Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Meracau


__ADS_3

Salwa mencoba menghubungi Marcus berkali-kali, tetapi lelaki itu seperti menghindar dan enggan menjawab panggilan telepon Salwa. Salwa sudah mendapat pesan dari Marcus bahwa Sean sudah sadar dua hari yang lalu, tetapi setiap Salwa menghubungi Marcus supaya dihubungkan ke Sean selalu saja di jawab Sean-nya lagi istirahat dan tidak boleh diganggu. Padahal Salwa sudah menahan rindu sejak lama, ia ingin mendengar suara suaminya itu lagi.


Apakah Sean tidak pernah bertanya mengenai dirinya? Apakah Sean sama sekali tidak merindukannya?Atau jangan-jangan akibat tembakan itu Sean akan melupakannya.


Begitu banyak pertanyaan yang ada di pikiran Salwa membuat dadanya terasa sesak. Jika memang Sean melupakannya apa jadinya dia nanti? Apakah Sean akan mengusirnya dan mencari perempuan lain yang lebih cantik dan sederajat dengannya? Apalagi Salwa tahu bahwa ayah kandung Sean adalah seorang taipan dan kekayaannya melebihi kekayaan keluarga Arthur. Bisa saja Sean yang kehilangan ingatan di jodohkan dengan perempuan lain yang sesuai dengan kriteria ayahnya.


Membayangkan hal itu membuat Salwa menjadi takut, entahlah, mengapa ia bisa berpikir sejauh itu? Salwa sendiri tidak mengerti, keberadaan Sean yang terlalu jauh dan tak bisa ia jangkau membuatnya frustrasi dan tak percaya diri. Salwa merasa berharga karena Sean mencintainya. Jika Sean melupakannya akan jadi bagaimana nasibnya kemudian.


Salwa merebahkan tubuhnya diranjang besarnya, ia memeluk guling yang diatasnya ia letakkan foto pernikahan mereka, ia membenamkan foto berbingkai emas itu di dadanya, sambil menangis . Menangis karena rindu yang tak tersampaikan. Menangis karena takut kehilangan, bukan kehilangan harta melainkan kehilangan cinta tulus seorang suami. Begitu banyak hal yang telah mereka lewati, akan terlalu menyakitkan jika Sean melupakannya begitu saja.


Tidak, jika lelaki itu memang melupakannya, Salwa tidak akan tinggal diam. Dia akan menjemputnya lalu memarahinya. Dirinya punya hak atas suaminya itu, ia tidak akan merelakan Sean begitu saja memilih wanita lain. Ia berhak mempertahankan suaminya itu tetap berada dalam pelukannya.


Salwa melirik ke arah tespek-tespek yang berjajar di atas nakas yang akan ia pergunakan besok pagi. Salwa sudah tidak sabar untuk menggunakannya, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu hingga waktu esok tiba.


Pikiran kalut yang dipenuhi bayangan menyedihkan membuatnya tak bisa memejamkan mata, tetapi pada akhirnya ia terlalu lelah hingga tak terasa buaian mimpi merasuk ke dalam dirinya hingga mengajaknya bermain-main di alam bawah sadar.


.....


Sebuah mobil berwarna metalic memasuki pagar rumah Salwa. Semua orang baik pengawal maupun security menunduk hormat di kala mengetahui siapa yang berada di balik mobil tersebut. Salah satu pelayan membukakan pintu mobil itu yang kini sudah terhenti di depan pintu utama rumah .


Seorang pria mengenakan pakaian formal menapakkan kakinya ke luar dari mobil, semua pelayan dan pengawal berbaris menyambut kedatangan pria tersebut sambil menunduk.


"Tuan, nyonya sedang tidur. Apakah perlu kami bangunkan?"


"Tidak usah, aku hanya butuh laporanmu." Lelaki itu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ruang kerja. Dua orang bodyguard Salwa mengikutinya dari belakang.


