Terjerat Cinta Dunia Mafia 2

Terjerat Cinta Dunia Mafia 2
Makan Bersama


__ADS_3

"Mas.." suara Salwa terdengar serak saat menerima panggilan telepon dari suaminya. Sean baru bisa menghubungi Salwa setelah hampir lima belas jam mereka berpisah. Dan saat ini Sean sedang menunggu keberangkatan pesawatnya untuk melanjutkan penerbangan ke negara yang di tuju.


"Apa mas mengganggu tidurmu?" Sean menyandarkan punggungnya di kursi tunggu seorang diri. Ia memlih duduk berjauhan dengan yang lain untuk menjaga privasi.


Salwa buru-buru menggeleng. Tentu saja ia merasa tidak terganggu, bahkan Salwa langsung mengangkat panggilan Sean di detik pertama ponselnya berbunyi karena sedari tadi ia hanya menatap ponsel pintarnya berharap ada panggilan dari suaminya itu. Dan saat ponselnya bergetar tanpa menunggu lama ia langsung menggeser icon berwarna hijau untuk menjawabnya.


"Tidak, kau sama sekali tidak mengganggu," ucapnya dengan bersungguh-sungguh.


"Jam berapa sekarang, apa kau belum tidur?" Salwa menatap jam dinding yang menempel di atas pintu, ternyata sudah hampir pukul satu dini hari, tetapi Salwa tidak juga merasa mengantuk.


"Hampir pukul satu malam, apa mas sudah sampai?" Salwa menempelkan ponselnya di telinga sambil berbaring miring dengan tangan memeluk guling dengan erat.


"Belum, sebentar lagi akan ada penerbangan untuk menuju negara tujuan. Tidurlah, ini sudah larut. Kau harus banyak istirahat." Sean mencoba menasehati istrinya.


Jika memang saat ini Salwa tengah mengandung anaknya, perempuan itu harus cukup istirahat karena kehamilannya yang masih sangat muda sangat rentan keguguran. Apalagi dokter Alan mengatakan bahwa rahim Salwa masih lemah jika harus menahan janin yang akan berusaha tumbuh di dalamnya.


"Aku akan tidur setelah ini." Salwa menggigit bibir bawahnya, suara perempuan itu terdengar bergetar di telinga Sean hingga membuat suaminya itu mengubah jenis panggilannya dari panggilan suara menjadi panggilan video.


Di keremangan cahaya lampu tidur kamarnya, Sean bisa melihat Salwa sedang berbaring miring dengan mata sedikit sembab. Sean mengulas senyum dengan menarik kedua ujung bibirnya menatap wajah istrinya itu, meskipun Salwa sudah menghapus air matanya, Sean bisa mengetahui bahwa perempuan itu tengah menangis.


"Ada apa?" tanya Sean kemudian.


Salwa menggeleng, ia tersenyum getir. Entahlah baru saja sehari ia ditinggal dan tidur sendirian tetapi Salwa sudah merasa sangat merindukan suaminya itu. Bagaimana jika Sean pergi selama seminggu, atau satu bulan, apakah ia akan menangisinya setiap malam.


Salwa juga tidak mengerti mengapa dirinya menjadi secengeng ini. Padahal dulu ia pernah begitu lama berpisah dengan Sean dan rasanya tidak sesesak ini. Mungkin karena perasaan mereka yang terpaut terlalu dalam sehingga menciptakan rasa saling menginginkan dan saling merindukan begitu banyak membuat baik Sean maupun Salwa tidak bisa berpisah terlalu lama.

__ADS_1


"Tidurlah, mas tidak akan menutup teleponnya sampai kau tertidur," ucap Sean kemudian.


Salwa mengangguk, ia mencoba memejamkan matanya dengan memeluk gulingnya semakin erat. Membayangkan jika suaminya itu berada disampingnya saat ini sambil memeluk dirinya seperti biasa.


.....


Tok-tok-tok


Suara ketukan pintu membangunkan tidur Salwa. Semalam ia tidur terlambat hingga ia kembali memejamkan matanya setelah menunaikan sholat subuh.


"Nyonya, waktunya sarapan," suara pelayan terdengar nyaring setelah selesai mengetuk pintu. Dengan mata berat Salwa turun dari ranjang lalu melangkah membukakan pintu kamarnya. Bi Sri dan seorang asisten rumah tangga yang lain membawakan makanan yang sudah tersaji di atas baki. Salwa mengernyitkan dahinya melihat begitu banyak makanan yang dibawakan oleh pelayan untuknya padahal ia hanya seorang diri.


