
"Maaf." Sean mendekap Salwa , menenengkan istrinya itu yang tampak gemetar ketakutan. Wajahnya pucat pasi, membuat Sean semakin mencemaskannya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Sean membungkuk memperhatikan wajah Salwa yang sangat kusut dengan berderai air mata. Salwa menggeleng, ia memang merasa tidak enak badan tetapi bibirnya tak sanggup mengatakan apa-apa. Ia masih menangis sesenggukan.
Sean kembali mengeratkan pelukannya dengan tangan membelai punggung Salwa agar istrinya itu sedikit tenang. Akan tetapi Sean merasa tubuh Salwa semakin berat seolah Salwa berniat memindahkan beban tubuhnya dalam pelukan Sean. Tubuh Salwa sudah tidak bergetar lagi, Sean melonggarkan pelukannya memastikan keadaan istrinya itu. Namun tiba-tiba tubuh Salwa merosot ke bawah, beruntung Sean dengan sigap menangkap tubuh Salwa sehingga istrinya itu tidak terjatuh.
Salwa pingsan, gadis itu tak sadarkan diri dalam pelukan suaminya. Sean menggoncang-goncangkan tubuh Salwa, tetapi tidak ada respon sedikitpun.
"Siapkan mobil cepat!"
Sean mengangkat tubuh istrinya itu dengan berjalan tergopoh-gopoh melewati lorong-lorong kampus. Ia tidak peduli ratusan pasang mata mahasiswa baik laki-laki maupun perempuan sedang memperhatikannya dalam kondisi berantakan. Sean hanya memikirkan kondisi Salwa, istrinya itu harus baik-baik saja.
Angela yang ikut dalam kerumunan para pendemo itu terbelalak melihat tuan Paderson yang ia incar, yang merupakan majikan Salwa sedang menggendong pelayannya yang udik itu. Ia ingin menghalangi Sean dengan mengejar, menyejajari langkahnya tetapi Sean seolah tak memperhatikannya. Matanya hanya tertuju kepada mobil mewah yang sudah siap menjemputnya.
"Tuan."
Sopir sudah siaga dengan membukakan pintu mobil untuk tuannya, Sean segera memasukkan tubuhnya dengan membungkuk hati-hati agar kepala Salwa tidak sampai terbentur. "Cepat jalan!" Perintah Sean kemudian.
Angela yang ingin mengetahui apa yang terjadi sehingga Salwa bisa berakhir di gendongan Sean tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin ia akan menyelidikinya lain kali, karena setelah kepergian Sean ia mendapati Alvaro sedang digotong oleh orang-orang berbaju hitam menggunakan tandu.
Angela menganga mendapati Varo babak belur seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Varo bisa dalam kondisi seperti itu sementara Salwa juga pingsan? Angela yang makin penasaran berusaha mendekat, namun lagi-lagi ia menelan kekecewaan. Para bodyguard Sean menghalangi siapapun mendekat.
Varo, lelaki itu dibawa oleh mereka menggunakan mobil yang sudah terparkir cantik di depan gerbang kampus.
.....
Mata Salwa mulai terbuka saat bau khas rumah sakit menyeruak dalam rongga hidungnya. Bulu matanya mengerjap beberapa kali menyeimbangkan intensitas cahaya yang masuk kedalam pupil matanya. Pandangan mata pertama kali langsung terpatri pada wajah Sean yang terlihat cemas. Sean menarik kedua sudut bibirnya, yang berangsur-angsur membentuk sebuah lengkungan. Sean tersenyum lega setelah Salwa membuka mata.
"Lagi?"
Mata Salwa berkaca-kaca, ia berbaring disini lagi, di rumah sakit. Ia membenci rumah sakit, setiap berbaring di ranjang perawatan pasti akan ada masalah menghampirinya. Di lecehkan Yang Pou Han, keguguran bayinya, dan perlakuan kasar Sean yang sempat membuatnya masuk ke rumah sakit. Salwa seolah trauma dengan ranjang rumah sakit.
