Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Orang Yang Pelit


__ADS_3

Rendi pun merasa sedikit bingung dengan ekspresi wajah papa Tomi dan Laura pada saat itu


"Apa ada masalah?" tanya Rendi


"Apa Naya benar-benar menjalin hubungan dengan Ardiansyah Herlambang?" tanya papa Tomi dengan wajah serius


Rendi pun menganggukkan kepalanya, sudah pasti hal tersebut membuat harga diri seorang Laura menjadi sedikit terluka


"Kalau menurut kakak kamu ga perlu terlalu berbangga diri dengan apa yang sudah kamu dapatkan saat ini Ren," lanjut Laura dengan nada sedikit sinis


"Maksud kamu apa ya kak?" tanya Rendi sambil mengerutkan keningnya


"Perusahaan tempat kamu bekerja berada di bawah naungan perusahaan laki-laki itu, mungkin aja semua yang kamu dapatkan sekarang karena bantuan dari laki-laki itu bukan hasil jerih payah kamu sendiri." jelas Laura dengan senyuman yang terlihat sinis


Rendi pun berusaha keras untuk menutupi apa yang sedang dia rasakan pada saat itu, dia hanya menampilkan sebuah senyuman penuh arti di bibirnya. Entah mengapa saat itu Rendi bisa mengetahui jalan pikiran sang kakak


"Aku tau kok kak, aku sudah dengar tentang hal itu dari yang bersangkutan secara langsung. Tapi apa salahnya kalau aku berbangga diri punya calon kakak ipar sebaik dia?" tanya Rendi


Laura hanya menampilkan sebuah senyuman yang terlihat sedikit sinis, sedangkan papa Tomi langsung menatap Rendi dengan serius


"Apa kamu sudah pernah ketemu dengan orang itu Ren?" tanya papa Tomi


Rendi pun menganggukkan kepalanya


"Kemarin kami makan siang bareng bertiga sama kak Naya," jawab Rendi


Laura yang saat itu sedang minum sampai tersedak minumannya mendengar hal tersebut


"Kamu bisa makan siang bareng dia?" tanya Laura


Rendi menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang mengembang


"Sial!! kenapa nasib Naya selalu lebih beruntung dari aku? aku pikir dia akan menangis dan terpuruk karena aku berhasil merebut Farhan, kenapa dengan mudahnya dia bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari Farhan?!!" gerutu Laura di dalam hatinya sambil mengeraskan rahangnya


Empat orang yang berada di meja makan tersebut sedang larut di dalam pikiran mereka masing-masing, Rendi sedang tertawa dengan puas di dalam hatinya karena melihat ekspresi wajah sang kakak pada saat itu. Sedangkan Laura di sibukkan oleh perasaan iri yang sedang dia rasakan

__ADS_1


Papa Tomi merasa sedikit lega dengan adanya hal tersebut, saat itu dia berpikiran bahwa Naya tidak akan menjadi kerikil di dalam rumah tangga sang buah hati. Tetapi mama Airin merasa sedikit bersalah dengan semua yang harus terjadi kepada Naya


Rendi kini sudah berada di dalam salah satu gedung pencakar langit, dia melakukan prosedur sebagai karyawan baru di tempat itu. Tapi saat itu Rendi merasa bahwa para petinggi di tempat itu menunjukkan perasaan sungkan kepada dirinya dengan cara yang sedikit berlebihan


Sudah pasti Rendi berusaha untuk menahan diri karena itu adalah hari pertama dia bergabung dengan perusahaan tersebut, tapi semakin lama dia pun merasa semakin tidak nyaman dengan cara beberapa karyawan yang menatap dia dengan tatapan mata yang terlihat sedikit aneh


"Aish.. Kalau mereka ga suka dengan keberadaan aku mereka bisa ngomong secara langsung, tatapan mata mereka seolah menunjukkan kalau aku adalah orang yang ga pantas bekerja di tempat ini." gerutu Rendi di dalam hatinya


