
Sean sudah menghubungi polisi setempat untuk membantunya menyelamatkan David, entah kenapa ia sekarang merasa wajib menyelamatkan laki-laki tua itu, bayangan wajah tua yang rapuh terus berlalu-lalang di pikirannya membuat Sean semakin tidak tenang saja. Apalagi saat dirinya menyentuh dan menggenggam tangan yang kurus dengan dibalut sedikit daging itu telah berhasil membuat dirinya terharu.
Begitukah rasanya menyentuh tangan seorang ayah, ada rasa aneh yang menyenangkan saat tangan mereka bersentuhan, bahkan Sean belum pernah merasakan hal itu sebelumnya. Ayah... apakah seperti itu rasanya memiliki ayah.
Dengan langkah cepat, dan hati dipenuhi gejolak emosi yang meledak-ledak. Sean dan sekelompok polisi menyergap markas The Bloods tersebut sesuai informasi yang diberikan oleh Barack. Sean yang sebelumnya merupakan ketua dari kelompok dunia gelap itu sudah terbiasa dengan wajah-wajah aneh para anggota the bloods.
Bahkan anak buah Sean dulu jauh lebih mengerikan dari mereka.
Sean datang seorang diri, sementara para polisi sudah mengepung di segala penjuru sambil mencari di mana David berada.
Sean memasuki wilayah The Bloods dengan mengenakan stelan kain formal berwarna hitam yang di dalamnya sudah ia lapisi dengan baju anti peluru. Ia mengenakan kain pengikat di kepalanya.
Melihat kedatangan Sean para anggota The Bloods langsung menyerang Sean, tetapi Sean dengan mudah mengalahkan mereka. Amarah Sean terasa memburu sehingga siapapun yang menghadang langsung dihajarnya tanpa ampun. Seolah aura membunuhnya yang telah lama terpendam mulai berkumpul dan mendapatkan jalannya untuk muncul kembali ke permukaan. Sean benar-benar terlihat seperti pembunuh profesional dan berdarah dingin.
Bukan hanya Sean, para anggota polisipun ikut melakukan baku hantam dan mengumpulkan anggota the Bloods yang lain untuk mereka tangkap dengan memakaikan gelang besi di tangan mereka.
Sekilas Sean mendapati seseorang sedang mendorong sebuah kursi roda menyelinap ke luar ruangan. Ia yakin bahwa Davidlah yang sedang didorong mengenakan kursi roda itu. Sean berlari ke jalan yang sama seperti yang ia lihat sebelumnya, dan benar saja Sean melihat sebuah mobil yang akan membawa David pergi.
"Berhenti!" Sean berteriak sambil menembakkan pistolnya ke arah kaca mobil tersebut.
PRAANGGG..
__ADS_1
Mobil itu tetap nekat menjalankan mesinnya, tetapi dengan kemampuan menembaknya Sean kembali melesatkan pelurunya ke arah ban mobil tersebut.
Terdengarlah suara Ban yang meledak dengan menimbulkan dentuman yang begitu keras memekakkan telinga. Mobil itu oleng hingga akhirnya menabrak pohon.
Sean segera berlari menyusul mobil tersebut. Pengemudi mobil itu pingsan, sementara David masih selamat dengan tubuh yang terikat kuat di atas kursi rodanya. Mulutnya dibungkam dengan buntalan kain sehingga David tidak bisa berbicara sedikitpun.
Sean segera mengeluarkan David dari mobil itu, dengan sekuat tenaga ia membuka pintu mobil tersebut yang sudah tidak berbentuk akibat benturan keras tadi. Sean mengangkat kursi roda David lalu mengeluarkannya dari sana. Ia membuka tambang yang mengikat erat tubuh David hingga menyatu dengan kursi rodanya.
Sean terlihat menahan air mata haru saat tubuh mereka terasa begitu dekat, dengan perlahan ia mengambil bongkahan kain yang menyumpal mulut David itu hingga terlepas.
David menghirup udara banyak-banyak memenuhi rongga paru-parunya yang sempat terasa sesak, tangan kurusnya yang sudah terbebas menyentuh dadanya hingga ia merasa lebih baik.
