
Naya menjatuhkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tamu
"Bisa-bisanya dia datang menemui aku cuma untuk bicara omong kosong seperti itu," gumam Naya dengan wajah cemberut
Naya pun langsung menatap tajam ke arah pintu apartemen tersebut karena lagi-lagi bel di apartemen tersebut kembali berbunyi, dengan perasaan jengkel dia membuka pintu apartemen tersebut
"Aku sudah minta kamu untuk pergi dari sini!!" ucap Naya dengan sedikit berteriak
"Jadi kamu mengusir saya?" tanya Ardi dengan wajah dinginnya
Naya hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang sama
"Kamu mengabaikan semua panggilan telepon saya dan sekarang kamu mengusir saya?" tanya Ardi penuh penekanan
Naya pun memberikan senyuman yang terlihat sedikit sinis
"Saya punya hak untuk tidak menjawab panggilan telepon dari siapapun yang tidak saya inginkan," jawab Naya dengan tegas
Ardi tersenyum tipis melihat sikap Naya yang seperti itu
"Apa saat ini dia sedang marah karena gosip murahan itu?" batin Ardi
"Apa saya masih di izinkan untuk masuk ke dalam?" tanya Ardi
Lagi-lagi Naya memberikan sebuah senyuman yang terlihat sedikit sinis
"Saya tidak punya hak untuk melarang kamu melakukan apapun yang kamu inginkan di tempat ini, bagaimana pun juga semua yang berada di tempat ini adalah milik kamu"
"Satu-satunya yang berharga di tempat ini adalah kamu," batin Ardi sambil tersenyum tipis
Ardi pun mulai melangkahkan masuk ke dalam apartemen tersebut dan mendudukkan tubuhnya di ruang tamu, sedangkan Naya memilih untuk berdiri dengan ekspresi wajah yang sama. Ardi tersenyum tipis lalu menepuk bangku kosong yang berada tepat di sampingnya
"Duduk," ucap Ardi
"Saya lebih nyaman seperti ini"
Ardi pun membuang nafasnya dengan kasar
"Sebaiknya kamu duduk dan kita bahas semuanya baik-baik, jangan bersikap kekanak-kanakan seperti itu." ucap Ardi sambil menatap Naya dengan lekat
Naya pun mendudukkan tubuhnya walaupun tidak di samping Ardi, dia memilih untuk memberi sedikit jarak kepada laki-laki tersebut
__ADS_1
"Saya bisa jel..."
Ucapan Ardi langsung terhenti karena tiba-tiba saja Naya meletakkan jari telunjuknya di hadapan bibirnya
"Sebelum kamu mengatakan apapun saya akan berbicara lebih dulu," ucap Naya dengan tegas
"Kamu mau bilang apa?"
"Saya ingin kita mengakhiri hubungan kita sampai di sini," jawab Naya dengan wajah serius
Ekspresi wajah Ardi saat itu menunjukkan dengan jelas apa yang sedang dia rasakan pada saat itu, yang pasti hati Ardi saat itu terasa terbakar oleh sebuah perasaan amarah
"Semalaman penuh saya sudah memikirkan ini semua baik-baik dan saya rasa itu adalah pilihan terbaik yang saya miliki saat ini," lanjut Naya
Ardi pun tersenyum dingin khas dirinya dengan aura yang sangat menakutkan, Naya tak bisa berbohong bahwa saat itu hatinya merasa ketakutan dengan itu semua tapi dia juga meyakinkan hatinya untuk berani
"Apa alasannya? Kalau cuma karena artikel itu saya bisa jelaskan sama kamu," ucap Ardi dengan dingin
"Artikel itu hanya salah satu alasan yang membuat saya semakin yakin untuk mengambil langkah ini, tapi yang terpenting saya dan kamu ga mungkin bisa melalui hubungan ini dengan baik." jelas Naya
Saat itu Naya menggenggam erat tangan agar memiliki kekuatan untuk mengatasi rasa takutnya, sedangkan Ardi tertawa dingin dan membuat perasaan takut semakin menyelimuti hati Naya
