
Sean dan Salwa bersama baby Kinan sudah bersiap segera meninggalkan rumah sakit. Para bodyguard membantu mereka berkemas. Sean menyuruh istrinya itu untuk mengenakan kursi roda karena masih kesusahan untuk berjalan dengan membawa Kinan dalam gendongannya. Sean mendorong kursi roda Salwa keluar, namun tiba-tiba Leon dan Abust datang menemuinya.
"Sean, aku mendengar kabar dari dokter Alan bahwa kau keluar dari rumah sakit hari ini, sehingga aku cepat-cepat datang kemari." Alan yang baru tiba langsung memberitahu alasannya datang.
Sean mengangguk, tanpa berkata apa-apa ia mendorong kursi roda Salwa lagi.
"Sean, sebaiknya tinggallah dirumahku. Aku sangat senang nantinya jika kau mau menginap beberapa minggu ke depan." ucap Leon lagi dengan menatap baby Kinan yang masih terlelap dalam gendongan ibunya.
"Tidak, kau sering membawa perempuan ke rumahmu. Aku tidak ingin anakku terkontaminasi dengan perempuan-perempuan tidak jelas yang kau bawa dari luar."
"Bagaimana dengan rumahku, aku sudah menikah. Dan tentunya aku tidak akan membawa perempuan liar ke rumahku. Lagi pula kau membutuhkan seseorang membantu untuk merawat bayimu. Kakak ipar masih belum pulih benar bukan? Catherine akan sangat membantu nantinya." Abust menawarkan dengan bersungguh-sungguh.
Sean tampak berpikir, mungkin yang dikatakan Abust ada benarnya. Tawaran adik angkatnya itu terasa menggoda. Salwa masih belum pulih dan akan kesulitan baginya untuk mengurus Kinan meskipun Sean pasti akan siap membantunya dua puluh empat jam penuh. Tetapi mengurus bayi, dia dan Salwa sama sekali belum berpengalaman. Mungkin dengan keberadaan Catherine, Salwa bisa belajar banyak dari perempuan itu.
Sean membungkuk, berbisik lirih di telinga Salwa. "Bagaimana?"
Salwa tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Terserah mas saja, aku tidak keberatan tinggal di manapun asalkan bersamamu."
Setelah mendapat persetujuan dari Salwa, Sean menyetujui tawaran Abust. "Baiklah, kami ikut denganmu."
Abust tersenyum senang, ia melihat baby Kinan yang terlihat begitu menggemaskan, wajahnya mirip sekali dengan Sean. Bahkan lelaki itu mematrikan wajahnya hampir seratus persen kepada anaknya sebagai pertanda bahwa bayi mungil itu adalah anaknya tanpa menyisahkan sedikitpun wajah sang ibu. Abust seperti melihat Sean yang masih bayi. Mereka berdua bagaikan kembar identik yang berbeda usia.
"Siapa nama bayi mungil ini?" Abust bertanya sambil berniat menyentuhkan tangannya untuk mengelus pipi gembul baby Kinan. Melihat itu, sikap posesif Sean kembali menguar.
"Singkirkan tangan kotormu itu, kau belum mencuci tanganmu saat memasuki ruangan ini. Siapa tahu kau habis mengupil saat di perjalanan."
"Hey, aku tidak sejorok itu." decak Abust yang kemudian membuat Leon di sebelahnya terkekeh.
Butuh waktu sekitar dua puluh lima menit mereka tiba di kediaman Abust. Ini benar-benar rumah, bukan sebuah markas seperti yang Salwa lihat sebelumnya. Rumahnya terlihat asri dengan pepohonan yang rindang di setiap sudutnya hal itu pasti membuat penghuninya merasa nyaman. Rumah bergaya modern dengan warna putih dan karamel yang mendominasi di seluruh tempat, bahkan pagar utama yang menjulang tinggipun berwarna senada.