"Bagaimana rasanya, apa masih sakit?" Tanya Sean lembut sambil menggenggam jemari istrinya yang terasa lemas. Salwa tersenyum simpul lalu menggelengkan kepala memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja.
Tatapan Sean melembut, ia mengecup buku-buku jari Salwa dengan menghembuskan napasnya yang hangat di permukaan kulit Salwa.
"Maaf, karena tidak bisa menjagamu dengan baik." Sean kemudian mengusap kepala Salwa yang masih berbalut kerudung dengan penuh sayang.
Salwa kembali melebarkan senyumnya, merasa dicintai dan disayangi. Tetapi beberapa detik kemudian wajahnya berubah sedih, seperti mengkhawatirkan sesuatu. Salwa teringat Varo, lelaki itu sebelumnya telah dihajar habis-habisan oleh suaminya, lalu bagaimana sekarang keadaannya, apa dia baik-baik saja? Atau mengalami patah tulang karena begitu banyaknya pukulan yang telah ia terima?
"Apa ada yang kau pikirkan?" Tanya Sean kemudian melihat wajah istrinya itu muram. Salwa menggeleng tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Ia bingung harus menjawab apa.
Salwa menggigit bibir bawahnya, ia ingin bertanya tetapi takut. Takut jika suaminya itu salah paham akan maksudnya. Apalagi sebelumnya Sean melihat bagaimana Varo memperlakukannya. Varo hampir melecehkannya dengan memeluknya dan menciumi wajah Salwa. Apakah Salwa masih pantas untuk mengkhawatirkan lelaki seperti itu? Lelaki yang menginginkan anak yang ia kandung mati, lelaki yang hampir merengut harga dirinya.
Varo, Salwa sangat membenci laki-laki itu. Tetapi ia juga masih memikirkannya.
"Iya, aku mencintaimu Salwa, aku mencintaimu. Kau mendengarku, aku mencintaimu"
__ADS_1
Kata-kata Varo terus terngiang di telinga Salwa membuatnya kembali berkaca-kaca. Varo adalah orang baik, hanya saja ia mencintai orang yang salah. Tetapi apakah berubahnya diri Varo itu karena kesalahannya. Dia tidak akan seperti itu jika tidak tertarik padanya. Varo akan tetap menjadi Varo yang dulu. Varo yang baik dan suka membantu, bukan Varo yang seperti saat ini.
"Apakah kau memikirkan laki-laki itu?" Sean berucap tajam dengan wajah yang berubah dingin. Salwa ingin menggeleng tetapi hatinya mengatakan iya. Akhirnya ia memutuskan memberi tahu isi hatinya kepada Sean.
"Mas, jika aku mengatakan ini,
apakah engkau akan marah?" Tanya Salwa dengan ragu-ragu. Ia menatap netra suaminya yang berkilat tajam. Mungkin Sean menyadari kemana arah pembicaraan mereka, sehingga ia terlihat malas menjawabnya.
"Aku tidak tertarik membicarakan lelaki itu, tidurlah. Dokter akan segera memeriksamu."
Salwa menghela napasnya panjang. Apakah Sean marah kepadanya? Atau kecewa?
Salwa lebih baik menerima amarah suaminya itu daripada kekecewaan yang ditampilkan dari sorot matanya. Itu terasa menyakitkan.
Dokter laki-laki berseneli putih itu datang memeriksa kondisi Salwa. Sementara Sean berdiri mematung di samping ranjang istrinya.
"Kondisinya baik, istri anda mungkin kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Jika kalian mempunyai masalah, bicarakan baik-baik agar ibu bayi tidak stres karena hal itu bisa mempengaruhi kondisi janin." Dokter tersebut meresepkan multivitamin untuk Salwa yang kemudian ia berikan kepada suster yang ada di belakangnya.
