Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Hal Terpenting


__ADS_3

Saat itu Ardi tak ingin bertanya lebih jauh karena merasa tak tega dengan ekspresi yang Naya tunjukkan pada saat itu, Ardi juga memerintahkan agar sang supir untuk melajukan mobil mereka secepat mungkin


Sesampainya di rumah sakit Naya langsung mendapatkan pertolongan untuk keadaan yang sedang dia alami pada saat itu, sedangkan Ardi menunggu di luar penanganan dengan perasaan yang sudah tak menentu


"Dia tadi sempat bilang tentang anak? Apa saat ini dia sedang mengandung darah daging aku? Astaga!! Apa yang tadi sudah saya lakukan sama dia?!! Saat ini saya merasa seperti manusia sampah!!" batin Ardi penuh penyesalan


Ardi pun langsung menghampiri sang dokter begitu sang dokter keluar dari ruangan tersebut


"Bagaimana keadaan Naya dok?" tanya Ardi dengan wajah tegang


"Anda memiliki hubungan apa dengan pasien?" tanya sang dokter


"Saya suaminya," jawab Ardi


"Walaupun masih calon," batin Ardi


"Sebaiknya anda ikut ke ruangan saya karena ada beberapa hal yang harus saya jelaskan kepada anda"


"Apa Naya benar-benar sedang hamil dok?" tanya Ardi


Sang dokter menatap Ardi dengan tatapan yang penuh arti


"Apa istri anda menyembunyikan hal tersebut dari anda?"


Seorang Ardiansyah Herlambang tidak bisa menutupi perasaan yang sedang dia rasakan pada saat itu


"Jadi dia benar-benar sedang mengandung dan itu pasti anak aku, astaga!! Apa yang harus aku lakukan saat ini? Dia pasti kecewa sama aku," batin Ardi


"Anda tidak perlu khawatir karena keadaan ibu dan sang bayi saat ini baik-baik saja," jelas sang dokter


"Tapi Naya bilang kalau perut dia terasa sakit dok"


"Kram perut biasa terjadi terhadap seorang ibu hamil setelah melakukan hubungan suami istri, tapi saran dari saya sebaiknya anda sedikit berhati-hati dan memperhatikan beberapa hal saat melakukan hal tersebut." jelas sang dokter


Ardi hanya bisa terdiam sambil menganggukkan sedikit kepalanya


"Saya akan membuatkan resep vitamin untuk pasien"

__ADS_1


"Terima kasih dok"


Sang dokter terlihat menuliskan sesuatu di sebuah kertas dan menyodorkan kertas tersebut kepada Ardi


"Tolong hindari keadaan yang bisa membuat sang ibu menjadi stres karena hal tersebut tidak baik untuk kehamilan, banyak kasus kelahiran prematur yang di sebabkan oleh hal tersebut"


Ardi mendengarkan semua penjelasan sang dokter dengan seksama


"Anda tidak perlu terlalu khawatir dan pasien bisa langsung pulang"


"Terima kasih dok"


Ardi pun keluar dari ruangan tersebut setelah merasa cukup mendapatkan penjelasan dari sang dokter, saat Ardi keluar dari ruangan tersebut dia hampir saja terjatuh duduk karena merasa seluruh kekuatan yang dia miliki saat itu menghilang begitu saja. Dengan sigap Irvan langsung menangkap tubuh Ardi dan membantu laki-laki tersebut untuk berdiri dengan benar


"Anda baik-baik saja tuan muda?"


"Saya harus bagaimana Van?" tanya Ardi terdengar sedikit lirih


"Maksud anda tuan muda?"


"Saat ini Naya sedang mengandung anak saya tapi saya baru saja melakukan sesuatu yang buruk sama dia Van, bagaimana kalau dia menjadikan itu sebagai alasan untuk berpisah dari saya Van?"


