
Aura dingin yang Ardi pancarkan pada saat itu langsung menyelimuti area sekitar, Naya yang hatinya sedang tak menentu pun langsung menarik paksa tangannya dan langsung menatap ke arah Ardi dengan tajam
"Apa kamu benar-benar sedang menguji kesabaran saya?" tanya Ardi dengan dingin
"Apa anda pikir saya akan merasa takut dengan anda? apa hak anda untuk selalu mengancam saya? anda harus ingat kalau kita tidak terikat dalam hubungan apapun," ucap Naya dengan tegas
Naya benar-benar tidak mengetahui bahwa orang berada di hadapannya saat itu adalah sosok yang menakutkan, dia tidak sadar bahwa saat itu dia sedang memancing seorang iblis yang sedang tertidur
"Sepertinya saya terlalu memanjakan kamu," ucap Ardi lalu tersenyum dingin
Brek...
Suara pakaian Naya yang terkoyak karena ulah Ardi saat itu, Naya pun hanya bisa terdiam membeku karena hal tersebut. Dengan cepat Ardi langsung menarik kaki Naya ke atas bangku dan membuat tubuh Naya menjadi berbaring di atas bangku
Naya yang merasa tidak terima pun mencoba meronta untuk melepaskan diri dari keadaan tersebut, Ardi langsung menangkap kedua tangan Naya dan menahan kedua tangan Naya di atas kepalanya dengan menggunakan satu tangannya
"Lepasin saya bajingan!!" teriak Naya sekuat tenaga
"Bajingan?" ucap Ardi lalu tersenyum dingin
Sekali ini hati Naya benar-benar merasa ketakutan saat melihat senyuman seorang Ardiansyah Herlambang, Ardi pun mulai mencium leher Naya dengan cara yang sedikit kasar. Ardi juga meninggalkan jejak kepemilikannya di leher putih Naya
"Apa dia benar-benar akan melakukan hal itu di tempat ini? apa dia benar-benar akan menghancurkan harga diri aku sampai tidak tersisa?" batin Naya
Ardi pun menatap wajah Naya sekali lagi dengan senyuman dinginnya
"Saya akan menunjukkan ke kamu yang di sebut dengan bajingan"
Ardi mulai melanjutkan aksinya dengan cara yang kasar pada bagian leher Naya, semakin lama dia pun semakin turun ke arah bawah. Tubuh Naya pun mulai bergetar dengan hebat karena tangisan dan juga perasaan takut yang menyelimuti hatinya
__ADS_1
Ardi mengetahui bahwa saat itu tubuh Naya sudah bergetar dengan hebat tapi dia memilih untuk mengabaikan hal tersebut, saat itu Ardi merasa bahwa dia harus memberikan Naya sebuah pembelajaran dengan jelas. Ardi hanya tidak mau di kemudian hari Naya akan bersikap seperti itu lagi
"Apa mempermainkan hati saya adalah sesuatu yang menarik bagi kalian?" tanya Naya dengan lirih
Ardi pun menghentikan aksinya dan menatap wajah Naya
Degh...
Entah mengapa saat itu hati Ardi terasa sangat sakit saat melihat air mata Naya yang sudah mengalir dengan hebat, dalam sekejap semua amarah yang menguasai hati Ardi langsung menghilang entah kemana
Ardi pun mulai melepaskan tangan Naya dan mulai mendudukkan tubuhnya dengan benar, sedangkan Naya hanya bisa meringkuk dan menangis dengan hebat. Ardi pun mengirimkan sebuah pesan singkat dan tak lama kemudian
Tok.. Tok.. Tok..
