
"Selamat bergabung di perusahaan kami," ucap salah seorang yang melakukan interview kepada Rendi sambil menyodorkan tangan kanannya
Rendi pun menyambut tangan orang tersebut dengan senyuman tipis, tanpa rasa ragu sama sekali Rendi langsung melakukan penanda tanganan kontrak kerja. Di kontrak kerja tersebut tertulis bahwa Rendi akan mendapatkan beberapa barang inventaris perusahaan berupa mobil dan sebuah apartemen, bahkan gaji yang akan Rendi terima nantinya terbilang cukup besar
"Kak Naya harus menjadi orang pertama yang mengetahui kabar baik ini," batin Rendi
Setelah keluar dari gedung tersebut Rendi pun segera menghubungi Naya
"Ya Ren"
"Mau makan siang bareng kak?" tanya Rendi bersemangat
"Waw ada kabar baik apa nih? kenapa suara kamu kedengaran bahagia Ren? apa interviewnya berjalan lancar?"
"Bukan lancar lagi kak tapi sukses besar, mulai besok aku mulai bekerja di sebuah perusahaan besar. Aku bahkan dapat inventaris mobil dan apartemen kak," jawab Rendi bersemangat
"Selamat ya Ren," ucap Naya dengan tulus
"Jadi kita mau makan siang di mana kak?"
"Ada restoran yang lumayan enak di dekat kantor kak Naya, gimana kalau kita makan siang di situ aja?"
"Oke kak, nanti sebelum jam makan siang aku sudah sampai di kantor kakak ya"
"Ya"
Setelah memutuskan sambungan teleponnya Naya pun langsung memasang wajah serius
"Seharusnya tadi aku tanya sama Rendi nama perusahaan tempat dia mau bekerja, sedikit banyak aku sudah tau nama-nama perusahaan yang berada di bawah naungan perusahaan laki-laki itu." batin Naya
Saat itu jauh di dalam lubuk hati Naya merasa sedikit curiga kalau-kalau pekerjaan Rendi pun berada di bawah rencana seorang Ardiansyah Herlambang, tapi Naya masih tak memiliki keberanian untuk menanyakan hal tersebut secara langsung. Saat jam makan siang hampir tiba Mila akan segera menghampiri Naya
"Makan siang bareng yuk," ucap Mila lalu tersenyum
"Maaf ya Mila, hari ini aku ga bisa makan siang bareng kamu. Soalnya aku sudah ada janji sama adik aku yang kemarin itu," ucap Naya sambil tersenyum canggung
"Ga masalah kok Nay, nanti aku bareng anak-anak yang lain aja"
__ADS_1
Tiba-tiba saja ponsel Naya pun berdering dan sudah pasti Rendi adalah orang yang menghubungi Naya saat itu
"Ya Ren"
"Aku sudah di depan kantor kamu kak"
"Ya sudah kak Naya keluar sekarang ya"
Naya pun segera meninggalkan gedung tersebut dan ternyata saat itu Rendi menjemput Naya menggunakan motor kesayangannya, sudah pasti hal tersebut sampai ke telinga seorang Ardiansyah Herlambang
"Aku ga akan izinkan dia kembali ke kantor berduaan dengan anak itu menggunakan motor, walaupun mereka saudara cuma aku yang boleh bersentuhan dengan tubuh perempuan itu." batin Ardi
Ardi yang sedang di sibukkan dengan segudang pekerjaannya pun langsung bangkit dari bangku kebesarannya, di sisi lain Naya dan Rendi baru saja masuk ke dalam sebuah rumah makan dan sudah memesan menu makan siang mereka
"Kamu di terima di perusahaan mana Ren?" tanya Naya di sela makan mereka
Rendi pun menyebutkan nama sebuah perusahaan tersebut dengan sangat bangga
Deg...
"Kenapa harus perusahaan itu sih? apa lagi-lagi orang itu turun tangan untuk membantu Rendi? tapi bagaimana kalau mereka sampai ketemu dan Rendi ga bisa menahan diri? apa Rendi akan terlibat masalah?" batin Naya dengan wajah yang terlihat sedikit cemas
"Kamu kenapa kak?" tanya Rendi dengan wajah sedikit bingung
"Apa kamu sudah tanda tangan kontrak Ren?"
