
Rendi pun mulai meninggalkan rumah mewah tersebut setelah kesalahan pahaman di antara dirinya dan Ardi telah selesai, dia juga meminta maaf dengan tulus kepada Ardi karena telah berpikiran buruk dan menghadiahkan sebuah bogem mentah kepada laki-laki tersebut
"Apa kamu merasa lelah? Kalau kamu mau istirahat biar saya antar ke kamar kamu," ucap Ardi dengan lembut
Naya hanya terdiam dan menatap wajah sang kekasih dengan lekat
"Apa masih ada yang menggangu pikiran kamu?"
Naya pun menganggukkan kepalanya
"Ada masalah apa?"
"Saya sudah pernah lihat badan kamu dengan jelas waktu di malam ulang tahun saya," ucap Naya dengan wajah serius
"Lalu apa masalahnya?"
"Saya yakin selama ini pasti kamu rajin berolahraga karena badan kamu terlihat..." ucap Naya tergantung dengan senyuman yang terlihat canggung
"Ada apa dengan tubuh saya?" tanya Ardi dengan senyuman di bibirnya
"Intinya tubuh kamu terlihat sempurna untuk ukuran seorang laki-laki," jawab Naya dengan menaikkan sedikit volume suaranya karena perasaan malu
Sontak saja Ardi langsung memasang wajah dingin mendengar hal tersebut
"Memangnya sudah berapa banyak kamu melihat tubuh laki-laki lain selain tubuh saya?"
"Banyak..." jawab Naya dengan wajah polosnya
Ardi pun langsung mengeluarkan aura dingin khas dirinya dan membuat Naya merasa sedikit bingung
"Kenapa dia kelihatan seperti sedang marah?" batin Naya
"Bilang ke saya sekarang juga," ucap Ardi dengan dingin
"Bilang apa?" tanya Naya semakin bingung
"Siapa saja laki-laki yang sudah kamu lihat tubuhnya? Apa salah satunya adalah mantan tunangan kamu itu?"
Naya pun langsung menatap sang kekasih tajam karena akhirnya dia menyadari arah ucapan Ardi pada saat itu
"Apa maksud kamu? Apa kamu pikir saya ini perempuan yang kurang kerjaan sampai harus melihat tubuh laki-laki lain?!! Cuma kamu satu-satunya laki-laki yang sudah saya lihat tubuhnya secara langsung." ucap Naya dengan tegas
Ardi pun langsung terdiam sambil mengerutkan keningnya
"Tunggu dulu, kenapa sekarang dia kelihatan marah? Yang seharusnya merasa jengkel saat ini adalah saya," batin Ardi
Naya terus menatap Ardi dengan tajam dengan ekspresi wajah yang sama, hal tersebut membuat Ardi memilih untuk mengalah dan membuang nafasnya dengan kasar
"Saya minta maaf ya kalau perkataan saya salah," ucap Ardi dengan lembut
"Kamu memang salah!! Maksud saya tadi saya sudah sering melihat tubuh para aktor dan rata-rata tubuh mereka sama seperti tubuh kamu," jelas Naya dengan tegas
Tak ingin memperpanjang masalah Ardi pun langsung merengkuh tubuh Naya dan menghadiahkan sebuah ciuman di ujung kepala Naya dengan lembut
__ADS_1
"Sekali lagi saya minta maaf ya"
Naya hanya menjawab dengan anggukan kepalanya di dalam pelukan sang kekasih
"Jadi tadi kamu mau membahas tentang apa?" tanya Ardi dengan lembut
Naya mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah sang kekasih
"Kenapa tadi saya melihat kalian posisi kamu seperti orang yang kalah telak dengan Rendi? bahkan lebam di wajah kamu bisa terlihat dengan jelas"
Ardi pun tersenyum tipis lalu mencium kening Naya dengan lembut
"Kalau dalam keadaan normal saya yakin saya bisa mengalahkan dia dengan mudah, tapi kalau sampai saya melakukan hal itu apa kamu ga akan merasa kecewa terhadap saya?" jelas Ardi dengan lembut
"Maksud kamu?" tanya Naya dengan wajah polosnya
Ardi pun semakin mengeratkan pelukannya
"Saya cuma ga mau kamu merasa sedih apalagi sampai membenci saya kalau saya menyakiti adik kesayangan kamu itu"
Naya pun langsung melepaskan tubuhnya dari pelukan sang kekasih lalu menatap sang kekasih dengan wajah serius
"Jadi kamu sengaja mengalah sama Rendi untuk saya?"
