Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Memastikan Terlebih Dahulu


__ADS_3

Ardi mulai menjatuhkan tubuhnya yang lemas setelah mencapai pelepasannya, dia pun langsung menarik tubuh Naya masuk ke dalam pelukannya dan menghadiahkan sebuah ciuman di ujung kepala Naya dengan lembut


"Kamu baik-baik saja?" tanya Ardi dengan nafas yang masih sedikit memburu


Naya membenamkan wajahnya di dada bidang laki-laki tampan tersebut lalu menganggukkan kepalanya


"Terima kasih karena kamu sudah memberikan kado terindah di dalam hidup saya," batin Naya


Ardi terus memeluk tubuh mungil Naya hingga Naya mulai terlelap ke alam mimpi, setelah merasa yakin bahwa Naya sudah benar-benar terlelap Ardi pun mulai meraih ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat yang berisikan sebuah perintah kepada Irvan


FLASH BACK


Seorang Ardiansyah Herlambang di buat menjadi tak bisa tenang sama sekali setelah mendapatkan laporan bahwa mama Renata datang ke kota itu dan menemui Naya, hatinya benar-benar berharap Naya mau berkata jujur tentang permasalahan yang sedang dia hadapi dengan sang mama. Ardi juga memerintahkan orang-orangnya untuk menjaga Naya lebih ketat dari biasanya


Di tengah kegelisahan yang sedang Ardi rasakan pada saat itu tiba-tiba saja ponselnya berdering, orang yang menghubungi Ardi saat itu adalah Nico. Saat itu Nico hendak meminta bantuan dari Ardi untuk acara menonton bioskop antara dirinya dan Mila


"Ya sudah kalau begitu, makasih ya." ucap Nico di seberang sana


"Tunggu," jawab Ardi dengan cepat


"Apa lagi?"


"Gw butuh pendapat lu," jawab Ardi


"Tentang apa?"


"Menurut lu apa yang di lakukan mama gw kalau tiba-tiba aja dia datang menemui Naya?"


Untuk sesaat Nico hanya terdiam di seberang sana


"Kenapa lu cuma diam?" tanya Ardi dengan dingin


Terdengar Nico menghembuskan nafasnya dengan kasar di seberang sana


"Kalau memang mama lu datang menemui perempuan itu, cuma ada dua pilihan yang mungkin aja terjadi." ucap Nico dengan serius


"Menurut lu apa?"


"Pilihan yang pertama mama lu akan minta perempuan itu untuk menjadi pendamping hidup lu, karena gimana juga saat ini umur kita sudah terbilang cukup dewasa untuk membina rumah tangga." jawab Nico

__ADS_1


Ardi pun terdiam


"Aku rasa mama ga mungkin melakukan hal itu, kalau mama mau melakukan hal itu. Kenapa mama harus menemui Naya secara diam-diam?" batin Ardi


"Kalau pilihan yang kedua?" tanya Ardi dengan serius


"Pilihan yang kedua adalah mama lu meminta perempuan itu untuk meninggalkan lu, dan gw rasa lu pasti tau alasannya." jawab Nico


"Hem.."


"Untuk sebagian orang sebuah status sosial adalah sesuatu yang penting, jadi ga semua orang bisa menerima orang lain yang memiliki status sosial yang berbeda jauh." lanjut Nico dengan serius


Ardi pun langsung mengeraskan rahangnya


"Ga mungkin pilihan yang pertama, apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran mama? Kenapa mama bertidak sampai sejauh itu?" batin Ardi


"Apa lu sudah tau jawabannya?" tanya Nico


"Hem..."


"Boleh gw tau apa yang sekarang mau lu lakukan?"


"Begitu urusan gw di tempat ini selesai, gw akan langsung menemui mama gw dan meminta penjelasan sama dia." jawab Ardi dengan dingin


"Sebagai teman, apa gw boleh kasih lu sedikit saran?" tanya Nico


"Apa?"


