
"Stop!!" Abust berteriak kepada bodyguard-nya untuk menghentikan mobilnya setelah melihat mobil Catherine mengeluarkan asap di bagian belakang setelah menabrak pohon. Mobil itu berhenti agak jauh dari mobil Catherine. Abust segera keluar untuk melihat kondisi Catherine dan pengemudinya, tetapi sebelum Abust mendekatkan jarakanya mobil tersebut meledak dengan dentuman yang sangat keras. Semburat warna orange kemerahan dengan puing-puing bagian mobil berterbangan ke udara.
"No, catherine, No!" Abust berteriak sekeras-kerasnya melihat mobil yang ditumpangi Catherine luluh lantak, ia ingin menerobos api yang membakar mobil tersebut, tetapi api terlalu besar sehingga membuatnya kesulitan dan mustahil menyelamatkan Catherine di situasi seperti itu.
Abust terduduk di trotoar sambil menatap nanar api yang terus membakar mobil tersebut. Sia-sia, usahanya menyelamatkan Catherine tidak membuahkan hasil. Ia tidak berhasil menyelamatkan perempuan yang sempat singgah di hatinya, ia tidak bisa mempertemukan Ashton dan Axton dengan ibu mereka.
Abust menunduk dwngan memejamkan matanya, bayangan Catherine tersenyum kepadanya, berterimakasih secara tulus melayang-layang di ingatannya. Dan bagaimana perempuan itu begitu bahagia saat melihat kedatangan Abust yang berhasil mengeluarkannya dari cengkraman Albert gila itu terus-menerus menari-nari di ingatannya. Abust sempat memberikan harapan kepada perempuan itu tentang keselamatannya, mempertemukannya dengan kedua anaknya lagi dan memberikan harapan untuk hidup tenang tanpa gangguan orang-orang jahat. Tetapi itu semua hanya harapan palsu, Abust gagal, Catherine celaka karena ketidak mampuannya menjaga perempuan itu.
Abust terlalu sedih sehingga tidak menyadari ada seseorang yang mengincarnya dan hendak melesatkan peluru ke kepalanya.
"Abust, masuk!" Fang Yi berteriak agar Abust segera memasuki mobil, karena sepertinya Catherine tidak mungkin hidup melihat kebakaran yang ditimbulkan sangat parah. Bahkan api belum juga padam karena angin bertiup sangat kencang.
Fang Yi kembali meneriaki Abust, ia menyadari seseorang di balik mobil sudah bersiap menarik pelatuknya, tetapi dengan cepat Fang Yi meledakkan mobil orang tersebut dengan senapan pelontar granatnya.
DUUUM
Suara ledakan kembali terdengar, mobil yang hampir menyerang Abust meledak dengan dahsyat. Abust menoleh melihat suasana semakin tidak kondusif, mungkin sebentar lagi akan ada polisi yang datang melihat kekacauan ini, dan mereka akan terlibat dengan hukum di negara itu. Tidak, semuanya akan runyam dan akan semakin rumit ke depannya jika mereka berurusan dengan pihak yang berwajib.
Fang Yi keluar dari mobil, ia menarik lengan Abust agar lelaki itu berdiri dan memasuki mobilnya. Akan banyak masalah nantinya jika mereka tertangkap dan terlibat sampai ke ranah hukum. Fang Yi adalah salah satu perempuan yang berkecimpung di dunia hitam, pastinya akan merepotkannya jika polisi sudah menyelidikinya. Ia tidak membiarkan itu terjadi, mereka harus segera pergi dari tempat itu.
Saat Abust dan Fang Yi berbalik arah untuk memasuki mobil, terdengar suara lirih seseorang meminta tolong, bersamaan suara sirine pemadam kebakaran yang terdengar samar-samar dan pastinya mobil pemadam kebakaran itu membawa polisi juga bersama mereka.
"Ayo cepat!" Teriak Fang Yi yang sudah tidak sabar melihat Abust begitu lambat.
"Tidak, aku mendengar seseorang meminta tolong," Abust berjalan ke arah sumber suara,di tengah gelapnya malam, di tempat yang tidak terkena cahaya lampu jalan, ia melihat seseorang yang bersimpah darah terjerembab di semak-semak. Abust semakin mendekat, dan terlihatlah dengan jelas siapa yang sedang meminta tolong kepadanya itu.
"Catherine."
Abust berlari segera menolong perempuan itu, dengan sigap ia menggendongnya karena Catherine sepertinya tidak mampu berjalan.
