
Naya pun menyadari bahwa mereka sudah berada cukup lama di tempat itu setelah dia melihat jam tangan yang dia gunakan pada saat itu
"Astaga!! maaf ya aku jadi menunda waktu pulang kerja kamu Mila," ucap Naya
"Kamu ngomong apa sih Nay? kita kan teman, yang namanya teman itu harus ada di samping temannya saat teman kita sedang bersedih." ucap Mila dengan serius
"Ini benar-benar lucu!! selama ini hidup aku cuma aku jalani bersama Farhan dan Laura, aku belum pernah mempunyai teman dekat sama sekali. Tapi saat aku kehilangan mereka berdua, hadir seseorang yang mengaku sebagai teman aku dan menemani aku menangis." batin Naya sambil tersenyum tipis
"Kita pulang yuk"
"Biar aku yang antar kamu pulang ya Nay," ucap Mila dengan cepat
Naya pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, ekspresi wajah Mila saat itu menunjukkan dengan jelas apa yang sedang di rasakan oleh gadis tersebut
"Tapi aku masih khawatir dengan keadaan kamu Nay"
"Terima kasih ya, tapi aku sudah merasa lebih baik kok. Lagi pula ada yang mau jemput aku," ucap Naya
Saat itu Naya memilih untuk berbohong karena saat itu dia benar-benar membutuhkan waktu untuk sendiri dan menenangkan hatinya
"Ya sudah kalau begitu, kita pulang yuk"
Mereka pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu dan saat akan berpisah Mila menggenggam tangan Naya dengan erat
"Kalau kamu butuh teman curhat atau kamu membutuhkan bantuan apapun, kamu jangan ragu untuk menghubungi aku ya Nay." ucap Mila bersungguh-sungguh
"Terima kasih ya," ucap Naya dengan tulus
"Apa orang yang mau menjemput kamu belum datang Nay?"
__ADS_1
"Sebentar lagi dia sampai kok, kamu duluan aja"
"Ya sudah kalau begitu aku duluan ya"
Mereka pun mulai berpisah karena Mila harus menuju ke arah mobilnya, sedangkan Naya tetap berdiri di tempat yang sama karena dia sudah melihat sang supir yang di kirim oleh Adit berada di kejauhan. Mila sengaja membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya kepada Naya
"Aku duluan ya Nay"
Naya pun tersenyum tipis sambil melambaikan tangannya, setelah mobil Mila mulai menghilang Naya pun mulai melangkahkan kakinya ke arah sang supir yang di kirimkan oleh Adit. Sang supir pun menundukkan sedikit kepalanya tanda penghormatan untuk Naya, Naya mulai mengehentikan langkah kakinya saat berada tepat di depan sang supir
"Maafkan saya karena hari ini saya sedang tidak ingin memikirkan keadaan orang lain," ucap Naya dengan tegas
"Maaf, saya tidak mengerti maksud anda nona Naya." jawab sang supir dengan sopan
"Hari ini saya tidak ingin masuk ke dalam mobil itu dan di antar oleh kamu, saat ini saya sedang butuh waktu untuk sendiri." jelas Naya
Naya membungkuk sedikit tubuhnya
"Sampaikan saja kata-kata saya kepada tuan muda kamu dan saya sendiri yang akan menanggung resikonya, terima kasih." ucap Naya
Naya pun mulai melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan wajah sang supir yang terlihat panik dengan keadaan yang sedang terjadi, sudah pasti sang supir pun langsung menyampaikan hal tersebut kepada Irvan dan tersampaikan dengan baik ke telinga seorang Ardiansyah Herlambang
"Terus ikuti dia dari jauh dan pastikan keselamatannya"
"Baik tuan muda"
Hati dan pikiran Naya saat itu tidak bisa dia gunakan dengan baik, dia hanya terus melangkah mengikuti langkah kakinya yang membawa dia entah kemana. Naya pun tiba di sebuah taman pinggiran kota dan mendudukkan tubuhnya di sana karena merasa sedikit lelah setelah berjalan cukup jauh
