Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Menitipkannya


__ADS_3

"Katakan, apa yang membuatmu datang?" Ucap Sean kemudian setelah selesai berganti pakaian.


Abust mengelap mulutnya bekas makanan menggunakan sapu tangan yang disediakan Salwa untuk Sean di meja makan yang ada di dalam kamarnya.


"Aku membutuhkan bantuanmu," Abust menghela napasnya lalu menghembuskannya perlahan. Wajahnya yang sebelumnya terlihat menyebalkan sekarang berubah serius dengan kilatan mata yang tajam.


"Bantu aku mencari seseorang!"


"Siapa?"


"Catherine Wilson."


....


Sean dan Abust sudah turun dari tangga menuju meja makan, Sean semakin tidak bersemangat saat melihat ada dua bocah yang sedang makan dengan sangat lahapnya seperti sudah lama tidak diberi makan.


Salwa tersenyum menyambut suaminya yang sudah turun dengan mengenakan pakaian yang ia siapkan tadi. Ia mendorong kursi ke belakang untuk ditempati Sean, tetapi lagi-lagi Abust lebih cepat dengan menduduki kursi yang disediakan Salwa untuk suaminya.


"Sabar-sabar," gumam Salwa dalam hati. Ia kemudian menarik kursi yang lain untuk ditempati oleh suaminya itu.


Sean mengusap- usap pucuk kepala Salwa dan berakhir di leher bagian belakang yang tertutup jilbabnya." Terimakasih," ucapnya kemudian sambil mendaratkan bokongnya di atas kursi tersebut. Sementara Salwa mengambil duduk di kursi di samping suaminya itu agar memudahkannya mengambil makanan untuk Sean.


"Apa kau mau makan lagi? Bukannya kau tadi sudah menghabiskan makananku di atas?" Sean menyidir Abust tanpa ditutup-tutupi, tetapi Abust hanya mengangkat bahunya sambil memindahkan beberapa hidangan pencuci mulut di piringnya.


Sean menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya, tetapi Salwa berdehem untuk menghentikannya.


"Ehem.." Sean menoleh ke arah istrinya itu yang memberi kode dengan mengangkat kedua tangannya posisi berdoa. Sean menipiskan bibir, tersenyum lalu mengikuti gerakan tangan istrinya itu dan mulai berdoa dalam hati.


Mereka pun mulai makan menikmati hidangan dengan lahapnya. Abust yang pertama kali menghabiskan makanannya membuka suara.


"Aku juga ingin menitipkan mereka disini," ucap Abust dengan melihat kedua bocah kembar itu yang saat ini sedang berkejar-kejaran di taman belakang setelah menghabiskan sarapan mereka.


"Apa, itu tidak mungkin, apa kau sudah gila. Mereka pasti akan sangat merepotkan nantinya. Salwa sedang hamil, aku tidak ingin ia terlalu lelah dengan mengurus dua anak ini," Sean menolak mentah-mentah keinginan Abust yang hendak menjadikan Sean dan Salwa sebagai pengasuh sementara kedua anak Catherine.


"Hey, kau tidak boleh kejam. Anggap saja kau balas budi, bukannya kau pernah meniduri ibunya."


"Uhuhk-uhuk-uhuk," Salwa seketika tersedak saat menelan makanannya mendengar ucapan Abust yang sangat mengejutkan itu.


Sean segera meraih gelas yang berisi air putih untuk diberikan kepada Salwa, tetapi perempuan itu menolaknya dan memilih gelas yang lain dan menuangkan air untuk ia minum. Sean yang mendapat penolakan dari Salwa, langsung melirik tajam ke arah Abust.


"Kau jangan bicara sembarangan, aku tidak pernah melakukan itu," geram Sean dengan perkataan adik angkatnya itu yang tidak bisa melihat situasi.


"Ya ampun bos, apa kau lupa. Servisnya mungkin terlalu sempurna sehingga kau terperdaya dan berakhir di rumah sakit kala itu." Abust tak henti-hentinya memprovokasi membuat Salwa jengah sendiri.


BRAAAKK


Karena kesal, Salwa tanpa sadar menggebrak meja lalu meletakkan sendok dan garpunya dengan keras di atas piring.


