
Farhan pun merasa terkejut bukan main saat mendengar hal tersebut, dia pun memasang wajah serius sambil mengerutkan keningnya
"Anak? anak apa ya maksud om?" tanya Farhan
"Anak apa kamu bilang? anak kalian berdua yang saat ini sudah tumbuh di dalam perut Laura," jawab papa Tomi
Saat itu wajah Farhan sudah mulai terlihat pucat karena panik, sedangkan papa Tomi tersenyum sini
"Apa kamu pikir perempuan sebaik Naya bersedia untuk menikah dengan laki-laki bajingan seperti kamu? laki-laki yang sudah menghamili saudaranya sendiri," lanjut papa Tomi dengan tegas
"Jadi maksud om saat ini Laura sedang mengandung anak saya?"
"Bagus kalau kamu sudah tau tentang masalah itu, karena itu saya minta kamu untuk bertanggung jawab terhadap anak saya." jawab papa Tomi dengan tegas
Farhan pun terlihat menggelengkan sedikit kepalanya
"Tapi itu ga mungkin terjadi om, rasanya ga mungkin kalau Laura sampai mengandung anak saya." ucap Farhan dengan yakin
FLASH BACK
Hari itu setelah pulang kerja Laura mencari alasan agar bisa pulang sedikit terlambat kepada kedua orang tuanya, sedangkan Farhan seperti biasa akan mengantarkan Naya pulang ke rumahnya terlebih dahulu seperti biasanya
Setelah mengantarkan Naya ternyata Farhan tak langsung kembali ke apartemennya, saat itu dia langsung menjemput Laura di sebuah tempat yang sebelumnya sudah mereka sepakati. Mereka berdua pun langsung menuju ke sebuah hotel dan menyewa sebuah kamar di hotel tersebut
Baik Farhan maupun Laura sama-sama saling menikmati kegiatan panas yang mereka lakukan di tempat itu, setelah mencapai apa yang mereka inginkan Farhan memutuskan untuk membersihkan diri lebih dulu. Saat Farhan keluar dari dalam kamar mandi dia melihat Laura sedang meminum sebuah pil
"Kamu minum obat apa itu Ra?" tanya Farhan sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Laura
"Pil penunda kehamilan," jawab Laura lalu tersenyum tipis
__ADS_1
"Kamu mengkonsumsi obat seperti itu?" tanya Farhan dengan wajah serius
Laura menganggukkan kepalanya dengan yakin sambil tersenyum tipis
"Kenapa kamu mengkonsumsi obat seperti itu Ra?"
"Aku cuma melakukan pencegahan dini masalah yang mungkin aja terjadi, aku cuma ga mau ada masalah yang timbul dan bisa mengganggu hubungan antara kamu dan Naya." jelas Laura dengan yakin
Farhan pun langsung mendudukkan tubuhnya tepat di samping Laura dan menatap ke arah Laura dengan seksama
"Tapi apa kamu baik-baik aja Ra?"
