Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Meminta Naya Untuk Pulang


__ADS_3

Selesai menyantap makanan mereka tante Airin mulai menatap ke arah Naya dengan lekat


"Sebenarnya tante menemui kamu karena tante ingin melihat keadaan kamu secara langsung sayang," ucap tante Airin


Naya hanya membalas dengan senyuman tipis di bibirnya


"Tapi selain itu tante juga di minta sama om kamu untuk menyampaikan sesuatu sama kamu," lanjut tante Airin lirih


"Ada apa ya tante?" tanya Naya dengan wajah serius


"Sebenarnya om kamu meminta kamu untuk pulang ke rumah malam ini Nay"


"Om Tomi minta aku untuk pulang?"


Tante Airin menganggukkan sedikit kepalanya dengan wajah yang terlihat tak enak hati


"Apa ada masalah yang serius di rumah tante?"


"Sebenarnya malam ini keluarga Farhan akan datang untuk melamar Laura, rencananya kami juga akan langsung menentukan tanggal pernikahan untuk mereka." jelas tante Airin


Naya hanya terdiam dan menganggukkan sedikit kepalanya tanda bahwa dia telah mengerti keadaan yang sedang terjadi


"Kamu jangan salah sangka ya sayang, tujuan om minta kamu untuk hadir agar keluarga Farhan bisa merasa tenang." jelas tante Airin


"Aku paham kok tante"


"Tapi kalau kamu memang merasa keberatan ga masalah kok sayang, nanti biar tante yang kasih penjelasan ke om kamu." ucap tante Airin lirih


Naya pun melepaskan senyuman terbaik yang dia miliki


"Ga masalah kok tante, nanti pulang kerja aku langsung datang ke rumah tante." ucap Naya dengan yakin


"Apa kamu yakin sayang? apa kamu akan baik-baik saja dengan keadaan yang seperti itu?"


Naya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis, saat mereka akan berpisah tante Airin langsung memeluk tubuh Naya dengan erat


"Sekali lagi tante minta maaf atas kesalahan Laura terhadap kamu ya sayang," ucap tante Airin lirih


Naya hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, tante Airin pun mulai melepaskan pelukannya dan menatap Naya dengan lekat

__ADS_1


"Kalau kamu menemui masalah apapun, jangan ragu untuk menghubungi tante ya sayang. Sampai kapanpun tante akan selalu menganggap kamu sebagai anak pertama tante," ucap tante Airin dengan tulus


"Terima kasih ya tante"


Mereka pun mulai berpisah dan sudah pasti Naya harus kembali ke kantor tempat dia bekerja, entah mengapa ada kata-kata Tante Airin membuat Naya menjadi sedikit kepikiran


"Apa benar selama ini aku cuma menjadikan Ardi sebagai pelarian semata? tapi kenapa aku bisa senyaman ini berada di dekat dia? aku bahkan benar-benar sudah melupakan semua kesedihan hati aku," batin Naya


Tiba-tiba suara notifikasi ponsel Naya pun berbunyi dan saat itu ada sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Naya, pesan singkat tersebut di kirimkan oleh Ardi


"Apa malam ini kamu ada waktu? saya mau mengajak kamu untuk datang ke sebuah tempat"


Bibir Naya langsung tersenyum tipis membaca pesan singkat tersebut


"Bagaimana pun juga selama ini dia sudah baik sama aku, aku rasa malam ini adalah waktu yang tepat untuk membuktikan semuanya. Aku ga boleh bersikap egois dan menggantung hati seseorang cuma untuk melupakan semua kesedihan aku," batin Naya


"Maaf ya, tapi malam ini aku ga bisa temani kamu. Malam ini ada acara keluarga di rumah tante aku dan aku harus berada di sana," balas Naya


Naya pun mengirimkan pesan singkat kepada Rendi, Naya meminta Rendi menjemput dirinya saat pulang kerja nanti. Setelah jam pulang kerja tiba Rendi pun langsung menjemput Naya dan menuju ke kediaman orang tua Rendi


"Kamu yakin mau hadir di sana kak?" tanya Rendi sambil melirik sekilas ke arah Naya


"Menurut aku sih, kamu ga perlu terlalu memaksakan diri kamu untuk hadir di sana kak. Aku cuma takut hati kamu belum siap dan nantinya kamu merasa kurang nyaman saat acara berlangsung," lanjut Rendi


"Ternyata kamu memang sudah dewasa ya Ren," ucap Naya


"Keadaan seperti ini kok kamu masih bisa bercanda sih kak?"