Sean beserta rombongan sudah berhenti tepat di pintu utama rumah Abust, dan di sana sudah berdiri Catherine, Ashton dan Axton yang berniat menyambut kedatangan mereka.
"Ayah." Ashton dan Axton berhambur memeluk Abust. Melihat kedekatan mereka tampaknya Abust sudah bisa menaklukan hati kedua anak Catherine.
Abust berjongkok, menghadiahi kecupan hangat penuh sayang kepada kedua anak tirinya itu lalu berdiri menggandeng mereka berdua masuk ke dalam. Dengan isyarat mata Abust meminta Catherine mengurus segala keperluan Sean dan Salwa yang ternyata sudah mereka siapkan sebelumnya.
"Silakan masuk, aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian."ucap Catherine ramah , menatap dengan tersenyum kepada sepasang orang tua baru itu.
"Terima kasih Catherine." Salwa dengan sikap ramah yang sama berterima kasih kepada istri adik iparnya itu.
"Kau tampak lelah, biarkan aku yang membawanya." Catherine menawarkan bantuan untuk menggendong baby Kinan untuk sementara karena melihat Salwa dan Sean kelelahan. Tetapi hal itu tidak disambut ramah oleh Sean, dengan sikap posesifnya ia menghalangi Catherine untuk menyentuh anaknya.
__ADS_1
Bagaimanapun Catherine pernah mencelakainya, ia tidak ingin anaknya kenapa-kenapa di luar pengawasannya.
"Sudah berikan saja, aku akan menjaganya bersama Catherine. Kau bisa beristirahat dengan tenang bersama kakak ipar." Abust menyela di saat melihat tatapan tak percaya Sean yang di tujukan kepada istrinya. Abust cukup mengerti, meskipun Catherine sudah berstatus sebagai istrinya, tetap saja ada rasa tidak percaya Sean kepadanya.
"Mas aku mempercayai mereka," ucap Salwa yang membuat Sean akhirnya mengalah. Sean membiarkan Kinan berpindah ke tangan Catherine dengan menampilkan tatapan tidak rela, tetapi kemudian Salwa berusaha mengalihkan perhatian suaminya itu.
"Mas, aku merasa sangat kotor. Aku ingin mandi." Dengan wajah memerah sedikit malu Salwa mengatakannya, karena saat ini ada Catherine dan Abust yang masih belum terlalu jauh dari tempatnya, berharap kedua orang itu hanya fokus kepada baby Kinan saja tanpa memedulikan perbincangannya dengan Sean.
"Ingin mandi?" tanya Sean dengan mengulangi perkataan Salwa. Salwa mengangguk sambil mendongakkan wajahnya ke atas menatap Sean yang berada di belakangnya.
"Baiklah, aku akan membantumu." Wajah Sean yang semula tegang kini berubah, ada senyum yang berusaha ia tahan di bibirnya tetapi tetap saja dari binar matanya terlihat jelas bahwa lelaki itu sedang bahagia.
Sean mendorong kursi roda Salwa menuju kamar mereka yang berada di lantai dua. Rumah Abust dilengkapi dengan lift yang menghubungkan lantai satu dengan lantai lainnya yang berjumlah tiga lantai. Sean dan Salwa didampingi oleh anak buah Abust untuk menunjukkan di mana kamar mereka yang telah disiapkan.
"Kau lihat kakak ipar? Aku yakin dia tadi sangat malu mengatakan itu di belakang kita." Abust berbisik kepada Catherine dengan sedikit menahan tawa setelah Sean dan Salwa menghilang di balik pintu lift yang sudah tertutup.
Catherine menyikut pelan lengan Abust, "Jangan meledeknya, dia memang pemalu tetapi aku belum pernah melihat wanita sebaik dia. Melihat masa lalu Sean yang kelam, aku pikir Sean sangat beruntung mendapatkan pasangan seperti Salwa."
