
Sean segera melepaskan cengkraman tangannya di pakaian Yang, lelaki itu menghela napas panjang lalu kemudian membuangnya perlahan.
"Apa yang kau ketahui?" Sean kemudian bersuara setelah dirinya berhasil menguasai emosinya. Tatapannya mengarah kepada Yang dengan sorot mata menuntut akan jawaban.
Yang melirik ke samping ke arah Catherine yang sedari tadi menjadi penonton akan kemarahan Sean kepada Salwa pun dengan dirinya. Ia kemudian tersenyum mengejek. "Apakah kau ingin menonton adegan lain?"
Catherine menggeleng, ia tersadar dengan posisinya. Ia sebenarnya ingin pergi dari tempat itu, tetapi seolah tubuhnya terpaku melihat dua orang berbahaya di depannya sedang beradu mulut dan keberanian. Hal itu membuatnya terlupa bahwa saat ini dirinya berdiri di antara mereka berdua.
Catherine memilih melanjutkan naik ke lantai atas menuju kamarnya, daripada harus melewati dua orang lelaki aneh yang sedang berebut mainan kesukaannya.
"Jangan mengalihkan perhatian, apa yang sudah kau ketahui?" Sean bertanya dengan nada mendesak yang tersirat dari sorot matanya. Yang melihat ekspresi tak sabar Sean hanya mengerutkan kedua alisnya.
"Informasiku ini sangat penting, dan mungkin kalian tidak akan pernah mendapatkannya meskipun kalian melakukan penyisiran besar-besaran bahkan polisi setempat tidak bisa mengendus markas tersebut." Yang merasa pongah karena berhasil menemukan informasi sangat penting, hal itu membuat Sean semakin geram saja.
"Jangan bertele-tele. Katakan saja secepatnya! Atau kau ingin aku memberikan imbalan atas informasi kecilmu itu?"
Yang terkekeh, tetapi kemudian ia mengangguk. "Kau sangat mengenalku Sean, semua ini tidak gratis. Tetapi aku tidak meminta lebih darimu. Aku hanya ingin kau mengabulkan permintaan kecilku!"
"Apa?" Sean menyahut cepat setelah mendengar persyaratan yang lelaki itu ucapkan. Ada rasa tidak sabar yang tertahan di sana membuat Sean ingin cepat-cepat mendapatkan jawaban dari mulut Yang Pou Han.
"Berikan bunga ini kepada Salwa. Kau tahu saat dulu dia bersamaku, dia sangat menyukai bunga-bunga yang ada di taman belakang rumah. Dan ia sangat terpukau dengan kecantikan bunga mawar putih. Aku belum sempat memberinya bunga saat itu, karena kau sudah mengambil Salwa dariku. Untuk itu aku menitipkan bunga ini untuk kau serahkan kepadanya."
"Omong kosong." Sean hendak memukul wajah Yang , tetapi Yang seolah mengerti akan pergerakan Sean sehingga ia dengan sigap menghindar. Tetapi sekali lagi Sean melayangkan pukulannya dan kali ini Yang berniat menghalangi tangan Sean menggunakan kedua tangannya yang ia silangkah di depan wajahnya.
"Informasiku sangat penting." ucap Yang lagi yang kemudian membuat Sean menghentikan pukulan-pukulan brutalnya.
Sebenarnya Yang tidak pernah berpikir untuk meminta Sean memberikan hadiahnya kepada Salwa, tetapi melihat sikap Sean yang over protective dan pencemburu membuat Yang tergelitik untuk mengganggunya. Saat Sean memintanya untuk ikut melakukan pencarian Anders beserta komplotan dan tentunya markas rahasianya, Yang tanpa penolakan langsung menerimanya tawaran itu tanpa adanya negosiasi. Dan hal itu karena dirinya mencemaskan Salwa.
"Sudahlah, hanya sebuah bunga. Salwa tidak akan berpaling kepadamu hanya karena bunga pemberiannya kan? Kalian saling mencintai, apa kau meragukan kekuatan cinta kalian, sehingga kau begitu ketakutan saat istrimu didekati oleh laki-laki lain?" Leon berusaha menasehati Sean dan menjadi penengah antar Yang dan Sean.
Sean menatap tajam ke arah Leon, ia tidak suka mendengar perkataan Leon yang mengatakan bahwa Sean meragukan cinta mereka. Tetapi kemudian Sean mencoba mencerna perkataan Leon kembali yang membuatnya menghela napas panjang untuk meringankan perasaannya yang berbalut emosi.
"Aku akan memberikannya kepada Salwa. Puas?" ucap Sean dengan penekanan di nada bicaranya. Yang terkekeh mendengar Sean yang tampak frustrasi dan tidak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauannya. Bermain-main dengan emosi Sean ternyata menyenangkan, dan mungkin ia akan mencobanya di lain waktu hanya untuk bersenang-senang.
