Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Sindiran Halus


__ADS_3

Dengan air mata yang terus mengalir Laura menceritakan hubungan antara dirinya dan Farhan, sudah pasti gadis tersebut tidak mengatakan bahwa itu semua bisa terjadi karena rencananya. Sedangkan mama Airin benar-benar merasa terpukul mendengar hal tersebut, dia pun langsung melepaskan pelukannya dan kedua bola mata yang berkaca-kaca


"Kamu pasti bohong sama mama kan sayang? ga mungkin anak mama tega melakukan hal seperti itu di belakang Naya," ucap mama Airin dengan suara yang bergetar


"Aku minta maaf mah, semuanya terjadi begitu aja mah." ucap Laura sambil menggelengkan sedikit kepalanya


Mama Airin pun langsung mencengkram kedua lengan Laura dengan cukup kuat


"Apa kamu sudah gila sayang?!! kenapa kamu tega melakukan hal seperti itu di belakang Naya?!! kalau cuma sebuah kesalahan seharusnya kalian akhiri semuanya dari awal!!" teriak mama Airin


Laura pun menjadi sedikit tidak terima dengan sikap mama Airin pada saat itu, Laura pun menepis tangan mama Airin


"Yang anak mama itu aku mah!! kenapa mama malah memihak sama Naya?!! kenapa semua orang cuma memikirkan Naya?!! kenapa ga ada satupun orang yang memikirkan perasaan aku?!!" teriak Laura sekuat tenaga


Mama Airin mulai menjatuhkan air matanya sambil menggelengkan kepalanya


"Mama ga memihak ke siapapun sayang, tapi apa yang kamu lakukan itu memang salah." jelas mama Airin


Laura yang mulai gelap mata pun melihat serpihan kaca di atas lantai dan mulai mengambil serpihan kaca tersebut, dengan cepat dia mengarahkan serpihan kaca tersebut ke arah lehernya


"Kalau memang mama lebih sayang sama Naya dari pada sama aku yang anak kandung mama, ga ada gunanya lagi aku hidup mah." ucap Laura lirih


Sontak saja mama Airin pun terlihat panik dengan sikap Laura saat itu


"Kamu tenang dulu sayang, kita bicarakan semuanya baik-baik ya." bujuk mama Airin


"Sekarang sudah ga ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini mah!! karena Farhan sudah memutuskan hubungan sama aku!!" teriak Laura


"Nanti kita bicarakan semuanya baik-baik sama Farhan ya sayang"


"Kalau dia sudah ga mau aku lagi, lebih baik aku pergi untuk selamanya membawa anak kami mah." ucap Laura lirih


"Anak?" tanya mama Airin sambil membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna


"Aku sudah mengandung anak dia mah"

__ADS_1


Sebagai seorang ibu mama Airin benar-benar merasa hatinya telah hancur melihat keadaan sang buah hati sampai seperti itu, dia juga tau dengan pasti bahwa sang buah hati berada di posisi yang salah. Tapi keadaan sudah seperti itu mama Airin pun tak mungkin lagi berdiam diri


"Sekarang kamu tenangkan dulu diri kamu, mama janji mama akan memikirkan jalan keluar terbaik untuk kamu." ucap mama Airin dengan bersungguh-sungguh


"Mama janji sama aku?"


"Mama janji sama kamu sayang"


Laura pun mulai melepaskan serpihan kaca yang berada di tangannya, dengan cepat mama Airin memeluk tubuh Laura dengan erat agar Laura tidak melakukan tindakan yang bisa membahayakan dirinya sendiri


Mentari pagi pun mulai menyapa kehidupan di muka bumi ini, Farhan yang sudah terbangun dari tidurnya pun segera memeriksa ponselnya. Sudah pasti Farhan berharap Naya ada menghubungi dirinya, tetapi tak ada satu pesan atau panggilan telepon yang berasal dari Naya. Bahkan saat dia mencoba menghubungi Naya keadaan ponsel Naya masih tetap sama


"Sebenarnya kamu ada di sih Nay? aku benar-benar khawatir sama kamu," batin Farhan