Ardi pun tersenyum hangat sambil menganggukkan sedikit kepalanya
"Saya lebih ikhlas di pukul anak itu daripada harus di benci oleh kamu Naya, karena saya ingin memiliki kamu seutuhnya bukan hanya sebatas tubuh kamu." batin Ardi
"Terima kasih ya, terima kasih karena kamu selalu memikirkan aku sebelum diri kamu sendiri." ucap Naya dengan tulus
Ardi yang merasa terkejut pun langsung memegang kedua lengan Naya dan menatap Naya dengan serius
"Kenapa?" tanya Naya dengan polosnya
Ardi pun tersenyum tipis
"Apa kamu ga sadar kalau tadi kamu ga menggunakan kata-kata yang terdengar terlalu formal lagi?" tanya Ardi dengan lembut
Naya yang merasa sedikit malu pun memilih untuk membenamkan wajahnya di dada bidang sang kekasih
"Aku rasa ga pantas kalau aku masih pakai kata saya sedangkan hubungan kita sudah sejauh ini," jelas Naya malu-malu
Ardi pun membalas pelukan Naya dan di akhiri dengan ciuman di ujung kepala Naya
"Tunggu sebentar ya," ucap Ardi
Arti pun segera bangkit dan mengambil sesuatu yang sudah siapkan sebelumnya, Ardi memberikan selembar kertas dan juga pena kepada Naya. Ardi juga memegang perlengkapan yang sama
"Ini untuk apa?" tanya Naya dengan polosnya
"Seperti yang kita bahas tadi, kamu harus menulis semua yang kamu inginkan dari aku di kertas itu. Kita akan membuat perjanjian yang resmi sebelum kita menikah"
"Apa harus seperti ini?" tanya Naya
__ADS_1
Ardi menganggukkan sedikit kepalanya sambil tersenyum
"Dengan begitu kita bisa sama-sama tau apa yang kita inginkan dari pasangan kita"
Naya pun mulai menuliskan beberapa hal yang dia inginkan dari sang kekasih, begitu juga Ardi dia terlihat mulai menulis sesuatu di atas kertas tersebut. Tak butuh waktu lama Ardi sudah selesai menulis apa yang dia inginkan dari Naya, sedangkan Naya masih sibuk memikirkan tentang banyak hal yang dia inginkan
"Sudah selesai?" tanya Ardi
Naya menganggukkan kepalanya dan Ardi terlihat menyodorkan tangannya, ternyata Naya menuliskan banyak hal di kertas tersebut. Di mulai dari Ardi yang tak boleh lagi bersikap dingin kepada siapapun terutama kepada dirinya, hingga Naya meminta Ardi untuk selalu menghargai dirinya sebagai seorang wanita dan tak boleh bersikap kasar di kemudian hari
"Cuma ini yang kamu inginkan dari saya?" tanya Ardi sambil tersenyum tipis
"Iya," jawab Naya dengan yakin
Terlihat Ardi mengambil sebuah pena yang berada di atas meja dan menambahkan sesuatu di atas kertas tersebut
"Itu kertas permintaan aku, kenapa kamu tulis sesuatu di situ?" tanya Naya dengan serius
Ardi pun menyodorkan kertas tersebut kepada Naya dan Naya langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna setelah membaca apa yang Ardi tuliskan di atas kertas tersebut
"Pihak pertama Ardiansyah Herlambang harus menyerahkan setengah dari kekayaan yang dia miliki jika terjadi perpisahan setelah menikah, apapun penyebab dari perpisahan tersebut." tulisan Ardi
"Apa maksud kamu?" tanya Naya dengan serius
"Kita ga pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan, aku hanya berusaha memberikan kamu jaminan untuk masa depan kamu kalau sampai hal tersebut benar-benar terjadi. Walaupun aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat kamu semakin mencintai aku di setiap harinya," jelas Ardi dengan lembut
Naya pun menjadi merona karena hal tersebut, untuk menutupi rasa malunya Naya pun membaca kertas yang berisikan permintaan Ardi
"Pihak kedua Naya Putri Widyaningsih harus berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kami dalam keadaan apapun," poin pertama
"Pihak kedua di minta untuk mencurahkan seluruh hatinya kepada pihak pertama," poin kedua
Perasaan malu sempat Naya rasakan langsung menghilang begitu saja setelah membaca permainan yang di tuliskan oleh Ardi, dia pun langsung memasang wajah malas
"Kenapa?"
"Permintaan kamu itu sedikit aneh, tanpa harus di minta setiap orang pasti akan melakukan hal itu kalau mereka sudah terikat pernikahan." jawab Naya dengan sedikit sinis
Ardi hanya terdiam sambil tersenyum tipis
"Apa ga ada hal lain yang mau kamu minta dari aku?" tanya Naya dengan wajah serius
Ardi pun menggelengkan kepalanya
"Cuma itu yang aku mau dari kamu," jawab Ardi dengan yakin
"Kalau begini kesannya aku seperti perempuan yang egois karena banyak permintaan sama kamu"
Ardi pun langsung memeluk tubuh Naya dengan erat
"Kamu ngomong apa sih? Kamu berhak mendapatkan apapun yang kamu inginkan karena kamu adalah perempuan terpenting di dalam hidup saya," ucap Ardi dengan lembut
Naya yang tersipu pun hanya bisa membenamkan wajahnya di dada bidang sang kekasih
__ADS_1