"Aku sudah kenyang, kalian teruskan makannya," ucap Salwa lalu beranjak dari duduknya, berdiri ingin pergi dari ruang makan itu.

__ADS_1


Ketika Salwa melangkahkan kakinya dengan cepat, Sean segera menangkap tangan Salwa untuk ia tahan agar istrinya itu tidak kemana-mana dan meneruskan makannya. Salwa sedang hamil, ia belum makan sejak pagi karena menunggu Sean bangun. Dan saat ini pasti perutnya sangat lapar karena dirinya dan anak yang dikandungnya membutuhkan asupan makanan yang cukup. Harusnya Salwa menghabiskan makanannya, tetapi karena ulah Abust sepertinya Salwa tidak bernafsu makan lagi.


"Mau kemana, habiskan makanannya dulu," bujuk Sean dengan lembut, tetapi sepertinya rayuan Sean kali ini tidak berhasil. Dengan kasar Salwa menghempaskan tangan Sean yang menahannya lalu berjalan cepat menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.


"Sial, kau benar-benar membuat keributan saja," bentak Sean kepada Abust yang ditanggapi Abust dengan mengangkat kedua bahunya seolah tidak bersalah.


Abust hanya kesal kepada Catherine sehingga melampiaskannya kepada Sean. Perempuan itu tidak berubah, ia gampang sekali diajak oleh laki-laki dan meninggalkan kedua anaknya. Bahkan kedua anak Catherine mengaku bahwa mereka didorong oleh lelaki jahat yang menangkup ibunya ke atas ranjang. Apa yang dilakukan Catherine dan lelaki itu di atas ranjang? Bahkan mereka melakukan hal itu di depan dua bocah polos seperti mereka. Sungguh sangat tidak bermoral. Abust sangat kecewa, ia bahkan sempat tertarik dan menaruh hati kepada perempuan murahan itu.


Abust sudah bekerjasama dengan pihak yang berwajib untuk mencari Catherine atas kasus orang hilang, bagaimanapun juga kedua anak Catherine sangat menyayangi ibunya, dan sampai saat ini mereka berkali-kali menanyakan keberadaan Catherine kepada Abust yang tidak tahu berada dimana. Sehingga Abust memutuskan untuk mencari Catherine sampai menemukannya.


....


Salwa tidur miring meringkuk dengan memeluk guling, wajahnya ia sembunyikan di bawah guling tersebut. Ia masih sangat kesal dengan perkataan Abust, ia tahu bahwa Sean dulu seorang yang suka tidur dengan berganti-ganti pasangan, tetapi jika ia mengingat bagaimana kehidupan bebas suaminya dulu membuat hatinya sakit. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa sakit hatinya jika seseorang mengungkit-ungkit masa lalu suaminya itu.


Membayangkan bagaimana Sean memperlakukannya saat mereka berhubungan badan, dan ternyata ada banyak perempuan lain yang pernah diperlakukan dengan sama olehnya membuat hati Salwa sakit tidak terima. Bukan karena ia tidak menerima Sean dengan masa lalunya, tetapi Salwa tidak ingin hal itu diingat dan dikenang lagi.


Bagaimanapun seorang istri akan merasa sakit hati jika membayangkan suaminya bermesraan, bahkan bercinta dengan perempuan lain, selain dirinya.


"Sayang, apa kau marah?" Sean berucap dengan hati-hati sambil membelai kepala Salwa yang masih berbalut kerudung itu. Ada gerakan menggelang yang dilakukan Salwa, tetapi wajahnya tetap ia sembunyikan di bawah guling.


Dalam hati, Sean mengumpat kasar kepada Abust karena membuat gara-gara dengan menguak kejadian masa lalu yang membuat Salwa marah, apalagi istrinya saat ini lebih sensitif dari sebelumnya, mungkin karena kehamilannya membuat Salwa lebih mudah senang, sedih, marah ataupun manja. Bahkan perempuan itu bisa menangis dan tertawa secara bersamaan.


Sean ikut berbaring miring sambil memeluk tubuh Salwa yang tidur membelakanginya. Ia tidak ingin rencana yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari untuk memberi kejutan istrinya itu berantakan , sepertinya Sean harus berjuang keras mengembalikan mood istrinya agar kembali seperti sedia kala.


