Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Kenangan Terindah


__ADS_3

Nico melepaskan senyuman terbaik yang dia miliki


"Kenapa lihat-lihat? apa kamu sedang mengagumi wajah kekasih kamu ini?" tanya Nico tanpa rasa malu sama sekali


Mila pun menunjukkan ekspresi wajah yang terlihat sedikit aneh, Nico yang lebih dewasa dari Mila memilih untuk tidak memperkeruh keadaan yang ada. Dia pun mencium kening Mila dengan lembut


"Saya tau kamu pasti merasa bingung dengan keadaan saat ini, tapi menurut saya sebaiknya kita jalani aja dulu secara perlahan." ucap Nico dengan lembut


Seketika wajah Mila menjadi merona karena merasa malu, dengan cepat Mila langsung melarikan diri ke dalam kamar mandi. Di bawah guyuran shower Mila berusaha untuk mengingat kembali semuanya dengan jelas tapi dia tetap tak bisa mengingat apapun


"Sepertinya aku harus mulai berhenti untuk minum-minum, supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi." batin Mila


Tetapi tiba-tiba saja semua kelakuan konyol Nico melintas di dalam benaknya


"Ga!! kalau pun aku mau mencari pasangan yang baru aku ga boleh pilih dia, bagaimana pun juga dia adalah kenangan terindah untuk kak Nilam." gumam Mila


FLASH BACK


Penyatuan dua keluarga besar pun terjadi di kota itu, yaitu pernikahan antara Nilam dan laki-laki pilihan sang papa. Acara tersebut di lakukan dengan sangat meriah dan yang gilanya adalah Nilam mengundang Nico untuk datang ke acara tersebut


Malam itu Nico yang merasa dunianya hancur meminta Ardi untuk menemani dirinya mengabiskan malam di sebuah bar, dengan setia Ardi mendengarkan semua curahan hati Nico. Sedari awal Ardi sudah mengetahui keadaan keluarga Nico dan sudah menawarkan bantuan, tapi saat itu Nico masih menolah hal tersebut dan Ardi memilih untuk menghargai keputusan Nico


"Apa tawaran dari lu masih berlaku?" tanya Nico


Ardi hanya terdiam dengan wajah datar seperti biasa


"Tolong bantu keluarga untuk bangkit lagi," lanjut Nico


"Lu tenang aja"


"Terima kasih," ucap Nico dengan tulus


Ardi menganggukkan sedikit kepalanya


"Mulai detik ini persetan dengan kata cinta, gw akan menikmati hidup ini dengan sebaik mungkin." lanjut Nico


Ternyata pernikahan Nilam harus berakhir setelah mereka memiliki satu orang anak, kata bahagia hanya ada di awal pernikahan mereka. Semakin lama sang suami mulai merasa tidak nyaman dengan kerasnya sikap Nilam, pertengkaran kecil selalu terjadi di keseharian mereka hingga akhirnya mereka sepakat untuk mengakhiri bahtera rumah tangga mereka


Nilam kembali ke kediaman orang tuanya dan membawa sang buah hati, di suatu malam Nilam menghampiri kamar Mila dan mereka pun banyak bercerita. Entah siapa yang memulai tiba-tiba saja Nico menjadi pembahasan mereka saat itu, Mila pun mengaku bahwa dia berada di sana saat terakhir sang kakak menemui Nico

__ADS_1


"Apa kamu dengar saran dari kak Nilam?"


Mila pun memperhatikan Nilam dengan lekat


"Kalau kamu mencari pasangan hidup carilah orang yang seperti Nico, semua sikap konyol dia bisa membuat kamu bahagia." ucap Nilam lalu tersenyum


"Apa kamu masih mengingat dia kak?" tanya Mila dengan serius


"Kalau kak Nilam bisa memutar waktu, apapun yang terjadi kakak ga akan pernah melepaskan Nico. Sampai kapanpun Nico akan menjadi kenangan terindah di dalam hidup kakak," jawab Nilam lirih


"Kenapa kamu ga cari dia kak? Sekarang kamu sudah sah bercerai, jadi ga ada salahnya kalau kamu coba temui dia"


