Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Gadis Pembawa Coklat


__ADS_3

Hari itu Ardi memutuskan untuk mengendarai mobil tersebut seorang diri, sedangkan Irvan dan yang lainnya mengiringi di belakang. Mama Renata dan Sarah berisitirahat terlebih dahulu sebelum menjalankan peran mereka di kota itu


"Apa kamu tempat pemakaman kedua orang tua aku?" tanya Naya sambil menatap sang kekasih


Ardi hanya melirik sekilas sambil tersenyum tipis


"Aish.. Jangan-jangan kamu sudah tau semua tentang aku.." ucap Naya dengan nada sedikit sinis


Ardi pun meletakkan tangannya di ujung kepala Naya


"Memang apa salahnya kalau calon suami kamu ini mengetahui semua tentang kamu, apa kamu lebih suka aku menjadi laki-laki yang ga tau apapun tentang kamu?"


Naya pun menatap wajah sang kekasih sambil tersenyum tipis


"Betapa beruntungnya aku memiliki laki-laki seperti kamu," batin Naya


Mereka pun mulai memasuki area pemakaman tersebut, tetapi sebenarnya ada sesuatu yang sedikit mengganjal di dalam hati Ardi pada saat itu. Ardi sendiri memilih untuk menutupi hal tersebut dan ingin memastikan terlebih dahulu


Begitu memasuki area pemakaman tersebut Ardi langsung menggenggam tangan Naya dan mengikuti langkah kaki Naya menuju ke tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya, begitu tiba di sana Ardi pun langsung menatap ke arah Naya dengan tatapan mata yang penuh arti


"Jadi anak itu kamu, jadi itu alasannya tubuh aku ga menolak kehadiran kamu sama sekali." batin Ardi dengan senyuman tipis


FLASH BACK


Seorang anak kecil laki-laki memilih untuk menyingkir secara diam-diam dari kerumunan orang saat jenazah sang papa akan di kebumikan, anak tersebut adalah seorang Ardiansyah Herlambang


Ardi pun mendudukkan tubuhnya di bawah sebuah pohon yang berada di area pemakaman tersebut, saat itu Ardi merasa bersalah kepada sang papa karena dia tak sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada siapapun. Ardi hanya memperhatikan kegiatan orang-orang tersebut dari kejauhan


"Apa aku masih pantas di sebut sebagai anak papa? Aku bahkan menutupi semua kesalahan mama dan membiarkan mama mengatakan hal yang tidak-tidak tentang papa kepada orang lain," batin Ardi kecil dengan mata yang mulai berkaca-kaca


Tiba-tiba saja


"Kenapa duduk di sini sendirian kak?" tanya seorang gadis yang lebih kecil dari Ardi


Ardi hanya terdiam dengan wajah dinginnya, tiba-tiba saja gadis kecil tersebut memberikan Ardi sebuah coklat yang berasal dari dalam sakunya. Dan gadis kecil tersebut adalah Naya


"Apa kamu mau kak?" tanya Naya sambil menyodorkan coklat tersebut


"Aku ga membutuhkan itu, sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang juga." jawab Ardi dengan dingin


Naya melepaskan senyuman yang hangat dan mendudukkan tubuhnya tepat di samping Ardi, Ardi pun langsung menatap Naya dengan tajam


"Aku minta kamu pergi!! Kenapa kamu malah duduk di sini?" tanya Ardi penuh penekanan


"Coklat ini aku dapat dari adik sepupu aku, dia bilang kalau perasaan kita sedang buruk makanan manis bisa memperbaiki suasana hati kita. Aku sudah berbaik hati memberikan coklat terakhir aku sama kamu kak, kenapa kamu malah bersikap kasar sama aku?" tanya Naya di akhiri dengan senyuman yang tulus


Ardi pun berdecak jengkel dan langsung memalingkan pandangan matanya menatap kembali ke kerumunan orang yang sedang mengurus kepergian sang papa ke tempat peristirahatan terakhirnya

__ADS_1


"Siapa yang meninggal kak?" tanya Naya


"Papa aku," jawab Ardi tanpa menoleh


"Apa mama kamu masih ada kak?"


Ardi hanya menjawab dengan anggukan kepalanya tanpa menoleh sama sekali, Naya pun mulai bangkit dari duduknya dan menarik salah satu tangan Ardi lalu meletakkan coklat tadi di tangan Ardi


"Apa-apaan sih kamu ini?!! Aku sudah bilang aku ga butuh di kasihani sama kamu!!" ucap Ardi penuh penekanan


"Aku kasih coklat itu ke kamu bukan karena aku merasa kasihan sama kamu kak, tapi aku merasa kalau perasaan kamu saat ini lebih buruk dari aku." jelas Naya dengan polosnya


Ardi pun langsung menarik tangannya hingga coklat yang berada di tangannya terjatuh


"Kamu bisa bilang seperti itu karena kamu ga ngerti dengan apa yang aku rasakan saat ini?!!" ucap Ardi sedikit berteriak


Naya pun mengambil coklat tersebut


"Maaf ya kalau aku semakin merusak suasana hati kamu kak, tapi aku mengerti kok kak rasanya di tinggal orang tua. Bahkan saat ini aku harus melepaskan kepergian kedua orang tua aku," ucap Naya dengan lirih


Deg..