"Bertahanlah," ucap Abust lembut, ia berjalan cepat ke arah mobil yang terdapat Fang Yi yang sudah menungguinya. Suara sirine semakin mendekat membuat Fang Yi semakin tidak sabar.
"Abust cepat!"
Abust setengah berlari dan akhirnya ia berhasil masuk ke dalam mobil bersamaan dengan Catherine yang berada dalam pangkuannya.
Mobil melaju semakin kencang, agar terhindar dari kejaran polisi.
"Kita ke landasan helipad di tepi jurang." Perintah Fang Yi lagi kepada bodyguard-nya. Mobil melaju, meliuk-liuk menuju ke landasan helikopter yang ada di dekat jurang. Beruntung polisi belum sempat mengetahui keterlibatan mereka dalam ledakan mobil beruntun itu sehingga mereka bisa melarikan diri.
"Apakah kita tidak bisa ke rumah sakit terlebih dulu?"
"Tidak, suruh dia menahan sakitnya. Helikopter sudah menunggu."
Butuh waktu sepuluh menit sehingga mereka sampai di landasan helikopter. Fang Yi memerintahkan agar Abust , Catherine dan bodyguard-nya keluar dari mobil. Mereka patuh dan segera keluar dari mobil tersebut. Sementara Fang Yi mengambil alih kemudi, ia tidak ikut turun. Fang Yi mengemudikan mobil berjalan mundur dengan sangat cepat, lalu ia menginjak gas mempercepat laju mobil itu lalu membanting setir menuju jurang.
__ADS_1
"Fang Yi...!" Abust berteriak saat melihat mobil tersebut terlempar ke jurang, dan bersamaan dengan itu Fang Yi melompat dan berguling-guling di tanah.
Mobil terjun ke jurang dan meledak di sana. Fang Yi berdiri setelah berhasil selamat dari kecelakaan yang disengaja itu. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Selesai," ucapnya sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya untuk membersihkan debu-debu yang menempel mengotori tangannya.
"Ayo kita pergi!" Ucapnya kemudian.
"Apa yang kau lakukan?" Entahlah, apa yang dipikirkan Fang Yi dengan membuang mobil mahal anti peluru dengan teknologi super canggih itu ke jurang, bukannya hal itu sangat tidak masuk di akal. Jika dijual mobil itu pasti berharga jutaan dollar, tetapi perempuan aneh itu justru membuangnya seperti sampah yang tidak berguna.
"Lupakan mobil itu, bergegaslah naik!" Fang Yi enggan mempedulikan perkataan Abust, ia berjalan santai menuju helipad yang sudah terparkir helikopter disana.
Abust masih membawa Catherine dalam gendongannya. Ia melangkah menuju helikopter yang sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi. Perlahan ia menaiki helikopter tersebut dan mendudukkan Catherine di sampingnya. Sementara Fang Yi di depan bersebalahan dengan pilot , sedangkan bodyguard yang masih tersisa duduk di belakang.
Helikopter yang mereka gunakan adalah berjenis Airbus Helicopter yang merupakan helikopter buatan pabrikan Perancis dengan kapasitas angkut enam penumpang, daya angkut sebesar satu koma empat ton dan kecepatan maksimum seratus empat puluh knot.
Setelah semua telah duduk di tempat masing-masing, pilot mulai bersiap menyalakan mesinnya. Baling-baling pada rotor atau lebih tepatnya mesin pemutar baling-baling yang berada di atas helikopter mulai bekerja dengan berputar cepat sehingga mengalirkan udara dari atas ke bawah dengan aliran yang sangat deras. Derasnya aliran udara itulah yang akhirnya bisa mengangkat helikopter yang memiliki bobot belasan ton bisa naik ke atas.
Abust menyandarkan tubuh Catherine pada lengannya dengan memeluk mempertahankan perempuan itu agar tidak terjatuh meskipun sealt beltnya sudah terpasang dengan benar. Perempuan itu kesakitan, tetapi ia lebih memilih bungkam agar tidak semakin membebani lelaki itu. Hatinya pun terasa menghangat melihat lelaki yang saat ini menjadikan lengannya sebagai sandaran kepalanya itu mencemaskan kondisinya, tetapi ia tidak berani berharap terlalu jauh kepada kelaki itu.
