
"Aku tidak menyangka kalian bisa pulang secepat itu." Abust memasang wajah sedih tetapi terlihat konyol di mata Sean. Ia mengantar Sean dan Salwa ke airport untuk melakukan penerbangan kembali ke tanah air.
"Aku tidak pernah ada rencana menginap selama itu di rumahmu, kalau saja Salwa tidak melahirkan lebih cepat dari perkiraan, aku cukup satu hari saja berada di sini." Sean menjawab sedikit ketus kepada Abust yang menunjukkan wajah sok imutnya itu.
"Aku juga tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Salwa lagi." Tanpa diundang Yang Pou Han ternyata datang untuk ikut mengantar kepergian Sean dan Salwa.
Wajah menyebalkannya kembali dipertunjukkan membuat Sean tak bisa melakukan apa-apa selain mawas diri dengan perilaku jomblowan abadi itu.
"Kau sama sekali tidak diharapkan untuk mengantarku!"
Sean mendengkus, melipat tangan di dada sambil melirik tajam ke arah Yang Pou Han. Lelaki itu sama sekali tidak terpengaruh dengan sikap dingin Sean yang memang setiap saat didapatkannya ketika mereka bertemu. Yang terkekeh tanpa peduli dengan wajah masam Sean yang ditujukan kepadanya.
"Aku tidak mengantarmu, aku hanya ingin mengantarnya," ucap Yang dengan melempar pandangan bola matanya ke arah Salwa yang menggendong baby Kinan yang sengaja untuk mengusik ketenangan Sean.
"Kau!" Sean sudah terpancing emosi, tetapi Salwa segera menenangkannya.
"Mas, jangan bertengkar di depan umum. Biarkan saja dia, lagi pula kita akan pulang bukan?"
Sean mengangguk, lalu menghela napasnya untuk meredakan emosi yang selalu tersulut jika berhadapan dengan Yang Pou Han.
"Baiklah, aku akan masuk sebentar lagi. Kalian bisa pulang sekarang." Sean dengan sehalus mungkin meskipun tetap kasar mengusir dua orang pengganggu itu agar tidak merusak suasana hatinya.
"Tidak adakah pelukan selamat tinggal untukku bos?" Abust merentangkan kedua tangannya bersiap untuk mendapatkan pelukan dari kakak angkatnya itu, tetapi Sean dengan cepat menepisnya. "Jangan sok manis di depan istriku, sudah pergi sana kalian berdua!"
"Hey, jangan terlalu galak, lihatlah kau semakin cepat tua. Padahal istrimu masih sangat muda, kau bisa disangka pamannya." Yang ikut menimpali, tetapi langsung dibungkam dengan perkataan Sean selanjutnya.
"Apapun kata orang, yang jelas Salwa hanya mencintaiku bukan dirimu. Kau cepatlah cari wanitamu sana! Apakah kau sebegitu tidak lakunya hingga sampai saat ini hanya bisa mengusik kehidupanku saja?"
Yang Pou Han hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Sean. Bukan dia tidak laku, bahkan banyak perempuan yang dengan suka rela menyerahkan diri kepadanya. Tetapi setelah kegagalan rumah tangganya bersama Emelie, ia belum bisa membuka hatinya kembali dan mempercayai perempuan manapun yang bisa setia kepadanya. Yang hanya kagum dengan Salwa, perempuan yang pernah disukainya dulu tetapi terlambat untuk mendapatkannya karena Sean sudah lebih dulu menikahinya secara 'paksa', ya lebih tepatnya dipaksa keadaan.
Andai saat itu dirinya yang berada di posisi Sean, menikahi Salwa dengan alasan menolong perempuan itu dari ambang kematian, mungkin saat ini ia Yang sudah berbahagia dengan Salwa. Salwa yang baik, tidak banyak bicara dan selalu patuh dengan suaminya pastilah menjadi istri yang menyenangkan.
Tetapi itu semua hanya andai, andai dan andai yang berada di pikiran Yang Pou Han dan hal itu mustahil akan terjadi. Karena Sean begitu posesif kepada Salwa dan tidak mungkin mau melepaskannya apalagi saat ini mereka sudah dikaruniai seorang anak tampan. Bagi Yang mungkin Sean lebih terlihat seperti anjing penjaga yang siap mencakar dan menggonggong bahkan menggigit jika ada yang berani mengganggu tuannya daripada seorang suami. Hahaha, Yang tertawa dalam hati mengumpamakan Sean sebagai seekor anjing penjaga.