"Sepakat, kau lebih baik melonggarkan kewaspadaanmu terhadapnya, karena itu akan membuat pikiranmu lebih releks. Lihatlah usiamu dan usiaku hampir sama tetapi tentunya aku terlihat jauh lebih muda darimu bukan? Karena aku bukanlah lelaki pemarah sepertimu Jika berjalan bersama mingkin Salwa lebih serasi jika bersamaku daripada bersamamu."
"Jangan mencoba bermain dengan keberuntunganmu Yang. Aku tidak akan mau bekerjasama denganmu jika tidak terkait Salwa. Aku bisa melakukan hal menyakitkan untukmu jika kau berani berpikir akan menggantikan diriku mendampinginya." Sean dengan geram memukul wajah Yang Pou Han yang selalu berhasil membuatnya kesal. Leon dan Abust yang melihat suasana makin panas segera melerai dan menenangkan Sean.
__ADS_1
"Bos, waktu kita sangat sedikit. Aku harap kau tidak terpancing emosi." Abust berkata dengan menahan tubuh Sean yang akan menghajar Yang Pou Han.
"Kau juga, bukan karena kau mempunyai informasi penting membuatmu bebas berkata yang tidak pantas. Ingat Sean adalah suami Salwa, lebih baik kau mencari perempuan lain daripada mengganggu tidak jelas hubungan rumah tangga orang lain." Leon mencekal kedua bahu Yang sambil menasehati lelaki itu agar menghentikan konfrontasinya kepada Sean.
Yang mengusap bibir bawahnya yang terdapat darah segar akibat pukulan Sean, tetapi kemudian ia tersenyum. "Baiklah, aku sudah cukup bermain-main." Yang menghempaskan cengkraman Leon di kedua bahunya dengan kasar, lalu berjalan mendekat ke arah Sean.
"Aku melihat hal yang mencurigakan di area tempat pembuangan sampah, dan aku yakin mereka membuat markas rahasia di bawahnya."
"Apa? Tempat pembuangan sampah?" semua orang terkejut mendengar kenyataan yang diungkapkan oleh Yang Pou Han.
............
"Kita harus bertindak cepat, jangan sampai mereka lolos dari pengawasan kita!" ucap Sean kemudian setelah mendengar penjelasan Yang Pou Han mengenai kecurigaannya terhadap markas rahasia Anders yang memungkinkan ada di bawah tanah area pembuangan sampah. Lokasi yang sama sekali tidak pernah terpikirkan sekalipun oleh Sean dan yang lainnya.
"Apakah kau tidak berpamitan dengan istrimu terlebih dulu?" Fang Yi yang sedari tadi hanya menjadi penonton akhirnya bersuara. Sean menatap ke atas di mana kamar Salwa berada, hatinya kembali tersayat saat mengingat istrinya yang menangis karena bentakannya yang tidak bisa ia tahan. Sean mengangguk menyutujui perkataan Fang Yi.
"Aku akan menemuinya," ucap Sean datar yang kemudian melangkah menapaki dua anak tangga sekaligus untuk mempercepat dirinya menuju ke tempat Salwa.
"Tunggu!" suara Yang Pou Han menghentikan langkah Sean, ia menoleh dengan menatap tidak suka ke arah Yang. Seolah tidak peduli dengan aura dingin yang ditujukan Sean kepadanya, Yang melangkah ikut menaiki tangga menyusul Sean.
"Berikan ini kepadanya, kau sudah berjanji bukan?" ucapnya kemudian sambil menyerahkan bucket bunga mawar putih yang tadinya ia peruntukkan kepada Salwa sebagai hadiah.
Perlahan ia menghentikan langkahnya saat sudah berada di depan pintu. Detak jantungnya berpacu lebih cepat saat tangannya memegang knop pintu, ia putar benda bulat itu perlahan dan terbentuklah sedikit celah dari pintu yang terbuka. Matanya tertarik untuk mengintip dari sedikit celah itu, dan terlihatlah Salwa sedang menimang-nimang baby Kinan dengan naluri keibuannya. Hatinya menghangat melihat pemandangan di depannya, seolah terhipnotis dengan gerakan alami Salwa memperlakukan baby Kinan dengan penuh sayang. Tanpa sadar Sean mendorong pintu itu supaya terbuka lebar karena dorongan ingin melihat lebih jelas dari hatinya.
Sean terkesiap saat melihat Salwa mengalihkan perhatiannya dari baby Kinan ke arahnya. Mata mereka bersirobok beberapa detik lalu kemudian Salwa sengaja mengabaikan Sean dan beralih kembali menatap bayi mungil yang sudah terlelap dalam gendongannya.
