
Setelah sarapan mereka mulai meninggalkan rumah mewah tersebut menuju ke sebuah rumah sakit, saat tiba di sana dengan setia Ardi menggenggam tangan Naya memasuki tempat tersebut. Sudah pasti untuk urusan yang lain sudah di selesaikan oleh Irvan
Saat akan menuju ke ruangan sang dokter yang selama ini memeriksa kandungan Naya tiba-tiba saja ponsel Ardi berdering, tanpa harus mengatakan apapun Naya yakin bahwa panggilan telepon tersebut cukup penting bagi Ardi. Hal tersebut bisa Naya ketahui dari ekspresi wajah sang suami yang tampak sedikit bingung
"Jawab aja dulu teleponnya, aku tunggu di depan ruangan dokter ya." ucap Naya sambil tersenyum
"Maaf ya, soalnya ini cukup penting." jawab Ardi dengan wajah sedikit menyesal
Naya pun menganggukkan kepalanya dan sudah pasti Ardi langsung memerintahkan Irvan untuk mengikuti Naya, saat Naya tiba di sana dia melihat seorang wanita hamil yang sedang duduk di depan ruangan tersebut. Naya pun tersenyum tipis dan menghampiri wanita tersebut
"Ra.."
Ternyata wanita tersebut adalah Laura
"Kak"
Naya pun mendudukkan tubuhnya tepat di samping Laura
"Ternyata kamu periksa kandungan kamu di rumah sakit ini juga ya Ra?" tanya Naya
"Ya kak"
"Wah, kenapa kita ga pernah ketemu ya selama ini?"
Laura hanya membalas dengan senyuman tipis
"Kamu sendiri aja Ra?"
Laura pun mencoba melihat sekeliling dan tak bisa menemukan sosok Ardi sama sekali
"Suami aku sekarang sudah mulai bergabung dengan perusahaan keluarganya kak, jadi sekarang dia agak sibuk dan ga sempat untuk mengantar aku periksa." jelas Laura
Naya hanya tersenyum tipis dan sudah pasti saat itu Laura sedang berbohong kepada Naya, yang sebenarnya terjadi adalah selama ini Farhan tak pernah sekalipun keinginan untuk mengantarkan Laura periksa keadaan kandungannya. Tapi tak lama kemudian Ardi sudah berada di antara mereka semua
"Maaf aku agak lama terima teleponnya," ucap Ardi tak enak hati kepada sang istri
Saat itu Naya hanya tersenyum tipis kepada sang suami, tapi yang di rasakan oleh Laura saat itu adalah hatinya benar-benar terasa sakit melihat kehadiran seorang Ardiansyah Herlambang di antara mereka
"Bisa-bisanya aku menggunakan alasan sibuk untuk berbohong sama kak Naya, sesibuk apa pekerjaan Farhan jika di bandingkan dengan suami kak Naya yang hebat ini? Bahkan orang sehebat dia masih tetap menyempatkan diri untuk menemani istrinya memeriksakan kandungan," batin Laura dengan wajah bersedih
Dengan mudahnya Naya bisa mengetahui bahwa saat itu Laura sedang memikirkan sesuatu, tetapi dia juga tak ingin membahas lebih jauh kepada Laura karena ada Ardi di antara mereka. Sedangkan Ardi tak mau memperdulikan apapun dan hanya fokus untuk memberikan perhatian sepenuhnya kepada sang istri
Sesampainya di kediaman mereka Naya langsung menghubungi Laura dan menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi, Laura seakan tak bisa lagi menahan beban di dalam hatinya dan menceritakan semua yang dia lalui selama menikah dengan Farhan. Ardi yang berada di samping Naya sedari awal hanya terdiam dan terus memperhatikan perubahan ekspresi wajah sang istri
"Kamu kenapa?" tanya Ardi
"Apa aku boleh minta izin untuk ketemu sama Farhan?" tanya Naya dengan wajah serius
"Untuk apa kamu ketemu sama laki-laki itu?" tanya Ardi dengan tegas
"Aku harus menasehati dia karena sikap dia terhadap Laura, saat ini Laura sedang hamil dan ibu hamil seperti aku pasti butuh perhatian dan kasih sayang. Dia ga bisa bersikap seperti itu sama adik aku!!" jelas Naya dengan tegas
Ardi pun mengembuskan napasnya dengan kasar, rasanya ingin sekali dia melarang hal tersebut tapi dia yakin itu akan membuat Naya menjadi sedih
"Aku temani kamu waktu ketemu dia ya"
