
"Apa tebakan saya hampir tepat sasaran?" tanya Nico dengan senyuman penuh arti
Naya pun langsung menundukkan pandangan matanya
"Dia bilang dia tidak ingin segera memiliki anak, bahkan saat nanti kami menikah dia ingin membuat program penunda kehamilan." jelas Naya lirih
Nico pun mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa sedikit frustasi dengan jalan pikiran sang sahabat
"Aku yakin ada alasan yang jelas laki-laki bodoh itu mengatakan hal tersebut, sebaiknya aku ga terlalu ikut campur dalam permasalahan mereka." batin Nico
"Seandainya dugaan saya benar, apa kamu yakin bisa menyelesaikan permasalahan ini?" tanya Nico
Naya pun mulai menatap ke arah Nico sambil menganggukkan kepalanya
"Oke, saya akan tutup mulut tentang kecurigaan sama. Kamu juga bisa meminta bantuan saya kalau kamu merasa ga sanggup menyelesaikan ini semua," ucap Nico dengan serius
"Terima kasih ya," jawab Naya dengan tulus lalu tersenyum tipis
"Kalau begitu saya keluar dulu, saya takut Mila jadi curiga"
Nico kembali ke sisi Mila dengan ekspresi biasa saja, sedangkan Naya memikirkan ucapan Nico dengan seksama
"Sebaiknya nanti saat pulang aku bisa mampir ke apotik, aku bisa alasan membeli vitamin sekalian beli alat tes kehamilan." batin Naya
Saat Mila kembali ke ruang istirahat dia memaksa Naya untuk segera pulang dan beristirahat, karena keadaan Naya tidak membaik sama sekali dan Naya pun memutuskan untuk mengikuti saran dari Mila
Sedangkan di seberang sana Ardi dan seluruh anggota keluarga yang lainnya sedang merasa ketakutan karena keadaan sang nenek mulai turun secara drastis, seorang Ardiansyah Herlambang tak bisa menahan air matanya saat menerima kabar bahwa sang nenek telah pergi untuk selamanya dari sisi mereka
Pihak keluarga yang lainnya sedang mengurus administrasi rumah sakit agar bisa membawa pulang jenazah sang nenek, Ardi hanya bisa terduduk lemas di salah satu bangku yang berada di rumah sakit tersebut. Anita pun mulai mendudukkan tubuhnya tepat di samping Ardi
"Kamu harus bisa merelakan kepergian nenek kak," ucap Anita dengan lembut
"Saat ini saya ingin sendiri"
"Saya cuma mau bilang sama kamu kalau saya adalah dokter yang selama ini menangani kesehatan nenek kak, selama ini nenek selalu bercerita tentang hebatnya kamu. Nenek bilang dia benar-benar merasa hidupnya menjadi sempurna karena melihat kamu menjadi orang yang hebat"
Ardi yang sedang merasa sedih pun langsung menatap tajam ke arah Anita dan wanita tersebut memberikan senyuman yang hangat
"Berhenti untuk bersikap seperti itu kepada setiap wanita kak, cuma itu harapan nenek yang belum bisa dia wujudkan selama hidupnya"
__ADS_1
Ardi pun langsung terdiam
"Maaf karena saat ini saya tidak membawa surat yang nenek titipkan untuk kamu kak, karena surat itu saya simpan di apartemen saya. Saya akan membawa surat itu besok saat pemakaman nenek," jelas Anita
"Apa kamu dekat dengan nenek?" tanya Ardi lirih
Anita melepaskan senyuman yang hangat
"Bisa di katakan kalau saya adalah orang kedua di dalam hati nenek setelah kamu," jawab Anita
"Besok tolong bawakan surat nenek yang di titipkan untuk saya"
Anita menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat, wanita tersebut langsung meninggalkan Ardi untuk melanjutkan pekerjaannya selama ini. Sedangkan Ardi merasa separuh dunianya menjadi hancur karena kepergian sang nenek