Salwa mengabaikannya? Tentu Sean tidak menginginkan yang seperti itu. Ia akan berusaha melunakkan hati istrinya kembali supaya tidak merajuk lagi dengannya.
Sean mendekat ke arah Salwa yang sebelumnya meletakkan bucket bunga mawar pemberian Yang di atas tempat tidur. Salwa sedang meletakkan baby Kinan yang kini sudah terlelap dengan hati-hati dalam ayunan bayinya. Ia berdiri dengan mengayunkannya perlahan sampai bayi itu terbuai dalam alam mimpi. Dengan gerakan yang yang tidak kalah hati-hati Sean merengkuh tubuh Salwa lalu memeluknya dari arah belakang. Ia menunduk dengan meletakkan kepalanya di antara kepala dan bahu Salwa sebelah kiri.
Salwa hanya bergeming tanpa merespon ataupun berkata sesuatu kepada Sean. Membiarkan kecanggungan membentang di antara keduanya.
Jarak sedekat apapun akan terasa jauh jika hati tidak saling menyatu.
"Apakah kau marah?" tanya Sean kemudian berbisik di telinga Salwa. Salwa hanya meresponnya dengan gelengan kepala tanpa membuka mulutnya membiarkan Sean menerka-nerka dalam pikirannya sendiri. Sean menghela napas berat yang terdengar di telinga Salwa tetapi lelaki itu tak mau melepas pelukannya dari pinggang istrinya.
"Kau pantas untuk marah. Maaf, aku menyakitimu," ucap Sean tulus yang memang sudah ia rasakan rasa sesak di hatinya saat melihat Salwa menangis karena dirinya. Mungkin benar apa yang diucapkan Yang, ia terlalu keras kepada Salwa. Padahal Sean tahu bahwa istrinya itu adalah wanita yang setia dan tidak akan berbuat sesuatu yang tidak Sean sukai. Lalu kenapa dia selalu memarahi Salwa saat ada laki-laki lain mendekatinya? Apakah rasa cemburunya mengalahkan pikiran rasionalnya sehingga membuatnya bertindak di luar kendalinya?
__ADS_1
Salwa mengangkat jemarinya untuk ia sentukan ke pipi Sean yang saat ini menempel di pipinya yang terasa hangat, pelukan Sean juga membuat dirinya begitu nyaman. Itulah kelemahan Salwa, mudah luluh jika Sean sudah bersikap lembut dan manja kepadanya. Ia sama sekali tidak bisa marah kepada suaminya itu.
"Aku yang salah, maaf. Sebagai wanita bersuami, aku tidak bisa menjaga diri dengan baik." ucap Salwa dengan nada menyesal. Ia menyadari bahwa sebagai istri ia tidak boleh menerima hadiah dari laki-laki lain, apalagi itu sebuah bunga. Tetapi hati kecilnya sangat menyayangkan melihat bunga indah seperti itu harus disia-siakan jika ia tidak mau menerimanya. Hal itu membuat Salwa memutuskan untuk menerima bunga tersebut hanya sebagai ucapan terima kasih karena Yang telah menyelamatkannya saat itu. Tidak lebih.
Sean membalikkan tubuh Salwa agar menghadapnya. Meskipun Salwa menunduk, Sean tahu jika beberapa menit yang lalu perempuan istimewa di depannya ini menangis sedih karena perkataannya. Sean mengangkat dagu Salwa agar istrinya itu menatapnya yang sebelumnya hanya menunduk melihat lantai kamar saja.
"Kau tidak bersalah, kau bisa menjaga diri dengan baik. Bukan salahmu jika banyak yang menginginkanmu, kau bahkan tidak berniat menarik perhatian mereka untuk mendekat, tetapi semua mendekat dengan sendirinya. Aku terlalu cemburu, tidak suka jika mereka mendekatimu. Aku tidak ingin ada orang lain yang menarik perhatianmu selain aku."
Sean menangkup wajah Salwa dengan meletakkan kedua telapak tangannya di pipi kanan dan kiri Salwa, lalu mendekatkan keningnya untuk saling menyatu dengan hidung ikut menempel di bagian ujungnya. "Maafkan aku, karena berkata kasar kepadamu. Hatimu terlalu halus untuk mendapatkan ucapan kasar seperti itu. Harusnya aku mengerti akan hal itu, tetapi rasa cemburuku mengalahkan sikap rasionalku. Bahkan Yang mungkin bisa lebih memahamimu daripada aku."
"Ssstttt..." Salwa menempelkan jari telunjuknya ke bibir Sean seolah tidak setuju dengan perkataan suaminya itu.
