Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Bentuk Perlindungan


__ADS_3

Saat itu Rendi masih terlihat sedikit bingung dengan kejutan yang baru saja dia terima, sedangkan Naya langsung menatap ke arah sang kasir dengan lekat sambil mengerutkan keningnya


"Ga mungkin ada hal seperti ini, seumur hidup aku belum pernah mendengar ada hal seperti itu. Atau jangan-jangan hal ini terkait dengan orang itu, tapi ga mungkin banget dia mengurusi hal-hal seperti ini." batin Naya


"Jadi ini serius mbak?" tanya Rendi dengan wajah tak percaya


"Benar pak, selamat karena anda telah menjadi orang yang terpilih dari mall ini"


Rendi pun langsung menatap ke arah Naya dengan wajah yang sumringah


"Kak Naya mau beli apa kak? tadi kan kak Naya nolak waktu aku minta kakak beli sesuatu untuk diri kakak, sekarang kak Naya ga ada alasan untuk nolak lagi. Uang aku pasti cukup untuk bayar barang apapun yang kak Naya mau," ucap Rendi bersemangat


Naya pun langsung tersenyum tipis untuk menutupi apa yang ada di dalam benaknya pada saat itu


"Saat ini kak Naya ga butuh apapun Ren, satu-satunya yang kak Naya butuhkan saat ini cuma makan Ren"


Rendi pun langsung menepuk jidatnya sendiri


"Maaf ya kak, aku kelewat senang sampai lupa tadi kak Naya sudah bilang kalau kakak lapar ya"


"Apa sekarang kita sudah bisa makan Ren?" tanya Naya lalu tersenyum hangat


"Ayo kak"


Naya hanya bisa menyimpan semua kecurigaan yang sedang di rasakan di dalam hatinya, dia harus menutupi itu semua dari Rendi agar anak tersebut tidak kepikiran tentang dirinya. Tapi tiba-tiba saja ponsel Rendi berdering di sela makan mereka, ternyata saat itu sang papa yang menghubungi Rendi


"Kenapa ga di angkat Ren?"


"Malas kak"


"Memang siapa yang telepon kamu?"


"Papa"


Naya pun tersenyum tipis


"Kamu boleh bersikap seperti itu sama orang tua kamu sendiri Ren," ucap Naya dengan lembut


Dengan berat hati Rendi pun menjawab panggilan telepon tersebut


"Ya pah"

__ADS_1


"Papa minta sekarang juga kamu untuk pulang ke rumah," ucap sang papa dengan tegas


"Aku ga mau pah, kemarin aku sudah bilang kalau aku mau tinggal sama kak Naya"


"Apa ini cara Naya mendidik kamu? baru satu hari kamu tinggal bersama dia dan sekarang kamu sudah berani melawan perintah papa"


"Apa maksud papa?"


"Kalau kamu ga mau papa menghubungi Naya secara langsung lebih baik kamu pulang sekarang juga, ada banyak hal yang harus papa bahas dengan kamu." ucap papa Tomi dengan tegas


"Iya pah, aku pulang sekarang juga"


Rendi tak bisa banyak bicara melalui telepon karena dia tidak ingin Naya mengetahui kata-kata yang sudah di ucapkan sang papa, papa Tomi pun langsung memutuskan sambungan teleponnya. Sedangkan Naya menatap ke arah Rendi dengan wajah serius


"Ada masalah apa Ren?"


Rendi pun melepaskan senyuman tipis agar tidak membuat Naya khawatir


"Aku juga tau kak, papa cuma minta aku untuk pulang ke rumah sekarang juga"


Ekspresi wajah Naya saat itu terlihat cemas


Rendi pun tersenyum tipis


"Sekarang aku sudah besar kak, ga mungkin papa tampar aku seperti dulu lagi." ucap Rendi dengan santai


"Kamu yakin ga perlu kak Naya temani?"


