Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Terus Menunggu


__ADS_3

Ardi di seberang sana pun langsung mengerutkan keningnya saat mendengar kata-kata terakhir yang dia ucapkan oleh Rendi


"Pelit?"


"Ya kamu bilang hadiah untuk saya, tapi kamu cantumkan di kontak kerja saya sebagai barang inventaris pula. Itu artinya barang itu bisa di ambil lagi suatu saat nanti, saat saya berhenti bekerja atau seandainya kamu mengakhiri hubungan kamu dengan kak Naya." jelas Rendi dengan nada sinis


Di seberang sana Ardi menarik ke atas salah satu bibirnya karena merasa Rendi adalah seseorang yang cukup menarik, bahkan Rendi tidak merasa takut dengan dirinya setelah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya


"Surat kepemilikannya sedang di urus atas nama kamu"


"Tunggu dulu!! jadi maksud kamu?!!" tanya Rendi dengan perasaan tak percaya


"Ya, apartemen dan mobil itu sudah secara sah menjadi milik kamu. Barang-barang itu akan tetap menjadi milik kamu apapun yang terjadi di kemudian hari," jelas Ardi


"Terima kasih kakak ipar!!" seru Rendi


Lagi-lagi Ardi di buat mengerutkan keningnya dengan perkataan dari Rendi


"Kakak ipar?"


"Apa salahnya kalau saya mulai belajar membiasakan diri memanggil kamu dengan sebutan kakak ipar, saat nanti kamu menikahi kak Naya secara otomatis kamu juga menjadi kakak ipar saya." jelas Rendi dengan bersemangat


Di seberang sana sang gunung es tersenyum tipis mendengar hal tersebut, ada sebuah perasaan yang menggelitik di dalam hati seorang Ardiansyah Herlambang saat mendengar kata-kata tersebut


"Tapi kata-kata yang kemarin saya ucapkan sama kamu tetap tidak ada yang berubah sama sekali, saya tidak akan mengizinkan kamu menyakiti hati kak Naya. Saya akan membawa kak Naya pergi jauh dari kamu, kalau kamu berani membuat kak Naya menangis." ucap Rendi dengan tegas


"Kamu tenang saja, kamu tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk melakukan hal itu"


Rendi pun membuang nafasnya dengan kasar


"Tolong jaga kak Naya dengan baik karena dia perempuan yang sangat baik," ucap Rendi dengan serius


"Saya janji sama kamu"


Hari pun terus berganti dengan hari yang lainnya, Ardi akan selalu menyempatkan diri untuk menemani Naya di setiap harinya. Lambat laun dinding pembatas yang berada di antara mereka berdua pun terasa semakin menipis dengan sendirinya, Ardi juga mulai merubah sikapnya sedikit demi sedikit


Hari itu Naya memutuskan untuk tidur sedikit lebih lama karena pada hari itu dia libur bekerja, tetapi rencana tidur Naya pun harus terganggu karena ponselnya terus saja berdering sedari tadi. Dengan mata yang masih tertutup rapat Naya pun menjawab panggilan telepon tersebut


"Orang yang anda hubungi sedang tidur, silahkan hubungi orang tersebut dua jam lagi. Terima kasih," ucap Naya

__ADS_1


"Jadi kamu meminta saya untuk menunggu kamu selama dua jam di depan rumah kamu?"


Naya pun membuka kedua bola matanya dan melihat ke arah jam yang terpasang di dinding, dia pun langsung memasang wajah malas


"Apa anda kekurangan pekerjaan?" tanya Naya


"Maksud kamu?"


"Untuk apa anda datang ke rumah saya sepagi ini? hari ini adalah hari libur saya dan saya berencana untuk tidur dengan puas," jawab Naya dengan sedikit sinis


"Apa kamu tidak jadi pindah hari ini?"


Naya pun langsung mendudukkan tubuhnya dengan sempurna dengan wajah yang terlihat sedikit panik


"Aish...!!" seru Naya


"Ada apa?"