Ardi pun langsung terlihat terpukul mendengar hal tersebut, dia tak bisa membayangkan gadis sekecil Naya harus melepaskan kepergian kedua orang tuanya untuk selamanya


"Maaf, aku ga tau." ucap Ardi dengan wajah menyesal


"Kak Naya di cariin sama mama"


Naya menganggukkan kepalanya dan langsung menatap ke arah Ardi dengan senyuman hangat


"Aku harus pergi sekarang kak"


Ardi hanya terdiam dan menatap Naya dengan lekat, Naya pun meletakkan coklat tersebut di dekat Ardi


"Anggap aja coklat ini sebagai permintaan maaf aku sama kamu kak, kalau kamu ga bisa terima coklat ini kamu bisa buang aja." ucap Naya di akhiri dengan senyuman


Naya pun langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Ardi dan langsung menghampiri Rendi, sedangkan Ardi masih tetap menatap Naya dengan lekat


"Kenapa aku jadi berharap anak itu bisa lebih lama berada di samping aku?" gumam Ardi


FLASH OFF


"Papa, mama aku datang bersama calon suami aku." ucap Naya sedikit lirih saat sudah berada di hadapan makam kedua orang tuanya


"Pak.. Bu.. Tolong berikan restu kalian kepada kami, saya berjanji mulai saat ini saya akan menggantikan tugas kalian untuk menjaga Naya dengan baik." ucap Ardi dengan bersungguh-sungguh


Naya pun langsung menatap sang kekasih dengan perasaan haru, cukup lama juga mereka berdua berada di tempat itu. Setelah merasa puas berada di tempat itu Naya pun langsung menatap sang kekasih

__ADS_1


"Pulang yuk"


"Apa kamu ga berniat untuk datang ke makam papa aku?" tanya Ardi lalu tersenyum tipis


"Aku baru mengajak kamu melakukan hal itu," jawab Naya


Ardi pun langsung menggenggam tangan Naya dan melangkahkan kakinya ke sebuah tempat, sedangkan Naya masih merasa bingung dengan keadaan yang ada


"Kita salah jalan, mobil kamu di parkir di sebelah sana." ucap Naya sambil menunjuk ke arah yang berlawanan


Ardi pun langsung menatap ke arah Naya dengan senyuman yang hangat


"Kita mau ke makam papa aku," jelas Ardi dengan lembut


Ardi pun memperkenalkan Naya sebagai calon istrinya di tempat peristirahatan terakhir sang papa, Ardi mulai membawa Naya untuk meninggalkan tempat itu setelah melakukan semua yang harus di lakukan. Tetapi tiba-tiba saja pandangan mata Naya tertuju ke arah sebuah pohon besar yang berada di tempat itu


"Ternyata pohon itu masih berada di sana," ucap Naya dengan suara pelan tapi tetap terdengar


"Apa pohon itu punya arti di dalam hidup kamu?" tanya Ardi


Naya pun tertawa geli dan membuat Ardi menatap dirinya dengan lekat


"Dulu waktu acara pemakaman kedua orang tua aku di sini, aku ketemu dengan anak yang galak di pohon itu." jelas Naya dengan polosnya kembali tertawa


Ardi pun mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Naya


"Sekarang anak galak itu akan menjadi calon suami kamu," bisik Ardi dengan lembut


Seketika Naya langsung menghentikan tawanya dan menatap sang kekasih dengan wajah serius


"Kamu..." ucap Naya


Ardi pun melepaskan senyuman yang terlihat hangat sambil menganggukkan sedikit kepalanya


"Kamu pasti bohong, rasanya ga mungkin ada kebetulan yang seperti ini." ucap Naya dengan ekspresi wajah yang terlihat sama


"Jadi kamu benar-benar sudah melupakan aku anak pembawa coklat?"


Ekspresi wajah terkejut Naya tak bisa dia tutupi pada saat itu


"Kamu benar-benar anak galak itu?"


Ardi pun langsung merengkuh tubuh Naya


"Mungkin dari awal kamu memang sudah di takdirkan untuk menjadi pendamping hidup aku, maaf karena aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyadari kalau itu adalah kamu." ucap Ardi dengan lembut dan di akhiri dengan ciuman di ujung kepala Naya


Naya pun membalas pelukan sang kekasih dengan hati yang bahagia

__ADS_1


__ADS_2