Salwa mencubit pinggang Sean karena dirasa perkataan suaminya itu terlalu kasar. "Aku harap kau segera mendapatkan kebahagianmu Yang, kau berhak bahagia. Dan aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu," ucap Salwa berusaha mengoreksi perkataan Sean yang tidak beradab itu sambil mengulas senyum.
Yang tersenyum tulus, baru kali ini ia mendengar seseorang mendoakan kebahagiaan untuknya, biasanya mereka mendoakan hal baik di depannya tetapi mengumpat di belakangnya. "Perkataanmu membuatku terharu dan ingin menangis, apakah aku bisa memelukmu sebentar saja."
Yang memajukan tubuhnya hendak memeluk Salwa tetapi dengan sigap Sean langsung mendorong tubuhnya hingga hampir terjerembab jika Yang tidak bisa menjaga keseimbangan.
"Jangan memaksakan keberuntunganmu Yang." Sean menoleh ke arah Salwa, lalu dengan lembut bersamaan sikap posesif yang kental merangkul pinggang istrinya itu. " Ayo kita masuk, jangan meladeni dua orang pengganggu itu."
Salwa tersenyum dan mengangguk. Ia menatap Abust dan Yang Pou Han bergantian. "Terima kasih sudah mengantar kami sampai di sini."
__ADS_1
Dengan sikap tidak sabar, Sean menarik pinggang Salwa lalu mengajak istrinya itu berbalik arah untuk memasuki waiting room.
"Tunggu, maaf aku terlambat." Suara seseorang membuat Sean dan Salwa menoleh begitu juga dengan Abust dan Yang Pou Han.
"Hans?" Salwa terkejut dengan kedatangan Hans, ada apa Hans tiba-tiba muncul di hadapan semua orang?
Berbeda dengan Salwa yang penuh dengan tanda tanya di pikirannya, Sean justru mengumpat dengan menatap tajam ke arah Hans yang nampak tersenggal mengatur napasnya. Sepertinya laki-laki itu terburu-buru sehingga harus berlari-larian untuk datang ke tempat itu.
"Kau lama sekali, bukannya aku menyuruhmu datang pukul tujuh. Seharusnya kau sudah datang sebelum kami tiba di sini," ucap Sean dengan galaknya.
"Mas, kau menyuruhnya datang? Untuk apa?" Salwa tampak bingung dengan apa yang diinginkan Sean menyuruh Hans datang untuk mengantar kepergian mereka. Bukannya Sean dan Hans tidak akrab? Bahkan keduanya tidak pernah terlihat untuk berinteraksi, lantas untuk apa Sean melakukan semua itu sampai sebegitu kesalnya melihat Hans datang terlambat.
"Karena kau ingin bertemu dengannya bukan?" jawab Sean dengan entengnya.
"Apa?"
Salwa menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana Sean bisa menyuruh layaknya sebuah perintah yang harus dipatuhi oleh Hans dikarenakan dirinya ingin bertemu dengan Hans untuk mengucapkan kata terima kasih secara langsung yang sempat tertunda beberapa tahun yang lalu. Seharusnya Salwalah yang mendatangi Hans, bukan Hans yang harus repot-repot datang sampai harus berlarian mengejar waktu untuk menemui Salwa.
Salwa ingin protes dengan sikap Sean, namun suaminya itu memberi perintah melalui isyarat matanya agar Salwa segera mengatakan apa yang ingin ia katakan kepada Hans.
Salwa mengerucutkan bibirnya, lalu menatap ke arah Hans. Matanya menyipit dengan senyum penuh rasa bersalah kepada lelaki itu. Namun, ia segera menarik kembali senyum itu di kala Sean memperhatikannya.
"Jangan tersenyum kepadanya!" ucap Sean sedikit ketus. Salwa hanya menghela napasnya dengan kasar menanggapi sikap posesif Sean.
Salwa sedikit maju mendekati Hans dengan menggendong baby Kinan di tangannya. Ia hanya tersenyum datar kepada Hans sebagai rasa menghargai atas kedatangan laki-laki itu.
"Hans, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Maaf aku tidak sempat menemuimu setelah semua bantuan yang telah kau berikan kepadaku. Aku berhutang banyak kepadamu," ucap Salwa dengan menunjukkan ketulusannya kepada Hans.