Abust mengangguk, menyetujui perkataan Catherine. Andai perempuan yang mendampingi Sean saat itu adalah tipe pembangkang dan tidak sabaran mungkin mereka tidak akan bisa melewati ujian rumah tangga seperti yang mereka alami dengan baik, tetapi melihat bagaimana Salwa bisa bertahan dengan Sean sampai detik ini, Abust yakin setelah kedatangan baby Kinan di antara mereka, kehidupan Sean dan Salwa akan semakin lengkap dan berbahagia."Ya, kau benar. Aku senang akhirnya mereka bisa menemukan kebahagiaan." ucap Abust menimpali dengan merangkul mesra pinggang Catherine yang masih menggendong baby Kinan.
....
"Itu kamar siapa?" Sean mengedikkan dagunya , menanyakan siapa pemilik kamar yang ada di sebelah kamar yang akan ia tempati.
Pintu sudah tertutup. Sean membungkuk di depan Salwa dengan mengulas senyum yang sedari tadi berusaha ia tahan. "Apakah kau ingin mandi sekarang?"
"Iya, aku akan membersihkan diri." Salwa beranjak dari kursi rodanya, Sean yang tadinya membungkuk memberi jalan kepada istrinya yang tampak kesulitan berjalan. Salwa masih merasa sakit di bagian bekas jahitan meskipun sekarang sudah memasuki hari ke empat pasca persalinan.
"Maaf, kau jadi seperti ini karenaku." Setiap kali melihat Salwa kesakitan , Sean pasti merasa bersalah dan menganggap semua kesakitan yang dialami Salwa adalah karena keegoisannya ingin memiliki keturunan dari perempuan yang ia cintai.
"Jangan selalu menyalahkan dirimu mas, ini adalah kodrat dari seorang wanita. Dan aku ikhlas menjalaninya."
"Tapi,.." Salwa membungkam bibir Sean dengan telapak tangannya, agar mereka tidak melanjutkan perdebatan itu lagi.
"Apa penawaranmu tadi masih berlaku?" tanya Salwa kemudian yang malah membuat Sean kebingungan.
"Penawaran apa?" ucapnya dengan mengerutkan kedua alisnya. Salwa tersenyum lalu berjinjit meninggikan tubuhnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Sean. "Kau menawariku untuk membantuku .... mandi." Mata Sean seketika melebar dengan seringai di bibirnya. "Tentu."
Tanpa menunggu perintah Sean sudah membawa Salwa dalam gendongannya, berjalan dengan langkah lebar menuju kamar mandi.
.....
__ADS_1
Salwa sedang menyusui baby Kinan saat tengah malam. Sean yang sedari terjaga belum juga bisa memejamkan mata. Apalagi setelah membantu Salwa tadi ia ingin sekali melanjutkan lebih. Dan tentu saja ia harus bisa menahannya sekuat tenaga. Sean membolak-balikkan tubuhnya berkali-kali agar matanya segera terpejam sehingga ia tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Pikiran kotornya itu benar-benar tidak bisa dibersihkan dengan cepat, mungkin ia membutuhkan sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya dari hal-hal seperti itu.
"Ada apa?" tanya Salwa setelah selesai memberi makan baby Kinan. Bayi itu sekarang sudah kembali tertidur lelap dengan perut kekenyangan.
"Tidak apa, istirahatlah. Biar aku yang menjaganya jika dia terbangun." ucap Sean dengan menghindari bersitatap dengan istrinya itu. Sebagai tameng pertahanan dirinya, ia lebih baik tidak bersitatap dengan mata Salwa. Karena di bawah cahaya lampu tidur yang temaram seperti ini, melihat mata Salwa yang selalu terasa memabukkan baginya sangatlah berbahaya.
"Baiklah, tapi kau juga harus segera tidur mas." Sean mengangguk, mengiyakan perkataan Salwa. Tetapi tiba-tiba ada suara yang sangat Sean benci untuk saat ini terdengar mendayu-dayu di telinganya.
Suara desahan seorang laki-laki dan perempuan yang sedang bercinta dengan saling memberi kenikmatan satu sama lain.