"Kamu kenapa sih sayang? aku baik-baik aja kok, lagi pula aku sudah mulai konsumsi obat itu dari awal kita berhubungan." ucap Laura sambil tertawa kecil
Farhan pun langsung memeluk tubuh Laura dengan erat
"Aku minta maaf karena aku ga memikirkan ini semua sampai sejauh itu Ra, jangan di paksakan Ra kalau kamu memang merasa kurang nyaman dengan posisi kamu di hubungan kita. Aku ga masalah kok Ra, kalau seandainya kamu mau kita mengakhiri hubungan kita." ucap Farhan dengan yakin
"Itu yang ga mau aku dengar dari kamu sayang, aku akan melakukan apapun supaya hubungan kita bisa tetap berjalan dengan baik. Aku sendiri yang akan mengakhiri hubungan kita, tapi nanti saat kamu dan Naya akan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Aku harap kamu ga pernah lagi mengucapkan kata-kata seperti itu sama aku," jelas Laura dengan tegas
Entah mengapa saat itu Farhan merasa sedikit bersalah karena telah membuat perempuan sebaik Laura bertindak sampai sejauh itu, tapi dia sendiri tidak menyadari bahwa Laura bahkan sudah merencanakan semuanya dengan sangat baik
Bahkan Laura memang sudah merencanakan untuk meminum pil penunda kehamilan tersebut di hadapan Farhan, dia hanya ingin membuat Farhan merasa bersalah dan terus melanjutkan hubungan tersebut dengan nyaman
"Tapi Ra, semakin lama aku semakin sadar kalau keadaan ini ga adil untuk kamu. Aku cuma bisa berbuat sejauh ini untuk kamu, tapi aku ga akan bisa memberikan kamu status yang jelas." ucap Farhan dengan wajah menyesal
Laura pun tersenyum tipis
"Bagi aku itu semua ga jadi masalah karena dari awal aku sudah sadar akan posisi aku, jadi aku minta kamu buang jauh-jauh pemikiran kamu itu ya sayang." ucap Laura dengan lembut
__ADS_1
Laura rela melakukan apapun asalkan dia bisa berada di sisi Farhan, jauh di dalam hati Laura saat itu dia terus berharap suatu saat nanti Farhan akan berpindah hati dan bisa tulus mencintai dirinya
Tapi semakin lama Farhan terlihat semakin matang mempersiapkan segala kebutuhan untuk melamar Naya menjadi istrinya, Laura pun tersadar bahwa dia sudah tidak bisa menggunakan cara yang sama untuk memiliki laki-laki tersebut
Laura pun mulai berhenti mengkonsumsi pil penunda kehamilan, di hadapan Farhan dia menjelaskan bahwa dia menggunakan cara berbeda untuk mencegah kehamilan
FLASH OFF
Papa Tomi pun menjadi semakin murka mendengar ucapan Farhan pada saat itu, dia melemparkan hasil pemeriksaan kandungan Laura ke atas meja
"Ga mungkin kamu bilang?!! lalu apa itu semua?!!" teriak papa Tomi
Dengan hati yang sudah tidak menentu Farhan mulai memeriksa kertas-kertas yang berada di atas meja, dia hanya bisa terdiam sambil mengeraskan rahangnya karena di situ tertulis dengan jelas bahwa Laura benar-benar sedang mengandung. Farhan pun langsung menatap ke arah Laura dengan tatapan mata yang tajam
"Jadi belakangan ini kamu sudah membohongi aku ya Ra!! atau mungkin yang lebih parah lagi selama ini sebenarnya kamu memang membohongi aku!! ternyata ini rencana kamu sebenarnya ya Ra!! dengan bodohnya selama ini aku mengikuti permainan kamu Ra!!" batin Farhan
Papa Tomi menghembuskan nafasnya dengan kasar beberapa kali untuk mengurangi gejolak yang sedang dia rasakan di dalam dadanya
"Om ga akan terlalu mempermasalahkan bagaimana kalian berdua bisa memulai semua ini, yang pasti saat ini ada seorang anak yang ga berdosa tumbuh di dalam perut Laura. Sebagai seorang laki-laki kamu harus berani bertanggung jawab atas perbuatan yang telah kamu lakukan Farhan," ucap papa Tomi dengan tegas
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? anak itu darah daging aku dan anak itu ga bersalah sama sekali, tapi aku ga bisa menikahi Laura karena aku mencintai Naya." batin Farhan
Cukup lama juga Farhan terlihat terdiam karena banyak hal harus dia pertimbangkan sebelum dia membuat keputusan besar di dalam hidupnya, setelah cukup lama papa Tomi pun mulai tidak sabar dengan diamnya Farhan. Sedangkan Laura benar-benar merasa ketakutan setengah mati dengan keputusan yang akan di ambil oleh Farhan pada saat itu
"Bagaimana Farhan?" tanya papa Tomi dengan tegas
Farhan pun mulai menatap ke arah papa Tomi dengan serius
"Bagaimana pun juga anak itu darah daging saya sendiri om, jadi saya akan bertanggung jawab penuh atas kesalahan yang telah saya lakukan selama ini." ucap Farhan dengan yakin
__ADS_1
Laura dan kedua orang tuanya bisa bernafas dengan lega setelah mendengar hal tersebut