Keheningan yang ada di tempat itu membuat hati Naya terasa sangat hampa dan semua kenangan manis yang dia miliki bersama Farhan pun melintas dengan jelas di dalam benaknya
__ADS_1
Naya mengingat saat pertama kalinya dia dan Farhan berciuman, hal tersebut mereka lakukan di hari ulang tahun Naya. Naya pun tersenyum getir saat mengingat tangan Farhan yang bergetar hebat saat mereka melakukan hal tersebut
Naya juga mengingat saat Farhan melamar dirinya dan kejadian tersebut pun terjadi di hari ulang tahun Naya
"Apa kamu bersedia menjadi istri aku? aku berjanji akan mencintai kamu di sepanjang hidup aku Nay," ucap Farhan lalu tersenyum hangat dalam keadaan berlutut
"Bohong!! kamu adalah pembohong yang handal Farhan!! kamu berhasil membuat aku menjadi perempuan bodoh selama ini," gumam Naya lirih
Air mata yang sedari tadi Naya tahan pun akhirnya meluncur dengan sendirinya, Naya menyadari bahwa saat itu sudah tidak ada lagi kata cinta di dalam hatinya untuk laki-laki yang bernama Farhan. Tapi rasa sakit di dalam hatinya pun tetap tidak bisa dia kendalikan dengan mudah
Air mata Naya pun mengalir semakin bebas, Naya menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai menangis dengan hebat. Naya tak sanggup lagi untuk bersikap tegar sedangkan semua kenangan yang ada terlalu manis untuk di lupakan
Tiba-tiba saja sebuah tangan yang kekar menarik salah satu tangan Naya, Naya yang saat itu dalam posisi duduk pun sampai terbangun dari duduknya karena tarikan tangan tersebut. Tanpa bisa memberikan perlawanan apapun tiba-tiba saja tangan kekar tersebut membuat tubuh Naya masuk ke dalam pelukan hangatnya
"Ini terakhir kalinya saya mengizinkan kamu menangis untuk laki-laki lain, setelah ini saya tidak akan pernah lagi memberikan kamu kesempatan untuk melakukan hal bodoh seperti ini." bisik orang tersebut
Tanpa harus melihat wajah orang tersebut, Naya bisa mengetahui bahwa orang sedang memeluk tubuhnya dengan erat saat itu adalah seorang Ardiansyah Herlambang. Naya pun menangis semakin hebat di dalam pelukan hangat seorang Ardiansyah Herlambang, sedangkan Ardi semakin mengeratkan pelukannya dan mencium ujung kepala Naya dengan lembut
Ternyata Ardi langsung meninggalkan ruang kerjanya saat mendengar kabar tentang Naya, dia juga langsung mendatangi tempat Naya berada saat itu. Bukan hal yang sulit bagi seorang Ardiansyah Herlambang untuk mencari tau apa yang ingin dia ketahui, dia tau dengan pasti saat itu Naya sedang menangis untuk laki-laki lain
Awalnya Ardi terbakar api amarah saat melihat rekaman cctv di kantor Naya, tapi seluruh amarah yang dia rasakan langsung menghilang saat melihat keadaan Naya yang sudah seperti itu. Bahkan hati Ardi terasa sakit saat melihat Naya yang sedang duduk seorang diri dan menangis dengan hebat
Cukup lama juga Ardi dengan setia memeluk tubuh Naya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya, Ardi pun mulai melepaskan pelukannya setelah Naya mulai terlihat tenang. Mereka pun duduk di bangku yang berada di tempat itu dan Ardi memberikan sebotol air mineral kepada Naya
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Naya dengan suara yang terputus-putus tertahan oleh sisa tangisannya
"Karena kamu adalah wanita saya, jadi saya tidak mungkin membiarkan kamu menangis seorang diri di tempat seperti ini." jawab Ardi dengan wajah datarnya
"Aku ga tau harus bersikap seperti apa dengan laki-laki ini? dia bahkan bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu tanpa ekspresi apapun, tapi yang pasti aku harus berterima kasih sama kamu karena kamu selalu hadir di saat aku membutuhkan seseorang." batin Naya
__ADS_1