
Ardi pun sudah berada di dalam mobilnya
"Apa kita akan langsung menuju ke tempat nona Naya tuan muda?" tanya Irvan
"Hem..."
"Apa anda tidak ingin beristirahat terlebih dahulu tuan muda?"
Saat itu Irvan hanya merasa bahwa wajah Ardi sudah menunjukkan bahwa dia sedang kelelahan
"Saya tidak bisa membiarkan dia berkeliaran terlalu lama di luar sana," jawab Ardi dengan tegas
"Baik tuan muda"
Ardi pun tersenyum tipis saat membayangkan ekspresi wajah Naya saat nanti melihat dirinya
"Maaf karena masa liburan kamu sudah selesai, sebaiknya hukuman apa yang harus saya berikan ke kelinci nakal seperti kamu ya? Berani-beraninya kamu memutuskan hubungan dengan saya hanya melalui sebuah pesan singkat, sedangkan kamu sudah dua kali menikmati tubuh saya." batin Ardi
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Ardi
"Sudah di siapkan dengan baik tuan muda"
"Hem.."
Di seberang sana seharian penuh Naya hanya termenung sambil memandangi foto Ardi yang berada di dalam ponselnya, saat itu Naya merasa seperti kehilangan semangat hidup
"Apa kamu makan dengan baik? Maaf karena saya harus menghilang begitu saja dari kamu, saya akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu." gumam Naya lirih
Naya memilih mengganti ponselnya agar keberadaan dirinya tidak bisa di lacak sama sekali, walaupun sudah pasti itu semua hanya ada dalam pemikirannya sendiri. Naya pun memesan makanan karena perutnya mulai terasa lapar, seharian penuh dia belum memakan apapun
Setelah cukup lama akhirnya terdengar seseorang yang mengetuk pintu rumah tersebut, Naya menyewa sebuah rumah kecil di sebuah tempat yang cukup jauh dari perkotaan. Naya langsung menyerahkan uang yang telah dia siapkan kepada sang kurir pengantar makanan tersebut
"Sisanya ambil aja pak," ucap Naya
"Terima kasih mbak"
Tetapi tiba-tiba saja bungkus makanan yang berada di tangan Naya langsung terlepas dari tangannya karena melihat sosok orang yang berdiri tak jauh dari tempat itu, sang kurir pun merasa bingung melihat ekspresi wajah Naya pada saat itu
"Ada apa mbak?" tanya sang kurir
__ADS_1
Naya hanya bisa terdiam membeku melihat Ardi yang sudah berada tak jauh dari dirinya dan sedang menatap dirinya dengan ekspresi dinginnya, sang kurir pun langsung menatap ke arah yang sama dengan tatapan mata Naya pada saat itu
"Apa dia orang yang berbahaya mbak? Apa mau saya panggilkan polisi?" tanya sang kurir
"Ga perlu pak, sebaiknya bapak langsung pergi saja dari sini"
Tanpa berbasa-basi lagi Naya langsung menutup pintu rumah tersebut, Ardi pun mengerutkan keningnya melihat Naya berani bersikap seperti itu
"Kamu berani menutup pintu setelah melihat keberadaan saya? Sepertinya saya harus memberi hukuman dua kali lipat sama kamu," batin Ardi dengan senyuman dingin
Sang kurir pun langsung di amankan oleh Irvan dan yang lainnya dan Ardi langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah rumah tersebut, sedangkan Naya sedang terduduk lemas di balik pintu dengan tubuh yang bergetar hebat
"Kenapa dia bisa ada di sini? Jangan bilang kalau dia mau menghukum aku karena aku berani meninggalkan dia," gumam Naya dengan perasaan takut
Dug.. Dug.. Dug...