"Saran dari gw sih sebaiknya lu memastikan terlebih dahulu perasaan perempuan itu sama lu, sebelum lu mengibarkan bendera perang sama orang tua kandung lu sendiri." ucap Nico dengan serius


FLASH OFF


Ardi pun membuat keputusan untuk mengikuti saran dari Nico, secara kebetulan pekerjaan Ardi dapat terselesaikan di malam hari ulang tahun Naya. Ardi pun memutuskan untuk menemui Naya sebelum berhadapan dengan sang mama


Secara kebetulan lagi pada malam itu Naya meminta hal tersebut, Ardi pun menjadikan hal tersebut sebagai sebuah kesempatan yang hadir kepada dirinya. Di sepanjang permainan panas mereka Ardi selalu melemparkan pertanyaan tentang perasaan Naya terhadap dirinya, semua jawaban yang Naya berikan pada saat itu membuat seorang Ardiansyah Herlambang menjadi semakin yakin dengan keputusan yang dia ambil


Ardi pun terus menatap wajah tenang Naya dengan lekat


"Sekarang saya sudah merasa yakin dengan perasaan kamu terhadap saya, sampai kapan pun saya tidak akan memberikan kesempatan kamu untuk lari dari saya. Anggap saja saya sedang memberikan kamu waktu untuk berlibur sebelum saya mengikat kamu seumur hidup kamu, saya akan membawa kamu kembali setelah menyelesaikan semuanya." batin Ardi lalu mencium ujung kepala Naya dengan lembut

__ADS_1


Ardi pun terus memandangi wajah Naya hingga dia mulai terlelap ke alam mimpi, saat laki-laki tersebut membuka matanya dia merasa sedikit panik karena saat itu Naya tak berada di dalam pelukannya


"Pergi ke mana dia? jangan bilang kalau dia memutuskan untuk bunuh diri cuma untuk menghindar dari saya!!" batin Ardi


Dengan cepat Ardi pun langsung memakai pakaiannya dan meninggalkan kamar tersebut, tetapi secara samar Ardi mulai mencium bau makanan di dalam kapal tersebut dan saat dia menuju ke arah dapur ternyata Naya sedang memasak sesuatu untuk sarapan mereka


"Syukurlah dia baik-baik aja," batin Ardi sambil tersenyum tipis


Ardi pun mulai melangkahkan kakinya ke arah Naya dan memeluk tubuh Naya dari belakang, dia juga mencium pipi Naya dengan lembut


"Kamu sudah bangun?" tanya Naya


"Kenapa kamu tinggalin saya sendirian?"


Naya pun tertawa kecil


"Maaf, tapi cacing di dalam perut saya sudah mulai teriak karena merasa lapar." jelas Naya


Seorang Ardiansyah Herlambang merasa bahwa pagi tersebut benar-benar terasa indah, karena pagi itu mereka bisa berbincang ringan sambil menikmati sarapan mereka. Hal tersebut benar-benar berbeda jauh dengan saat mereka pertama kali melakukan hal tersebut


Sedangkan Naya menutupi apa yang sedang dia rasakan pada saat itu, dia merasa tak ingin membuang waktu yang tersisa dengan sia-sia. Naya terus menatap wajah tampan seorang Ardiansyah Herlambang untuk terakhir kalinya, tanpa tau apa yang ada di dalam benak laki-laki tersebut pada saat itu


Ardi membawa Naya kembali ke apartemennya dengan cara yang biasa, saat mereka akan berpisah tiba-tiba saja Naya memeluk tubuh seorang Ardiansyah Herlambang dengan sangat erat dan Ardi pun menghadiahkan sebuah ciuman di ujung kepala Naya


"Kenapa kamu bisa manja seperti ini?" tanya Ardi dengan lembut


Naya pun mendongakkan kepalanya


"Maaf ya, tapi rasanya saya ga akan pernah puas untuk memeluk tubuh sempurna kamu." jawab Naya dengan senyuman tipis


Ardi pun tersenyum penuh arti dan memberikan ciuman lembut di kening Naya


"Kamu tenang aja, karena saya akan membuat kamu bisa memeluk tubuh sepuas hati kamu." batin Ardi


Beberapa jam kemudian


"Nona Naya sudah meninggalkan apartemen tersebut tuan muda," jelas Irvan


Ardi hanya menganggukkan sedikit kepalanya dengan wajah dingin khas dirinya

__ADS_1


"Saatnya kita pergi"


"Baik tuan muda"


__ADS_2