
Naya pun membenamkan wajahnya yang telah merona di dada bidang seorang Ardiansyah Herlambang, mereka pun mendudukkan tubuh mereka di sofa yang di letakkan menghadap ke arah jendela
Duduk di tempat itu bisa memandang taman mawar yang berada di luar dengan bebas, Ardi menarik tubuh Naya agar Naya bisa bersandar di tubuhnya dengan tangan yang melingkar di pinggang Naya
"Apa kamu tau alasan saya mabuk hari ini?" tanya Ardi
Naya mendongakkan wajahnya agar bisa menatap wajah tampan seorang Ardiansyah Herlambang, dia pun menggelengkan kepalanya
"Karena hari ini saya benar-benar merasa takut, seumur hidup saya belum pernah merasakan perasaan takut sebesar ini." jelas Ardi
"Takut?"
Ardi menganggukkan sedikit kepalanya sambil tersenyum tipis
"Apa yang membuat kamu ketakutan seperti itu?" tanya Naya dengan polosnya
Ardi pun tersenyum tipis lalu mencium kening Naya dengan lembut
"Saya merasa ketakutan setengah mati karena kamu"
Naya pun langsung mengerutkan keningnya karena merasa sedikit bingung
"Saya?"
Ardi menganggukkan sedikit kepalanya, Naya yang merasa sedikit terima langsung mendudukkan tubuhnya dengan sempurna dan menatap ke arah Ardi dengan lekat
"Apa wajah saya terlalu seram sampai membuat kamu jadi takut dengan saya?"
Ardi menghadiahkan sebuah ciuman sekali lagi di kening Naya, tapi Naya masih saja mengerucutkan bibirnya
"Karena hari ini adalah hari penentuan posisi saya di hati kamu"
Naya pun langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna mendengar hal tersebut
"Dari mana kamu tau tentang itu?" tanya Naya dengan wajah serius
Ardi hanya bisa terdiam karena tak mungkin dia membuka suara
"Aish.. Ternyata sekarang Rendi juga sudah berdiri di pihak kamu ya," ucap Naya dengan nada sedikit sinis
Ardi yang tak mau memperpanjang masalah pun langsung menarik tubuh Naya masuk ke dalam pelukannya
"Saya minta maaf kalau perbuatan saya salah, tapi kamu harus tau sebesar itu perasaan saya untuk kamu." jelas Ardi dengan lembut
__ADS_1
Naya pun tersenyum tipis
"Apa sekarang kamu masih merasakan hal yang sama?"
Ardi semakin mengeratkan pelukannya
"Kalau sekarang saya rasa hati saya akan meledak karena merasa bahagia"
Naya pun tertawa kecil dan Ardi mencium ujung kepala Naya dengan lembut, Naya pun mendongakkan kepalanya agar mereka bisa saling bertatapan mata
"Ada apa?" tanya Ardi
"Apa saya boleh tau hal gila yang sempat kamu pikirkan kalau ternyata saya belum berhasil melupakan laki-laki itu?"
Ardi hanya terdiam karena merasa sedikit enggan untuk mengatakan hal tersebut
"Kamu ga mau bilang?"
"Saya cuma ga ingin kamu menjadi takut dengan saya"
"Apa benar-benar menakutkan?" tanya Naya penasaran
"Sedikit"
"Kalau begitu saya harus tau, setidaknya dengan begitu saya sudah tau konsekuensi yang akan saya terima kalau saya melakukan sesuatu yang salah." ucap Naya lalu tersenyum tipis
"Kenapa aku selalu kalah dengan perempuan ini?" batin Ardi
"Salah satunya adalah saya akan membawa kamu secara paksa dari rumah itu dan mengurung kamu untuk selamanya, saya akan mencurahkan seluruh perhatian saya dan memberikan seluruh isi dunia untuk kamu. Sampai kamu benar-benar melupakan laki-laki itu," jelas Ardi
Naya pun tertawa geli mendengar hal tersebut
"Tapi saya yakin kamu tidak akan melakukan hal itu terhadap saya," ucap Naya dengan yakin
"Kenapa kamu bisa punya pemikiran seperti itu?"
