
"Saya minta maaf kalau ini semua membuat kamu merasa kurang nyaman, saya hanya ingin kamu benar-benar merasa nyaman berada di tempat ini dan tidak melarikan diri lagi seperti sebelumnya," ucap Ardi
Naya pun hanya bisa pasrah karena dia yakin dia tidak akan bisa melakukan perlawanan apapun pada saat itu
"Kalau kamu memang merasa tidak enak hati, kamu bisa membayar saya dengan masakan pertama kamu di tempat ini." lanjut Ardi
"Biar saya siapkan makan siang untuk anda"
"Terima kasih"
Naya mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur dan membuka kulkas yang berada di tempat itu
"Apa yang harus aku masak kalau ga ada bahan apapun di tempat ini?" batin Naya
Naya pun mulai melangkahkan kakinya ke arah Ardi yang sudah mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tamu
"Saya harus berbelanja, karena ga ada bahan makanan apapun di tempat ini"
Ardi pun mulai bangkit dari duduknya
"Kamu sudah mau pergi?" tanya Naya dengan bodohnya
"Apa kamu pikir saya akan membiarkan kamu pergi seorang diri?"
Naya tak bisa memberikan perlawanan apapun dan hanya bisa mengikuti langkah kaki Ardi, sesampainya di sebuah pusat perbelanjaan Ardi hanya mengikuti langkah kaki Naya kemana pun dia ingin pergi
"Apa ada sesuatu yang tidak anda sukai?" tanya Naya
"Saya tidak pemilih dalam hal makanan"
Naya pun mulai memilih beberapa bahan yang akan dia gunakan untuk memasak, sedangkan Ardi mulai menaikkan kedua ujung bibirnya
"Apa saat ini kamu tidak menyadari sesuatu?"
Naya pun langsung menatap ke arah Ardi sambil mengerutkan keningnya
"Tentang apa?"
Ardi pun mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Naya
"Yang sedang kita lakukan saat ini seperti yang sering di lakukan pasangan pengantin baru," bisik Ardi
Naya pun langsung memasang malas mendengar hal tersebut
"Kenapa kamu selalu berbicara tentang sesuatu yang aneh?"
"Menurut saya itu bukan sesuatu yang aneh," jawab Ardi
"Apanya yang pasangan pengantin baru? seharusnya anda sadar kalau hubungan kita berdua terjalin dengan cara yang sedikit aneh," ucap Naya dengan sinis
__ADS_1
"Ga masalah, tapi saya pasti akan menikahi kamu saat hati kamu sudah benar-benar siap untuk menerima keberadaan saya." ucap Ardi dengan serius
Naya pun memilih untuk melarikan diri, entah mengapa kini hatinya selalu berdetak lebih cepat dari biasanya saat seorang Ardiansyah Herlambang mengatakan kata-kata yang seperti itu. Saat mereka kembali ke apartemen tersebut beberapa orang sedang sibuk memindahkan barang-barang milik Naya ke dalam apartemen tersebut
"Terima kasih atas bantuan kalian," ucap Naya dengan tulus
"Sama-sama nona muda"
"Kebetulan saya mau masak untuk makan siang, apa kalian mau ikut makan bareng?"
