Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Ingin Salam Perpisahan


__ADS_3

Ekspresi wajah Naya saat itu menunjukkan dengan jelas apa yang sedang dia rasakan pada saat itu


"Ga perlu terlalu di pikirkan, nanti kamu perhatikan wajah dia saat saya bilang saya mau pulang." bisik Ardi


"Gw cabut duluan ya"


Nico pun menganggukkan kepalanya dengan wajah yang terlihat sumringah, Ardi pun langsung menatap ke arah Naya


"Ayo"


Dengan perasaan yang sedikit bingung Naya pun menganggukkan kepalanya, mereka berdua mulai bangkit dari duduknya dan Naya terlihat mengulurkan tangannya ke arah Nico


"Selamat ulang tahun ya," ucap Naya


Saat itu Naya hanya ingin mengucapkan kata-kata tersebut karena dia belum sempat mengatakan hal tersebut saat dia tiba, Nico pun terlihat mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Naya. Tapi tiba-tiba saja uluran tangan Nico di sambut oleh Ardi


"Ga perlu berusaha untuk mengambil kesempatan," ucap Ardi dengan dingin


"Dasar teman laknat," ucap Nico dengan sinis


Tanpa menunda waktu lagi Ardi langsung membawa Naya untuk keluar dari tempat itu, saat di perjalanan Naya pun mulai menatap ke arah Ardi karena merasa penasaran dengan sesuatu


"Kenapa teman anda ga marah atau tersinggung kita pulang cepat?" tanya Naya


"Karena dia tidak bisa memanggil perempuan untuk menemani dia setiap saya berada di dekat dia"


"Kenapa?" tanya Naya dengan polosnya


"Karena saya tidak suka saat ada perempuan di dekat saya"


Naya pun terlihat menahan tawanya


"Ada apa?"


"Anda tidak konsisten dengan ucapan anda sendiri, anda bilang anda tidak suka ada perempuan di dekat anda. Tapi saya kan perempuan," jelas Naya


"Kalau kamu itu perempuan yang spesial, cuma kamu satu-satunya perempuan yang bisa ada di dekat saya." ucap Ardi dengan wajah datarnya


Deg.. Deg.. Deg..


Naya langsung memalingkan wajahnya karena dia harus mengendalikan debaran di dalam dadanya


"Ya ampun!! apa hati aku ini termasuk hati yang murahan? baru hitungan jam aku menangis untuk laki-laki lain, tapi sekarang hati aku berdebar untuk laki-laki lain." batin Naya dengan wajah yang merona

__ADS_1


Ardi pun tersenyum tipis melihat Naya yang seperti itu


"Astaga!! rasanya aku mau memasukkan dia ke dalam karung dan membawa dia pulang ke rumah sekarang juga," batin Ardi


"Apa ada tempat lain yang mau kamu datangi?" tanya Ardi


Dengan cepat Naya langsung menatap ke arah Ardi lalu menggelengkan kepalanya


"Aku ga boleh memberi dia kesempatan untuk berbuat yang aneh-aneh lagi," batin Naya


"Ya sudah kalau begitu, saya akan langsung mengantarkan kamu pulang." ucap Ardi


Saat itu Naya hanya menganggukkan kepalanya dengan perasaan sedikit curiga bahwa seorang Ardiansyah Herlambang tidak akan mengambil kesempatan dari dirinya


"Apartemen untuk kamu sudah siap, tempatnya ga terlalu besar dan cuma ada satu kamar di dalamnya. Tapi keamanan di tempat itu bisa terjamin dengan baik," jelas Ardi


"Terima kasih"


"Kapan kamu mau pindah ke sana?"


