
Salwa sudah berkumpul dengan mahasiswa baru lain melaksanakan apel bersama yang dipimpin langsung oleh rektor kampus tersebut, suasana berlangsung lancar dan hidmat tanpa ada kendala yang berarti.
Beruntung peraturan kampus yang tidak mengijinkan senior untuk melakukan tindakan perpeloncoan ataupun bullying kepada para maba atau mahasiswa baru selama masa orientasi. Kampus mengadaptasi gaya orientasi yang dilakukan oleh kampus luar negeri yang membuat masa orientasi maba menjadi kegiatan positif tanpa ada rasa senioritas yang membedakan antara junior dan senior.
Saat masa-masa OSPEK, semua senior akan dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok nantinya akan mendampingi beberapa maba sehingga semua maba memiliki senior pendamping. Para senior ini nantinya akan memberikan informasi apapun pada junior tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan perkuliahan di kampus. Dengan cara ini, junior akan lebih respek dan menghargai senior. Begitu pula sebaliknya, para senior pun akan lebih akrab dan memiliki empati pada para junor alias mahasiswa baru.
Salwa bersama delapan rekannya yang lain yang menjadi satu kelompok akan dibimbing oleh dua orang mahasiswa senior. Mereka semua berjalan beriringan sambil mendengar penjelasan dari mahasiswa senior tersebut.
"Hey, apa kau baik-baik saja?" Salwa menanyai gadis di sampingnya yang terlihat pucat. Gadis itu terlihat kesakitan sambil memegang perutnya.
Tidak ada jawaban dari gadis itu, ia hanya merintih kesakitan sambil menekan bagian perut menggunakan kedua tangannya.
"Kak, ada yang sakit," Salwa berteriak kepada ketua kelompok saat mereka sudah berjalan mendahului. Beberapa rekannya yang lain tampak ikut menolong dengan mengibaskan buku mereka untuk memberi angin segar di bawah teriknya matahari.
"Apa kau bisa membantunya ke Unit Kesehatan?" Tanya salah seorang ketua kelompok kepada Salwa. Salwa mengangguk kemudian menjawab "Saya akan membawanya ke Unit Kesehatan, kakak teruskan saja kegiatannya," ucap Salwa sambil membantu gadis tersebut berjalan.
"Terimakasih, beri tahu kami jika kondisinya memburuk," jawab senior itu dengan mengulas senyum tulus.
Salwa dan gadis tersebut berjalan beriringan dengan perlahan, tentu saja kedua bodyguard Salwa mengikuti mereka dari kejauhan. Seperti yang dikatakan oleh Sean, mereka berdua akan mendekat jika memang Salwa dalam bahaya atau saat diperlukan. Sehingga untuk saat ini mereka hanya memantau dari jauh saja.
Sepertinya petugas di Unit Kesehatan itu sedang tidak ada ditempat sehingga membuat Salwa harus merawat gadis itu sendiri.
"Apa kau sedang datang bulan?" Tanya Salwa memastikan, bukannya seorang wanita yang sedang datang bulan biasanya merasa kesakitan di bagian perutnya? Mungkin saja temannya tersebut sedang mengalami Premenstrual Syndrome atau biasa disebut dengan PMS sehingga perutnya terasa sakit.
"Eh.. ii..iya," gadis itu berbicara sedikit terbata. Salwa pun mengangguk mengerti. Saat Salwa mencari kotak obat di almari kaca, ekpresi perempuan itu berubah, sorot matanya tajam dengan bibir menyeringai mengerikan.
__ADS_1
Perempuan itu melangkah perlahan tanpa menimbulkan suara, sampailah saat Salwa menoleh ke arahnya dengan cepat ia melayangkan pukulan tepat di belakang leher Salwa.
BUUGG..
Kepala Salwa terhuyung lalu terbentur pinggiran almari, matanya terasa berkunang-kunang. Di saat kesadarannya masih terjaga ia berusaha berteriak meminta tolong.
"Toloongg..."
Mendengar teriakan Salwa, dua orang pria berbadan tegap yang bersembunyi di belakang almari segera keluar membantu mencekal Salwa yang masih dalam kondisi limbung.
BRAAAKK....
