
Sudah beberapa hari Salwa menunggu panggilan dari Sean, tetapi sepertinya Sean tak juga menghubunginya, ia sudah berusaha menghubungi suaminya itu tetapi tetap tidak ada jawaban. Salwa juga menanyakan kepada para bodyguardnya yang biasa melaporkan apapun yang terjadi dengan Salwa kepada Sean, tetapi tak ada satupun yang tahu dan bisa menjawab pertanyaan Salwa.
Malam ini pun Salwa masih juga tidak mampu memejamkan matanya, Sean yang biasanya menemaninya dengan panggilan video sampai ia tertidurpun tak pernah meneleponnya lagi. Salwa merasa dirinya bodoh karena tak mampu melakukan apa-apa, jika saat ini Salwa yang menghilang mungkin Sean akan berusaha mencarinya di manapun Salwa berada, tetapi dirinya tak mampu melakukan itu. Ia hanya bisa menunggu dan menunggu. Menunggu tanpa kepastian sampai kapan Sean akan pulang dan kembali bersamanya lagi.
Salwa masih berusaha memejamkan mata , meskipun perasaannya begitu gelisah ia mencoba untuk berpikir positif. Sean akan pulang, dan Sean akan kembali dalam pelukannya lagi.
Salwa mengambil wudhu dan melakukan ibadah di sepertiga malam, ia tumpahkan segala isi hatinya, doa-doanya yang ia panjatkan untuk keselamatan dan keberhasilan suaminya yang kini entah di mana.
Pagi harinya di rumah Salwa, sudah terlihat kesibukan para asisten rumah tangga yang sedang mengerjakan tugasnya masing-masing. Biasanya Salwa ikut membantu menyiapkan makanan tetapi kali ini ia enggan untuk melakukannya. Ahsan dan Alfatih adiknya baru bisa menginap di rumahnya besok sehingga Salwa harus sendiri lagi saat ini.
Salwa bersandar di sofa ruang tamu, matanya tak henti-henti menatap ponselnya menanti panggilan dari suaminya itu. Pesan yang ia kirim dua hari yang lalu pun belum dibuka oleh Sean. Salwa menghembuskan napasnya dengan berat, ia gelisah tapi tidak tahu harus berbuat apa. Ingin bercerita kepada orang tuanya juga tidak mungkin, karena pasti akan menjadi beban pikiran mereka.
Sean berjanji akan segera pulang jika segala urusannya telah selesai. Mungkin saat ini suaminya masih begitu sibuk hingga tidak sempat untuk menghubunginya ataupun membaca pesannya. Salwa tidak ingin berpikiran buruk, Sean adalah suami yang setia dan mencintainya . Ia yakin bahwa Sean akan tetap seperti itu di manapun dia berada.
TOK-TOK-TOK
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Salwa dari ponselnya. Bik Sri yang sedang sibuk di dapur melepas apronnya lalu berjalan ke arah depan untuk membuka pintu tetapi Salwa mencegahnya.
__ADS_1
"Biar saya saja bik," ucapnya sambil berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Salwa tampak terkejut melihat siapa tamu yang mendatanginya. Ia buru-buru keluar dari rumahnya lalu menutup kembali pintu tersebut agar tamunya tidak masuk ke dalam. Seorang perempuan cantik yang berpakaian rapi dengan membawa sebuah map yang mungkin merupakan data penting miliknya.
"Angela." Salwa menyebut nama Angela dengan raut muka tak percaya. Bagaimana perempuan populer di sekolahnya dulu tiba-tiba bertandang ke rumahnya, padahal dulu Angela tak pernah menganggapnya. Ia selalu melewati Salwa begitu saja tanpa bertegur sapa meskipun mereka satu angkatan.
Mungkin Angela merasa Salwa bukanlah levelnya, ia anak orang kaya, cantik, tinggi dan populer diincar oleh banyak siswa laki-laki, sementara Salwa hanyalah gadis udik dan miskin. Salwa pun tak keberatan meskipun Angela tidak pernah memandangnya. Ia sudah terbiasa dengan tatapan mencemooh seseorang saat melihatnya. Salwa sadar diri siapa dirinya, ia tidak punya kuasa untuk membuat orang lain menunduk ataupun memandangnya sederajat dengan mereka.