Ardi mengingat semua kenangan masa kecilnya bersama, bagaimana sang nenek berjuang dengan keras untuk membuat seorang Ardiansyah Herlambang bisa menerima keberadaan sang nenek. Di saat semua orang mulai menyerah dan memilih untuk menjaga jarak, sang nenek tetap dengan tulus mencurahkan kasih sayang yang berlimpah kepada dirinya
"Saat ini aku berharap Naya ada di sini dan bisa memeluk aku dengan erat," batin Ardi
Ardi pun mulai menatap ke arah Irvan yang dengan setia berdiri tepat di samping seorang Ardiansyah Herlambang
"Bagaimana keadaan dia di sana?" tanya Ardi
Ardi langsung menatap ke arah jam tangan yang dia gunakan pada saat itu, dia pun menatap Irvan dengan lekat seolah meminta penjelasan lebih jauh
"Nona Naya memilih untuk lebih awal meninggalkan acara tersebut karena merasa kurang enak badan tuan muda"
Ardi pun mengusap wajahnya dengan kasar
"Dari tadi kami semua cuma memikirkan keadaan nenek, bahkan aku sama sekali belum menghubungi dia selama aku tiba di tempat ini." batin Ardi
Ardi pun langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sang kekasih hati
"Halo"
"Kamu ada di mana?"
Naya tertawa lepas di seberang sana
"Kenapa kamu harus bertanya sesuatu yang kamu sudah tau jawabannya?" tanya Naya di sela tawanya
__ADS_1
"Maaf," ucap Ardi lirih
Deg...
Naya langsung menghentikan tawanya
"Apa terjadi sesuatu di sana?" tanya Naya
"Hem"
Naya pun terdiam untuk menunggu sang kekasih memberikan penjelasan lebih jauh
"Nenek sudah pergi untuk selamanya," jelas Ardi lirih
"Maaf, saya ga tau tentang itu." balas Naya dengan perasaan sedikit bersalah
Jelas saja Naya merasa sedikit bersalah karena bisa-bisanya dia masih tertawa dengan lepas sedangkan sang kekasih hati dalam keadaan berduka
"Ga masalah, saya cuma rindu sama kamu dan berharap kamu ada di sini untuk memeluk saya"
"Apa kamu mau saya datang ke sana sekarang juga?" tanya Naya dengan serius
Ardi pun tersenyum tipis di seberang sana
"Saya rasa kamu ga perlu melakukan hal itu, karena saya dengar kalau kamu meninggalkan acara itu karena kurang enak badan"
"Tapi..."
"Keadaan saya menjadi lebih baik setelah mendengar suara kamu," potong Ardi
Mereka pun terus berbincang hingga jenazah sang nenek sudah bisa meninggalkan rumah sakit, rumah mewah tempat sang nenek menghabiskan hari-harinya selama ini tampak muram karena berita duka tersebut. Sepanjang malam Ardi terus berada di samping jenazah sang nenek, sedangkan Naya memilih untuk tak menghubungi Ardi agar tidak menggangu hati sang kekasih
Dari pagi buta semua orang mulai bersiap untuk mengantarkan kepergian sang nenek untuk selamanya, sedangkan di tempat yang berbeda Naya masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan yang sudah tak menentu. Naya merasa sedikit cemas saat melihat tanda dua garis yang keluar pada alat tersebut
"Jadi aku benar-benar hamil anak dia? Apa dia bisa menerima keberadaan anak ini?" gumam Naya lirih
Seharian penuh Naya mengurung diri di dalam apartemennya karena perasaan bimbang yang sedang dia rasakan pada saat itu, di satu sisi itu Naya merasa bahagia saat mengetahui ada sebuah nyawa sedang tumbuh di dalam rahimnya. Tapi di sisi lain Naya juga tidak tau caranya untuk menyampaikan hal tersebut kepada sang kekasih hati
"Apapun yang ada di dalam pikirannya aku tetap harus mempertahankan anak ini, aku akan melawan dia dengan sekuat tenaga kalau dia akan bertindak macam-macam dengan anak ini." batin Naya
__ADS_1