Naya pun langsung mengeluarkan jurus andalannya dengan cara memasang wajah memelas
"Jangan dong, kalau kamu ada di situ aku ga bisa puas marahin dia." jelas Naya masih dengan ekspresi yang sama
Ardi pun mencium ujung kepala Naya dengan lembut
"Ya sudah aku kasih kamu izin untuk ketemu dia jadi jangan pasang wajah begitu lagi, aku ga mau anak kita berpikiran aku menganiaya ibunya." ucap Ardi dengan lembut
Naya pun mendongakkan kepalanya dengan senyuman yang mengembang
"Kamu memang suami terbaik di dunia ini"
Naya pun langsung menghubungi Farhan dan membuat janji bertemu pada esok hari, pagi harinya Ardi pergi ke kantor seperti biasa dan Naya langsung bersiap untuk menemui Farhan. Saat Naya tiba di sana Farhan sudah tiba lebih dulu di tempat itu
"Apa kamu sudah sarapan Nay?" tanya Farhan dengan lembut
"Saya minta ketemu sama kamu bukan untuk makan berdua sama kamu, saya hanya ingin membahas sesuatu tentang Laura," jawab Naya dengan tegas
"Kenapa kamu harus ngomong secara formal seperti itu sama aku Ra?" tanya Farhan lirih
"Karena kamu sudah menjadi adik ipar saya dan saat ini saya sudah menjadi istri dari seseorang, jadi saya rasa sudah kurang pantas kalau saya bicara menggunakan bahasa yang tidak formal sama kamu"
Farhan pun memilih untuk mengalah dari pada harus berdebat lebih jauh lagi dengan Naya
"Kamu mau membahas apa sama aku Nay?"
__ADS_1
"Kenapa kamu menikahi Laura kalau kamu bersikap seperti itu kepada Laura? Sebagai seorang suami seharusnya kamu bisa memberikan perhatian terhadap istri kamu, apalagi saat ini Laura sedang mengandung anak kamu." ucap Naya penuh penekanan
Farhan pun mengembuskan napasnya dengan kasar
"Jadi aku harus bagaimana Nay? Aku sudah berusaha Nay tapi di dalam hati aku ga ada tempat untuk Laura sama sekali, satu-satunya perempuan yang ada di dalam hati aku cuma kamu Nay." ucap Farhan dengan bersungguh-sungguh
Tanpa mereka ketahui ternyata seorang Ardiansyah Herlambang berada di meja belakang mereka dan bisa mendengar semua percakapan mereka dengan baik, kata-kata terakhir yang di keluarkan oleh Farhan membuat darah Ardi menjadi mendidih dan hendak bangkit dari duduknya
"Apa kamu sudah kehilangan akal sehat kamu?" tanya Naya dengan nada sinis
Ardi yang mendengar hal tersebut membatalkan niatnya dan mendudukkan kembali tubuhnya
"Aku tau kalau apa yang aku rasakan ini ga benar Nay tapi memang itu kenyataannya, sampai detik ini aku ga pernah bisa melupakan ka..."
Farhan langsung mengehentikan kata-kata yang akan dia ucapkan pada saat itu karena Naya melepaskan tatapan membunuhnya
"Saya ga pernah menyangka kamu adalah laki-laki yang serendah ini," ucap Naya dengan nada sinis
Farhan pun hanya bisa terdiam dan menatap Naya dengan tatapan mata penuh rasa penyesalan
"Jangan pernah mengucapkan kata-kata seperti itu lagi terhadap saya karena saat ini saya sudah menjadi istri orang lain," lanjut Naya
"Apa kamu mencintai suami kamu itu sebesar perasaan kamu terhadap aku dulu Nay?" tanya Farhan lirih
Deg..
Ardi yang mendengar hal tersebut menjadi sedikit cemas, bahkan tanpa sadar tangan seorang Ardiansyah Herlambang sedikit bergetar karena merasa takut dengan jawaban yang akan Naya berikan pada saat itu. Naya pun menggelengkan kepalanya dan Farhan langsung tersenyum bahagia melihat hal tersebut
"Kalau begitu kamu bisa tinggalin laki-laki itu Nay dan kembali ke aku, aku janji akan memperlakukan kamu dengan baik Nay." ucap Farhan bersungguh-sungguh
Klontang..
Terdengar suara sendok yang terjatuh dari meja belakang Naya dan sudah pasti hal tersebut bisa terjadi karena ulah Ardi pada saat itu, Ardi pun mulai mengepalkan tangannya karena emosi yang dia rasakan pada saat itu
"Kamu ngomong apa sih?" tanya Naya dengan nada sinis
"Maksud kamu Nay?"