Tetapi kali ini, Angela tiba-tiba datang ke tempatnya tentu sangat janggal bukan. Dan darimana perempuan itu tahu rumah Salwa sedangkan Salwa tidak pernah menunjukkan rumahnya kepada siapapun, atau mungkin Angela tersesat dan ingin bertanya alamat, bisa jadi seperti itu.
Angela menyipitkan mata memandang Salwa dengan sedikit menelisik. Bagaimana Salwa bisa ada di rumah semewah ini, tidak mungkin juga perempuan sepertinya bisa mengenal seorang Sean Paderson yang merupakan pengusaha muda dan kaya raya.
"Apa yang kau lakukan di rumah ini?" Tanya Angela dengan intonasi sedikit meninggi. Angela tampak kesal melihat Salwa. Dua hari yang lalu ia mendapati Varo berduaan dengan perempuan itu di sebuah kedai makanan di seberang jalan kampus, dan saat ini di mana ia sedang ingin melakukan misi penting yang ditugaskan ayahnya, ia harus bertemu Salwa lagi.
"Aku.... aku bekerja disini," ucap Salwa kemudian. Tidak mungkin Salwa memberitahu bahwa rumah besar itu adalah rumahnya, sementara yang Angela tahu dirinya hanyalah gadis miskin anak seorang tukang becak dengan empat bersaudara. Apalagi Sean juga melarangnya untuk memberitahu siapapun mengenai hubungan mereka.
Angela tersenyum mengejek. Sudah tentu Salwa bekerja di rumah ini, mana mungkin ia menjadi pemilik rumah atau kekasih pemilik rumah ini.
__ADS_1
"Menyingkirlah, aku mau bertemu dengan majikanmu." Angela berucap dengan kasar sambil mendorong bahu Salwa supaya memberinya jalan. Namun Salwa tetap bergeming dalam posisinya tak melepaskan gagang pintu yang ia pertahankan agar tetap dalam kondisi tertutup. Di ruang tamu terdapat foto pernikahan mereka, sehingga membiarkan Angela masuk tentu akan membuat semua rahasianya terungkap, sehingga apapun alasannya, Angela tidak boleh memasuki rumah itu.
"Maaf Angela, tuan sedang ke luar negeri seminggu yang lalu. Jadi kau tidak bisa menemuinya." Salwa berusaha sesopan mungkin, menghayati perannya sebagai pembantu.
"Apa.. lalu kapan majikanmu akan kembali?" Angela sudah mulai kesal, ia tak bisa bertemu dengan tuan Paderson itu ditambah lagi harus berbicara dan bertatap muka dengan Salwa.
Wajah Salwa menjadi sendu saat Angela menanyakan kapan Sean akan kembali. Entahlah,dia juga tidak tahu kapan suaminya itu akan pulang, berbicara dan bercanda dengannya lagi , mendengar kembali gombalan cintanya yang hampir Sean ucapkan setiap hari. Salwa sungguh merindukan itu semua.
"Apa kau tuli?" Angela kembali memaki Salwa. Rasanya ia tidak sabar jika harus lama-lama berbicara dengan perempuan udik itu.
Mendengar teriakan Angela yang mengatainya, Salwa segera tersadar dari lamunannya, ia kemudian menggeleng.
"Aku tidak tahu," jawab Salwa sambil menyeka air matanya yang terjatuh dengan punggung tangannya.
"Hemm.. tentu saja kau tidak tahu apa-apa. Kau hanya pembantu disini, lagi pula kenapa aku harus repot-repot menanyakan hal itu kepadamu." Angela menghentakkan langkahnya dengan tegap sambil mengangkat dagunya, ia berbalik arah untuk pergi dari kediaman Salwa menuju mobilnya yang sudah ia parkirkan di depan halaman rumah itu.
Salwa menghela napasnya, bersyukur Angela tidak menanyakan hal lain dan segera pergi dari rumahnya sehingga Salwa tidak perlu berbohong lagi dan lagi. Ia pun segera masuk kembali ke dalam sambil menutup kembali pintu rumahnya.
__ADS_1
》bersambung...