
Semua orang telah berkumpul di ruang tamu, papa Tomi pun langsung memerintahkan Laura untuk meminta maaf kepada Naya atas kesalahan yang telah dia lakukan kepada Naya, dengan berat hati Laura pun mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah depan
"Dengan sepenuh hati aku memohon maaf atas kesalahan yang telah aku lakukan selama ini di belakang kak Naya"
Pada saat itu tak ada satupun kata yang bisa terucap oleh bibir Naya, dia hanya bisa terdiam dengan senyuman yang terlihat getir karena bayangan tentang Laura yang berada di atas tubuh Farhan langsung melintas dalam benaknya
"Sebagai sesama anggota keluarga kita harus bisa saling memaafkan dan saling membantu, om harap kamu bersedia memaafkan kesalahan Laura ya Nay. Om juga berharap kamu bisa membantu keadaan Laura," ucap om Tomi dengan serius
Degh...
Ada sebuah perasaan yang mengganjal di dalam hati Naya saat mendengar hal tersebut, entah mengapa saat itu Naya merasa bahwa ada sesuatu yang di inginkan oleh om Tomi dari dirinya
"Kalau aku mau berkata jujur maka aku akan bilang kalau aku benar-benar merasa kecewa atas perbuatan Laura dan Farhan di belakang aku, tapi aku juga ga mau terlalu terpuruk dalam permasalahan itu. Jadi sebelum aku datang ke tempat ini aku memang sudah memutuskan untuk melupakan semua itu," ucap Naya dengan lirih
Naya bisa melihat dengan jelas bahwa om Tomi saat itu tersenyum puas saat mendengar jawaban dari dirinya
"Dari awal om melihat kamu, om sudah yakin kalau kamu adalah anak yang baik. Karena kamu sudah memaafkan kesalahan Laura, sebagai sesama saudara apa kamu mau membantu Laura?" tanya om Tomi dengan serius
"Apa yang bisa aku bantu om? kalau aku bisa pasti akan aku bantu," jawab Naya dengan hati yang sudah tak menentu
"Tolong bujuk Farhan agar dia mau menikahi Laura"
Hati Naya saat itu bagaikan teriris-iris saat mendengar permintaan dari om Tomi, Naya hanya bisa terdiam dan menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak terjatuh di hadapan mereka semua. Hati Naya terasa tak menentu hingga bibirnya tak sanggup untuk berkata apapun
"Aku memang sudah memutuskan untuk melupakan Farhan dan melupakan semuanya? tapi apa permintaan seperti itu wajar di berikan kepada aku? apa aku harus membujuk laki-laki yang seharusnya menjadi suami aku untuk menjadi suami perempuan lain?" batin Naya
"Kalaupun rumah tangga mereka nanti memang ga bisa di pertahankan, itu semua ga masalah bagi om. Mereka bisa bercerai setelah anak dalam kandungan Laura lahir ke dunia ini," lanjut om Tomi
"Anak?" tanya Naya dengan suara yang bergetar
__ADS_1
"Ya Nay, saat ini Laura sedang mengandung anak dari Farhan. Om sudah mencoba untuk mengajak Farhan bicara tapi dia tetap tidak bersedia menikahi Laura," jelas om Tomi
Naya pun langsung menundukkan kepalanya sambil tersenyum getir
"Kalian berdua benar-benar hebat, bahkan bisa sampai ada anak yang ga berdosa di antara kalian berdua. Tapi aku dengan bodohnya sampai kemarin masih memimpikan kehidupan yang indah bersama Farhan," batin Naya
Naya pun tak lagi sanggup menahan air matanya, air mata Naya mulai terjatuh dari mata indahnya
"Om tau pasti ini akan menyakitkan bagi kamu Nay, tapi sebagai seorang kakak kamu harus membantu adik kamu"
Naya pun mulai mengangkat wajahnya dengan air mata yang tidak mau berhenti sama sekali
"Om janji tidak akan melarang kamu kalau kamu tetap mau menikah dengan Farhan, tapi setidaknya minta Farhan untuk menikahi Laura terlebih dahulu. Kita harus memikirkan anak yang ada di dalam kandungan Laura, anak itu ga memiliki dosa apapun Nay." ucap om Tomi dengan serius
Sebagai sesama wanita dan orang yang membesarkan Naya selama ini tante Airin pun menjadi tidak tega melihat keadaan Naya yang sudah seperti itu
Om Tomi pun langsung menatap ke arah tante Airin dengan serius
"Kamu ngomong apa sih mah? ini bukan masalah mencoreng nama baik keluarga aja, tapi anak dalam kandungan Laura membutuhkan status yang jelas. Naya sebagai seorang kakak harus bisa mengalah sedikit demi adiknya," ucap om Tomi dengan tegas
"Tapi pah.."