"Karena menurut saya yang kamu inginkan adalah hati saya bukan tubuh saya," jawab Naya lalu tersenyum tipis
Ardi pun mengeratkan pelukannya lalu mencium ujung kepala Naya dengan lembut
"Kamu benar, karena memikirkan hal itu saya terus menahan diri sampai rasanya saya hampir gila." batin Ardi
"Apa saat ini kamu masih dalam keadaan mabuk?" tanya Naya dalam pelukan Ardi
__ADS_1
"Ada apa? apa kamu takut saya melakukan sesuatu yang di luar batas?"
Naya menggelengkan sedikit kepalanya
"Saya hanya takut besok kamu akan lupa semua yang kamu katakan saat ini," jawab Naya
Ardi pun mengangkat dagu Naya agar mereka bisa saling bertatapan mata lalu menempelkan keningnya di kening Naya
"Apa lagi yang harus kamu ragukan dari diri saya? kamu satu-satunya perempuan yang bisa membuat saya hampir gila karena perasaan takut," ucap Ardi dengan lembut
Ardi pun mencium bibir Naya dengan lembut dan berakhir dengan ciuman di kening Naya, cukup lama juga mereka berdua berada di sana dengan saling membuka sedikit sisi lain dari kehidupan mereka masing-masing
Naya pun sedikit terkejut saat melihat jam tangan yang dia gunakan pada saat itu, karena ternyata saat itu sudah hampir pukul satu malam
"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Ardi
"Besok saya masih harus kerja," jawab Naya
Ardi pun mulai bangkit dari duduknya dan seperti biasa Naya akan mengikuti langkah kaki Ardi dari belakang, tapi saat itu tiba-tiba saja Ardi mengulurkan tangannya ke arah Naya
"Karena kamu sudah berani mencium bibir saya, maka mulai sekarang kamu harus berjalan di samping saya." ucap Ardi lalu tersenyum
Hati Naya seperti melambung tinggi ke atas awan dengan sikap Ardi yang seperti itu, Naya pun tersenyum tipis dan mulai menyambut tangan Ardi. Mereka mulai melangkahkan kakinya dengan Naya yang terus menatap wajah tampan seorang Ardiansyah Herlambang, Naya pun teringat semua kenangan-kenangan di awal pertemuan dia bersama Ardi
"Laki-laki ini adalah orang yang bisa merobek pakaian aku tanpa berkedip sama sekali, tapi sekarang dia bahkan menggenggam tangan aku dengan lembut seolah aku adalah barang yang sangat berharga di mata dia." batin Naya
Ardi pun mulai menatap ke arah Naya
"Apa wajah saya terlalu tampan? sampai kamu tidak ingin memalingkan pandangan mata kamu?" tanya Ardi lalu tersenyum tipis
Naya pun tertawa geli mendengar hal tersebut, hari itu baik Ardi maupun Naya merasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Mereka sudah harus berpisah karena mereka telah tiba di apartemen Naya, Ardi pun terlihat akan turun dari mobil tersebut dan dengan cepat Naya langsung memegang tangan Ardi
"Ada apa?"
"Kamu mau ke mana?" tanya Naya
"Saya mau antar kamu sampai di depan apartemen kamu"
"Sebaiknya kamu langsung pulang dan istirahat"
Ardi pun langsung menatap ke arah Naya dengan lekat, tiba-tiba saja Naya mencium pipi Ardi dengan cepat dan Ardi pun hanya bisa terdiam
"Selamat malam, selamat istirahat." ucap Naya lalu tersenyum tipis
__ADS_1
Saat itu Ardi memilih untuk mengikuti keinginan Naya, Naya yang sudah berganti pakaian pun langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia mulai membuka ponselnya dan melihat fotonya bersama Ardi, ternyata sesaat sebelum mereka pulang Ardi meminta foto bersama dan mengirimkan foto tersebut kepada Naya
"Siapa yang akan menyangka kalau aku akan menjalin hubungan dengan laki-laki ini, laki-laki yang pernah menyelamatkan aku dengan bayaran yang sangat mahal. Laki-laki yang membuat aku merasa harga diri hancur dalam sekejap mata, tapi dia juga laki-laki yang selalu ada di saat aku terpuruk." gumam Naya sambil tersenyum