
Naya melanjutkan hari itu dengan melarutkan dirinya dalam pekerjaan, Naya yang larut dalam pekerjaan pun tidak menyadari bahwa sedari tadi Farhan sesekali mencuri pandang ke arah Naya dengan tatapan mata penuh rasa penyesalan
"Maafin aku ya Nay, aku yang dulu terlalu bodoh sampai larut dalam kesalahan yang sama secara terus-menerus. Sekarang aku juga menjadi orang yang harus bertanggung jawab dengan keadaan kamu saat ini, aku janji aku akan melakukan yang kamu inginkan Nay. Dengan begitu setidaknya aku ga perlu menjadi orang yang paling kamu benci di dunia ini," batin Farhan
Sebesar apapun rasa penyesalan yang di rasakan oleh Farhan saat itu tidak akan merubah semua kenyataan yang telah terjadi, dia pun menyadari bahwa Naya berhak untuk melanjutkan hidupnya dengan seseorang yang lebih baik dari dirinya
Detik demi detik terus berlalu, tanpa terasa jam pulang kerja pun akhirnya tiba. Semua orang mulai bersiap merapikan barang-barang mereka dan mulai meninggalkan tempat tersebut, Farhan pun melakukan hal yang sama tetapi yang dia lakukan selanjutnya adalah menghampiri meja kerja Naya
Naya pun menyadari bahwa Farhan telah berdiri tepat di samping meja kerjanya, dia pun langsung menatap ke arah Farhan dengan wajah yang kurang bersahabat. Sedangkan Laura langsung menatap ke arah mereka dengan seksama
"Apa lagi yang kamu inginkan? apa kamu masih ingin menghina aku? lakukan semua yang inginkan Farhan, tapi itu semua ga akan merubah kenyataan yang ada." ucap Naya dengan tegas
Semua orang yang melihat ekspresi wajah Farhan saat itu akan mengetahui dengan mudah bahwa laki-laki tersebut sedang larut dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam
"Sekali lagi aku minta maaf atas semua kesalahan yang telah aku lakukan terhadap kamu selama ini Nay, mulai detik ini aku ga akan menganggu kamu lagi Nay." ucap Farhan
Naya hanya terdiam dan menatap ke arah Farhan dengan lekat
"Aku juga mau bilang kalau aku akan mengikuti keinginan kamu Nay," lanjut Farhan lirih
"Maksud kamu?" tanya Naya dengan wajah serius
Farhan pun menganggukkan sedikit kepalanya
"Aku akan bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam kandungan Laura seperti keinginan kamu Nay"
Pada saat itu Naya memang menampilkan sebuah senyuman di bibirnya tapi dia juga tidak bisa berbohong bahwa jauh di dalam hatinya terasa sakit bukan main
"Hari ini juga aku akan menemui orang tua Laura untuk menyampaikan tentang masalah ini," lanjut Farhan lirih
"Bagus kalau begitu, aku rasa semakin cepat kalian berdua menikah itu akan semakin baik"
__ADS_1
Saat itu Farhan hanya terdiam dan menampilkan sebuah senyuman yang terlihat getir
"Aku harap setelah ini kamu ga akan membenci aku lebih dalam lagi Nay, mungkin kamu ga akan pernah percaya Nay tapi sampai kapanpun kamu akan menjadi penguasa di dalam hati aku Nay." batin Farhan
Laura sudah mulai mengeraskan rahangnya melihat ekspresi wajah Farhan pada saat itu
"Dasar bajingan kamu Farhan!! kalau aku ga bisa memiliki kamu, maka Naya pun ga akan bisa hidup bahagia bersama kamu!!" batin Laura
"Aku duluan ya Nay"
Naya hanya menjawab dengan anggukan kepalanya dan Farhan pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan meja kerja Naya, tetapi Farhan mulai menghentikan langkah kakinya saat berada di dekat meja kerja Laura
"Apa kamu bisa pulang bareng sama aku Ra?" tanya Farhan