"Maksud saya perasaan saya ke suami saya jauh lebih besar dari perasaan saya ke kamu dulu, memang suami saya tidak selembut kamu yang selalu memanggil saya dengan panggilan sayang. Tapi apa gunanya panggilan sayang kalau kamu masih bisa berkhianat di belakang saya?" ucap Naya dengan penuh penekanan
Farhan pun hanya terdiam dan Ardi di meja belakang langsung tersenyum tipis
"Saya harap kamu berhenti untuk mencari celah antara hubungan saya dan suami saya, saya harap kamu juga bisa memperlakukan istri kamu dengan baik mulai saat ini. Sebuah hubungan itu bukan hanya tentang memulai, tapi ada sebuah proses dalam menjaga hubungan tersebut agar hubungan tersebut tetap bisa berjalan dengan baik"
"Saya harap kamu menghapus nama saya untuk selamanya dari hidup kamu seperti yang sudah saya lakukan saat ini, jangan membuat saya semakin memandang rendah kamu." ucap Naya dengan tegas
Naya pun mulai melangkahkan kakinya dan yang dia lakukan saat itu adalah melangkahkan kakinya ke meja yang berada di belakang meja awalnya
"Apa kamu bersedia mengantarkan saya pulang ke rumah tuan muda?" tanya Naya dengan senyuman yang mengintimidasi
Sesampainya di dalam mobil mereka Naya langsung menatap tajam sang suami, sedangkan Ardi seperti tak dapat berkutik sama sekali pada saat itu
"Maaf," ucap Ardi dengan hati-hati
"Apa kamu ga percaya sama aku?" tanya Naya dengan tegas
"Bukan begitu kok, aku cuma khawatir aja sama kamu." jelas Ardi dengan cepat
Naya pun langsung melepaskan senyuman terbaik yang dia miliki
"Terima kasih ya," ucap Naya dengan tulus
"Kenapa aku harus marah? Aku malah senang karena kamu benar-benar perduli sama aku, aku juga senang karena tadi kamu bisa menahan diri." jelas Naya
"Tapi sejak kapan kamu tau kalau aku ada di situ?" tanya Ardi
"Dari awal kamu duduk di meja belakang aku sudah curiga, aku semakin yakin saat tadi kamu menjatuhkan sendok." jelas Naya sambil tertawa kecil
Ardi pun menatap Naya dengan letak
"Kenapa kamu bisa tau dari awal kalau aku yang ada di meja itu?"
"Aroma parfum kamu"
Ardi pun tersenyum tipis lalu mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Naya
"Ternyata kamu mesum juga ya sayang, kamu selalu mengingat aroma tubuh aku." bisik Ardi dengan lembut
Naya pun langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna
"Kamu bilang apa?"
__ADS_1
"Apa?" tanya Ardi dengan wajah biasa
"Tadi kamu sebut aku dengan apa?"
Ardi pun langsung mencium ujung kepala Naya dengan lembut
"Memang apa salahnya kalau aku panggil istri aku sendiri dengan sebutan sayang?"
Naya pun hanya bisa terdiam dengan wajah yang merona dan Ardi memilih untuk menarik tubuh Naya masuk ke dalam pelukan hangatnya, hari-hari Naya benar-benar di lalui dengan baik karena Ardi selalu memberikan yang terbaik untuk sang istri
Hingga hari itu pun tiba hari di mana Naya akan segera melahirkan buah hati mereka, wajah panik tak bisa di tutupi oleh seorang Ardiansyah Herlambang pada saat itu
"Kamu butuh apa sayang? Apa mau aku pijat pinggang kamu supaya lebih enak? Atau aku panggil dokter aja." ucap Ardi dengan wajah cemas
Naya melambaikan tangannya agar Ardi mendekat dan dengan patuh Ardi mendekatkan telinganya ke arah Naya
"Kamu bisa diam ga sih sayang?!!" teriak Naya sekuat tenaga
Semua orang yang sedang berada di ruangan tersebut langsung terlihat menahan tawanya melihat ekspresi wajah Ardi yang tampak terkejut akan hal tersebut
"Maaf sayang, aku cuma..."
Naya pun langsung menggenggam tangan sang suami
"Aku cuma butuh kamu untuk tenang sayang, aku tau kamu khawatir tapi kalau kamu seperti itu aku jadi semakin panik." jelas Naya
"Maaf sayang, aku benar-benar cemas karena kamu kelihatan kesakitan. Apa kamu ga mau melakukan operasi sesar aja sayang?"