"Belakangan ini pekerjaan saya di kantor sedang menumpuk, jadi saya belum sempat melakukan apapun untuk persiapan pindah"


"Sebaiknya sekarang kamu mulai bangun dan bersiap, saya akan mengantarkan kamu ke apartemen kamu. Sisanya akan di urus orang lain," jelas Ardi


"Hem...."


Ardi pun langsung memutuskan sambungan teleponnya dan menunggu Naya dengan setia, sedangkan Naya mengambil jurus kilat untuk menyelesaikan semua urusannya. Dengan cepat Naya langsung menghampiri mobil Ardi


Tok.. Tok.. Tok...


Ardi pun membuka pintu mobilnya dan Naya segera masuk ke dalam mobil tersebut, tapi saat itu Ardi langsung menatap ke arah Naya dengan seksama sambil mengerutkan keningnya


"Kenapa dia melihat aku dengan cara seperti itu? atau jangan-jangan dia marah karena aku terlalu lama mandinya? lagi pula kenapa aku bisa lupa kalau hari ini aku mau pindah? semalam aku masih memutuskan untuk lembur," batin Naya sambil menundukkan kepalanya


"Maaf kalau saya membuat anda menunggu terlalu lama," ucap Naya dengan hati-hati


"Lain kali keringkan rambut kamu dengan benar, jangan sampai kamu menjadi sakit karena hal itu." ucap Ardi


Ternyata yang membuat seorang Ardiansyah Herlambang seperti itu karena rambut Naya yang masih terlihat basah dan bukan karena membuat dia harus menunggu, Naya pun mulai berani menatap ke arah Ardi


"Tapi kalau saya mengeringkan rambut saya dulu, nanti anda akan semakin lama menunggu saya"

__ADS_1


"Saya akan tetap menunggu kamu selama apapun kalau kamu yang meminta saya untuk menunggu"


Naya hanya memasang wajah malas tanpa mengeluarkan suara apapun, entah mengapa Naya sekarang semakin berani untuk melakukan sesuatu di hadapan seorang Ardiansyah Herlambang. Walaupun sesekali perasaan takut masih menghampiri hatinya saat Ardi terlihat mulai menatap dia dengan seksama


"Jalan"


"Baik tuan muda"


Tiba-tiba saja Ardi menyodorkan sebuah kotak makanan yang berisi menu sarapan


"Untuk saya?"


Ardi hanya menjawab dengan sedikit anggukan kepalanya


"Wah!! kamu baik banget sih ganteng!!" ucap Naya tanpa sadar


Duar....


Wajah Naya pun menjadi merona karena merasa malu dengan kebodohan yang baru saja dia lakukan pada saat itu


"Itu.. Saya.. Itu.."


Ardi tetap setia dengan wajah datarnya


"Makan sarapan kamu, pasti saat ini kamu belum sarapan"


Naya hanya menganggukkan kepalanya lalu mulai membuka kotak makanan tersebut, dia tidak punya keberanian untuk menatap wajah Ardi lebih lama lagi. Sedangkan Ardi terus memperhatikan Naya seksama dan hanya bisa tersenyum di dalam hatinya


"Apa ini artinya semua yang telah saya lakukan sudah mulai membuahkan hasil? saya akan terus menunggu kamu sampai kamu benar-benar siap membuka hati kamu sekali lagi," batin Ardi


Mereka pun tiba di apartemen yang di maksud, saat mereka masuk ke dalam unit apartemen tersebut Naya pun langsung memperhatikan keadaan sekeliling


"Apa masih ada yang kurang? kamu bisa bilang ke saya kalau menurut kamu masih ada yang kurang, saya akan langsung memerintahkan orang yang saya untuk menyiapkannya"


Naya pun membuang nafasnya dengan kasar dan mulai menatap ke arah Ardi dengan lekat


"Tolong jangan tambah barang apapun di tempat ini, bahkan bagi saya ini semua sudah sedikit berlebihan." ucap Naya dengan nada sedikit sinis


Apartemen tersebut memang hanya memiliki satu buah kamar, tapi semua barang yang berada di tempat itu benar-benar terlihat barang-barang mahal

__ADS_1


__ADS_2