Laura yang awalnya di kuasai api amarah pun hanya bisa terdiam karena merasa sedikit bingung dengan keadaan yang sedang terjadi
"Aku mau bertemu orang tua kamu untuk menyampaikan kalau aku akan bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam kandungan kamu Ra," lanjut Farhan
"Kamu serius dengan ucapan kamu itu?" tanya Laura dengan wajah yang masih tak percaya
Bukan hal yang sulit untuk mengetahui bahwa saat itu Farhan melakukan itu semua dalam keadaan terpaksa, tetapi bagi seorang Laura itu semua tidak akan menjadi masalah asalkan dia bisa memiliki Farhan seutuhnya. Tanpa rasa malu sama sekali Laura langsung mengaitkan tangannya ke lengan Farhan sambil tersenyum bahagia
"Ayo kita pulang sayang, aku yakin orang tua aku pasti senang mendengar kabar baik ini." ucap Laura bersemangat
Mereka pun mulai melangkahkan kakinya, tanpa sadar Naya ikut bangkit dari duduknya dan hanya terdiam membeku di tempat yang sama sambil menatap punggung kedua orang tersebut yang mulai menjauh
"Aku pikir hati sudah siap dan akan baik-baik saja tapi ternyata aku salah, bahkan saat ini dada aku terasa sangat sesak hingga aku merasa kesulitan untuk bernafas." batin Naya dengan mata yang mulai berkaca-kaca
Tapi tak lama kemudian ada sepasang tangan yang langsung memeluk tubuh Naya dengan sangat erat, ternyata orang tersebut adalah Mila dan Mila menyaksikan semua itu dari awal hingga Naya dalam keadaan seperti itu
"Yang sabar ya Nay, aku tau rasanya pasti sakit banget. Kalau kamu memang merasa ga kuat ga ada salahnya kalau kamu menangis Nay," bisik Mila lirih
__ADS_1
Air mata Naya pun mulai mengalir dengan sendirinya setelah mendengar bisikan dari Mila, seluruh beban di dalam hati Naya seolah tercurahkan dalam tangisannya saat itu. Mila sendiri sampai terbawa suasana dan ikut menjatuhkan air matanya
Dengan setia Mila terus memeluk tubuh Naya sampai Naya mulai terlihat tenang, gadis itu mengarahkan Naya untuk duduk dan segera mengambilkan secangkir air putih untuk Naya
"Terima kasih ya"
Mila hanya membalas dengan senyuman dan mulai duduk di samping Naya
"Apa kamu sudah merasa lebih baik Nay?" tanya Mila
Naya menganggukkan kepalanya sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum
"Maaf ya, seharusnya aku ga boleh bersikap seperti ini"
"Kamu ngomong apa sih Nay? kita ini cuma manusia biasa jadi aku rasa menangis adalah sesuatu yang wajar untuk kita lakukan"
Naya pun tersenyum tipis
"Apa kamu masih mencintai Farhan Nay?" tanya Mila dengan hati-hati
Naya pun mulai menatap ke arah Mila dengan lekat
"Maaf ya Nay, aku ga ada niat apapun kok. Tapi aku bisa melihat kalau Farhan masih mencintai kamu, kalau kamu memang masih mencintai dia. Kenapa kamu ga coba untuk memberikan dia kesempatan kedua?"
Saat itu Naya terlihat terdiam sambil menundukkan kepalanya
"Kenapa kamu harus memikirkan perasaan orang lain Nay? kenapa kamu coba untuk bersikap egois? aku rasa kamu juga berhak untuk bahagia," ucap Mila dengan serius
Naya pun menggelengkan kepalanya lalu mulai menatap ke arah Mila sambil tersenyum tipis
"Aku rasa perasaan cinta yang aku miliki untuk Farhan benar-benar sudah menghilang saat aku melihat kejadian itu"
__ADS_1
"Tapi kamu menangis melihat mereka Nay"
"Tangisan aku bukan karena perasaan cinta tapi perasaan kecewa yang terlalu dalam, aku yakin aku ga akan menemukan kata bahagia kalau aku memilih untuk melanjutkan hubungan dengan Farhan." ucap Naya dengan yakin