Naya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang terlihat menahan rasa sakit
"Aku mau merasakan menjadi seorang ibu yang sesungguhnya sayang"
Ternyata sedari awal Ardi sudah mencari tau tentang sakitnya proses sebuah persalinan, dia juga menyarankan Naya untuk melakukan operasi sesar karena tak ingin Naya merasakan rasa sakit itu. Tetapi Naya selalu menolak hal tersebut dan ingin merasakan melahirkan secara normal
Mama Renata dan tante Airin yang juga berada di ruangan tersebut langsung melangkahkan kakinya menghampiri Ardi, mama Renata memegang pundak sang anak dengan lembut
"Kamu harus tenang dan mengerti perasaan Naya," ucap mama Renata
"Tapi Naya kesakitan mah," ucap Ardi lirih
"Semua ibu di dunia ini harus merasakan hal yang sama saat akan melahirkan Ardi, tapi rasa sakit itu akan terbayar lunas saat nanti dia bisa melihat anaknya terlahir ke dunia ini." jelas tante Airin
Ardi menganggukkan sedikit kepalanya tetapi tiba-tiba saja dia mulai menatap Naya dengan wajah serius
"Kalau begitu aku cuma mengizinkan kamu melahirkan satu kali dalam hidup kamu, aku ga akan mengizinkan kamu hamil lagi setelah ini." ucap Ardi dengan serius
Semua orang yang berada di tempat itu pun langsung tertawa lepas, sedangkan Naya yang sedang menahan rasa sakit hanya bisa tersenyum mendengar hal tersebut
"Kenapa semua orang ketawa?" tanya Ardi menatap mama Renata dengan wajah bingung
"Apa kamu yakin bisa ga menyentuh Naya untuk selamanya setelah dia melahirkan?" tanya mama Renata dengan senyuman mengejek
Ardi pun akhirnya menyadari kebodohan yang baru saja dia lakukan pada saat itu, Naya yang tak ingin melihat sang suami di permainkan lebih jauh langsung menggenggam tangan Ardi dengan erat
"Aku baik-baik aja kok sayang," ucap Naya dengan lembut sambil tersenyum
Ardi pun menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk mengurangi gejolak yang dia rasakan di dalam dadanya dan menghadiahkan sebuah ciuman lembut di kening Naya
"Maaf karena sikap aku sedikit berlebihan, aku cuma ga bisa merasa tenang saat melihat kamu kesakitan." ucap Ardi dengan lembut
Naya pun hanya membalas dengan senyuman tipis
"Terima kasih telah hadir di dalam hidup aku wahai sang raja neraka, terima kasih karena kamu telah menyelamatkan aku dari jurang keterpurukan. Terima kasih karena kamu memberikan aku kebahagiaan yang tak ada batasnya, yang pasti aku benar-benar merasa beruntung bisa memiliki kamu di dalam hidup aku." batin Naya
Sebuah kehidupan akan terus berjalan bagaikan sebuah roda yang berputar, saat ini kamu bisa merasa bahwa kamu berada berada di posisi di bawah tapi di kemudian hari kamu bisa berada di posisi teratas
Jangan pernah berhenti ataupun menyerah sekeras apapun ombak kehidupan sedang menerpa kamu saat ini, karena percayalah matahari akan kembali bersinar setelah hujan turun walaupun pelangi belum tentu timbul setelah hujan turun
TAMAT
Terima kasih untuk kakak semua yang masih setia membaca cerita aku sampai di bab terakhirnya, mohon maaf karena belakangan aku ga up 2 bab seperti biasanya karena beberapa kendala ðŸ¤ðŸ¤
Semoga cerita yang aku buat bisa menghibur kakak semua dan silahkan mampir di cerita aku yang lain kalau berkenan dan sampai juga di cerita selanjutnya 😘😘
Sekali lagi aku ucapkan terima kasih untuk semua dukungannya 🥰🥰
Kalau berkenan mampir ke cerita baru aku kak yang berjudul Dendam Wanita Sang Tuan Muda
Mengisahkan tentang perjuangan hidup Herlina Iskandar yang terasa indah ternyata hanya bayang semu, di mana cobaan terus datang dan Lina pun memilih untuk bercerai. Salah paham terus terjadi hingga sang mantan suami tega merencanakan sesuatu yang mengerikan terhadap Lina
"Jadilah wanita saya, maka saya akan meminjamkan kekuatan saya kepada kamu"
__ADS_1
Lina di butakan oleh perasaan dendam dan rela melakukan apapun demi membalas rasa sakit hatinya
Bagaimana akhir perjalanan Herlina Iskandar?