"Bukankah dengan adanya hal tersebut nona Naya semakin tidak mungkin untuk meninggalkan anda tuan muda," jelas Irvan


"Tapi saya baru saja melakukan kesalahan sama dia Van"


"Saya rasa anda cukup meminta maaf dengan tulus dan menunjukkan kepada nona Naya tentang perasaan anda yang sebenarnya tuan muda, saya yakin nona Naya juga memiliki perasaan yang sama terhadap anda"


Ardi pun membuang nafasnya dengan kasar dan coba mengumpulkan keberaniannya di dalam hatinya, dengan hati yang tak menentu Ardi pun mulai melangkahkan kakinya menuju ke tempat Naya berada


Entah dari mana datangnya keberanian Naya saat itu, tapi yang pasti dia langsung melepaskan tatapan membunuhnya setelah melihat kehadiran Ardi di tempat itu


"Semoga aku bisa menyelesaikan semua permasalahan ini dengan baik," batin Ardi


Ardi melepaskan senyuman tipis yang terlihat sedikit canggung dan mendekat ke arah Naya


"Dokter bilang kamu bisa langsung pulang"

__ADS_1


Naya terlihat berusaha untuk bangkit dari tempat tidur pemeriksaan, Ardi pun berusaha untuk membantu Naya tetapi Naya langsung menepis tangan Ardi


"Jangan sentuh saya!!" ucap Naya penuh penekanan


"Sebaiknya kamu jangan marah-marah, pesan dokter ibu yang sebaiknya menghindari keadaan stress karena itu tidak baik untuk kandungannya." jelas Ardi


Ardi tidak sadar kalau saat itu dia sedang menyiramkan bensin ke dalam kobaran api, Naya pun langsung mendudukkan tubuhnya dan melepaskan tatapan membunuhnya


"Kamu pikir siapa yang membuat keadaan saya menjadi seperti ini?" tanya Naya dengan nada sinis


"Saya minta maaf ya, seharusnya dalam keadaan apapun saya tidak boleh bersikap seperti itu sama kamu." ucap Ardi dengan lembut


Naya berdecak jengkel dan mulai menurunkan kakinya, saat Naya mulai melangkahkan kakinya tanpa sadar Ardi berusaha untuk memapah tubuh Naya


"Saya sudah bilang jangan sentuh saya!!" teriak Naya


Seketika itu juga seorang Ardiansyah Herlambang langsung membeku, seolah seluruh keberanian yang Ardi miliki selama ini tidak bisa dia rasakan sama sekali


"Saya cuma mau membantu kamu," jelas Ardi lirih


"Saya bisa sendiri, saya harap kamu menjaga jarak dari saya karena saya merasa marah saat melihat kamu di dekat saya." ucap Naya dengan tegas


Ardi pun terpaksa mengikuti langkah kaki Naya dari belakang dan saat itu Irvan tertawa puas di dalam hatinya melihat ekspresi wajah Ardi, saat itu ekspresi wajah Ardi bagaikan seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan amukan dari orang tuanya


Ulah Naya tak berhenti sampai di situ karena saat itu dia benar-benar merasa jengkel terhadap sang kekasih, saat akan naik ke dalam mobil tiba-tiba saja Naya langsung mendudukkan tubuhnya tepat di samping sang supir. Baik Ardi maupun Irvan sama-sama terkejut melihat hal tersebut


"Kenapa kamu duduk di situ?" tanya Ardi


Naya langsung menatap ke arah Ardi dengan tatapan mata yang tajam


"Kamu kan sudah tau kalau saat ini saya sedang mengandung, saya tidak mau duduk di belakang karena rasanya kurang nyaman"


Ardi pun mulai melangkahkan kakinya memutar mobil tersebut dan membuka pintu di sebelah sang supir


"Biar saya yang membawa mobilnya," ucap Ardi


Sudah pasti sang supir langsung turun dari mobil tersebut dan Ardi pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut, Naya pun hanya bisa pasrah karena tidak tau lagi harus memberikan alasan apa lagi pada saat itu. Sedangkan Ardi menatap ke arah Naya dengan senyuman yang terlihat hangat

__ADS_1


"Saya tau kamu sedang marah sama saya, tapi saya tidak ingin kamu dan anak kita berada di samping laki-laki lain. Karena kalian berdua adalah hal terpenting di dalam hidup saya," ucap Ardi dengan lembut


Naya yang masih merasa jengkel langsung membuang pandangan matanya ke arah yang berlawanan


__ADS_2