Rendi pun mulai mencari tempat yang tidak terlalu ramai dan menghubungi seorang Ardiansyah Herlambang, di tempat yang berbeda suasana dingin tercipta di sebuah ruang rapat. Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya


"Saya membayar kalian semua dengan sangat mahal dan hanya ini yang bisa kalian berikan kepada saya," ucap Ardi dengan dingin


Keheningan di dalam ruangan tersebut menjadi hancur karena tiba-tiba saja ponsel Ardi berdering, Ardi pun melirik sekilas ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ardi pun mengerutkan keningnya karena merasa bahwa dia tidak mengenal nomor telepon tersebut


"Siapa yang menghubungi aku ke nomor pribadi aku?" batin Ardi


"Halo"


"Saya Rendi, adik dari kak Naya"


"Apa saya bisa mengganggu sedikit waktu kamu?" tanya Rendi dengan serius


"Oke, tunggu sebentar." jawab Ardi


Ardi segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan tersebut begitu saja, semua orang yang berada di ruangan tersebut benar-benar merasa bersyukur karena mereka terselamatkan dari amukan sang gunung es


"Ya, ada masalah apa?"


"Saya cuma ingin bertanya sesuatu sama kamu," jawab Rendi dengan nada serius


"Kamu mau tanya tentang apa?"


"Apa kamu campur tangan dan membuat saya di terima bekerja di tempat ini?"


"Apa kamu menemui masalah di tempat itu?"

__ADS_1


"Bukan itu poin pentingnya, saya cuma mau memastikan. Apa saya di terima kerja karena ada campur tangan dari kamu?"


"Maaf kalau saya membuat kamu merasa kurang nyaman dengan hal tersebut, saya memang memberikan perintah untuk menerima kamu di tempat itu. Tapi tetap saja saya ini seorang pengusaha, jadi saya tidak mungkin memerintahkan untuk menerima kamu tanpa melihat CV kamu terlebih dahulu." jelas Ardi


"Bagaimana dengan inventaris yang saya dapatkan?"


Ternyata sebelum Rendi menghubungi Ardi dia sudah lebih dulu mengajak berbincang beberapa pekerja yang berada di tempat itu, dia hanya ingin memastikan apakah yang lain juga mendapatkan hal yang sama dengan dirinya


"Kalau itu dari saya pribadi, saya minta mereka untuk mencantumkan hal itu di kontrak kerja kamu. Karena saya rasa kamu akan menolak itu semua kalau saya berikan secara langsung kepada kamu," jelas Ardi


"Apa kamu berniat menyuap saya?"


"Untuk apa saya menyuap kamu? apa kamu bisa memberikan saya keuntungan yang menjanjikan?" tanya Ardi balik


"Bisa aja kamu berusaha untuk menyuap saya agar saya menyetujui hubungan kamu dan kak Naya," jawab Rendi dengan sinis


Ardi pun tersenyum tipis di seberang sana


"Kamu setuju ataupun tidak dengan hubungan kami keputusan terakhir tetap berada di tangan Naya, jadi yang harus saya lakukan adalah mencuri hati Naya bukan mencuri hati kamu." jelas Ardi


"Kalau begitu kenapa kamu memberikan saya apartemen dan mobil?" tanya Rendi dengan serius


"Sebagai tanda terima kasih dari saya untuk kamu"


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih karena kamu sudah membela dan menjaga Naya saat saya tidak ada di samping Naya," jawab Ardi dengan yakin


Rendi pun tersenyum tipis mendengar hal tersebut


"Aku yakin orang ini benar-benar tulus terhadap kamu kak," batin Rendi


"Ternyata kamu orang hebat, bahkan kamu lebih hebat dari dugaan awal saya"


"Saya akan anggap ini sebagai pujian"

__ADS_1


"Tapi saya juga tidak menyangka kalau orang sehebat kamu ternyata adalah orang yang pelit," ucap Rendi dengan nada sedikit sinis


__ADS_2