Terjerat Cinta Sang Penguasa

Terjerat Cinta Sang Penguasa
Biarkan Mengalir Dengan Sendirinya


__ADS_3

Tanpa terasa mereka sudah berada cukup lama di tempat itu dan saling berbincang ringan, tetapi tiba-tiba saja ponsel Ardi pun mulai berdering. Ardi langsung memasang wajah malas saat melihat nama orang yang sedang menghubungi dirinya


"Kenapa ga di angkat?"


"Cuma orang ga penting"


Tetapi lagi-lagi ponsel Ardi kembali berdering dan membuat Ardi mendengus jengkel, Naya pun tersenyum tipis melihat hal tersebut dan entah mengapa timbul perasaan untuk berbuat usil di dalam hati Naya


"Kenapa ga di jawab teleponnya? mungkin aja itu telepon dari salah satu fans anda yang sedang merindukan anda," ucap Naya lalu tersenyum meledek


"Maksud kamu?"


"Apa anda takut membuat fans anda itu merasa kecewa karena saat ini anda sedang menemani saya?" tanya Naya dan lagi-lagi Naya menampilkan sebuah senyuman meledek


"Kamu ingat baik-baik perkataan saya, kamu adalah satu-satunya perempuan yang ada di samping saya." ucap Ardi dengan serius


Naya tak memberikan jawaban apapun dan hanya memberikan sebuah senyuman yang terlihat sama seperti sebelumnya, dengan wajah datarnya seorang Ardiansyah Herlambang menjawab panggilan telepon tersebut dan tak tanggung-tanggung Ardi pun langsung mengaktifkan speaker


"Ya"


"Lu ada di mana sih kampret?"


Naya pun membelalakkan kedua bola matanya mendengar ucapan orang di seberang sana, dia tidak akan menyangka ada seseorang yang berani berkata seperti itu kepada seorang Ardiansyah Herlambang


"Gw lagi ada urusan di luar, ada apa?"


"Dasar teman laknat!! jangan bilang lu lupa kalau hari ini hari ulang tahun gw!!" teriak Nico di seberang sana


"Gw ingat, kalau urusan gw sudah selesai gw akan langsung datang ke tempat lu"


"Ga bisa gitu dong, sekarang sudah jam berapa? pokoknya lu harus datang sekarang juga!!" ucap Nico penuh penekanan


"Sekarang gw belum bisa datang ke sana"


"Oke ga masalah, tapi lu juga jangan salahin gw kalau gw akan balas dendam sama lu. Pokoknya kalau dalam setengah jam lu masih belum sampai di sini, gw ga akan lagi menemani lu saat lu butuh gw." ucap Nico dengan tegas


Tanpa sadar Naya menahan tawanya mendengar kata-kata ambigu yang di katakan oleh Nico pada saat itu, pikiran Naya pun langsung melayang bebas pada saat itu. Sedangkan Ardi hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat Naya yang seperti itu

__ADS_1


"Gw tutup dulu teleponnya"


Ardi pun langsung memutuskan sambungan teleponnya dan langsung menatap ke arah Naya dengan serius, saat itu wajah Naya mulai semu merah karena berusaha kuat untuk menahan tawanya


"Apa ada yang lucu?" tanya Ardi dengan serius


"Jadi ucapan anda saat itu benar ya"


"Ucapan saya yang mana?"


"Yang anda bilang kalau anda tidak pernah berhubungan dengan perempuan," jawab Naya bersemangat


Dengan mudahnya Ardi bisa mengetahui jalan pikiran Naya pada saat itu


"Jadi kamu mau bilang kalau saya tidak pernah berhubungan dengan seorang perempuan karena saya suka dengan laki-laki"


Tanpa sadar Naya pun menjadi tertawa dengan lepas mendengar hal tersebut, sudah pasti harga diri seorang Ardiansyah Herlambang tidak bisa menerima hal tersebut begitu saja. Tetapi jauh di dalam hati Ardi merasakan bahagia karena melihat Naya sudah bisa tertawa dengan lepas