Hans tersenyum lalu mengangguk. "Aku tidak melakukan apa-apa. Tuhan memang menakdirkan kalian bersama dan hidup bahagia. Hanya saja kebetulan saat itu aku sebagai perantaranya. Jika saja bukan aku, mungkin orang lain juga akan tergiring untuk membantumu menemukan cinta sejatimu jika Tuhan sudah berkehendak."
Hans mendekat ke arah Salwa menatap bayi mungil yang sangat menggemaskan itu. "Selamat ya, kau sudah menjadi ibu. Kau adalah perempuan baik-baik, kau pantas mendapatkan kebahagiaan."
"Terima kasih. Selamat tinggal, semoga pernikahanmu berjalan lancar. Maaf jika aku tidak bisa menghadirinya karena Kinan masih terlalu kecil." ucap Salwa sambil memperlihatkan kekecewaannya karena tidak bisa menghadiri acara penting Hans.
"Tidak mengapa, aku mengerti. Doamu juga berharga untukku. Terima kasih."
Sean melangkah mendekati Salwa, lalu merangkul bahu istrinya itu sehingga membuat Salwa menoleh kepadanya. "Ayo kita berangkat!"
Salwa mengangguk, lalu kembali menatap Hans. "Kami pergi dulu." pamitnya singkat ke arah Hans.
Sean dan Salwa juga dua orang bodyguardnya yang membawakan koper mereka serta satu orang pengasuh yang ia bawa dari rumah Abust segera pergi menuju pintu kaca di mana sudah menanti petugas untuk melakukan check-in untuk memeriksa setiap boarding pass passenger yang akan melakukan penerbangan ke lokasi tujuan masing-masing.
....
__ADS_1
Butuh waktu sekitar dua jam tiga puluh menit akhirnya mereka bisa sampai di depan **t**own house mewah yang merupakan komplek hunian elit di mana Sean dan Salwa tinggal yang ada di pusat kota. Selama di perjalanan hal yang dicemaskan Salwa tidak terjadi, bayi yang berusia kurang dari dua bulan biasanya lebih rentan mabuk udara jika berada di ketinggian, tetapi hal itu tidak terjadi dengan baby Kinan. Bayi mungil dan menggemaskan itu tertidur lelap di perjalanan, dan hanya terbangun sebentar saat menaiki mobil selepas keluar dari bandar udara internasional.
Sean secara bergantian menggendong baby Kinan dan membiarkan Salwa beristirahat di sampingnya. Mungkin Salwa terlalu lelah hingga tidak menyadari bahwa saat ini mobil sudah berhenti tepat di depan pintu rumah mereka yang masih tertutup. Perempuan itu tertidur lelap dengan mulut sedikit terbuka, bersandarkan bahu Sean dengan mengeluarkan dengkuran halus. Sean sempat tidak tega membangunkan Salwa. Jika saja ia tidak membawa baby Kinan dalam gendongannya, mungkin ia dengan senang hati mengangkat Salwa untuk dipindahkan ke tempat tidur.
Sean mengangkat tangannya untuk kemudian ia letakkan ke belakang kepala Salwa lalu mendarat di bahu kiri istrinya itu. Ia kemudian menepuk-nepuk bahu Salwa dengan menggoncangnya sedikit lebih keras agar istrinya itu segera terbangun dari tidurnya. Salwa mengerjapkan matanya lalu menggeleng sebentar mengumpulkan kesadaran dirinya. "Sudah sampai," ucap Sean segera setelah melihat Salwa membuka matanya dengan benar.
"Aku ketiduran? Kau menggendong Kinan selama itu? Kenapa tidak membangunkanku?" Salwa merasa tidak enak kepada Sean yang rela menggendong Kinan dalam waktu berjam-jam, sementara dirinya tertidur dengan nyaman.
"Sudahlah, Kinan juga anakku bukan? Aku senang mempunyai kesempatan menggendongnya dalam waktu yang lama." ucap Sean dengan mengulas senyum simpulnya.
Sean dan Salwa keluar dari mobilnya lalu kemudian berjalan ke arah pintu utama yang nampak tertutup rapat. Salwa sedikit mengernyit, merasa ada yang aneh karena suasana rumahnya begitu sunyi.
Bukannya di rumah ini begitu banyak orang yang dipekerjakan baik penjaga maupun pelayan yang jumlahnya mencapai puluhan. Apalagi setahu Salwa setiap Sean pulang selalu disambut oleh hampir semua bodyguard dan beberapa pelayan di depan rumah. Tetapi saat ini tidak ada satu pun yang datang bahkan hanya sekedar membukakan pintu untuk mereka. "Kemana semua orang pergi?" gumam Salwa dalam hati.