Lelaki itu adalah Sean, ia sudah sampai di kediamannya saat hari sudah mencapai tengah malam, ia mempercepat perjalanannya dengan melakukan transit sekedarnya hanya untuk beristirahat sang pilot dan perbaikan mesin setelah melakukan penerbangan jarak jauh. Sean ingin cepat sampai di rumah dan melihat kondisi istrinya. Ia meminta Marcus untuk tidak menelepon atau menghubungi Salwa lagi, dan jika terpaksa Marcus harus menerima panggilan dari Salwa ia harus beralasan bahwa Sean sedang tidak ingin diganggu. Sean ingin memberikan kejutan untuk Salwa karena ia bisa sampai lebih cepat dari perkiraannya.


Dua pengawal Salwa itu pun berdiri tegap di depan meja Sean tanpa berani duduk terlebih dahulu.


"Kalian boleh duduk." Sean menautkan ke dua jemarinya dengan menatap kedua pengawal Salwa tanpa berkedip. Ke dua orang tersebut pun duduk di depan meja Sean dengan sikap tegap.


"Mulailah!" hanya dengan perkataan itu, kedua orang pengawal Salwa mulai melapor secara bergantian.

__ADS_1


"Tuan, nyonya saat ini sedang sakit."


"Apa kau bilang?" Sean membentak pengawal tersebut karena begitu terkejut mendengar kabar bahwa Salwa sedang sakit. Ia terlambat mengetahui kondisi istrinya karena ia tidak sempat menghidupkan ponselnya dan mengecek pesan maupun email sebelum ia melakukan penerbangan.


"Beberapa hari ini nyonya tetlihat cepat letih dan lesu. Mungkin itu karena pengaruh kehamilannya."


"Istriku hamil?" Sean menipiskan bibirnya, dugaannya memang benar, beruntung ia melarang Salwa untuk melakukan suntikan kontrasepsi saat itu.


"Nyonya sempat pingsan waktu itu, dan kami membawanya ke klinik kampus, dan dokter yang menanganinya mengatakan bahwa nyonya sedang hamil." bodyguard itu melanjutkan perkatannya.


"Pingsan? Apakah separah itu?" Sean merasa cemas dengan kondisi Salwa saat ini. Beruntung ia segera kembali dan tidak melanjutkan pengobatan di rumah sakit Kanada. Jika ia tidak segera pulang, ia pasti akan merasa sangat menyesal karena melewatkan hari-hari melelahkan istrinya yang tengah hamil muda.


"Iya, nyonya terlalu lelah karena banyaknya aktivitas. Bahkan nyonya rela berjalan sampai dua ratus meter dari gerbang utama kampus menuju tempat parkir mobil."


"Bukankah aku menyuruh mengantarnya sampai gerbang utama, dan kalau diperlukan kalian bisa mengantarnya sampai depan ruang kelas. Bagaimana kalian bisa membiarkan istriku kelelahan berjalan hanya untuk menaiki mobil." Sean tampak geram mendengar penjelasan para bodyguard yang bertugas menjaga Salwa.


Jika Salwa terlalu kelelahan hal itu bisa membahayakan janin maupun dirinya sendiri. Dokter Alan pernah mewanti-wanti Sean bahwa rahim Salwa belum pulih benar, dan akan berbahaya jika kehamilan yang ke dua ini tidak di jaga dengan benar.


"Maafkan kami tuan, nyonya yang memintanya. Nyonya tidak ingin terlihat mencolok dengan menaiki mobil tersebut di depan teman-temannya, menurut nyonya mobil yang ia naiki terlalu mewah sehingga nyonya lebih memilih menyembunyikannya dan berjalan ratusan meter daripada harus menanggapi pertanyaan teman-temannya."


"Lalu, ada dua orang teman nyonya yang agak mengganggu. Mereka bahkan berani menghina dan merendahkan nyonya di depan umum." imbuh salah satu bodyguard Salwa. Sean mengerutkan keningnya, siapa dua orang yang punya nyali besar menghina istri yang terlalu sempurna menurutnya.


"Siapa ke dua orang itu?" tanya Sean kemudian dengan menampilkan wajah marahnya.


Pengawal Salwa pun menunjukkan dua buah foto yang mereka ambil lewat ponsel, sekaligus biodata yang mereka ambil dari database kampus.


Sean melihat dengan memindai keseluruhan data yang bodyguard Salwa kumpulkan, wajah Sean tampak geram bercampur marah yang ditahan.