Nilam pun menghembuskan nafasnya dengan kasar


"Kak Nilam ga punya keberanian untuk menemui dia setelah semua yang kakak lakukan sama dia," jelas Nilam lalu tersenyum getir


FLASH OFF


Cukup lama juga Mila berdiam diri di dalam kamar mandi untuk memarahi dirinya sendiri atas kebodohan yang telah dia lakukan, saat dia membuka pintu kamar mandi dia bisa mencium aroma makanan di dalam apartemennya. Mila pun melihat Nico sedang memasak sesuatu


"Apa dia pikir ini rumah dia? kenapa dia bisa sesantai itu masak di rumah orang lain?" gerutu Mila di dalam hatinya


"Sepertinya dia memang ga berbuat sampai sejauh itu, walaupun aku belum pernah melakukan itu tapi aku dengar seharusnya ada bercak darah yang tersisa. Tapi ini tempat tidur aku benar-benar bersih, kenapa sih aku harus selalu amnesia kalau mabuk berat?" gerutu Mila di dalam hatinya


Tok.. Tok.. Tok..


"Keluar, sarapan sudah jadi." ucap Nico di luar sana


"Saya ga lapar, kalau kamu mau makan ya makan aja. Setelah itu saya minta kamu untuk segera pergi dari sini," jawab Mila tegas


Nico pun menampilkan sebuah senyuman licik mendengar hal tersebut


"Jadi kamu berniat untuk kabur dari aku ya? Maaf karena aku ga akan membiarkan kamu lari setelah kamu menyiksa aku," batin Nico


"Kamu mau keluar sendiri, apa saya yang masuk ke dalam untuk menyelesaikan pr kita yang belum selesai?" ucap Nico dengan tegas


"Apa maksud dia? dasar laki-laki bajingan!! Dia berani mengancam aku di rumah aku sendiri?!!" gumam Mila sambil mengepalkan tangannya


Dengan santai Mila mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, tak lama kemudian terlihat gagang pintu bergerak tanda seseorang sedang berusaha untuk membuka dari luar. Mila pun tersenyum sinis melihat hal tersebut

__ADS_1


"Untung tadi pas masuk aku sudah kunci pintunya, jadi terserah dia mau berbuat apa di luar sana? aku tetap ga akan keluar dari kamar ini," gumam Mila lalu tersenyum sinis


"Aku hitung sampai tiga, kamu mau keluar atau saya dobrak pintunya?" tanya Nico penuh penekanan


Mila hanya terdiam sambil tersenyum sinis


"Satu..."


"Dua..."


"Tiga.."


Duak....


Terdengar suara hantaman untuk membuka paksa pintu tersebut, Mila pun langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Tapi lagi-lagi terdengar suara hantaman yang berusaha mendobrak pintu tersebut


"Berhenti!! kalau kamu ga berhenti!! sekarang juga aku akan telepon polisi!!" teriak Mila sekuat tenaga


"Bagaimana caranya kamu mau telepon polisi kalau tas kamu ada di ruang tamu? saya yakin handphone kamu pasti ada di dalam tas kamu," ucap Nico


Mila pun menjadi sedikit panik menyadari hal tersebut


"Sebaiknya kamu keluar sekarang juga dan jangan memaksa saya untuk menghancurkan pintu ini, kamu akan menyesal kalau saya berhasil masuk ke dalam." lanjut Nico dengan tegas


Mila pun terpaksa membuka pintu tersebut dengan wajah yang tidak bersahabat


"Apa kamu sudah gila?" tanya Mila penuh penekanan


"Jangan mempertanyakan kegilaan saya, karena saya bisa melakukan yang lebih gila lagi." jawab Nico lalu tersenyum tipis


Mila hanya bisa berdecak jengkel sedangkan Nico langsung melangkahkan kakinya ke arah meja makan tanpa rasa bersalah sama sekali


"Mau sampai kapan kamu berdiri di situ? cepat makan sarapan kamu," ucap Nico setelah mendudukkan tubuhnya


Mila melepaskan tatapan membunuhnya


"Sebenarnya apa yang kamu mau dari saya?" tanya Mila dengan tegas


Nico melepaskan senyuman terbaik yang dia miliki

__ADS_1


"Saya cuma mau kamu temani saya sarapan," jawab Nico


__ADS_2