Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Cemas


__ADS_3

"Bagaimana kondisinya dokter?" Marcus dengan cemas menunggu jawaban pria bersnelli putih itu yang masih memperhatikan gambar foto radiologi milik Sean. Dokter tersebut mengangguk sambil mengulas senyum.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," dokter laki-laki itu meletakkan foto besar tersebut di atas meja kerjanya lalu mengaitkan ke dua jemarinya menjadi satu, menatap lekat Marcus yang tampak tak puas dengan jawabannya.


"Dia kehilangan banyak darah, lalu tertembak di kepala, bagaimana anda bisa mengatakan tidak ada yang perlu dicemaskan?"


Mendengar perkataan Marcus, dokter tersebut malah menipiskan bibirnya mengulas senyum.


"Itulah yang saya maksudkan, begitu banyak keajaiban yang Tuhan berikan untuknya, sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya." Dokter menunjukkan foto radiologi di layar besar yang ada di dinding belakang tubuhnya.


"Peluru yang menembus kepala pasien tidak sampai melukai organ dalamnya, karena korban memakai ikat kepala yang dilapisi dengan lapisan anti peluru hingga peluru yang bersarang di kepalanya tidak menembus terlalu dalam. Operasi berjalan lancar, meskipun pasien banyak mengeluarkan darah tetapi semua bisa disuplay dengan stok darah yang ada di bank darah," dokter menjeda sebentar perkatannya sambil melihat ekspresi lawan bicaranya yang tampak sedikit tenang dari sebelumnya.


"Doa keluarga sangat membantu kesembuhannya, tetaplah mendoakan pasien dan menemaninya selama masa kritis. Pasien akan melalui masa kritisnya jika ia tersadar nanti."


.....


"Ini buku yang kamu minta." Feby teman Salwa menyerahkan buku catatannya kepada Salwa.


"Terimakasih." Salwa menerima buku catatan tersebut lalu memasukkan ke dalam tasnya. Kemarin Salwa memang tidak masuk, kepalanya terasa pusing dan berkunang-kunang. Badannyapun sedikit lesu tidak seperti biasanya. Mungkin karena sejak Sean tidak ada kabar ia jadi merasa gelisah dan sulit tidur sehingga kondisi tubuhnya melemah.


"Kemarin cowok itu datang lagi, nanyain kamu," ucap Feby kemudian dengan mendaratkan bokongnya di bangku.


"Siapa?"


"Ya.. kakak senior yang ganteng itu, kayaknya dia suka sama kamu. Kenapa gak kamu terima aja sih? Udah ganteng, pinter baik banget.. wah beruntung banget kamu, coba dia ngejar-ngejar aku, langsung aku iya-in aja keburu diambil orang." Feby terus saja menyerocos menasehati Salwa panjang lebar. Salwa hanya terkekeh saja mendengarnya.

__ADS_1


"Apanya yang diterima, orang Varonya gak ngomong apa-apa?" Salwa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum menanggapi perkataannya temannya itu.


Varo memang belakangan ini sering tiba-tiba datang mendekati Salwa, tetapi lelaki itu tidak pernah menyinggung masalah perasaannya. Lalu bagaimana Salwa harus menanggapinya, tidak mungkin juga Salwa tiba-tiba menolak cinta Varo padahal Varo tak sekalipun mengungkapkan perasaannya kepada Salwa. Bisa-bisa Salwa dianggap ke Ge-eR-an bukan?


"Kamu aja yang gak bisa ngerasain, aku tuh udah bisa ngelihat kalo dia suka banget sama kamu. Dia gigih banget nyariin kamu kalo kamu gak ada. Kemarin aja dia minta nomor ponsel kamu sama nyari alamat rumah kamu." ucap Feby bersemangat.


"Apa? Lalu kamu ngasih gitu nomor aku sama alamat rumahku?" Tanya Salwa dengan penuh rasa penasaran.


"Emm...kalo alamat rumahmu ya... enggak... mau ngasih gimana, aku aja gak tahu. Tapi kalau nomor ponsel.... iya." Feby berkata dengan meringis menunjukkan deretan gigi putihnya memasang wajah tanpa dosa.


Salwa menghela nafas panjang, bisa panjang urusan jika Varo mengirim pesan yang tidak-tidak kepada dirinya.


"Lain kali bilang dulu kalo mau ngasih nomor ponsel aku ke orang," gerutu Salwa dengan wajah cemberut.


Salwa hanya memutar bola matanya menanggapi perkataan Feby. Rugi darimananya, justru kalau Varo tetap mendekatinya ia akan terkena masalah. Sepertinya Salwa harus menegaskan hal itu kepada Varo supaya laki-laki itu tidak bertindak lebih jauh, lagi pula belum tentu juga Varo menyukainya.


