
Nico yang sedang menikmati malam itu dengan di temani seorang gadis cantik merasa sedikit bingung setelah membaca pesan yang di kirimkan oleh Irvan
"Apa ada hal menarik di tempat parkir?" batin Nico
Nico yang merasa sedikit penasaran pun segera menuju ke ruang cctv, dia ingin memastikan sendiri apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar sana. Nico pun tersenyum penuh arti saat melihat semua rekaman cctv di tempat parkir
"Seumur hidup gw belum pernah melihat Ardi perduli dengan orang lain, ternyata seorang kijang baru yang berhasil melelehkan si gunung es. Gw harap perempuan itu bisa menghangatkan hati lu," batin Nico
Nico pun langsung memerintahkan orangnya untuk menghapus semua rekaman cctv yang berada di tempat parkir, dia juga tidak ingin sang sahabat akan terlibat masalah hanya karena hal sepele seperti itu
"Apa kita akan kembali ke kediaman tuan muda?" tanya Irvan
"Hem.."
Ardi pun menatap ke arah Naya dengan seksama
"Ini benar-benar aneh!! untuk pertama kalinya aku ga merasa jijik atau muak saat ada di dekat perempuan, bahkan aku tetap ga merasakan apapun saat tadi dia berhasil menyentuh tangan aku. Padahal perempuan yang terlihat seperti ini yang biasanya membuat aku menjadi muak, perempuan yang selalu mencari perhatian dan mencuri kesempatan." batin Ardi
Saat itu jauh di dalam lubuk hati Ardi dia pun merasa sedikit bingung karena dia benar-benar tidak merasakan apapun saat berada di dekat Naya, dia benar-benar berniat untuk memastikan sejauh apa dia bisa menyentuh tubuh Naya
Tetapi di sisi lain pengaruh obat di dalam tubuh Naya mulai menguasai dirinya, Naya pun mulai terlihat tidak bisa tenang dalam duduknya dan terlihat sangat gelisah
"Sebenarnya obat apa yang laki-laki bajing itu berikan kepada aku? kenapa tubuh aku jadi aneh seperti ini? aku benar-benar mulai ga bisa mengendalikan diri aku sendiri," batin Naya
Naya pun menggelengkan kepalanya dan mulai menepuk pipinya sendiri, hal tersebut berhasil membuat Ardi mulai memperhatikan dirinya
__ADS_1
"Ga Nay!! kamu ga boleh seperti ini!!" batin Naya
Naya pun teringat bahwa tadi dia berhasil mendapatkan sedikit kesadarannya saat dia menggigit tangannya sekuat tenaga, dia pun berniat untuk melakukan hal tersebut sekali lagi. Naya pun mulai menggigit tangannya di tempat yang sama dan Ardi langsung menghentikan tindakan Naya dengan menahan kedua tangannya
"Apa kamu sudah ga waras?" tanya Ardi dengan dingin
"Tapi rasanya tubuh saya kurang nyaman pak, sepertinya saya bisa jadi gila kalau terus seperti ini." jawab Naya dengan wajah yang sudah bersemu merah
"Sial!! apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Ardi
Tiba-tiba saja Naya menempelkan pipinya ke lengan Ardi dan menggesekkan pipinya di lengan laki-laki tersebut
"Ehm..."
Terdengar suara laknat terlepas dari bibirnya Naya pada saat itu, Ardi saat itu hanya bisa terdiam karena merasa sedikit bingung. Ardi sama sekali tidak merasa muak dengan semua yang Naya lakukan pada saat itu
"Apa saya boleh menyentuh anda pak? tubuh anda terasa dingin dan itu membuat saya merasa sedikit nyaman pak?" tanya Naya dengan suara yang berat
Ardi pun hanya terdiam dengan wajah dingin seperti biasanya
"Kalau anda tidak mengizinkan hal tersebut, apa saya boleh pindah duduk di depan pak? saya mau berada di dekat orang itu aja," ucap Naya sambil menunjuk ke arah Irvan
Ardi pun terdengar berdecak jengkel dan sudah pasti Irvan yang mendengar hal tersebut sudah merasa ketakutan setengah mati, tanpa banyak bicara Ardi langsung menarik tubuh Naya dan membuat Naya masuk ke dalam pelukannya
"Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, jadi sebaiknya kamu tutup mulut kamu untuk hal-hal yang tidak berguna." ucap Ardi dengan dingin
__ADS_1
Naya yang sudah kehilangan akal sehatnya menempelkan pipinya ke leher seorang Ardiansyah Herlambang, dia bahkan menggesek pipinya di leher laki-laki tersebut tanpa rasa malu sama sekali
"Tubuh anda memang membuat saya merasa lebih nyaman pak," ucap Naya lalu tersenyum
Sudah pasti Irvan dan sang supir yang berada di bangku depan hanya bisa saling pandang dalam diam, mereka tak habis pikir sang bos besar tetap diam saja dengan semua perbuatan Naya pada saat itu
"Apa besok kiamat akan datang? kenapa bisa ada perubahan sebesar ini dalam diri tuan muda?" batin Irvan
Naya benar-benar tidak bisa merasa puas dengan hal gila yang sedang dia lakukan pada saat itu, Naya pun mulai mencium leher seorang Ardiansyah Herlambang dengan dalam tanpa henti. Ardi pun menghembuskan nafasnya dengan kasar
"Kita ke hotel kita aja, jarak hotel kita lebih dekat dengan tempat ini." ucap Ardi dengan dingin
"Baik taun muda," jawab sang supir
Ardi pun langsung menatap ke arah Naya dengan tatapan mata yang penuh arti
"Saya masih berharap kamu akan segera tersadar sebelum kita melakukan sesuatu yang melebihi batas, karena sekarang saya sudah yakin tubuh saya benar-benar bisa menerima keberadaan kamu. Jangan harap kamu bisa lari dari saya saat kita benar-benar melakukan hal itu," batin Ardi
Naya pun mendongakkan kepalanya dan saat itu dia melihat bahwa Ardi sedang menatap ke arah dirinya, Naya pun tersenyum tipis lalu tak lama kemudian dia mencium bibir seorang Ardiansyah Herlambang
Saat itu Ardi memang hanya terdiam dan tak membalas ciuman dari Naya untuk melihat reaksi tubuhnya, saat Naya menghentikan ciumannya sang gunung es pun tersenyum tipis
"Sekarang saya sudah tidak akan perduli dengan apapun, bahkan jika ternyata saya tidak berhasil untuk melakukan hal itu sama kamu pun tidak akan jadi masalah. Yang pasti saya sudah memutuskan bahwa mulai detik ini kamu adalah perempuan saya," batin Ardi
Naya terus melakukan hal gila di sepanjang perjalanan tersebut tanpa memperdulikan apapun, sedangkan Ardi hanya bisa pasrah dengan semua yang Naya lakukan pada tubuhnya. Tapi Ardi menyadari bahwa hasratnya terpanggil dengan semua yang Naya lakukan pada saat itu
__ADS_1
Tak butuh waktu yang terlalu lama rombongan mobil mewah tersebut mulai memasuki area sebuah hotel ternama di kota tersebut, Irvan pun segera bergegas turun dari mobil bersama para pengawal pribadi yang lainnya untuk membuat steril area sekitar