Catherine cukup sadar diri, ia seorang janda dengan dua orang anak bersamanya, sementara Abust adalah pria kaya yang masih belum pernah menikah, tentunya banyak gadis-gadis di luar sana mau mengantri untuk memperebutkan lelaki itu, sementara dirinya tidak ada kebaikan sedikitpun yang bisa ditonjolkan untuk bersaing dengan gadis-gadis cantik yang menginginkan Abust. Dengan perbedaan besar sangat menonjol dari keduanya membuat Catherine berusaha dengan keras menahan perasaannya kepada Abust yang mulai tumbuh di hatinya. Dalam pikiran Catherine sekarang hanyalah berjuang terus agar bisa bertemu dengan anak-anaknya dan memulai hidup damai tanpa gangguan dari orang-orang jahat yang mengincarnya.
.....
Salwa menggeleng sambil menutup mulutnya, merasa kekenyangan karena Sean tidak henti-hentinya menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Ayo buka," Sean kembali membujuk istrinya itu untuk membuka mulut, tetapi Salwa tetap menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
"Udah kenyang mas, sini giliran aku yang nyuapin." Salwa mengambil alih garpu yang digunakan Sean untuk menyuapinya lalu memasukkan potongan buah itu ke dalam mulut Sean.
"Kamu juga makan! Nanti anak kita kelaparan," ucap Sean kemudian sambil mengunyah buah dalam mulutnya.
"Sssttt, makan tidak boleh bicara. Jorok tahu!" Salwa menempelkan jari telunjuknya ke bibir suaminya itu agar berhenti bicara dan melanjutkan makannya. Sean mengangguk lalu menangkap tangan Salwa dan dibawanya mendekat kepadanya sehingga Salwa ikut tertarik dengan merapatkan posisinya di samping suaminya.
Sean menahan tubuh Salwa supaya bersandar di dadanya, dan ia memeluk dari belakang. Mereka menatap keindahan pemandangan di depan mereka dengan duduk bersantai diiringi kicauan burung yang terdengar merdu dan damai. Salwa menyandarkan kepalanya di bahu Sean, menengadah menatap langit pagi yang berwarna putih kebiruan. Sean meletakkan dagunya di antara leher dan bahu Salwa sambil mengeratkan pelukannya di perut bawah istrinya itu.
"Apa kau senang?" Bisik Sean lirih di telinga Salwa yang dibalas anggukan oleh perempuan itu.
"Aku senang, terimakasih kau mau meluangkan waktu berhargamu untuk bersamaku," ucap Salwa tulus dengan tetap menengadah menatap langit biru. Ia kemudian memejamkan mata, menghirup aroma kesejukan suasana pegunungan yang membuatnya begitu tenang, pun dengan Sean melakukan hal yang sama. Kebahagian membanjiri keduanya, rasa saling memiliki, dan mencintai yang begitu besar dengan tanpa ada gangguan dan halangan yang menghalangi perasaan mereka membuat keduanya larut dalam suasana hening sekaligus romantis.
"Waktu berhargaku adalah saat ini, saat aku bersamamu, memelukmu, menghirup aromamu dari dekat. Terimakasih telah hadir dalam hidupku yang gelap ini, aku sangat mensyukurinya." Sean meraih tangan Salwa lalu dikecupnya beberapa kali membuat Salwa tersenyum haru.
"Aku juga sangat bersyukur bisa bertemu denganmu, mengenalmu dan menjadi bagian dari hidupmu. Aku sangat-sangat mensyukurinya."
Senyum kembali terbit di bibir Sean, ia mengecup pipi gembul istrinya dengan penuh sayang. Tidak ada lagi yang membuatnya begitu bahagia, selain bersama istri dan anak-anaknya kelak.
__ADS_1
"I love you," bisik Sean lirih.
BUUGGG
"Aaah...." Sean mengusap-usap kepalanya yang terkena tendangan bola seseorang. Ia menoleh ke arah datangnya bola dan terlihatlah Ashton dan Axton sedang berdiri ketakutan dengan kaki gemetar. Pelayan yang ditugaskan untuk menjaga kedua anak itu pun ikut merasa takut dengan ketegangan yang sama, Sean pasti marah, melihat sorot matanya saja membuat jantung berdetak kencang dan kaki gemetar, sungguh saat ini wajah Sean terlihat mengerikan.
Sean berdiri setelah melepaskan pelukannya dari tubuh istrinya, lalu berjalan tegap ke arah kedua anak-anak Catherine yang saat ini menunduk , gemetar dan hampir menangis. Salwa yang melihat kejadian itu pun merasa cemas dengan apa yang akan dilakukan suaminya itu kepada Ashton dan Axton. Waktu terasa bergulir begitu lama, di saat ketegangan membentang di antara semua orang yang berada di tempat itu.