Ia mengambil guling yang dipeluk oleh Salwa sekaligus tempat Salwa menyembunyikan wajahnya. Tangannya membalik tubuh istrinya itu supaya menghadapnya.


"Kenapa?" Tanya Sean kemudian dengan mengangkat dagu Salwa suapaya menatap matanya. Salwa hanya menggeleng tanpa berbicara sepatah katapun.


Sean tersenyum simpul penuh pengertian, meskipun Salwa mengetahui masa lalunya seperti apa, tetapi Sean mengerti jika ada seseorang yang membicarakannya akan membuat sakit hati istrinya. Cemburu, mungkin begitulah tepatnya.


"Maaf, " Sean menangkupkan tangannya ke kedua pipi istrinya lalu mengusap air mata yang sempat menetes di ujung mata Salwa.


"Mungkin kau harus terbiasa mendengar hal itu, tetapi aku pastikan tidak akan ada yang berani mengungkit-ungkit masa laluku yang membuatmu sedih, jangan menangis lagi ya?"


Salwa mengangguk lalu memunculkan senyumnya meskipun sangat tipis. Dia masih kesal, tetapi tidak baik merusak hari libur Sean yang ia nanti-nantikan selama ini karena mendengar ocehan Abust, Salwa berusaha mengubur dalam ingatan tentang sifat dan perilaku suaminya saat dulu, saat dimana ia menjadi pembantu dan mendapati Sean tidur satu ranjang dengan perempuan-perempuan cantik yang selalu bergonta-ganti di setiap kesempatan. Ia sudah berjanji dalam hati untuk menerima segalanya yang ada pada suaminya, baik itu sekarang, masa depan ataupun masa lalunya.


"Masih marah?" Sean bertanya lagi memastikan Salwa sudah baik-baik saja.


"Aku sudah tidak marah lagi, hanya.... sedikit kesal."


"Baiklah, mungkin ini akan membuatmu tersenyum."


Sean membungkuk, ia meletakkan tangannya di bawah paha Salwa dan tangan yang lain di punggung. Tubuh Salwa terasa melayang saat Sean sudah berhasil mengangkatnya, merengkuh dengan kedua tangannya yang membuat Salwa harus melingkarkan kedua lengannya ke leher suaminya itu agar tidak terjatuh. Sean melangkah menuju kamar mandi yang kemudian mendapat protes dari istrinya itu.


"Hey, mas aku sudah mandi." Salwa memukul pelan dada suaminya yang saat ini masih dalam posisi menggendongnya.


"Siapa bilang kita mau mandi?" Sean mengedipkan sebelah matanya dengan nakal, membuat Salwa menganga karena tahu maksud di balik isyarat kedipan mata itu.


"Aahh, tidak-tidak,"

__ADS_1


"Sudah jangan menolak," ucap Sean kemudian dengan menutup pintu kamar mandi menggunakan kakinya.


.....


"Jaga mereka baik-baik, aku mengandalkanmu." Abust menitipkan dua bocah itu kepada Sean, karena ia ingin kembali ke London untuk melanjutkan pencarian Catherine. Tujuan utamanya kali ini hanya mempertemukan Ashton dan Axton kepada ibu kandungnya, masalah pribadi Catherine, ia tidak mau terlibat terlalu dalam.


"Biarkan mereka disini, aku mau pergi berlibur. Kau tidak berniat menghancurkan waktu liburku bersama Salwa untuk mengurusi dua anak itu kan?"


"Ide bagus, kalian sedang berlibur, sebaiknya ajak merek juga. Sekalian kau belajar cara mengasuh calon anakmu nanti," Abust sedikit terkekeh setelah mengucapkan hal itu , bayangan Sean tidak akan bisa berduaan dengan istrinya pasti membuat lelaki itu frustrasi. Sayangnya Abust tidak bisa melihat langsung wajah kesal Sean saat itu, pastilah sangat menyenangkan jika melihatnya langsung.


"Kau?"


"Ku mohon, anggap saja mereka anak-anakmu. Aku sangat kerepotan jika harus menjaga mereka sambil mencari ibunya," wajah Abust memelas saat meminta bantuan, membuat Sean tidak tega saja.


"Kenapa kau harus repot-repot mengurus mereka. Berikan saja mereka ke kantor polisi selama ibunya belum ketemu."