Sean merangkul bahu Salwa dengan tangan kirinya lalu berbisik perlahan di telinga Salwa. "Ayo masuk!"
Salwa mengangguk, meskipun agak ragu tetapi akhirnya ia menuruti Sean untuk membuka pintu rumahnya.
Gelap, ruang tamu tampak gelap karena tirai-tirai sepertinya sengaja tertutup rapat sehingga menghalangi cahaya matahari untuk masuk untuk menerangi rumah. Memang ia meninggalkan tumah itu dalam rentang waktu hampir dua bulan, tetapi rumahnya bukanlah rumah kosong yang tidak berpenghuni. Sehingga melihat kondisi rumahnya yang gelap dan sunyi pada saat siang hari tentunya membuat rasa curiganya mulai menguar dari dalam dirinya, tetapi anehnya Sean tidak menyadari kejanggalan yang kini terjadi di dalam rumahnya. Lelaki itu hanya melangkah dengan santainya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kejutaan....!" Lampu menyala menerangi penjuru ruangan membuat Salwa harus menyipitkan matanya karena terlalu silau dengan perubahan drastis intensitas cahaya yang memasuki pupilnya. Dilihatnya semua orang tengah berkumpul di ruang tamu, tidak! ruang tamu sekarang sudah disulap dengan dekorasi yang indah. Bunga mawar putih tertata cantik di mana-mana, pita-pita dekorasi dengan lampu-lampu mini serta kelambu yang melambai-lambai di setiap sisi ruangan. Tidak lupa juga dengan berbagai makanan lezat nan menggugah selera yang terhidang di atas meja.
Tunggu! Bunga mawar putih?
Salwa menoleh ke arah Sean dan lelaki itu tersenyum dan mengangguk. Sepertinya ada manfaatnya juga Yang Pou Han merecoki Salwa di depan Sean, dengan begitu Sean mengetahui satu hal yang selama ini tidak diketahui olehnya tentang Salwa, yaitu bunga mawar putih. Pengasuh baby Kinan yang ia bawa dari rumah Abust mengambil alih bayi mungil itu dari tangan Sean. Memberikan kesempatan dua orang pasangan itu saling berbagi kebahagiaan.
Sean mengambil setangkai bunga mawar putih yang entah ia dapatkan dari mana lalu memberikannya kepada Salwa dan dengan senang hati Salwa menerimanya. Sean meletakkan tangannya di kiri dan kanan bahu Salwa lalu menunduk, membisikkan sesuatu di telinga istrinya itu. "Selamat datang kembali, selamat menjadi seorang ibu."
Salwa tersenyum bahagia. "Terima kasih, apa kau yang menyiapkan semua ini?" tanya Salwa sambil mengendus aroma bunga favoritnya itu.
"Aku hanya mengintruksikan saja, mereka yang mengerjakannya. Apa kau menyukainya?" Sean bertanya dengan menatap istrinya itu lembut.
"Tentu saja, aku sangat menyukainya. Terima kasih, kau selalu penuh kejutan."
"Dan kejutannya belum selesai, lihat di sana!" Sean mengedikkan dagunya untuk menunjukkan sesuatu di arah sana yaitu lorong rumahnya. Bola mata Salwa mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Sean, keluarlah orang-orang istimewa dari balik dinding yang menuju lorong rumah Sean.
Salwa tersenyum senang mendapati keluarganya hadir menyambutnya. Samsul Arifin dan Darmini juga ketiga adiknya yaitu Ahsan, Alfatih dan juga Azlina ikut di belakang.
"Bapak, Ibuk." Salwa segera berlari lalu memeluk kedua orang tuanya yang sangat ia rindukan. Air matanya menetes dipenuhi dengan kebahagiaan yang luar biasa. Secara bergantian Ahsan, Al dan Azlina memeluk kakak tertuanya yang paling berjasa di kehidupan mereka.
Bukan hanya Salwa yang mendapatkan kejutan manis. Di balik dinding itu sekarang muncullah dua orang yang tidak di sangka-sangka, bahkan Sean sampai terkejut dibuatnya. Bibir Sean yang tadinya tersenyum ringan melihat kebahagiaan istrinya sekarang bertambah berkali-kali lipat lebih lebar mendapati seseorang yang sangat ia rindukan.
"Ayah..!"
__ADS_1
\=》Bersambung...