Tiba-tiba saja terdengar suara tepuk tangan yang cukup kencang di dekat mereka, sontak saja semua mata pun langsung tertuju ke arah suara tersebut. Saat itu mereka semua melihat Rendi sudah berdiri di ambang pintu dengan sebuah senyuman yang penuh arti
Ternyata Rendi sudah cukup lama tiba di rumah itu, lebih tepatnya saat mereka baru saja mulai membahas tentang permasalahan tersebut. Rendi pun memutuskan untuk tidak menampakkan dirinya dan mendengarkan dengan seksama, tetapi saat itu dia sudah tidak bisa lagi menahan diri karena merasa sang papa terus mendesak Naya
Mama Airin yang melihat kehadiran Rendi pun segera bangkit dari duduknya dengan senyuman bahagia, mama Airin benar-benar merasa senang karena sudah cukup lama tidak bertemu dengan sang buah hati
"Kamu kok ga kasih kabar kalau kamu mau pulang sayang?" tanya mama Airin dengan lembut
__ADS_1
Rendi pun hanya membalas dengan senyuman tipis
"Apa kamu mau istirahat dulu sayang? pasti saat ini kamu sedang lelah," lanjut mama Airin
"Nanti aja mah, karena sekarang ada sesuatu yang lebih menarik." ucap Rendi
Rendi mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah Naya dan mendudukkan tubuhnya tepat di samping Naya
"Apa kabar kamu kak? aku sudah pulang untuk memenuhi janji aku dulu sama kakak," ucap Rendi lalu tersenyum hangat
Rendi menghapus air mata yang ada pipi Naya dengan lembut sambil terus tersenyum dengan hangat, saat itu Naya tidak bisa berkata-kata sama sekali. Tetapi jauh di dalam lubuk hati Naya dia merasa bersyukur karena ada seseorang yang hadir untuk menghapus air matanya
"Jangan sedih lagi ya kak, mulai sekarang ada aku yang akan menjaga kakak dengan baik." ucap Rendi dengan tulus
Papa Tomi pun menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk mengusir rasa jengkel di dalam hatinya, saat itu dia merasa kehadiran Rendi merusak segalanya
"Sebaiknya kamu istirahat aja dulu di dalam kamar kamu Ren, saat ini kami sedang membahas sesuatu yang penting." ucap papa Tomi dengan tegas
Rendi pun langsung menatap ke arah sang papa dengan senyuman yang penuh arti
"Apa papa sedang mengusir aku secara halus dari ruangan ini?"
Papa Tomi pun hanya terdiam sambil mengeraskan rahangnya
"Apa supaya papa bisa melanjutkan permintaan konyol papa sama kak Naya?" tanya Rendi dengan senyuman sinis
Mendengar hal tersebut Naya pun langsung menarik ujung pakaian Rendi sambil menggelengkan kepalanya, Rendi pun menatap ke arah Naya dan memberikan senyuman hangat kepada Naya
"Kamu tenang aja kak karena mulai sekarang aku akan menjadi perisai sekaligus pedang untuk kamu kak, aku ga akan membiarkan siapapun menyakiti hati kamu kak." batin Rendi
__ADS_1