Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Ingin Bersikap Egois


__ADS_3

Saat sudah berada di dalam mobilnya Mila mengingat kembali di mana Nico dan sang kakak sedang berpelukan, tiba-tiba saja sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Mila dan pesan singkat tersebut di kirimkan oleh Nico


"Kamu sudah di mana?"


Mila pun tersenyum getir


"Untuk apa? Apa kamu mau memperlihatkan ke aku secara langsung kalau kalian sudah berbaikan?" gumam Mila lirih


"Maaf aku ga bisa datang, tiba-tiba aku merasa kurang enak badan." balas Mila


Air mata Mila pun mengalir dengan sendirinya, gadis itu akhirnya menyadari bahwa dia sudah jatuh hati kepada laki-laki konyol tersebut. Mila menjatuhkan kepalanya di atas kemudi mobilnya dan menangis dengan hebat


Pada saat itu Mila sedang larut dengan perasaannya, gadis tersebut memarahi dirinya sendiri karena lagi-lagi dia memberikan hatinya kepada orang yang salah. Tetapi tiba-tiba saja terdengar kaca mobil Mila di ketuk oleh seseorang, Mila pun terkejut bukan main karena orang yang melakukan hal tersebut adalah Nico


"Buka pintunya," ucap Nico dengan wajah serius


Dengan cepat Mila menghapus air matanya dan membuka pintu mobilnya, Nico pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut dan menatap gadis tersebut dengan lekat. Saat itu Mila hanya bisa terdiam karena merasa bingung harus memulai percakapan dari mana, Nico pun menghembuskan nafasnya dengan kasar


"Apa kamu tau kalau malam ini kamu sudah banyak melakukan kesalahan sama aku?" tanya Nico dengan tegas


Mila hanya bisa terdiam dan tak berani menatap ke arah Nico sama sekali


"Pertama kenapa kamu bohong kalau kamu ga jadi datang karena ga enak badan? asal kamu tau tadi aku langsung lari seperti orang kesetanan setelah membaca pesan kamu itu," ucap Nico dengan tegas


Mila hanya bisa menggaruk kepalanya tak terasa gatal sama sekali dengan wajah frustasi


"Apa aku harus muncul dengan wajah bahagia saat kalian berdua sedang berpelukan?" batin Mila


"Kedua, kenapa kamu harus nangis seperti orang bodoh di sini?"


Mila yang mulai merasa tidak terima pun langsung menatap ke arah Nico dengan tajam


"Kenapa? Kamu ga terima sama ucapan aku?"


"Jadi kamu mau apa? apa kamu mau aku mengulurkan tangan aku sama kalian berdua dengan senyuman bahagia?!!" tanya Mila sedikit berteriak

__ADS_1


Nico hanya terdiam dengan ekspresi yang sama


"Terus kamu berharap aku akan bilang, selamat ya karena kalian sudah baikan dan menjalin hubungan lagi!!" lanjut Mila dengan wajah penuh amarah


"Itu kesalahan terakhir kamu dan itu adalah yang paling fatal," ucap Nico dengan penuh penekanan


Mila hanya bisa terdiam karena hatinya terlalu sakit untuk membahas tentang masalah tersebut lebih jauh lagi


"Apa kamu nangis karena kamu cemburu melihat aku berduaan sama Nilam?" tanya Nico lalu tersenyum tipis


Mila pun semakin terbakar amarah karena merasa di permainkan


"Sebaiknya kamu turun dari mobil aku dan temui pacar kamu itu!!" teriak Mila


"Aku memang mau ketemu sama pacar aku, tapi masalahnya sekarang pacar aku lagi marah-marah karena cemburu." jelas Nico dengan santai


Mila seperti kehabisan kata-kata dan memilih untuk membuang pandangan matanya ke arah yang berlawanan, sedangkan Nico tersenyum puas karena kini dia telah yakin bahwa dia sudah berhasil mendapatkan hati Mila


"Aku minta maaf ya kalau aku sudah membuat kamu jadi sedih, tapi kamu juga harus tau kalau antara aku dan Nilam benar-benar sudah berakhir"