Dua bodyguard Salwa pun juga dengan siaga langsung mendobrak pintu ruang unit kesehatan itu dengan paksa. Mereka merasa ada yang aneh saat mendengar teriakan Salwa dari luar yang terdengar samar-samar.
"Jangan ikut campur kau," kedua penjahat itu terlibat baku hantam dengan bodyguard Salwa, sementara perempuan yang ditolong oleh Salwa diam-diam membawa Salwa yang sudah sempoyongan menahan sakit di kepalanya keluar dari ruang unit kesehatan.
.....
Sean tampak begitu marah mendengar laporan dari dua orang bodyguard Salwa yang tidak becus menjaga istrinya. Bagaimana bisa Salwa bisa hilang lagi dan lagi, apalagi di negara ini ia sama sekali tidak mempunyai musuh. Siapa lagi yang berniat buruk dengannya dengan menjadikan Salwa sebagai sanderanya.
"Tutup semua akses keluar masuk kampus, pastikan jangan sampai ada satu orang pun yang berani keluar sampai aku datang membawa bantuan."
Sean menutup panggilan teleponnya, ia merasa sudah hilang kesabarannya. Dengan nada berapi-api Sean memanggil anak buahnya untuk segera menyiapkan diri melakukan pencarian Salwa di kampusnya.
Sekelompok laki-laki berbadan tegap dengan mengenakan stelan jas hitam dan kaca mata hitam menyerbu kawasan kampus. Mereka tak lain adalah bodyguard yang dimiliki Sean untuk mencari keberadaan Salwa.
__ADS_1
Setiap orang yang melihat terasa sedang menonton adegan sebuah film saja, apalagi Sean sebagai pemimpin dari sekelompok pria tersebut datang belakangan dengan aura gelap yang mengerikan.
"Telusuri di semua penjuru, jangan sampai ada yang terlewat," perintahnya yang diikuti oleh anggukan para bodyguardnya patuh.
Sean sudah tidak sabar lagi, ini sudah terlalu lama setelah dua puluh menit menunggu tidak juga ada laporan yang menunjukkan keberadaan Salwa. Anak buahnya hanya berhasil menemukan tas Salwa lengkap dengan ponsel beserta dompetnya.
Rektor yang mendengar adanya keributan di kawasan kampusnya mendatangi Sean yang saat ini sedang dikelilingi oleh beberapa bodyguard-nya yang berpakaian serba hitam.
"Mr. Paderson, apa yang membuat anda datang ke kampus ini, apakah ada masalah?" Pak Burhan terlihat begitu khawatir dengan kedatangan Sean yang tidak biasa itu, apalagi saat ini banyak orang aneh dengan mengenakan stelan berwarna serba hitam berlalu-lalang seolah sedang menjalankan suatu penyelidikan.
Sean menatap tajam ke arah rektor tersebut, ingin sekali ia menghantam wajah orang tersebut karena keamanan kampusnya sungguh sangat minim sehingga dengan mudahnya penjahat bisa memasuki area kampus dan mencelakai mahasiswanya.
"Bagaimana kau masih bisa santai menanyaiku begitu, sedangkan di hari pertama kuliah istriku sudah hilang. Bagaimana kau membuat sistem keamanan di kampus yang kau banggakan ini jika masih banyak penjahat yang dengan mudah menembus memasuki area perkuliahan dan mencelakai mahasiswanya."
Sean terus mencerca pak Burhan tanpa memberi kesempatan pria paruh baya itu untuk menjawab. Pak Burhan bahkan tidak tahu-menahu mengenai insiden yang Sean bicarakan. Baru kali ini ada insiden penculikan seperti itu, selama ia menjabat sebagai rektor tidak pernah sekalipun terdengar ada kasus penculikan di area kampusnya.
Sean ingin melanjutkan perkataannya, namun suara panggilan dari ponselnya mengalihkan perhatiannya. Sean menatap layar digitalnya itu dengan kening yang sedikit berkerut heran.
"Halo." Sean menjawab panggilan tersebut yang ternyata adalah berasal dari telepon rumahnya.
"Tuan, nona Salwa sudah pulang."
....
γtinggalin jejak dulu sayangku.. jangan dibaca doang ππππ
__ADS_1