Rendi pun menganggukkan kepalanya dengan perasaan yang semakin bingung karena melihat ekspresi wajah Naya pada saat itu, tiba-tiba saja seorang Ardiansyah Herlambang sudah berdiri tepat di samping meja mereka
"Apa saya boleh ikut bergabung bersama kalian?"
Ingin sekali rasanya Naya berteriak sekuat tenaga saat melihat kehadiran seorang Ardiansyah Herlambang di dekat mereka berdua, sedangkan yang Rendi lakukan saat itu adalah memperhatikan keadaan sekitar mereka
"Masih banyak meja yang kosong, kenapa harus gabung di meja kami?" tanya Rendi dengan tegas
Ardi mengabaikan pertanyaan dari Rendi dan langsung menatap ke arah Naya
"Apa kamu bisa geser duduknya ke sebelah sana? saya mau duduk di samping kamu," ucap Ardi
__ADS_1
Dengan berat hati Naya pun memindahkan posisi duduknya, sedangkan Ardi langsung mendudukkan tubuhnya tepat di samping Naya dengan senyuman menghias bibirnya
"Kamu kenal sama kak Naya?" tanya Rendi dengan tegas
"Iya," jawab Ardi
"Ga," jawab Naya
Tapi mereka menjawab hal tersebut secara bersamaan, Rendi pun terlihat mengerutkan keningnya melihat suasana yang tercipta di antara Ardi dan Naya. Ardi pun langsung menatap ke arah Naya dengan lekat dan senyuman dingin khas dirinya
"Jadi kamu kamu sudah melupakan saya? apa saya harus mengingatkan kamu bagaimana caranya kita bisa saling mengenal?" tanya Ardi
Naya yang sudah sering berbincang dengan Ardi walaupun melalui telepon pun langsung di buat panik, tanpa sadar Naya langsung menutup mulut seorang Ardiansyah Herlambang menggunakan salah satu tangannya. Saat itu Naya hanya takut Ardi akan mengatakan hal-hal gila di hadapan Rendi
"Kamu lagi ngapain sih kak?" tanya Rendi semakin merasa bingung
Ardi pun tersenyum tipis dan meletakkan kedua tangannya di atas tangan Naya, hal tersebut berhasil membuat tangan mungil Naya benar-benar menghilang di balik tangan laki-laki tersebut. Ardi pun mencium telapak tangan Naya dengan lembut, sontak saja Naya pun langsung menarik tangannya dan menatap ke arah Ardi dengan tajam
"Sebenarnya kamu kenal sama orang ini apa ga kak?" tanya Rendi dengan serius
Naya pun menghembuskan nafasnya dengan kasar
"Ya, kak Naya kenal sama dia"
"Kenapa kak Naya kelihatan panik saat melihat dia? apa hubungan kalian berdua?"
"Kami... Kami..." ucap Naya dengan gugup
"Apa yang harus aku jawab sekarang? dia selalu bilang aku milik dia atau aku wanita dia, kalau hal itu di jelaskan dengan makna yang negatif sama aja dengan aku simpanan dia." batin Naya
"Kak?" tanya Rendi sambil menatap Naya dengan lekat
"Naya adalah kekasih saya," ucap Ardi
Naya pun langsung menatap ke arah Ardi dengan tatapan mata penuh arti, sedangkan Rendi tampak terdiam tapi tak lama kemudian tiba-tiba saja dia tertawa dengan lepas
"Kalau kamu punya niat untuk berbohong, setidaknya pikirkan jawaban yang tidak akan membuat orang lain curiga." ucap Rendi di sela tawanya
__ADS_1
"Tapi saya ga berbohong, saya memang menganggap Naya sebagai kekasih saya." ucap Ardi dengan serius
Rendi pun tertawa lepas sekali lagi karena dia menganggap semua ucapan Ardi hanya lelucon belaka