Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Biarkan Takdir Yang Menentukan


__ADS_3

Kini Naya dan Ardi sudah berada di dalam mobil, tetapi Irvan dan sang supir tak kunjung masuk ke dalam mobil tersebut. Naya pun menyadari bahwa dia harus memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada laki-laki yang kini telah menjadi kekasihnya tersebut


"Maaf ya," ucap Naya dengan tulus


Ardi pun mulai menatap ke arah Naya dengan ekspresi yang sama, sedangkan Naya memberikan senyuman terbaik yang dia miliki


"Apa kamu ga bisa belajar dari pengalaman? bagaimana kalau hal yang sama terulang lagi sama kamu? Di dalam sana ada banyak laki-laki dengan pemikiran kotor mereka," ucap Ardi dengan tegas


"Maaf," ucap Naya lirih


Naya pun menyadari kesalahan yang telah dia lakukan pada saat itu, dia hanya bisa menundukkan wajahnya dengan ekspresi menyesal. Ardi pun menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu menarik tubuh Naya masuk ke dalam pelukannya


"Saya bukan berniat untuk memarahi kamu, saya cuma tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa kamu." jelas Ardi dengan lembut


Hanya kata maaf yang bisa keluar dari bibir Naya pada saat itu, Ardi pun semakin mengeratkan pelukannya dan menghadiahkan ciuman lembut di ujung kepala Naya


"Maaf kalau kamu beranggapan sikap saya terlalu keras sama kamu, tapi saya benar-benar ingin menjaga kamu dengan baik." ucap Ardi dengan tulus


Naya pun mendongakkan kepalanya


"Saya tau kamu bersikap seperti ini karena kamu khawatir sama saya, terima kasih ya." ucap Naya dengan tulus


Ardi pun memberikan ciuman lembut di kening Naya


"Tapi kamu harus benar-benar berjanji sama saya kalau kamu ga akan pernah lagi mengulangi hal ini, kalau kamu memang membutuhkan hiburan kamu harus bilang ke saya agar saya bisa menjamin keselamatan kamu." ucap Ardi dengan serius


Hati Naya benar-benar terasa hangat pada saat itu, dia pun tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. Tapi tiba-tiba saja Naya menghilangkan senyuman di bibirnya dengan eskpresi cemas


"Ada apa?" tanya Ardi


"Bagaimana dengan teman saya yang masih di dalam? saya cuma takut teman kamu berbuat macam-macam sama teman saya"


"Setidaknya tadi kamu sudah berusaha untuk membawa dia dari sana, dengan keadaan seperti tadi dia pasti akan membuat keributan kalau kita membawa dia dengan paksa." jelas Ardi

__ADS_1


"Tapi teman kamu..."


Ardi mencium kening Naya sekali lagi


"Biarkan takdir yang menentukan jalan mereka, dulu juga kamu pasti ga akan menyangka kalau akan menjalin hubungan sama saya"


Naya pun tersenyum tipis karena hal tersebut memang benar adanya, Ardi segera memerintahkan orang-orangnya untuk masuk ke dalam mobil tersebut dan mengantarkan Naya untuk pulang. Sedangkan Mila seolah tak pernah puas untuk meminum minuman yang ada di hadapannya, sedangkan Nico langsung berpamitan dengan temannya untuk duduk pisah meja dengan menjual nama Ardi


"Dasar anak kecil!! pasti saat ini dia lagi galau makanya bersikap seperti itu, aku mau lihat seberapa lama dia akan bertahan dengan cara minum dia yang seperti itu." batin Nico sambil tersenyum tipis


Semakin lama Nico pun menjadi sedikit khawatir dengan keadaan Mila karena dia sudah beberapa kali melihat Mila menyeka air matanya


"Apa kamu masih kuat?" tanya Nico


Mila menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, tapi seorang pemain seperti Nico bisa mengetahui bahwa senyuman Mila saat itu terlihat getir. Malam pun semakin larut dan kini alkohol benar-benar sudah berhasil menguasai Mila