Ardi pun memegang kedua pipi Naya agar pandangan mata mereka bisa saling bertemu, sedangkan Naya secara spontan langsung mengehentikan tawanya


"Tapi kan laki-laki tadi yang bilang kalau terkadang dia menemani anda saat anda membutuhkan dia," ucap Naya sambil menahan tawanya


"Maksud ucapan dia adalah dia selalu menemani saya di hari ulang tahun saya," jelas Ardi


Naya hanya terdiam dengan senyuman yang terlihat sama, harga diri seorang Ardiansyah Herlambang pun memaksa dia untuk tidak tinggal diam dengan sikap Naya yang seperti itu. Dengan cepat Ardi langsung menarik tengkuk leher Naya dan mencium bibir Naya dengan lembut


Naya yang mendapatkan serangan mendadak hanya bisa terdiam membeku sambil membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna, Ardi pun mengakhiri ciuman tersebut dengan kecupan lembut di kening Naya


"Kalau ciuman saya belum bisa meyakinkan kamu, saya ga keberatan kalau kita harus mengulang kejadian di malam itu sekali lagi"


Naya yang mendapatkan kembali kesadarannya pun langsung menatap Ardi dengan tajam, sedangkan Ardi tetap dengan wajah datarnya


"Lain kali aku harus lebih berhati-hati kalau mau meledek dia, kalau hal seperti ini terulang lagi aku yang rugi sendiri." batin Naya


"Bagaimana? apa kita mau melakukan kejadian di malam itu sekali lagi?" tanya Ardi


"Apa anda sudah lupa dengan janji anda terhadap saya?" tanya Naya dengan tegas

__ADS_1


"Bukannya saat ini saya sedang meminta izin dari kamu dan semua keputusan anda di tangan kamu"


Naya pun langsung bangkit dari duduknya dengan wajah yang terlihat sedikit panik, dengan cepat Ardi langsung memegang salah satu tangan Naya


"Kamu mau pergi ke mana?"


"Ini sudah malam dan saya mau pulang," jawab Naya dengan cepat


"Jadi sekarang kamu mau melarikan diri?"


"Apa maksud anda?" tanya Naya dengan tegas


"Apa kamu tidak ada niat untuk membayar kebaikan yang baru saja saya lakukan terhadap kamu?"


"Kebaikan apa?" tanya Naya sambil mengerutkan keningnya


"Setidaknya saya sudah memberikan dada saya yang berharga ini saat tadi kamu menangis, saya juga sudah menemani kamu cukup lama di tempat ini"


Naya pun langsung berdecak jengkel dan langsung memasang wajah malasnya


"Anda memang pebisnis yang handal," ucap Naya dengan sinis


Ardi memberikan senyuman tipis lalu mulai bangkit dari duduknya


"Kamu bisa membayar kebaikan saya dengan menemani saya datang ke tempat itu, orang tadi adalah satu-satunya teman yang saya miliki. Setidaknya saya harus mulai memperkenalkan kamu sebagai pasangan saya di depan dia," jelas Ardi


Ekspresi wajah Naya saat itu terlihat bingung dan sedikit tertekan


"Tapi saya dan anda..."


Naya tak bisa melanjutkan kata-kata yang akan dia ucapkan karena tiba-tiba saja Ardi meletakkan tangannya di ujung kepala Naya dengan lembut


"Tidak perlu merasa terlalu terbebani, biarkan saja semua mengalir dengan sendirinya. Kamu cuma perlu menerima semua yang saya lakukan untuk kamu, saya tetap akan menunggu sampai hati kamu benar-benar siap untuk menerima keberadaan saya." jelas Ardi dengan lembut lalu tersenyum tipis


Deg.. Deg.. Deg..


Entah mengapa saat itu hati Naya berdetak jauh lebih cepat dari pada biasanya, saat itu Naya masih belum menyadari bahwa seorang Ardiansyah Herlambang bukan hanya sekedar mengisi kekosongan di dalam hatinya. Tetapi laki-laki tersebut mulai berhasil menempati salah satu tempat di dalam hati Naya

__ADS_1


__ADS_2