Varo memang sejak dulu sering mendekatinya, dan sesekali menggombal kepadanya. Tetapi hanya sebatas demikian, tidak lebih. Mungkin Varo hanya ingin berteman dengannya saja tanpa ada maksud lain. Namun hal itu tidak berlaku untuk saat ini, Salwa sudah menikah, ia tidak ingin ada kesalah pahaman di antara mereka suatu saat nanti.


Obrolan keduanya pun tiba-tiba terhenti karena dosen sudah memasuki ruang kelas. Semua sudah duduk ditempatnya masing-masing saat dosen matematika tersebut memulai pelajarannya. Salwa yang sedang sibuk mencatat apa yang dosen tersebut jelaskan dikejutkan dengan suara ponselnya yang tiba-tiba berbunyi nyaring.


Salwa buru-buru mematikan panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menghubunginya. Ia kemudian melanjutkan pencatatannya lagi. Dan sekali lagi ponselnya berbunyi, Salwa ingin mematikannya lagi tapi Dosen Matematika itu langsung menegurnya.


"Keluar, jawab panggilan itu atau matikan ponselnya!" sorot mata dosen tersebut begitu tegas, menganggap Salwa adalah salah satu mahasiswa yang tidak menghargai mata kuliah yang diajarkannya.


"Baik." Salwa mengangguk pasrah, ia ingin mematikan ponselnya namun sejenak ia mengecek siapa yang gigih menghubunginya hingga berkali-kali tersebut.

__ADS_1


Sebuah nomor yang tak dikenal, dan sepertinya nomor tersebut bukan dari dalam negeri karena berawalan angka plus satu bukannya plus enam dua. Salwa mengerutkan keningnya, lalu ia berdiri meminta izin untuk mengangkat panggilan yang masih menyala tersebut.


"Halo," Salwa segera menjawab panggilan tersebut setelah keluar dari kelasnya dan memastikan jarak aman agar suaranya tak mengganggu pelajaran yang sedang berlangsung.


"Salwa, ini aku... Marcus," suara barito terdengar dari ujung sana membuat Salwa terkesiap. Marcus, sepupu Sean suaminya itu tiba-tiba menghubunginya. Hati Salwa merasa semakin cemas, seharusnya Sean lah yang menghubunginya, tetapi kenapa harus Marcus. Apakah ada hal yang membuat Sean enggan menghubunginya.


"Marcus, apa yang terjadi?" Suara Salwa terasa sedikit bergetar, ada kekhawatiran yang kental dalam nada bicaranya. Perempuan itu sedang dilanda kecemasan yang teramat sangat. Marcus menghela napas panjang, ia berusaha merangkai kata-kata agar Salwa bisa menerima kenyataan yang akan ia ungkapkan setelah ini.


"Salwa, Sean sedang dirawat di rumah sakit. Ia tertembak di kepalanya, dokter sudah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di kepalanya. Tetapi saat ini ia belum juga sadar. Sean membutuhkanmu untuk melewati masa kritisnya. Bisakah kau berbicara dengannya dengan memberinya semangat agar bisa segera sadar?" Marcus menunggu jawaban dari Salwa tetapi sepertinya Salwa tak kunjung menjawab permintaannya.


Sean tertembak, suaminya sedang terluka dan saat ini belum melewati fase kritisnya. Tangan Salwa gemetar, ia tak mampu bicara sepatah katapun. Matanya tiba-tiba berair lalu menetes membanjiri wajah cantiknya itu.


"Salwa, apakah kau mendengarku?" Marcus kembali bersuara, menyadarkan Salwa yang masih mencerna dan menelaah perkatannya.


"Marcus... aku... aku mendengarmu." Salwa menjawab dengan terbata-bata, lidahnya kelu tak bisa berucap banyak.


"Aku.. akan... kesana!" imbuhnya kemudian.


"Tidak, kau membutuhkan waktu puluhan jam untuk datang ke tempat ini dan itu menurutku tidak efisien," ucap Marcus menolak ide Salwa dengan tegas. Ia berusaha berpikir logis dan menpertimbangkan semua masak-masak sehingga tidak akan membuat segala sesuatunya sia-sia.


"Lalu,,, apa yang harus aku lakukan?" Salwa menggigit bibir bawahnya menahan isak tangis yang mungkin akan keluar sebentar lagi. Dadanya terasa sesak menyadari tak ada yang bisa ia lakukan disaat Sean sedang berjuang melawan maut. Salwa menjadi frustrasi karenanya.


"Dengarkan aku, Sean membutuhkanmu, aku ingin kau berbicara dengannya. Aku akan menghubungkanmu dengannya. Kau cukup mengajaknya bicara melalui sambungan telepon. Aku yakin ia akan mendengar perkataanmu."


》bersambung

__ADS_1


__ADS_2