"Bik, makanan sebanyak itu untuk siapa?" tanya Salwa yang masih mematung di belakang pintu melihat para pelayan menata makanan di atas meja yang ada di kamarnya.


Mulut Salwa menganga, ia masih tidak percaya, bagaimana Sean bisa meminta Bi Sri menyiapkan begitu banyak makanan hanya untuk dirinya sendiri, apa selama ini Sean merasa Salwa terlalu kurus sehingga saat ini ia harus mendapatkan asupan nutrisi lebih banyak agar berat badannya bertambah.


Salwa melihat pantulan dirinya di cermin, ia memperhatikan dirinya dari atas hingga bawah, sepertinya tubuhnya biasa-biasa saja. Malahan Salwa merasa tubuhnya lebih berisi dari saat ia pertama kali menginjakkan kaki di rumah Sean.


"Kalau begitu kami permisi nyonya," ucap Bi Sri sambil berlalu dari kamar Salwa setelah selesai dengan pekerjaannya. Salwa duduk di depan meja sambil melihat berbagai menu sehat yang lebih banyak berupa sayur dan buah, tidak lupa juga dengan segelas susu putih yang siap untuk di teguknya.


Salwa memindahkan berbagai menu makanan itu sedikit-sedikit dari setiap menu itu ke atas piringnya. Ia tidak mungkin menghabiskan makanan sebanyak itu, sehingga ia memutuskan untuk mengambil sedikit saja dari setiap menu dan sisanya bisa ia berikan kepada para pelayan.


Sesaat sebelum tangannya menyuapkan makanan ke mulutnya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Salwa buru-buru menggeser icon berwarna hijau itu untuk menjawab panggilan video yang ternyata dari suaminya.


"Sayang...," suara Sean terdengar berat. Mungkin suaminya itu kelelahan karena terlalu lama di perjalanan. Hal itu bisa dilihat dari raut wajahnya yang tampak lesu dengan mata sedikit merah.

__ADS_1


Salwa mengulas senyum bahagia karena bisa melihat suaminya lagi. Terlihat berlebihan memang, tapi entahlah semakin hari rasa sayangnya terasa semakin bertambah.


"Bagaimana sarapanmu?" tanya Sean yang saat ini sedang berbaring di tengah temaramnya lampu kamar hotel. Selisih waktu antara Indonesia dan Kanada adalah sebelas jam lebih cepat, sehingga saat ini di tempat Sean memasuki waktu malam hari.


"Kenapa mas meminta Bik Sri memasak sebanyak ini untukku?" Sean terkekeh, ia tahu bahwa istrinya itu pasti akan protes dengan banyaknya makanan yang disajikan untuknya. Sean hanya berpikir, seandainya benar Salwa hamil pastilah ia harus cukup nutrisi untuk keperluan tubuh dan janinnya. Ia tidak ingin anaknya nanti terlahir dengan berat badan kurang karena tidak cukup gizi yang terpenuhi selama dalam masa kandungan. Bahkan Sean juga meminta Bik Sri untuk membuatkan Salwa segelas susu ibu hamil tanpa sepengetahuan istrinya itu.


"Mas hanya ingin kamu memakan makanan sehat, habiskan ya?" jawab Sean sambil menyunggingkan senyumnya.


"Apa, mas kau pikir aku sedang kelaparan? Bahkan semua makanan ini bisa dinikmati tiga orang sekaligus, aku... memang lapar, tetapi tidak selapar itu," ucap Salwa sedikit kesal, memangnya dia kuli, bahkan seorang kuli pekerja kasarpun sepertinya tidak sanggup menghabiskan semua makanan yang saat ini ada di depannya.


"Baiklah, makan sebisamu. Mas akan menemanimu makan." Sean beranjak dari tidurnya menuju meja yang sudah tersedia makanan. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi lanscape sementara dirinya bersiap menyantap makanannya. Mereka pun makan bersama sambil bercengkrama bahagia dengan tempat dan waktu yang berbeda.


.....


Salwa sedang terburu-buru saat kelas akan dimulai lima menit lagi, dan saat ini ia baru memasuki gerbang utama kampus. Ia menaikkan tempo berlarinya secepat yang ia bisa agar tidak terlambat.


BUGGG...


"Maaf," ucap Salwa yang tidak sengaja menabrak seseorang. Ia berjongkok mengambil buku-buku orang tersebut yang berantakan karena ulahnya.


"Salwa..." suara itu, suara yang sudah tidak asing lagi baginya memanggil namanya. Salwa menengadahkan wajahnya untuk menatap wajah seseorang yang tadi ditabraknya.


"Varo..."


》udah satu part aja.. author mau lanjut nguli lagi 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2