"Cih, apa mereka tidak bisa memasang peredam suara." Sean mengumpat kelakuan suami istri yang tidak tahu malu itu, yang seperti sengaja membuat Sean ikut terangsang karenanya.
Suara itu terdengar makin kencang dan jelas yang makin lama temponya semakin cepat. Sean sudah membayangkan bahwa saat ini mereka sedang merasakan berada di puncak kenikmatan, seperti apa yang biasanya Sean lakukan bersama istrinya. Wajah Sean tampak menegang dibalut dengan dorongan yang kuat untuk melampiaskan naluri lelakinya saat itu juga. Tetapi sekali lagi ia harus menahan kecewa karena mengingat Salwa masih belum siap melakukannya.
Sean beranjak dari tidurnya, "Aku dobrak saja mereka." Suara Sean terdengar oleh Salwa yang hampir menutup mata, membuat perempuan itu urung memejamkan matanya.
"Mas kau mau apa?" tanya Salwa tiba-tiba, Sean menoleh mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamarnya.
"Apa aku mengganggu tidurmu?" Sean berucap dengan menyesal. Seharusnya Salwa sudah terlelap, tetapi karena dirinya yang tidak bisa mengendalikan diri membuat istrinya itu kembali terjaga.
"Aku belum tidur." jawab Salwa kemudian. Ia menatap Sean dan menyadari lelaki itu sedikit aneh. Sean terlihat tegang seperti ada yang ditahan-tahan olehnya tetapi ia tidak sanggup melakukannya. Salwa beranjak dari tidurnya, menghampiri Sean yang masih berdiri di ambang pintu yang masih tertutup, menggandeng tangannya lalu menuntunnya duduk di tepian ranjang.
Suara itu muncul kembali, dan kali ini Salwa juga mendengarnya. Wajah Salwa tiba-tiba memerah mendengar suara desahan yang sangat jelas di telinganya. Meskipun bukan dirinya yang melakukannya tetapi tetap saja Salwa merasa malu. Pantas saja Sean menjadi aneh, Hal itu karena ada suara-suara laknat yang mengganggu pikirannya.
"Emm, apa kau butuh pelukan?" perkataan Salwa membuat Sean menoleh,"Hah..?"
"Hanya sebuah pelukan, tidak lebih. Aku akan membantumu untuk tertidur." Salwa berucap dengan malu yang ditahan.
"Kalau kau tidak butuh aku...,"
"Aku butuh.., aku butuh pelukanmu."Sean menyela dengan cepat, tawaran Salwa cukup menggiurkan. Mungkin tidur dalam dekapan istrinya ia akan mudah merasuk ke alam mimpi dan menghempaskan semua pikiran kotor dari dalam otaknya.
Sean berbaring miring, dengan Salwa berbaring berhadapan dengannya. Salwa yang biasanya tertidur dalam pelukan suaminya dengan wajah ia tenggelamkan di dada Sean , kini berubah posisi. Sean lah yang dipeluk oleh Salwa dengan wajah ia letakkan di dada istrinya sambil memejamkan mata, berharap kantuk segera menyerangnya.
.....
Catherine mencubit perut Abust dengan sedikit keras. Lelaki itu meringis sambil cekikikan menahan tawa.
"Kau sangat jahil." ucap Catherine dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Biarkan saja, mereka selalu bermesraan saat aku tidak punya pasangan, dan saat ini aku yakin Sean sangat tersiksa, menahan nafsu yang menggebu dalam dirinya karena tidak tersalurkan. Aku sangat penasaran bagaimana wajah Sean saat ini."
__ADS_1
Abust memutar film dewasa dan mengeraskan volumenya agar terdengar dari kamar yang ditempati Sean yaitu tepat di sebelahnya. Ia memang berniat mengganggu kakak angkatnya itu, karena saat ini Sean harus puasa bercinta sampai Salwa sudah bisa melakukannya.
.....