Semua orang langsung tersenyum bahagia mendengar hal tersebut, tetapi sosok yang berdiri tepat di belakang Naya langsung membuat mereka semua menggelengkan kepalanya
"Tidak perlu merepotkan anda nona muda," ucap mereka serentak
"Bagus!! apa hak kalian membuat perempuan saya bersusah payah memasak untuk kalian?" batin Ardi
Naya pun mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dia masak, sedangkan Ardi mendudukkan tubuhnya di ruang tamu. Irvan pun memberikan laporan kepada Ardi bahwa semua barang-barang penting milik Naya sudah di bawa ke tempat itu
"Tunggu di bawah"
"Baik tuan muda"
Irvan berniat untuk segera meninggalkan tempat itu, tapi saat dia akan keluar dia menundukkan sedikit kepalanya karena bertatap mata dengan Naya
"Aku sudah hampir selesai masak untuk makan siang? apa kamu ga berniat untuk makan bareng kami?" tanya Naya
Ardi yang mendengar hal tersebut langsung menatap tajam ke arah mereka
Dengan polosnya Naya mempercayai hal tersebut, sedangkan Irvan memilih untuk segera melarikan diri dari tempat itu sebelum dia terkena getah dari kepolosan seorang Naya Putri Widyaningsih
Selesai makan siang Naya mulai membongkar barang-barang miliknya yang berada di dalam kardus-kardus besar
"Apa kamu butuh bantuan orang lain? saya bisa meminta orang-orang saya untuk membantu kamu," ucap Ardi sambil mendekat ke arah Naya
"Sepertinya ga perlu, kalau cuma rapi-rapi saya lebih suka melakukannya sendiri. Jadi saya bisa tau di mana saya meletakkan sesuatu," jelas Naya
Ardi pun mulai mendudukkan tubuhnya di dekat Naya dan berusaha untuk membantu yang sedang Naya lakukan pada saat itu
"Anda mau apa?" tanya Naya dengan wajah sedikit panik
"Mana mungkin saya hanya berdiam diri saat kamu sedang mengerjakan sesuatu"
"Tadi anda cuma berdiam diri saat saya sedang memasak," ucap Naya dengan nada yang terdengar sedikit sinis
Ardi pun langsung menatap ke arah Naya
"Kata siapa saya cuma berdiam diri?"
"Memang apa yang anda lakukan saat saya sedang memasak?" tanya Naya balik
__ADS_1
"Saya menjaga kamu dengan baik agar tidak ada satupun orang yang berharap bisa memakan masakan kamu"
Duar....
Naya pun langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna mendengar hal tersebut
"Jadi mereka semua menolak tawaran dari saya karena anda," ucap Naya dengan tegas
"Saya tidak mungkin membiarkan orang lain mengambil kesempatan sekecil apapun dari kamu"
Naya pun mendengus jengkel
"Kamu tidak suka dengan yang saya lakukan?" tanya Ardi
Naya pun mulai menatap ke arah Ardi
"Terkadang ada saatnya kita harus memberi pengertian kepada orang lain"
"Tapi kamu sendiri ga pernah mencoba untuk mengerti tentang saya?" tanya Ardi sambil menatap dengan lekat
Lagi-lagi detak jantung Naya berdetak lebih cepat dari biasanya dan sekali ini dia sudah tidak ingin lagi menghindar dari laki-laki tersebut
"Kenapa anda bisa bilang seperti itu?" tanya Naya dengan serius
"Itu contoh nyatanya," jawab Ardi
"Maksud anda?" tanya Naya dengan wajah sedikit bingung
"Sampai saat ini kamu masih memanggil saya dengan anda, padahal kita berdua sudah melakukan panjer untuk pernikahan kita"
Naya pun merasa semakin bingung dengan arah ucapan Ardi pada saat itu
"Panjer apa maksud anda?"
"Bukannya kita sudah melakukan sesuatu yang seharusnya di lakukan oleh pasangan pengantin baru saat malam pertama," jelas Ardi dengan wajah datarnya
Blush....
Wajah Naya pun menjadi merona mendengar hal tersebut
"Akh!! kenapa anda selalu menggunakan kata-kata aneh seperti?!!" teriak Naya dengan wajah yang terlihat panik
Tiba-tiba saja Ardi berdecak jengkel
"Bahkan di saat kamu panik kamu tetap menyebut saya dengan kata anda," ucap Ardi dengan dingin
Naya pun menghembuskan nafasnya dengan kasar
"Bagaimana saya tidak memanggil dengan sebutan anda? kalau anda sendiri yang memaksa orang lain untuk menjaga jarak dari anda," jelas Naya
__ADS_1
"Apa maksud kamu?"
"Ekspresi wajah anda membuat batasan yang jelas antara anda dan orang lain," jawab Naya