"Sekarang bukan saatnya kamu menjadi lemah Naya, kamu harus berani demi mempertahankan anak dalam kandungan kamu." batin Naya
Ardi pun mulai bangkit dari duduknya dan mulai mendekat ke arah Naya dengan senyuman dinginnya
"Apa alasan kamu bisa berkata seperti tadi?" tanya Ardi
"Salah satunya kamu bilang kamu tidak ingin cepat-cepat memiliki anak, sedangkan saya sudah cukup dewasa dan ingin segera memiliki momongan." jelas Naya dengan suara yang bergetar
Ardi pun tersenyum dingin mendengar hal tersebut, tanpa banyak bicara Ardi langsung menarik tangan Naya dan masuk ke dalam kamar. Ardi pun menghempaskan tubuh Naya ke atas tempat tidur, Naya yang merasa tidak terima pun segera bangkit dengan wajah tak bersahabat
"Apa yang mau kamu lakukan?!! Apa kamu pikir saya mainan kamu yang bisa kamu perlakukan sesuka hati kamu?!!" teriak Naya
"Bukannya tadi kamu bilang kamu ingin cepat punya anak? Jadi saya hanya berniat untuk mengabulkan hal tersebut," jelas Ardi dengan dingin
"Astaga!! Aku terlalu nyaman berada di samping dia sampai lupa kalau dia bisa berbuat apapun yang dia inginkan, ga!! Aku ga boleh diam aja, aku ga mau sesuatu yang buruk menimpa anak aku." batin Naya
Naya pun mencoba untuk keluar dari dalam kamar tersebut, dengan cepat Ardi menangkap tubuh Naya dan menghempaskan tubuh Naya sekali lagi ke atas tempat tidur. Ardi pun langsung naik ke atas tempat tidur dan mengunci semua pergerakan tubuh Naya pada saat itu
"Lepasin!!" teriak Naya
__ADS_1
"Kalau kamu tidak bisa di ajak bicara baik-baik maka saya akan menggunakan cara saya," ucap Ardi lalu tersenyum dingin
Deg..
Naya pun mencoba meronta sekuat tenaga
Plak..
Tanpa sadar Naya melayangkan tangannya ke pipi seorang Ardiansyah Herlambang, Ardi pun langsung menatap Naya dengan tajam
"Kamu berani menampar saya?"
Ardi yang terbakar api amarah pun langsung melepaskan dasi yang dia gunakan pada saat itu dan dia pakai untuk mengikat kedua tangan Naya
"Sampai kapanpun saya tidak akan pernah membiarkan kamu pergi meninggalkan saya, kamu ingin anak maka saya akan memberikan kamu anak." batin Ardi
Ardi mulai melancarkan semua aksinya dan Naya hanya bisa menangis sambil terus berusaha untuk melepaskan diri, sudah pasti itu semua tidak akan membuahkan hasil apapun karena perbedaan kekuatan di antara mereka berdua sangatlah jauh
Ardi yang terbakar amarah seolah tidak mau perduli dengan air mata Naya pada saat itu
"Lepas.. Tolong perut aku sakit.." ucap Naya lirih
Ardi pun langsung mengehentikan semua aksinya mendengar hal tersebut, dia pun menjadi sedikit panik saat melihat ekspresi wajah Naya yang sedang menahan rasa sakit
"Kamu kenapa?" tanya Ardi
"Perut aku benar-benar sakit.."
Dengan cepat Ardi langsung melepaskan ikatan tangan Naya dan mencari keberadaan ponselnya
"Siapkan mobil sekarang juga!!" teriak Ardi
"Baik tuan muda"
Ardi langsung mengangkat tubuh Naya dan membawa Naya keluar dari tempat itu, saat berada di lift Ardi menatap wajah Naya yang terlihat tersiksa
"Tahan ya, saya akan membawa kamu ke rumah sakit." ucap Ardi dengan wajah cemas
"Saya bersumpah akan membenci kamu seumur hidup saya kalau terjadi sesuatu dengan anak saya," ancam Naya sambil menahan rasa sakit yang sedang dia rasakan
Ardi pun harus menerima kabar tersebut dengan hati yang tak menentu, kesalahan pahaman di antara mereka membuat permasalahan yang hadir di antara mereka menjadi sedikit rumit
__ADS_1