sean dan Salwa saling menatap, bingung harus melakukan apa. Salwa ingin menggendong bayi mungil itu, tetapi seolah ada keraguan dalam dirinya.


"Ada apa?"


"Aku pernah melihat ibu melakukannya, tetapi aku belum pernah mencobanya, apa aku bisa melakukannya? Dia masih sangat kecil, aku takut dia kenapa-kenapa jika aku tidak menggendongnya dengan cara yang benar."


Sean terkekeh mendengar pengakuan polos istrinya itu. Ia mengangkat baby Kinan dengan tangan kiri di bagian kepala ke leher, sementara tangan kanan ia gunakan menopang tubuh. Ia melakukannya sesuai dengan petunjuk perawat yang mengajarinya saat itu.


Salwa yang melihat suaminya begitu piawai menggendong sang buah hati terkagum-kagum, sampai mulutnya ternganga tidak percaya.


"Wah, kau hebat mas. Aku juga ingin mencobanya, apa kau bisa mengajariku?" Salwa terlihat sangat antusias belajar cara menggendong bayi yang baru lahir dari suaminya. Sean dengan senyum secerah mentari dan perasaan bangga karena bisa melakukan sesuatu yang baru dengan sempurna mengangguk, lalu memberikan baby Kinan kepada Salwa sambil menunjukkan cara yang benar sesuai apa yang ia pelajari sebelumnya.


Baby Kinan sudah berpindah ke tangan Salwa, tetapi sepertinya tangisnya juga belum reda, bayi itu terus saja menangis yang makin lama terasa semakin kencang saja membuat kedua orang tua baru itu kebingungan.


"Mas, kenapa Kinan masih menangis? Apa caraku menggendong sudah benar?" Salwa bertanya dengan panik, Seanpun juga tidak mengerti dan akhirnya mereka memutuskan untuk memanggil suster yang bertugas di ruangan Salwa. Sean memencet tombol emergency yang ada di atas ujung ranjang Salwa sebagai petanda bahwa ada pasien yang sedang membutuhkan bantuan.

__ADS_1


Seorang perawat wanita memasuki ruangan dengan tergopoh, ia melihat baby Kinan dalam gendongan Salwa sedang menangis dengan suara yang begitu keras. Bayi mungil itu seolah sedang berusaha memasukkan tangannya ke dalam mulutnya tetapi tidak bisa melakukannya.


"Suster, mengapa dia menangis. Apa dia sedang sakit?" Sean bertanya dengan cemas melihat tangisan anaknya tidak kunjung berhenti.


Suster itu tersenyum, lalu mendekat ke arah baby Kinan dan menanyai Salwa akan satu hal. "Apakah anda sudah memberinya makan?"


"Makan?" Salwa teringat ibunya menyuapi Azlina yang masih bayi menggunakan pisang yang di kerok dengan ujung sendok. Azlina adalah adik bungsu Salwa yang saat ini masih duduk di bangku SD. Jika yang suster maksudkan adalah memberi makan anaknya dengan pisang maka tentu saja Salwa belum melakukannya.


"Belum, aku harus memberinya makan apa?" Salwa tidak melihat pisang di sini. Dan setahu Salwa tidak semua jenis pisang boleh dimakan oleh bayi baru lahir, jadi sepertinya ia akan kesulitan menemukan pisang yang ia maksudkan itu di tempatnya sekarang. Hal itu membuat Salwa semakin cemas saja.


Suster itu kembali menyunggingkan senyum, sepertinya orang kaya belum tentu mengerti dengan ilmu parenting. Susterpun memaklumi akan hal itu. Melihat sepasang suami istri yang baru saja menjadi orang tua, tentu semua yang saat ini mereka lakukan adalah hal baru yang masih harus mereka pelajari.


"Apakah anda sudah menyusui bayi anda?"


Salwa menggeleng, lalu dengan sedikit malu ia mengatakan."Apakah air susunya sudah keluar?"