Sean berjongkok di depan kursi roda David dengan menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuannya. David menatap netra biru yang sama dengan miliknya, wajah tuanya tersenyum memandang seseorang yang selama ini ingin ia temui. Ia tidak menyangka Tuhan memberikan kesempatan kepadanya untuk bertemu dengan anaknya, anaknya bersama perempuan cantik yang sangat ia cintai sebelum ajal menjemputnya.
Kiranya Tuhan memberikan kenang-kenangan terindah sebelum dirinya di panggil oleh Yang Kuasa. Tangan tua itu terulur membentang seolah ingin mendapatkan pelukan hangat dari anak laki-laki yang sangat ia nantikan itu. Tangannya sedikit gemetar saat sudah beberapa menit menggantung di udara tanpa ada sambutan dari Sean. Wajah tua itu masih berharap dengan amat sangat bahwa ia akan diterima oleh anaknya, anak yang sangat ia inginkan dan ia rindukan keberadaannya.
Sean masih mematung dengan posisi yang sama, tubuhnya terasa tidak sanggup digerakkan. Ia melihat tangan tua itu masih bertahan mengapung di udara menunggu dirinya untuk membaur disana. Sean menipiskan bibirnya , lalu mengusap air matanya yang sedikit lolos tak terbendung oleh kelopak matanya.
Sean berhambur memeluk tubuh tua itu, kedua laki-laki yang berbeda usia itu saling berpelukan. Inikah yang namanya keluarga, inikah yang namanya cinta. Cinta sesungguhnya, cinta antara orang tua dan anaknya. Pelukan seorang ayah kepada anak laki-lakinya. Sean merasakan emosional yang bergejolak di dalam dadanya hingga ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Tenggorokannya terasa tercekat, ia tak mungkin menangis. Hanya ada keheningan di antara mereka dan tak bisa mengungkapkan rasa satu sama lain. Hanya pelukan yang membisu tanpa suara dan tanpa tangisan. Suasana hening yang tercipta hanya mampu menerjemahkan sendiri perasaan kasih yang mengalir dengan sendirinya.
__ADS_1
David memejamkan matanya, ia masih mengingat sosok Sarah yang selalu tersenyum tanpa beban saat bersamanya. Perempuan itu yang selalu berada di dalam hati dan pikirannya mungkin saat ini tengah tersenyum bahagia melihatnya bisa bertemu dengan Sean, anak kandungnya.
Sean merasakan tubuh tua itu bergetar dengan isakan tangis yang sekuat tenaga ditahannya. Hati Sean terasa menghangat dengan haru yang begitu luar biasa yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Mulutnya seakan terkunci rapat, hingga akhirnya dengan susah payah ia bisa mengucapkan satu kata, satu kata yang membuat hubungan ke duanya akan terjalin hingga selamanya.
"Aa..ayah," bibir Sean bergetar saat mengucapkan kata itu. David meneteskan air mata, mendengar sebutan Sean untuknya. Ia tidak sendiri, dia mempunyai anak yang gagah dan tampan. Dia mempunyai keluarga sendiri, dia yang sudah tua ini telah dipanggil ayah oleh anaknya. Di panggil ayah untuk pertama kali tentunya membuatnya begitu haru bahagia.
David mengeratkan pelukannya sambil mengusap belakang kepala Sean. Merasakan kehangatan pelukan seorang anak yang begitu ia idam-idamkan sejak dulu.
"Sean..... anakku," ucapnya dengan suara yang bergetar.
Namun siapa sangka pertemuan singkat itu akan berakhir menyedihkan. Seorang anggota geng The Bloods yang bersembunyi di belakang kursi kemudi diam-diam menyerang Sean dari belakang dengan melontarkan peluru ke punggung Sean. Beruntung Sean melengkapi tubuhnya dengan baju anti peluru sehingga membuatnya hanya terpental saja.
Tetapi seperti tidak mau kalah, laki-laki itu terus membombardir Sean dengan tembakan-tembakannya hingga akhirnya bisa menembus pertahanan Sean dengan peluru yang menancap tepat di kepalanya.
BUGGG..
Sean terkapar di tanah dengan darah mengalir begitu derasnya..
"SEEEEAAAN!" David berteriak kencang melihat anaknya terkapar tak berdaya dengan luka tembak mengerikan di kepala...
》bersambung..
__ADS_1