"Ga ada hubungan apa-apa? apa menurut kamu berpelukan di tempat itu hal yang wajar untuk di lakukan dua orang yang ga memiliki hubungan apapun?" tanya Mila dengan sinis


Nico pun tertawa geli dan membuat Mila semakin tajam menatap ke arah Nico


"Tadi itu dia cuma mau minta maaf, terus aku bilang kalau aku sudah melupakan semuanya. Tiba-tiba aja dia peluk aku, jadi aku jelasin ke dia kalau mulai sekarang kami cuma bisa berteman. Karena sekarang sudah ada perempuan yang aku suka," jelas Nico


Mila hanya terdiam dengan tatapan mata tidak percaya


"Aku juga sudah kasih tau ke dia kalau perempuan yang aku suka itu kamu," lanjut Nico


"Kamu pasti bohong"


"Kamu bisa telepon Nilam dan tanya langsung ke dia kalau kamu ga percaya," jawab Nico dengan yakin


Mila masih terdiam dan sedang memikirkan hal tersebut dengan seksama

__ADS_1


"Sekarang sudah ya marahnya, karena sebentar lagi filmnya sudah akan di putar." lanjut Nico


Di tempat yang berbeda Ardi saat itu bisa bernafas dengan lega karena semua permasalahan di tempat itu sudah terselesaikan dengan baik, dia pun melihat ke arah jam tangan yang dia gunakan pada saat itu


"Kalau aku pulang sekarang, aku masih sempat untuk menemui Naya saat jam dua belas malam nanti." batin Ardi


"Persiapkan untuk pulang sekarang juga Van"


"Baik tuan muda"


Tanpa menunda waktu lagi Ardi langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut, di tempat yang berbeda Naya hanya bisa menangis seorang diri karena hari itu dia harus melalui malam pergantian umurnya seorang diri


Sebenarnya baik Rendi ataupun yang lain sudah mengajak Naya untuk merayakan hari ulang tahunnya, tapi Naya beralasan kepada semua orang bahwa dia akan merayakan bersama Ardi


Saat hampir jam dua belas malam beberapa pesan singkat masuk ke dalam ponsel Naya, isi semua pesan singkat tersebut hanya mengucapkan selamat ulang tahun kepada Naya. Tetapi saat itu hati Naya semakin terasa sakit karena hari itu adalah hari terakhir yang di berikan oleh mama Renata


"Kamu bahkan ga menghubungi aku? Apa aku benar-benar ga bisa melihat wajah kamu untuk terakhir kalinya?" gumam Naya lirih


Tetapi tiba-tiba saja bel apartemen tersebut mulai berbunyi, Naya pun menghapus air matanya dan membuka pintu apartemen tersebut. Naya merasa sedikit bingung karena saat itu ada seseorang yang berdiri di hadapannya dengan membawa sebuah buket mawar merah menutupi wajahnya, Naya pun tersenyum bahagia saat buket mawar tersebut mulai bergeser karena dia bisa melihat wajah tampan sang kekasih


"Selamat ulang tahun," ucap Ardi lalu tersenyum


Naya pun langsung menghamburkan tubuhnya dan memeluk tubuh seorang Ardiansyah Herlambang dengan sangat erat


"Kamu jahat!! Saya pikir kamu melupakan hari ini," ucap Naya sambil menangis


Ardi membalas pelukan Naya dengan erat dan mencium ujung kepala dengan lembut


"Bagaimana saya bisa melupakan hari penting untuk kamu? Sedangkan kamu adalah perempuan terpenting di dalam hidup saya," ucap Ardi dengan lembut


Naya pun mulai melepaskan pelukannya dan menatap Ardi dengan lekat


"Apa aku boleh memiliki kamu seutuhnya untuk terakhir kalinya? untuk sekali ini aku ingin bersikap egois dan hanya memikirkan diri aku sendiri," batin Naya


Entah mengapa saat itu Ardi menampilkan sebuah senyuman yang penuh arti karena melihat ekspresi Naya pada saat itu, sedangkan Naya tak mau pusing memikirkan tentang hal tersebut

__ADS_1


__ADS_2