Sean membungkuk mengambil bola yang terlempar mengenai kepalanya tadi, lalu berjalan menghampiri kedua anak itu. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu hampir tidak sanggup bernapas normal, takut dengan apa yang akan Sean lakukan, apalagi tendangan Axton tadi begitu keras dan mendarat tepat di kepala Sean. Para pelayan menelan ludah dengan aura ketegangan yang sama sambil memperhatikan apa yang akan terjadi.
"Apakah ini bolamu?" Tanya Sean sambil berjongkok menyejajarkan tingginya dengan tinggi kedua bocah itu.
Ashton dan Axton mengangguk bersamaan, wajah mereka begitu kusut dan sudah bersiap untuk menangis.
"Apa paman bisa bermain bersama kalian?"
Perkataan Sean membuat kedua anak itu yang sedari tadi menunduk , menekuk wajahnya langsung menengadah menatap Sean.
"Paman tidak marah dan menghukum kami?"
"Tentu saja tidak, apa kita bisa bermain sekarang?"
Ashton dan Axton tersenyum senang sambil mengangguk. "Tentu saja," Jawab mereka hampir bersamaan.
Semua orang yang mendengarnya menghela napas lega, karena apa yang mereka cemaskan tidak terjadi. Sean dan kedua anak itu bermain bola bersama, berlari-larian saling mengejar dan tertawa bersama. Salwa yang memperhatikan mereka dari tempat duduknya tadi tersenyum senang, akhirnya Sean bisa bersikap lembut kepada kedua anak itu, dan pasti ke depannya ia bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anak mereka kelak.
....
Sean membuat pesta barbeque dan api unggun di halaman vila yang saat ini dikerubungi oleh Salwa , Ashton dan Axton juga pelayan beserta bodyguard-nya. Mereka saling menghangatkan tubuh dengan berada di depan api unggun tersebut sambil menikmati daging dan jagung bakar.
Setelah insiden bola terjadi, kini Ashton dan Axton sudah tidak takut lagi kepada Sean, Bahkan mereka bertiga semakin akrab dengan bercanda dan bercerita. Salwa bisa merasakan kehangatan dari perilaku suaminya yang sudah bisa menyayangi anak kecil dan bersikap manis kepada mereka. Sean menatap teduh istrinya yang sedang memandanginya dengan tersenyum, ia mengangguk lalu menampilkan senyum yang sama.
Ashton menguap beberapa kali, karena mulai mengantuk. Sean meminta Salwa agar mengantar Ashton ke kamarnya terlebih dulu untuk beristirahat. Sementara Axton masih senang bermain dan memakan jagung bakar yang dibuat oleh pelayan, sehingga Sean memutuskan untuk menjaga bocah satu itu sampai merasakan kantuk yang sama.
"Masuklah, biar Axton aku yang jaga." Salwa mengangguk lalu menggandeng Ashton untuk ikut bersamanya.
"Selamat malam," ucap Sean kemudian di saat Salwa akan pergi meninggalkan tempat. Salwa menoleh dan mengangguk." Selamat malam," jawab Salwa lalu melangkah memasuki rumah.
Salwa menidurkan Ashton di ranjangnya sambil mengusap-usap punggung anak kecil itu sampai matanya tertutup. Tidak butuh waktu lama Ashton tertidur dengan lelap, napasnya terlihat naik turun secara teratur menandakan anak kecil itu sudah masuk ke dalam buaian mimpi indah. Sayup-sayup mata Salwa mulai terpejam , tetapi ia mengurungkan niatnya untuk tidur di sebelah Ashton karena tiba-tiba Sean masuk sambil membawa Axton yang tertidur dalam gendongannya.
"Dia tertidur," ucap Sean lirih sambil merebahkan tubuh Ashton ke tempat pembaringan. Sean ikut berbaring di samping Ashton sambil menepuk-nepuk punggung anak lelaki itu yang berbaring miring menghadapnya. Hanya dalam beberapa menit Axton sudah terlelap karena hari ini terasa melelahkan sekaligus menyenangkan.
Sean tersenyum ke arah Salwa yang tengah takjub melihat kehangatannya memperlakukan Axton, tangannya terulur menggenggam jemari Salwa yang sedang menepuk-nepuk punggung Ashton lalu ia letakkan di atas kepala kedua bocah yang tengah tidur terlelap di antara mereka. Mungkin malam ini mereka akan tidur berempat. Salwa dan Sean memejamkan mata, menyambut malam dengan senyum bahagia sambil bergandengan tangan, merasakan aliran kasih di balik pertautan tangan keduanya.
\=》 Bersambung...
__ADS_1