"Sebaiknya kami pulang aja, anak ini juga sudah mabuk." batin Nico


"Saya mau pulang, kamu mau saya antar atau pulang sendiri?" tanya Nico


Tiba-tiba saja Mila menggenggam tangan Nico sambil menundukkan kepalanya


"Tolong jangan tinggalin saya sendirian," ucap Mila lirih


Nico pun berdecak jengkel karena malam itu dia menjadi penjaga seorang gadis tidak seperti biasanya dia yang di manjakan oleh para gadis


"Ya sudah, biar saya antar kamu pulang." ucap Nico


Mila yang sudah mabuk berat sampai harus di papah Nico untuk keluar dari tempat itu, Nico pun membawa Mila masuk ke dalam mobilnya


"Apa kamu masih tinggal sama orang tua kamu?" tanya Nico


Mila hanya menjawab dengan lambaian tangannya

__ADS_1


"Jadi kamu tinggal di mana?"


Mila pun menyebutkan sebuah tempat di mana dia tinggal selama ini, Nico pun mulai melajukan mobilnya ke tempat tersebut. Sesampainya di sana Nico mengantarkan Mila ke unit apartemen miliknya


Nico menghempaskan tubuh Mila ke atas tempat tidur dengan perasaan sedikit jengkel, karena di sepanjang perjalanan gadis tersebut terus saja menangis tanpa henti


Nico sudah berniat untuk meninggalkan tempat itu tapi tiba-tiba saja Mila menggenggam salah satu Nico, saat itu Mila salah duga dan berpikiran bahwa orang yang berada di hadapannya adalah sang kekasih hati


"Apa lagi sih?!! Sekarang sudah mau pagi, saya mau pulang dan istirahat." ucap Nico penuh penekanan


Mila pun memaksa tubuhnya untuk duduk


"Apa mempermainkan hati aku membuat kamu merasa hebat?" tanya Mila lirih dengan kedua bola mata yang mulai berkaca-kaca


Nico hanya terdiam dengan wajah malasnya


"Aku sudah memberikan semuanya sama kamu, apa ini balasan yang aku dapatkan dari kamu? apa kamu benar-benar bisa merasa bahagia di atas rasa sakit hati aku?" lanjut Mila


Kata-kata terakhir dari Mila membuat Nico teringat akan sesuatu, dia tetap terdiam tetapi dia mulai mengeraskan rahangnya


"Apa lagi yang harus aku lakukan supaya kamu tetap berada di samping aku?" ucap Mila dengan air mata yang mulai mengalir


Saat itu Nico merasakan amarah di dalam hatinya, dia pun langsung menghempaskan tangan Mila dan ingin secepatnya meninggalkan tempat itu. Tetapi pengaruh alkohol membuat Mila menjadi bodoh dan tetap menganggap bahwa Nico adalah sang kekasih hati, dengan cepat Mila langsung menggenggam tangan Nico sekali lagi


"Apa lagi sih? Saat ini kamu sedang mabuk dan kamu salah orang," ucap Nico dengan tegas


"Tolong jangan buang aku, aku janji akan melakukan apapun yang kamu inginkan." ucap Mila dengan air mata yang semakin hebat


Nico hanya membeku karena bayangan tentang sesuatu di masa lalunya semakin teringat dengan jelas, tapi saat itu Mila mulai bangkit dan mengalungkan tangannya ke leher Nico. Mila pun mencium bibir Nico seperti yang sering dia lakukan bersama sang kekasih hati


"Cara anak ini mencium bibir aku membuktikan kalau dia sudah sering melakukan hal ini, kalian kakak beradik benar-benar membuat aku muak." batin Nico


Saat itu hati Nico di selimuti api amarah dengan cara yang sedikit kasar dia mendorong tubuh gadis tersebut, Mila pun mendudukkan tubuhnya dengan hati yang terasa hancur lebur karena mengira sang kekasih hati yang melakukan hal tersebut kepada dirinya

__ADS_1


__ADS_2