"Kami permisi dulu." Dokter tersebut berpamitan dan dijawab anggukan oleh Sean.
Sean masih berdiri di samping ranjang perawatan Salwa. Membiarkan kesunyian membentang memberikan jarak di antara mereka. Ada rasa sakit di hati Sean saat melihat Salwa di dekati oleh Alvaro.
Berbeda dengan saat itu. Saat dimana Yang Pou Han juga mengincar istrinya bahkan juga sempat melecehkan Salwa dengan mencium bibir istrinya paksa di ruang perawatan. Sean hanya marah kepada Yang Pou Han, ia melampiaskannya dengan memukuli lelaki itu hingga lebam di sekujur tubuhnya, tetapi tidak ada rasa sakit seperti yang ia rasakan sekarang.
Mungkin karena dulu Salwa tidak ada perasaan apa-apa dengan Yang Pou Han sehingga Sean hanya marah kepada lelaki itu. Tetapi saat ini, Alvaro lelaki yang merupakan cinta pertama Salwa mulai merayu dan menginginkan Salwa agar mau bersamanya. Bahkan lelaki itu merencanakn membuang janin yang merupakan darah daging Sean agar Salwa bisa seutuhnya menjadi miliknya.
Sean berdehem sedikit, menghilangkan rasa canggung di antara mereka. Ia tepis semua rasa sakit yang sempat melintas di hatinya. Bagaimanapun juga ia masih mempercayai Salwa. Ia sempat menangkap perkataan Salwa memaki Alvaro saat itu. Itu berarti Salwa masih setia dengannya.
"Kau mau minum?" Tanya Sean membuka kata. Salwa yang sedari tadi tidak berani mengatakan sesuatu akhirnya tersenyum , menengadah menatap suaminya itu. Ia mengangguk dengan raut muka yang tampak lega.
"Terimakasih," ucap Salwa setelah menerima gelas dari tangan Sean. Salwa mencoba duduk dari pembaringannya setelah menerima gelas berisi air itu. Tangannya sedikit tergoncang mengakibatkan air yang ada dalam gelas tersebut tumpah mengenai pakaiannya.
Sean yang melihat istrinya kesusahan duduk, segera mengambil gelas dari tangan Salwa lalu mengambil posisi di belakang Salwa dan membantu perempuan itu duduk.
Sean menyandarkan punggung Salwa di dadanya lalu memberikan gelas yang berisi air minum itu kepada Salwa. Salwa menerima kembali gelas tersebut lalu meneguknya sedikit hanya untuk membasahi tenggorokannya saja. Sean mengambil alih gelas dari tangan Salwa lalu meletakkannya kembali di atas nakas di samping ranjang perawatan Salwa.
"Aku merasa kita pernah melakukan adegan ini sebelumnya," ucap Salwa kemudian sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
Sean mengangguk, membenarkan perkataan Salwa. "Iya, aku mengingatnya."
"Apa rasanya sama?" Tanya Salwa kemudian.
Sean diam , tentu rasanya berbeda. Dulu Sean hanya tertarik kepada Salwa, ia sempat merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya tetapi mungkin karena dirinya memang menyukai Salwa. Sean tidak merasakan cinta seperti saat ini.
Salwa meraih tangan Sean, lalu ia genggam dengan tangannya yang terbebas dari jarum infus yang kemudian ia letakkan di atas dadanya.
"Rasa disini, aku merasakan jauh lebih besar dari pada saat itu," ucap Salwa sambil memejamkan matanya, merasakan tangan kekar suaminya sedang melingkar di tubuhnya.
Sean terdiam, tidak menyangka Salwa akan mengatakan hal itu, lalu kemudian kedua sudut bibirnya tertarik ke atas menciptakan senyuman yang indah.
__ADS_1
"Salwa." Sean menyebut nama istrinya dengan lirih namun masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran Salwa.
"Hemm," Salwa hanya berdehem menjawab panggilan suaminya itu.