"Tentu saja tidak ada yang sebaik dirimu dalam memahamiku. Kau suami terbaik yang pernah ada. Aku sangat beruntung mendapatkan suami sepertimu. Dicintai dan disayangi oleh seorang suami merupakan kebahagian tersendiri bagi seorang istri. Terima kasih." ucap Salwa lembut.
Mata Sean meredup di saat kedua bola mata Salwa menatapnya dengan begitu dekat. Kedekatan seperti ini membuatnya melupakan segala masalah yang saat ini sedang dilaluinya. Sean menelusupkan jemarinya masuk di balik kerudung Salwa lalu menekan di bagian tengkuknya membuat istrinya itu melenguh dengan bibir sedikit terbuka. Melihat ada akses yang terbuka membuat Sean dengan tidak sabar menyambar bibir lembut itu dengan memasukkan lidahnya ke sela-sela bibir yang terbuka itu dengan gerakan menggoda, menyatu untuk saling memberi dan menerima kenikmatan di setiap gerakannya.
Keduanya saling melepaskan di saat deru napas mereka saling beradu menginginkan untuk mendapatkan pasokan oksigen lebih. Sean kembali menyatukan kening mereka, menggesekkan bibirnya ke bibir Salwa yang begitu lembab dan manis dengan gerakan seringan bulu. Matanya terlihat berkabut dengan menuntut hal lebih dari sekedar berciuman. Tetapi melihat kondisi Salwa, ia mengerti bahwa hal itu tidak mungkin di lakukan. Sehingga Sean hanya memeluk istrinya itu dengan begitu erat kemudian.
"Aku merindukanmu," Sean berbisik lirih penuh hasrat membuat wajah Salwa memerah, tentunya Salwa mengerti apa yang dimaksudkan oleh Sean sehingga ia hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
"Tetapi aku harus pergi." Sean tiba-tiba teringat dengan tujuan awalnya menemui Salwa yaitu untuk berpamitan, tetapi ia terlupa karena terlalu larut dalam situasi romantis yang mereka buat. Sean memang selalu kehilangan akal jika berdekatan dengan istrinya sehingga melupakan hal-hal lain dalam waktu sekejab.
"Yang Pou Han memberikan informasi penting tentang keberadaan markas yang masih misterius itu. Kami akan mengeceknya langsung ke lokasi. Jangan cemas, Leon dan Fang Yi akan ikut berjaga di sini juga beberapa bodyguard terbaik untuk menjaga kalian." sambung Sean kemudian.
"Kami? Apakah yang berangkat hanya kau dan abust?"
"Tidak, Abust ke rumah sakit melihat Milly. Aku akan ke sana bersama Yang Pou Han." Perkataan Sean itu justru membuat Salwa semakin cemas. Yang Pou Han? Apakah mereka sudah benar-benar berbaikan? Apakah Yang tidak akan berbuat buruk kepada Sean? Bukannya dulu Yang sangat antusias untuk membunuh Sean sampai memanipulasi peristiwa untuk meyakinkan Salwa agar perempuan itu membelot berpihak kepadanya? Apakah Sean akan baik-baik saja melihat Yang selalu datang bersama anak buahnya yang terlatih?
Seolah mengerti apa yang dipikirkan Salwa. Sean tersenyum lalu mengangguk. "Kau tidak perlu mencemaskanku, karena Yang sudah dibawah kendaliku. Ia mau bekerjasama denganku, dan itu semua karena ia .... mencemaskanmu." Sean tersenyum penuh ironi ketika mengatakan bahwa lelaki lain mau bekerjasama dengannya hanya karena mencemaskan istrinya yang sebenarnya berada di dalam perlindungannya sendiri.
"Aku menunggumu mas." ucap Salwa kemudian seolah tidak ingin membahas tentang Yang Pou Han yang menaruh perhatian kepadanya.
Sean mengangguk lalu mencium kening Salwa sebelum pergi. "Aku akan cepat kembali."
Sean melangkah menjauh menuju pintu kamar lalu membuka pintu itu, tetapi seolah tidak tega atau mungkin fokusnya mulai teralihkan, Sean berbalik arah dengan memutar badannya melangkah kembali ke arah Salwa yang kemudian dengan sikap posesif merengkuh tubuh Salwa merapatkan ke tubuhnya seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
Salwa menahankan dada Sean dengan kedua tangannya dengan mengedikkan dagunya dan mengangkat kedua alisnya meminta penjelasan. Tetapi tanpa perlu memberi penjelasan lagi Sean menahan kepala Salwa lalu merenggut bibir istrinya itu dengan sedikit kasar namun kemudian melembut dengan gerakan yang sangat halus tetapi sedikit liar di dalam mulutnya.
__ADS_1
"Apakah kalian sudah selesai?" Yang bersedekap dengan tidak tahu malu melihat adegan mesra di depannya.
》Bersambung...