Suster itu tersenyum, lalu dengan sabar menjelaskan kepada Salwa. "Bayi anda akan mencoba menghisap put*** payudara anda, itu adalah pelajaran pertama bagi anak anda. Ia akan menghisap sampai keluar kolostrum yang merupakan makanan pertama bagi bayi yang baru lahir."


"Kolostrum?" Sean dan Salwa berucap bersamaan dengan rasa ingin tahu yang besar. Mereka memang telah mempelajari masalah kehamilan, tetapi untuk menjaga dan mengurus bayi baru lahir merupakan hal baru bagi keduanya.


"Kolostrum adalah makanan pertama untuk bayi baru lahir yang keluar dari payudara ibu, sebelum air susu ibu (ASI). Kolostrum ini memiliki banyak peran penting bagi kesehatan bayi, salah satunya untuk membantu memperkuat daya tahan tubuh bayi Anda."


Suster membantu Salwa untuk melakukan pemberian makanan pertama untuk bayinya. Suster mengetuk pelan mulut baby Kinan dan secara naluri alami mulut bayi itu mencari-cari sesuatu dengan membuka mulutnya lebih lebar. Salwa segera memasukkan ujung payudaranya untuk segera dilahap oleh putranya.


Mulut kecil baby kinan berusaha menghisap makanannya dengan gerakan cepat seolah sudah tidak sabar mengisi perutnya yang kosong. Sentuhan bibir baby Kinan yang sedang menyusu membuat perasaan Salwa menghangat. Ini adalah tugas pertamanya menjadi seorang ibu, ia akan berusaha melakukannya dengan baik.


"Anda cukup memberinya air susu ibu sampai usianya enam bulan, dan bisa menambahkan makanan pendamping jika usianya sudah melebihi waktu yang ditentukan."


Salwa mengangguk pertanda mengerti. Ia mengusap kepala baby Kinan dengan menyunggingkan senyum bahagianya.


"Dan anda tuan Paderson, anda juga harus membantu istri anda agar air susunya bisa lancar." ucap suster itu melanjutkan perkataannya.


"Aku? Apa yang bisa aku bantu?" Sean sedikit mengerutkan alisnya, bagaimana cara dia membantu Salwa supaya bisa mengeluarkan air susu dengan lancar?


"Anda cukup membuat istri anda bahagia, mencukupi kebutuhan nutrisinya karena apa yang dimakan oleh istri anda maka itu akan terserap ke dalam air susunya. Duduklah di samping istri anda, dampingi dia saat memberi makan bayinya. Anda bisa membantu merangsang keluarnya asi dengan menyenangkan istri anda." Suster itu menjelaskan dengan sedetail-detailnya kepada Sean sebagai seorang suami dari Salwa dan ayah dari baby Kinan yang baru lahir itu.


Sean mengangkat kedua alisnya mendengar pernyataan suster itu. Membantu istrinya untuk terangsang? Menyenangkan istrinya? Setahu Sean membuat Salwa terangsang adalah keahliannya. Dia sangat hafal dimana bagian-bagian tubuh istrinya yang mudah untuk terangsang jika Sean sudah bermain di sana. Tetapi apa benar air susu Salwa akan mengalir dengan lancar jika Sean melakukannya? Tetapi bukannya Salwa baru saja melahirkan? Dan Sean sudah melihat jalan lahir Salwa yang masih terluka dan baru saja dijahit, tentunya akan sangat sakit dan berbahaya jika mereka melakukan hal itu.


Pikiran Sean melayang ke mana-mana. Sepertinya apa yang ia bayangkan sangat bertolak belakang dengan apa yang dijelaskan oleh suster tersebut. Bahkan Sean yang cerdaspun mendadak bodoh dan harus dijelaskan berulang kali agar mengerti apa yang dimaksudkan oleh suster itu.

__ADS_1


Setelah mendapatkan pengarahan yang benar dan tepat, barulah Sean mengerti apa yang dimaksudkan. Suster tersebut undur diri dengan berpamitan terlebih dahulu setelah tugasnya selesai, membiarkan kedua orang tua baru itu menikmati masa-masa bersama sang bayi dengan mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk sang buah hati.


\=》Bersambung...


__ADS_2