Rendi pun menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali


"Kamu memang ga boleh ikut kak, karena aku ga mau papa jadi menyalahkan kamu dalam permasalahan ini. Aku juga bisa bebas mengatakan apapun yang mau aku katakan kalau kamu ga ada di sana kak," batin Rendi


Rendi melakukan itu semua sebagai bentuk perlindungan dirinya terhadap Naya, dia benar-benar tidak ingin ada satupun orang yang bisa menyakiti hati Naya selama dia masih bernafas


"Ya sudah kalau begitu lebih baik kamu pulang sekarang aja Ren," ucap Naya dengan wajah serius


"Terus kak Naya pulang sama siapa?" tanya Rendi sambil mengerutkan keningnya


Naya pun tertawa kecil


"Kalau kamu aja sudah besar apalagi kak Naya dong, kalau cuma pulang sendiri kak Naya masih bisa kok." jelas Naya

__ADS_1


"Tapi kak"


"Kak Naya tau kamu perduli sama kakak, tapi tetap aja perintah orang tua harus kamu dahulukan Ren"


"Ya sudah kalau begitu aku pulang duluan ya kak"


Naya pun tersenyum hangat sambil menganggukkan sedikit kepalanya, Rendi pun segera bangkit dari duduknya dan bersiap untuk menghadapi keluarganya. Sedangkan Naya terpaksa menyantap makanan yang sudah dia pesan seorang diri


Saat Naya keluar dari tempat itu dia bisa melihat orang yang menjemput dirinya tadi pagi berada tak jauh dari sana, orang tersebut menganggukkan sedikit kepalanya tanda memberi penghormatan kepada Naya. Sedangkan Naya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar karena mengingat ucapan Farhan kepada dirinya


"Apa saat ini aku bisa terbilang sebagai perempuan simpanan? tapi bagaimana pun juga saat ini aku memang sudah melakukan hal itu sama dia, bahkan sekarang dia mulai mengikat semua pergerakan aku secara perlahan." batin Naya


Naya pun ingin memperjelas keadaan yang ada dan memilih untuk melangkahkan kakinya menuju ke arah sang supir dan mulai berhenti tepat di hadapan sang supir


"Tadi kamu ga muncul saat saya dalam masalah, kenapa sekarang kamu muncul lagi?" tanya Naya dengan wajah serius


"Maaf saya nona Naya, tapi tuan muda yang memerintahkan saya untuk mundur karena ada adik anda di tempat itu." jelas sang supir


"Ternyata dia masih bisa memikirkan posisi aku," batin Naya sambil tersenyum tipis


"Seandainya saya menolak untuk di antar sama kamu, apa kamu akan terkena masalah?"


Tanpa harus memberikan jawaban apapun Naya sudah bisa mengetahui jawabannya dari ekspresi wajah orang tersebut, Naya pun membuang nafasnya dengan kasar


"Ayo jalan," ucap Naya


Naya pun mulai melangkahkan kakinya dan sang supir mengikuti dari belakang, tapi saat mereka tiba di rumah Naya mobil Farhan sudah terparkir tepat di depan rumah Naya. Saat itu Farhan merasa bahwa dia belum puas untuk meluapkan segala perasaan kecewa yang dia rasakan terhadap Naya


"Tolong jangan membuat keributan di depan rumah saya," ucap Naya dengan tegas


Sang supir pun menganggukkan sedikit kepalanya tanda mengerti, Naya pun mulai turun dari mobil mewah tersebut dan sang supir ikut turun dari mobil tersebut. Sang supir mengikuti langkah kaki Naya seolah dia sedang menunjukkan perannya sebagai seorang penjaga bagi Naya


Farhan yang menyadari kehadiran Naya di tempat itu pun segera turun dari mobilnya dengan senyuman yang terlihat sedikit meremehkan, saat itu Farhan benar-benar kecewa terhadap Naya tanpa menyadari kesalahan dirinya sendiri


"Apa sekarang kamu masih mau mengelak Nay?" tanya Farhan dengan sinis


Sang supir benar-benar merasa geram dengan sikap yang Farhan tunjukkan pada saat itu, tanpa sadar sang supir melangkahkan kakinya melewati tubuh Naya


"Ingat yang tadi saya katakan kepada kamu," ucap Naya dengan tegas


"Baik nona muda"

__ADS_1


__ADS_2