"Saya rasa lebih baik saya pindah saat libur kerja"


Mereka pun terus berbincang ringan membahas banyak hal, tanpa Naya sadari dinding pembatas yang Naya pasang mulai terkikis sedikit demi sedikit oleh seorang Ardiansyah Herlambang. Perasaan takut yang Naya miliki untuk laki-laki tersebut pun mulai menghilang secara perlahan


Saat itu Ardi tampak terdiam dan tak memberikan respon apapun


"Sekarang apa lagi mau dia? kenapa dia diam aja sih? jangan bilang kalau dia mau mampir ke rumah aku, sedangkan sekarang sudah terlalu malam untuk bertamu." batin Naya


"Kamu kenapa?" tanya Naya dengan hati-hati


Ardi pun mendengus jengkel tanpa ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya


"Mungkin tuan muda ingin mendapatkan salam perpisahan dari anda nona," jelas Irvan yang berada di bangku depan


"Salam perpisahan?" batin Naya


Dengan polosnya Naya mengambil tangan kanan Ardi dan mencium punggung tangan laki-laki tersebut, Ardi pun terbelalak melihat hal tersebut


"Saya turun dulu ya," ucap Naya sambil menatap ke arah Ardi


Ardi pun langsung memegang kedua pipi Naya dan mencium kening Naya dengan lembut


"Selama beristirahat," ucap Ardi dengan lembut

__ADS_1


Secepat kilat Naya langsung melarikan diri masuk ke dalam rumahnya untuk mengendalikan debaran di dalam dadanya, sedangkan Ardi mengangkat ujung bibirnya melihat Naya yang seperti itu


"Kelinci saya imut kan Van?"


Irvan hanya menjawab dengan anggukan kepalanya


"Kalau saya menjawab pertanyaan anda dengan kata-kata, jawaban apapun yang akan saya katakan saya hanya membuat anda menjadi marah terhadap saya tuan muda." batin Irvan


Naya memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum beristirahat, setelah merebahkan tubuhnya Naya pun mulai memeriksa ponselnya. Terdapat banyak sekali pesan singkat dan panggilan telepon yang berasal dari Rendi, semua pesan singkat Rendi hanya bertanya tentang keadaan Naya


"Kamu memang adik yang baik Ren, tapi sebaiknya aku berbohong sama anak itu dari pada nanti dia jadi heboh dan banyak bertanya." gumam Naya


"Maaf karena kak Naya baru balas pesan dari kamu ya Ren, tadi pulang kerja kak Naya langsung tidur dan ga dengar telepon dari kamu. Ini kebetulan kak Naya terbangun karena haus, kak Naya baik-baik aja kok." isi pesan singkat Naya


Malam itu bisa Naya lalui dengan baik, bahkan rasa sakit hati dan kekecewaan yang sempat dia rasakan menghilang entah kemana. Naya bisa tertidur dengan sangat pulas di malam itu


Saat pagi mulai menyapa keluarga kecil Laura berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama, Rendi pun berada di sana dengan menggunakan pakaian yang terlihat rapi


"Kamu mau pergi kemana dengan penampilan seperti itu?" tanya Laura dengan nada sedikit sinis


"Mau berangkat kerja kak"


"Kamu sudah dapat pekerjaan?" tanya Laura dengan wajah tidak percaya


Rendi pun menganggukkan kepalanya


"Kebetulan semuanya lagi kumpul, sekalian aku juga mau bilang kalau nantinya aku ga akan tinggal di rumah ini lagi." ucap Rendi dengan serius


Papa Tomi pun langsung menatap tajam ke arah Rendi


"Papa sudah bilang kalau kamu ga bisa tinggal di rumah Naya," ucap papa Tomi dengan tegas


"Aku ga tinggal di rumah kak Naya kok pah"


"Jadi kamu mau tinggal di mana?"


"Aku dapat inventaris mobil dan apartemen, kebetulan jarak apartemen itu dengan kantor tempat aku bekerja ga terlalu jauh pah. Jadi rencananya aku tinggal di sana," jelas Rendi


"Masa kamu bisa mendapatkan itu semua? kamu aja baru mau mulai kerja hari ini," ucap Laura dengan senyuman mengejek


"Semuanya tertulis di kontrak kerja aku," jawab Rendi dengan yakin


"Memang kamu di terima kerja di mana?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang sama

__ADS_1


Dengan bangga Rendi pun menyebutkan nama perusahaan tempat dia bekerja, secara serentak papa Tomi dan Laura langsung memasang wajah terlihat sedikit aneh


__ADS_2