"Aku akan mengurus mereka, kalian berdua lanjutkan saja tugas kalian seperti biasa. Perketat penjagaan, jangan sampai istriku kelelahan apapun caranya. Sekarang pergilah!" ucap Sean memerintah kedua orang tersebut.


.....


Sean membuka perlahan pintu kamarnya, cahaya temaram dari lampu kamar tidurnya memberikan penerangan remang-remang. Tampaklah di atas ranjang besarnya seseorang yang tertidur pulas dengan mengenakan gaun tidur berwarna putih tulang. Tangan dan kakinya memeluk erat guling sehingga gaunnya tersibak ke atas memperlihatkan paha halus pemiliknya.

__ADS_1


Sean melangkah tanpa menimbulkan suara, matanya tertuju pada sosok perempuan yang masih terbuai dalam indahnya alam mimpi. Sean melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Perempuan yang sangat ia rindukan sekarang ada di depannya. Sedang tertidur pulas tanpa pertahanan.


Sean melepas kemejanya dan menyisakan celana panjangnya saja. Ia ikut berbaring miring menghadap Salwa yang masih terlelap. Tangannya menyibakkan anak-anak rambut yang menutupi wajah cantik yang sangat ia rindukan itu. Sean mengamati sekali lagi wajah istrinya itu, perasaannya teraaa tenang dan teduh. Rasa seperti inilah yang ia rindukan saat berjauhan dengan Salwa. Istrinya itu selalu membuatnya nyaman dan tentram.


Dengan rasa rindu yang teramat sangat, Sean menciumi wajah Salwa berkali-kali dan terhenti di ceruk lehernya sehingga membuat tidur perempuan itu terusik. Dengan berat, Salwa membuka matanya. Tatapan mata Salwa langsung bersirobok dengan mata suaminya itu.


"Mas... kau pulang?" ucap Salwa dengan wajah yang tampak bahagia, namun setelah beberapa saat ia justru terkekeh. "Heh, aku terlalu merindukanmu hingga dalam mimpi pun kau selalu datang. Pergilah, jangan datang lagi. Kau akan membuatku kecewa saat aku terbangun nanti." Salwa kembali menutup matanya setelah mengatakan hal itu.


Sean menahan tawa melihat tingkah istrinya itu, tetapi hatinya terasa hangat karena mengetahui bahwa Salwa pun sangat merindukannya. Sean mengeratkan pelukannya dan kembali menciumi istrinya itu, tangannya pun sudah mulai merayap ke tempat-tempat sensitif Salwa yang sudah ia hafal di luar kepala.


Salwa yang masih terpejam pun bisa merasakan sentuhan-sentuhan hangat suaminya itu, hingga meskipun berat ia membuka sedikit matanya. Ia kembali meracau, sepertinya kesadaran belum merasuki pikirannya dengan benar. Ia terlalu lama menangis dan bersedih hingga ia tak bisa membedakan mimpi dan kenyataan.


Salwa terduduk dari tidurnya setelah Sean melonggarkan pelukannya, matanya menyipit seolah enggan untuk membuka. Sean pun ikut duduk di depannya sehingga mereka saling berhadap-hadapan.


"Kau masih disini,aku sudah menyuruhmu pergi kenapa masih tinggal. emm.. sepertinya kau lebih keras kepala dari kenyataannya. Baiklah, karena kau sudah disini aku akan menghukummu." Salwa menangkupkan ke dua tangannya ke rahang Sean dengan mengusap jambang tipisnya itu.


Baiklah kita lihat, hukuman apa yang Salwa berikan untuknya


Cup...


Salwa mencium pipi kiri Sean dengan cepat yang membuat Sean terkejut dengan mulut sedikit terbuka.


"Ini hukuman karena kau tidak mau menjawab panggilanku."


Cup..


Salwa mencium pipi kanan Sean dan berhasil membuat Sean tersenyum senang.


"Ini hukuman karena kau membuatku terlalu lama menunggu."


Cup..


Kali ini ia mencium di bagian bibir suaminya, tetapi sebelum ia mengakhiri ciuman singkatnya Sean sudah menangkap leher istrinya itu supaya tetap di tempat dan memperdalam ciuman mereka.

__ADS_1


"Kau yang memulainya, jangan salahkan suamimu ya..."


ใ€‹Memangnya Sean mau ngapain yaa.. ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ


__ADS_2