Naya pun tertawa kecil


"Habis kamu terlalu di bawa serius Ren"


"Kak.."


"Ya maaf, tapi kak Naya memang harus hadir di sana Ren. Malam ini kak Naya harus memastikan hati kak Naya," ucap Naya dengan serius


"Maksud kak Naya?" tanya Rendi dengan serius


"Kak Naya mau memastikan peran Ardi di dalam hati kak Naya, sebenarnya hati kak Naya benar-benar sudah menerima keberadaan dia atau cuma menjadikan dia sebagai tempat pelarian." jawab Naya dengan serius

__ADS_1


"Apa kak Naya yakin kalau kakak cuma mau memastikan hati kak Naya untuk Ardi?" tanya Rendi dengan serius


Naya pun tertawa kecil dan membuat Rendi melirik sekilas ke arah Naya


"Semuanya saling bersangkutan Ren, kita bisa menemukan jawaban nanti di tempat itu." jawab Naya


Mendengar hal tersebut membuat Rendi langsung menginjak pedal rem dan menatap ke arah Naya dengan lekat


"Maksud kamu apa sih kak?"


"Kalau hati aku masih sakit melihat Farhan memakaikan cincin di tangan Laura berarti aku cuma menjadikan Ardi tempat pelarian semata, tapi kalau hati aku ga merasakan apapun berarti hati aku benar-benar sudah menerima keberadaan Ardi." jelas Naya


"Sebaiknya kamu pulang aja ya kak, aku ga mau bertaruh dalam hal ini. Tapi yang pasti aku ga mau melihat kamu menjatuhkan air mata kamu di hadapan mereka," ucap Rendi dengan tegas


Naya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum hangat


"Berarti kak Naya harus memberikan kamu satu tugas penting pada malam ini Ren," ucap Naya


Rendi hanya terdiam dan menatap ke arah Naya dengan lekat


"Kamu harus selalu memperhatikan kak Naya selama kita ada di sana, kamu harus segera membawa kak Naya kabur dari sana kalau kamu melihat kak Naya akan menangis." lanjut Naya lalu tersenyum tipis


Rendi pun menghembuskan nafasnya dengan kasar


"Aku tanya sama kamu sekali lagi kak, apa kamu yakin mau hadir di tempat itu kak?" tanya Rendi dengan wajah serius


Naya menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali, Rendi pun terpaksa mengikuti keinginan Naya saat itu dan mulai melajukan kembali mobilnya


"Seandainya kamu cuma menjadikan laki-laki itu sebagai pelarian, apa yang akan kamu lakukan kak?"


"Aku harus bilang tentang hal itu dengan jujur sama dia Ren, kak Naya ga mau memainkan perasaan orang lain. Karena kak Naya pernah merasakan hal itu dan rasanya benar-benar menyakitkan Ren," ucap Naya lirih


Tiba-tiba saja Rendi menepuk jidatnya sendiri dengan wajah yang terlihat sedikit cemas


"Ada apa Ren?"


"Ga ada apa-apa kok kak, aku cuma lupa akan sesuatu." jawab Rendi dengan senyuman canggung


Saat itu Naya tidak ingin memaksa Rendi untuk bercerita apa yang sedang dia pikirkan pada saat itu, karena Naya memilih untuk menghargai privasi Rendi. Tapi ekspresi wajah Rendi menunjukkan dengan jelas bahwa dia sedang melakukan sebuah kesalahan

__ADS_1


__ADS_2