"Apakah engkau masih menyimpan perasaan untuk Varo?"
Salwa menengadah dan membalikkan sedikit tubuhnya menatap suaminya itu yang terlihat tingkat kepercayaan dirinya sedikit luntur.
Salwa menyentuh rahang Sean yang ditumbuhi rambut-rambut kecil yang terasa geli di tangannya. Ia memajukan wajahnya mendekat ke wajah suaminya itu. Hanya terjadi beberapa detik, Salwa menyatukan bibirnya dengan bibir Sean namun mempunyai pengaruh luar biasa bagi keduanya.
"Aku hanya mencintaimu, menginginkanmu, menyayangimu dan anak kita," ucap Salwa lembut dibarengi senyumnya yang menawan. Senyuman Salwa menular kepada Sean. Pria itu ikut tersenyum mendengar perkataan istrinya. Ia kemudian menunduk menyatukan kening mereka dan berucap janji yang hanya ia sendiri yang tahu maksudnya.
"Meskipun seandainya kau tidak mencintaiku, aku akan tetap memaksamu untuk mencintaiku sampai kau tak sanggup berpikir untuk berpaling dariku." Sean kemudian memiringkan wajahnya, menempelkan bibirnya dengan bibir Salwa, membuat penekanan di benda kenyal itu dengan sedikit mengeluarkan sensasi nikmat dalam permainan ciuman mereka.
"Aku mencintaimu, aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun," ucap Sean kemudian setelah ciuman mereka berakhir.
"Bagaimana caramu melakukannya?" Suasana tampaknya sudah mencair melihat kedua bibir mereka saling membentuk sebuah senyuman dalam setiap perkataannya.
"Itu rahasia, kau tidak perlu tahu."
Salwa mengangkat sebelah alisnya.
"Rahasia, kalau begitu aku juga akan merahasiakan sesuatu darimu?" Salwa sedikit menyembunyikan senyumnya saat melihat Sean sedikit terpengaruh.
"Kau punya rahasia?" Sean bertanya lagi yang dijawab anggukan oleh Salwa.
"Rahasia yang belum aku ketahui?" Tanya Sean lagi yang kembali diikuti anggukan dari Salwa.
"Tidak mungkin, aku sudah mengetahui semua tentangmu, bahkan aku juga menyelidiki tentang dimana kamu dilahirkan, rumah sakit mana, dokter yang membantu ibumu bersalin, bahkan makanan apa saja yang ibumu makan saat mengandungmu," ucap Sean dengan bangganya.
"Apa... kau menyelidiku sampai seperti itu?" Tanya Salwa tidak percaya.
"Aku juga tahu kau pernah ketahuan menyontek saat ujian kelas dua sekolah dasar, membuang nilai ujian Kimiamu karena mendapat nilai tiga puluh lima. Dan kau pernah kentut di kelas sehingga semua temanmu menertawaimu lalu kau menangis melapor kepada wali kelasmu."
Salwa menganga, bahkan Sean tahu rahasia-rahasia kecilnya itu. Wajah Salwa merona, malu tetapi kemudian ia mencubit perut Sean dengan gemas.
"Ahh, kenapa mencubitku?"
"Karena kau curang, bagaimana kau tahu tentang itu semua, bahkan aku tidak pernah mengatakannya kepada siapapun," ucap Salwa dengan gemas bercampur kesal.
Sean tersenyum, ia tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak menciumi pipi istrinya yang mengembung karena merajuk.
"Mas membaca buku diary mu," Sean berkata dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Mas... kau ini menyebalkan." Teriak Salwa sambil mencubiti perut suaminya berkali-kali. Sean menangkap tubuh Salwa lalu memeluknya. Keduanya kemudian tertawa bersama-sama.
Berbicara dari hati ke hati bisa menyelesaikan masalah, karena dengan kebungkaman akan menciptakan masalah-masalah baru dan membuat segalanya menjadi rumit.
\=》Bersambung...
__ADS_1