Farhan segera beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan diri, dia berniat untuk mendatangi rumah Naya sekali lagi dan berharap bisa menemukan Naya di sana. Sedangkan Naya sendiri baru mulai terbangun dari tidurnya lelapnya, Naya pun mencoba melihat keadaan sekitar


"Aku ada di mana ini?" batin Naya


Naya pun terkejut saat melihat keadaan tubuhnya yang benar-benar polos tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya, apalagi saat dia melihat beberapa jejak hasil perbuatan panas dia tadi malam. Dengan cepat Naya pun mencoba mendudukkan tubuhnya


Naya merasa sekujur tubuhnya terasa remuk apalagi pada bagian intinya


"Kamu sudah bangun?"


Naya pun langsung menoleh ke arah suara pria yang terdengar berat dan dingin tersebut, dia melihat Ardi sedang menikmati secangkir kopi sambil memegang tabletnya


"Siapa laki-laki ini?" batin Naya dengan wajah bingung


"Jangan bilang kalau kamu sudah melupakan saya?" tanya Ardi dengan senyuman dingin


Naya pun mencoba mengingat kembali semua kenangan yang telah terjadi pada malam itu


"Astaga!! aku ingat tadi malam aku banyak melakukan hal gila sama orang ini, tapi mau bagaimana pun aku ga mungkin menyalahkan dia. Aku memang bodoh!! untuk apa aku datang ke tempat seperti itu? Akhirnya aku melakukan hal yang sama dengan kedua penghianat itu!!" batin Naya


"Apa kamu sudah ingat?" tanya Ardi sambil menatap dengan serius

__ADS_1


"Ya pak, saya ingat anda adalah orang yang telah menyelamatkan saya dari laki-laki bajingan itu." ucap Naya dengan tegas


Secara perlahan Naya mulai menurunkan kedua kakinya karena dia ingin segera membersihkan dari dan segera meninggalkan tempat itu, sedangkan Ardi hanya terdiam sambil tersenyum penuh arti


"Bagus kalau ingat semuanya dengan baik, padahal saya sempat berpikiran untuk mengulang kejadian tadi malam kalau kamu berani melupakan saya." batin Ardi


Naya pun berdecak jengkel saat dia berusaha untuk bangkit tetapi pada bagian intinya terasa sangat sakit


"Apa dia ga punya belas kasihan? masa dia buat tubuh aku sampai remuk begini?" gerutu Naya di dalam hatinya


Ardi pun segera bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Naya, sedangkan Naya langsung menatap tajam ke arah laki-laki tampan tersebut


"Anda mau berbuat apa pak?" tanya Naya dengan tegas


"Saya cuma mau membantu kamu untuk ke kamar mandi, sepertinya kamu sedikit kesulitan untuk berjalan." jawab Ardi


Dengan cepat Naya langsung melambaikan tangannya


"Saya tidak memerlukan bantuan dari anda pak," ucap Naya dengan tegas


"Kenapa? apa kamu masih merasa malu dengan saya? saya bahkan sudah melihat semua bagian dari tubuh kamu," ucap Ardi dengan wajah datarnya


"Ini orang manusia atau robot sih? kok bisa-bisanya dia bicara tentang hal itu tanpa ekspresi sama sekali," batin Naya


"Biar saya bantu kamu ke kamar mandi"


"Ga perlu pak," jawab Naya dengan cepat


"Kenapa?" tanya Ardi sambil mengerutkan keningnya


"Karena saya yakin anda adalah seorang pebisnis yang handal pak," jawab Naya dengan nada sinis


"Maksud kamu?"


"Saya hanya takut anda akan meminta bayaran yang mahal atas bantuan yang telah anda berikan pak," jawab Naya dengan nada sinis sambil menatap ke arah Ardi tanpa rasa takut sama sekali

__ADS_1


Saat itu Naya sedang melakukan sindiran halus kepada Ardi dan sudah pasti laki-laki dingin tersebut bisa menyadari hal itu dengan mudah


__ADS_2