Ardi membuka sedikit kaca mobilnya dan mengambil sebuah sweater yang di berikan oleh Irvan, ternyata Ardi meminta di ambilkan salah satu sweater miliknya yang berada di mobil lain. Ardi pun meletakkan sweater tersebut di atas tubuh Naya, dia pun menghembuskan nafasnya dengan kasar
Naya hanya terdiam dengan tangisan yang semakin hebat, untuk pertama kalinya seorang Ardiansyah Herlambang merasa menyesal dengan sesuatu yang telah dia lakukan. Ardi hanya terdiam dan menunggu hingga Naya terlihat mulai tenang
Ardi pun mulai memegang salah satu tangan Naya untuk membantu dia bangkit, tapi Naya yang masih merasa kecewa tanpa sadar menepis tangan laki-laki tersebut
"Berhenti untuk menunjukkan perlawanan di hadapan saya," ucap Ardi dengan tegas
Naya yang tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi langsung mendudukkan tubuhnya dengan sempurna, Ardi pun mulai memakaikan sweater miliknya pada tubuh Naya. Naya pun hanya bisa pasrah karena dia menyadari bahwa tidak mungkin dia akan berpenampilan seperti itu
Ardi pun tersenyum puas, tapi tiba-tiba saja Ardi mulai menarik tangan Naya dan membuat tubuh mungil Naya berada di atas pangkuannya dengan posisi menyamping
Naya merasa sedikit tidak nyaman dengan posisi yang seperti itu, dia pun mencoba untuk bangkit tapi hasilnya hanya sia-sia karena kedua tangan kekar Ardi langsung menahan pinggang Naya
"Tolong lepaskan tangan anda karena saya bisa duduk sendiri," ucap Naya dengan berhati-hati sambil berusaha melepaskan tangan Ardi di pinggangnya
__ADS_1
Tiba-tiba saja Ardi mencium pipi Naya dengan lembut dan membuat Naya membelalakkan matanya, Naya pun langsung menoleh ke arah Ardi
"Saya minta maaf sama kamu ya, sepertinya sikap saya tadi sedikit berlebihan sama kamu." ucap Ardi dengan lembut
"Saya sudah memaafkan kesalahan kamu, apa sekarang saya sudah bisa duduk sendiri?"
Ardi pun menggelengkan kepalanya
"Anggap aja saat ini saya sedang menembus kesalahan saya terhadap kamu," jawab Ardi dengan lembut
"Tapi ga perlu dengan cara seperti ini, kalau seperti ini say...."
Ucapan yang akan Naya katakan langsung terpotong karena tiba-tiba saja Ardi menarik kepala Naya agar Naya bisa bersandar di dada bidangnya
"Demi kamu saya akan berusaha untuk merubah sikap saya sedikit demi sedikit, saya juga akan berusaha keras untuk membuat kamu merasa nyaman berada di dekat saya. Tapi kamu di larang untuk mengucapkan kalau kita tidak memiliki hubungan apapun," ucap Ardi dengan lembut
"Tapi..."
Lagi-lagi Naya tidak bisa menyelesaikan kata-kata yang akan dia ucapkan pada saat itu karena tiba-tiba saja Ardi mencium ujung kepala Naya dengan lembut
"Untuk saat ini saya ga akan menuntut apapun dari kamu, kamu cukup menerima semua yang saya berikan untuk kamu. Saya akan menunggu sampai hati kamu siap untuk menerima saya," ucap Ardi dengan lembut
Entah mengapa kehampaan di dalam hati Naya sedikit berkurang dengan sikap Ardi tunjukkan pada saat itu, Ardi pun mulai menurunkan sedikit kaca mobilnya
"Ayo"
Irvan dan sang supir pun segera bergegas masuk ke dalam mobil tersebut, Naya pun merasa semakin tidak nyaman dengan posisi duduknya yang seperti itu. Apalagi saat itu sudah ada orang lain di dalam mobil tersebut
Naya pun mencoba untuk melepaskan tangan Ardi sekali lagi, tetapi usaha Naya hanya berakhir dengan sia-sia karena laki-laki tersebut tidak ingin melepaskan tubuh Naya sama sekali. Naya pun hanya bisa pasrah dan membenamkan wajahnya untuk mengurangi perasaan malu yang sedang dia rasakan saat itu
__ADS_1