
Farhan pun mencoba untuk melangkahkan kakinya maju ke depan tapi dengan cepat Rendi langsung menahan dada Farhan dengan kedua tangannya
"Tolong kasih aku sedikit waktu untuk menjelaskan semuanya sama kamu Nay," ucap Farhan dengan lirih
Naya merasa enggan untuk lebih lama berhadapan dengan Farhan, dia mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah dan Farhan terlihat ingin mengikuti Naya. Dengan cepat Rendi langsung memegang salah satu tangan Farhan
"Aku harap kak Farhan menghargai keinginan kak Naya," ucap Rendi dengan tegas
Farhan yang sudah hampir gila karena memikirkan Naya pun menarik paksa tangannya, dia mulai melangkahkan kakinya dengan sedikit cepat ke arah Naya
"Aku mohon kasih aku kesempatan kedua nay, aku janji aku ga akan pernah mengulangi kesalahan yang sama Nay. Aku janji seumur hidup aku cuma akan mencintai kamu!!" ucap Farhan sedikit berteriak
Para pengawal yang di kirimkan oleh Ardi pun sudah mulai mendekat ke arah mereka dan tiba-tiba saja
Bug....
Sebuah bogem mentah mendarat mulus di wajah Farhan hingga membuat dia tersungkur
"Kak Naya sudah minta kamu untuk pergi dari sini!! aku ga akan izinkan kamu untuk mendekati kak Naya lagi!!" teriak Rendi dengan wajah penuh amarah
Rendi seperti belum puas untuk meluapkan amarahnya terhadap Farhan, dengan langkah kaki yang pasti dia mulai menghampiri Farhan yang masih tergeletak. Dengan cepat Naya langsung memegang tangan Rendi dengan erat
"Kamu apa-apaan sih Ren!!" ucap Naya penuh penekanan
"Lepasin tangan aku kak," ucap Rendi dengan tegas
"Ga, kak Naya ga akan melepaskan tangan kamu." ucap Naya dengan tegas
"Lepasin tangan aku kak, biar aku yang membalas rasa sakit hati kak Naya terhadap bajingan ini kak. Nyali dia terlalu besar sampai dia berani mempermainkan kak Naya," ucap Rendi penuh penekanan
__ADS_1
Naya pun tersenyum dengan hangat dan meletakkan tangannya di ujung kepala Rendi dengan lembut
"Terima kasih karena sudah membela kak Naya, tapi bukannya kamu sudah janji sama kak Naya kalau kamu ga bersikap sembrono lagi." ucap Naya dengan lembut
Rendi pun menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk mengurangi amarah yang sedang menguasai hatinya pada saat itu, sedangkan Naya langsung menatap ke arah Farhan
"Aku minta maaf sama kamu Nay," ucap Farhan dengan lirih
"Aku sudah memaafkan semua kesalahan kamu, aku juga sudah memutuskan untuk melupakan kejadian itu"
Farhan pun langsung bangkit sambil tersenyum bahagia, sedangkan Rendi langsung menatap Naya dengan tajam
"Apa kamu mau memberikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahan aku Nay?"
Naya pun menganggukkan kepalanya
"Aku akan memaafkan kamu sepenuh hati kalau kamu bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam kandungan Laura," jawab Naya dengan serius
"Aku minta kamu untuk pergi dari sini sekarang juga, jangan paksa aku untuk memukul kamu sekali lagi. Karena mungkin suatu saat nanti aku harus memanggil kamu dengan sebutan kakak ipar," ucap Rendi dengan sinis
Naya pun segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan sudah pasti Rendi mengikuti langkah kaki Naya, sedangkan Farhan hanya bisa terduduk lemas menyesali segala perbuatannya selama ini. Di tempat yang jauh di sana Ardi sedang memperhatikan rekaman tentang kejadian tersebut
"Jadi dia adiknya?"
"Benar tuan muda, laki-laki itu adik kandung dari Laura dan baru saja kembali dari luar negeri." jelas Irvan
Senyuman tipis pun langsung menghias bibir Ardi
"Ini baru wanita aku, sepertinya aku juga harus menyiapkan hadiah untuk anak laki-laki itu. Aku bisa melihat kalau dia melindungi wanita aku dengan tulus," batin Ardi
__ADS_1
Malam itu di sebuah rumah yang sangat mewah sedang di penuhi oleh para undangan yang hadir, hari itu mereka akan merayakan hari ulang tahun nenek dari seorang Ardiansyah Herlambang. Orang-orang yang hadir di tempat itu adalah orang-orang yang cukup berpengaruh dan memiliki nama besar di dalam bidangnya
Di setiap tahunnya Ardi akan selalu menginjakkan kakinya di rumah mewah tersebut untuk menghadiri ulang tahun sang nenek, tapi dia akan selalu melakukan hal yang sama setiap dia berada di tempat itu yaitu menyendiri di balkon rumah tersebut. Tak pernah sekalipun Ardi terlihat membaur dengan para undangan yang hadir di tempat itu, hanya ada seorang Irvan yang selalu setia menemani Ardi di tempat itu
Wajah tampan dan juga nama besar seorang Ardiansyah Herlambang selalu membuat dia menjadi sorotan di manapun dia berada, tak sedikit para gadis yang menjadikan acara tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk mencuri perhatian Ardi. Dan malam itu Ardi pun semakin menyadari sesuatu
"Apa kamu tau alasan saya tadi sempat membaur di antara para undangan Van?"
"Saya rasa anda ingin menguji diri anda sendiri tuan muda"
Ardi pun tersenyum puas mendengar jawaban dari Irvan
"Aku pikir keadaan aku sudah membaik karena aku sudah berhasil berhubungan dengan perempuan itu, tapi nyatanya aku tetap merasa muak saat melihat para gadis yang hadir di tempat ini. Rasanya aku ingin melarikan diri dari tempat ini dan menemui perempuan itu," batin Ardi
Tak lama kemudian ada seorang wanita yang sudah cukup dewasa yang sangat cantik dan terlihat elegan hadir di antara mereka
"Nenek mencari kamu, sebentar lagi acara pemotongan kue akan segera di mulai." ucap wanita tersebut
Ardi hanya memasang wajah dingin seperti biasanya dan mulai melangkahkan kakinya untuk menghampiri sang nenek
"Mau sampai kapan kamu bersikap dingin seperti ini terhadap mama? apa kamu ga bisa bersikap lebih ramah terhadap orang yang telah melahirkan kamu ke dunia ini?"
Wanita tersebut bernama Renata atau lebih tepatnya adalah mama dari seorang Ardiansyah Herlambang, entah mengapa Ardi selalu menunjukkan sikap yang dingin terhadap sang mama setelah kepergian sang papa untuk selamanya. Ardi pun mulai menatap ke arah mama Renata dengan senyuman dingin yang khas dengan dirinya
"Karena inilah aku apa adanya, kalau mama merasa kurang nyaman dengan sikap aku mama bisa mengabaikan aku atau menganggap aku ga ada"
Ardi pun terlihat mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat tersebut dan dengan cepat mama Renata langsung memegang salah satu tangan Ardi
"Mama belum selesai bicara sama kamu Ardiansyah Herlambang," ucap mama Renata penuh penekanan
__ADS_1
Ardi pun langsung menarik tangannya secara paksa dan mengelap bagian tangannya yang tersentuh oleh mama Renata, mama Renata pun langsung memasang wajah tidak suka melihat hal tersebut