Terdengar suara pintu rumah tersebut di ketuk dengan sangat keras
"Saya tau kamu sudah melihat saya Naya, sebaiknya kamu buka pintunya sebelum saya kehabisan kesabaran." ucap Ardi dengan tegas
Naya yang sedang merasa ketakutan tak berani memberikan jawaban apapun dari dalam sana
Dalam sekejap semua nyali Naya menghilang begitu saja, dia pun langsung membuka pintu tersebut dengan menundukkan kepalanya. Saat itu Naya tak punya keberanian sama sekali untuk menatap wajah tampan seorang Ardiansyah Herlambang, Ardi hanya terdiam dan menatap Naya dengan lekat
"Ga Nay!! kamu ga boleh terlihat lemah seperti ini, kamu harus kuat atau kamu akan membahayakan nyawa anak di dalam kandungan Laura." batin Naya
"Kenapa kamu ada di sini? Apa pesan yang aku kirim ga bisa memberi..."
Naya tak bisa menyelesaikan kata-kata yang akan dia ucapkan pada saat itu karena tiba-tiba saja Ardi mulai memeluk tubuh mungil Naya dengan erat, air mata Naya mulai menetes dengan sendirinya karena dia benar-benar ingin berada di dalam pelukan hangat tersebut
"Astaga Naya!! Sadar Naya!! Kamu ga boleh terlena dengan keadaan!!" batin Naya
Naya pun langsung mendorong tubuh Ardi dengan sekuat tenaga
"Kenapa kamu ada di sini?!! Saya sudah mengatakan dengan jelas kalau saya ingin mengakhiri hubungan di antara kita!!" ucap Naya dengan sedikit berteriak
Ardi pun tersenyum dingin khas dirinya dan membuat nyali Naya langsung menciut
"Apa kamu pikir kamu masih punya hak untuk meninggalkan saya setelah kamu menikmati tubuh saya?" tanya Ardi dengan dingin
__ADS_1
"Astaga!! jadi dia marah karena keegoisan aku di malam itu!!" batin Naya dengan wajah yang mulai terlihat pucat
"Ikut saya pulang sekarang juga, karena besok kita akan mengumumkan pernikahan kita." lanjut Ardi
Naya pun langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna mendengar hal tersebut
"Ga Nay!! kamu harus berani menolak dia dengan tegas!!" batin Naya
Naya pun menguatkan hatinya dan menampilkan sebuah senyuman yang terlihat sedikit sinis
"Siapa yang mau menikah dengan laki-laki seperti kamu?" tanya Naya
Ardi hanya terdiam dengan senyuman dingin
"Saya mau menikah dengan laki-laki yang hangat dan pengertian seperti Farhan, bukan laki-laki dingin seperti kamu. Jadi sebaiknya kamu pergi dari tempat ini sekarang juga," lanjut Naya dengan tegas
Saat itu Ardi menahan tawanya yang hampir saja terlepas dari bibirnya, entah mengapa saat itu dia merasa Naya benar-benar terlihat imut saat berusaha untuk menunjukkan taringnya. Sedangkan Ardi menyadari bahwa tangan Naya saat itu sedang bergetar dengan hebat
"Apa sudah selesai?" tanya Ardi dengan dingin
"Ya, saya rasa semua yang saya ucapkan sudah jelas." jawab Naya dengan yakin
Ardi pun melepaskan senyuman terbaik yang dia miliki dan memeluk tubuh Naya sekali dengan sangat erat, secara spontan Naya berusaha melepaskan dirinya dari pelukan tersebut tetapi kekuatan tangan Ardi membuat Naya tak bisa berkutik sama sekali
"Saya sudah bilang kalau saya akan selalu ada untuk kamu, jadi berhenti untuk mengorbankan diri kamu demi orang lain karena ada saya di samping kamu." bisik Ardi dengan lembut
Naya pun langsung membeku dan berhenti untuk meronta
"Saya sudah menyelesaikan semua permasalahan kamu, sekarang kamu bisa berada di samping saya dengan tenang." lanjut Ardi
Naya pun langsung mendongakkan kepalanya
"Maksud kamu?" tanya Naya lirih
Ardi tersenyum tipis lalu mencium kening Naya dengan lembut
"Mulai sekarang mama saya tidak akan menganggu kamu lagi dengan semua ancaman bodohnya itu, jadi berhenti untuk melawan saya dan kembali ke sisi saya sekarang juga." jelas Ardi
Air mata Naya pun langsung mengalir dengan sendirinya karena semua beban hatinya menghilang begitu saja, sedangkan Ardi semakin mengeratkan pelukannya
__ADS_1