Abust menggeleng, entah apa yang ia rasakan saat ini. Abust merasa kedua anak itu menjadi tanggung jawabnya selama Catherine tidak ada.


"Aku mau merawatnya, ibunya hilang saat berada di tempatku. Untuk itu mereka saat ini adalah tanggung jawabku."


Sean mengerutkan keningnya, sejak kapan adik angkatnya ini mengerti tentang tanggung jawab kepada orang lain, yang bahkan tidak terlalu dikenalnya. Sean sangat mengenal Abust, lelaki itu tidak akan peduli dengan nasib orang lain, jika dalam posisi seperti itu, Abust mungkin akan melemparkan tanggung jawabnya untuk mengurus dua bocah itu ke dinas sosial sampai ibunya ditemukan.


Tetapi saat ini, melihat Abust lebih memilih mengambil penuh tanggung jawab itu sendiri membuat hati Sean tergelitik untuk mengetahui lebih dalam.


Sean melangkah mendekati Abust, lalu menepuk bahu adik angkatnya itu perlahan.


"Jangan cemaskan mereka, pergilah sekarang. Kejar cintamu sampai dapat."


"Hey, aku tidak mengatakan bahwa aku mencintainya, memang menurutmu aku mencintai siapa?" Abust mengelak perkataan Sean yang sebenarnya sangat tepat menggambarkan isi hatinya. Tetapi pikiran sadarnya berupaya untuk menolaknya.


"Aku juga pernah merasakannya saat itu, saat dimana aku harus memilih mempertaruhkan cinta dan harga diri. Tetapi disaat aku memilih cinta dan tidak mempermasalahkan tentang harga diri maupun gengsi, aku merasa bahagia. Aku sarankan kau melakukan hal yang sama agar kau tidak menyesal di kemudian hari."


Jika saja saat itu Sean memilih harga diri dengan gengsi yang tinggi maka Salwa mungkin akan ia nikahkan dengan lelaki lain karena perempuan itu hanyalah seorang pembantu, dan dirinya seorang pemimpin pengusaha besar. Tetapi Sean tidak melakukan itu, ia memilih menikahi Salwa dan setelahnya ia baru menyadari bahwa dirinya bebar-benar mencintai perempuan itu yang kini sudah menjadi istrinya.


"Tetapi semuanya berbeda, aku melihat rekaman cctv itu , dan dia dengan tidak tahu malu digandeng oleh seorang lelaki, padahal anaknya sedang terkapar di dalam."


"Abust, tidak semua yang kau lihat adalah benar. Terkadang pengelihatan seseorang bisa menipu dan menutupi kebenaran, ikuti kata hatimu, jika kata hatimu mengatakan kau harus meninggalkannya, maka lakukanlah. Dan jika kata hatimu mengatakan kau mempercayainya, maka kejarlah dia, perjuangkan cintamu."


Abust tampak merenung. Ya, mungkin Sean benar. Apa yang ia lihat tidaklah sepenuhnya benar, bisa saja lelaki itu adalah orang jahat atau...mantan suaminya yang mengancamnya dengan menjadikan kedua anaknya sebagai tameng. Sial, kenapa sebelumnya dirinya tidak memikirkan itu, dan lebih mementingkan emosinya sehingga ia tidak segera menolong Catherine dan lebih memilih mencari tempat penitipan untuk Ashton dan Axton. Kilat mata Abust tampak menajam, menggambarkan sebuah tekad yang kuat di dalam dirinya. meskipun ia terlambat menyadari kebodohannya, tetapi ia akan menebusnya dengan membawa kembali Catherine dan mempertemukannya dengan kedua putranya.


"Aku sudah memutuskan, aku akan pergi mencarinya."


Sean tersenyum dan mengangguk, tangannya kembali menepuk-nepuk bahu Abust dengan tegas, seolah memeberikan dorongan mental untuk adik angkatnya itu." Pergilah, selamat berjuang. Dapatkan cintamu kembali."


Abust mengangguk, perjuangan segera dimulai. ia akan berusaha sekuat tenaga menemukan Catherine dan memastikan perasaannya kepada perempuan itu. Mungkin ini adalah kesempatannya mencari cinta sejati yang selama ini ia anggap mustahil.


.....


\=》Bersambung

__ADS_1


__ADS_2