
Naya berusaha sekuat tenaga untuk menutupi apa yang sedang dia rasakan pada saat itu, dia pun memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka pada saat itu
"Berapa lama kamu ada di sana?" tanya Naya
"Sepertinya permasalahan di sini cukup rumit, kalau saya bekerja keras kemungkinan minggu depan saya sudah bisa pulang." jelas Ardi
"Jadi paling cepat kamu baru bisa pulang minggu depan?" tanya Naya dengan nada lirih
Ardi pun tersenyum tipis
"Apa kamu ga bisa menahan perasaan kangen kamu sama saya? Kalau memang benar saya bisa mengirimkan orang untuk membawa kamu ke tempat ini," ucap Ardi dengan lembut
"Saya rasa ga perlu sampai seperti itu, kehadiran saya di sana pasti akan menganggu pekerjaan kamu." jawab Naya dengan cepat
"Itu pasti, karena saya pasti akan lebih sibuk dengan kamu dari pada pekerjaan saya di sini"
"Dia bilang dia satu minggu ada di sana, kenapa harus bertepatan dengan waktu yang di berikan sama aku? Kalau aku memilih untuk mundur, berarti aku ga bisa melihat dia untuk terakhir kalinya." batin Naya
Tanpa sadar air mata Naya terjatuh dengan sendirinya dan Ardi pun segera menyadari hal tersebut
"Kenapa kamu nangis?" tanya Ardi
"Maaf, seharusnya saya ga boleh seperti ini." jawab Naya dengan suara yang terputus-putus tertahan oleh tangisan
"Ada masalah apa? kamu itu sekarang kekasih saya, kamu bisa cerita ke saya kalau kamu ada masalah." bujuk Ardi
Saat itu Ardi hanya ingin Naya bercerita tentang sang mama dengan sendirinya, tapi sudah pasti Naya tidak mungkin melakukan hal tersebut
"Sebenarnya beberapa hari lagi adalah hari ulang tahun saya, saya pikir saya bisa merayakan berdua sama kamu." jelas Naya lirih
"Saya minta maaf ya, saya janji kita akan melakukan apapun yang kamu inginkan setelah saya pulang." ucap Ardi dengan lembut
Naya pun terpaksa berpura-pura untuk setuju dengan hal tersebut agar tidak membuat Ardi merasa curiga, kedua orang tersebut memilih untuk saling berbohong dengan tujuan mereka masing-masing
Di tempat yang berbeda Mila sedang berusaha untuk mengusir Nico dari apartemennya, tapi Nico seolah tidak perduli dan terlihat nyaman berada di tempat itu. Di tengah kicauan Mila yang tanpa henti tiba-tiba saja bel apartemen tersebut berbunyi
Mila pun langsung memasang wajah serius setelah dia membuka pintu apartemen tersebut, ternyata saat itu sang kekasih hati adalah orang yang datang ke tempat itu. Laki-laki tersebut berusaha untuk masuk ke dalam apartemen Mila seperti biasanya, tapi dengan cepat Mila langsung menghalangi laki-laki tersebut
__ADS_1
"Kenapa aku ga boleh masuk sayang?"
Mila pun menampilkan sebuah senyuman yang terlihat sedikit sinis
"Seharusnya aku yang tanya sama kamu, mau apa lagi kamu datang ke tempat ini?" tanya Mila dengan tegas
"Kamu ngomong apa sih sayang? Kok pertanyaan kamu aneh begitu? Aku datang ke tempat ini karena khawatir dengan keadaan kamu sayang, dari tadi malam aku coba hubungi handphone kamu tapi ga aktif terus." jelas laki-laki tersebut
Mila pun berdecak dengan wajah kurang bersahabat
"Buat apa kamu telepon aku?"
"Kamu kenapa sih sayang? Kenapa dari tadi semua pertanyaan kamu itu aneh?"
"Apanya yang aneh? aku cuma tanya, buat apa kamu telepon aku?" tanya Mila penuh penekanan
"Buat tau kabar kamu dong, aku langsung menghubungi kamu begitu aku selesai lembur." jelas laki-laki tersebut
Mila pun menampilkan sebuah senyuman yang terlihat sinis
Deg....
Seketika wajah laki-laki tersebut terlihat pucat dan kebingungan, laki-laki tersebut akhirnya menyadari penyebab perubahan sikap Mila kepada dirinya. Laki-laki tersebut pun langsung memasang wajah memelas
"Kamu jangan salah paham dulu sayang, aku bisa jelasin semuanya sama kamu. Aku sama perempuan itu cuma sebatas teman kok"
Lagi-lagi Mila menampilkan sebuah senyuman yang terlihat sinis
"Apa kamu pikir aku perempuan bodoh yang ga bisa membedakan? Apa wajar kalau cuma teman keluar dengan bergandengan tangan?"
Laki-laki tersebut pun langsung menundukkan kepalanya karena dia menyadari bahwa dia sudah tidak bisa lagi mengelak
"Aku minta maaf sama kamu ya sayang, aku benar-benar khilaf. Aku janji aku ga akan lagi melakukan hal seperti itu di belakang kamu," ucap laki-laki tersebut lirih
Mila hanya bisa terdiam dan berusaha untuk menguatkan hatinya, saat itu Mila tidak ingin menjatuhkan air mata di hadapan laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut mulai menatap ke arah Mila dengan wajah penuh penyesalan
"Tolong kasih aku kesempatan kedua sayang, aku ga mau kehilangan kamu karena aku benar-benar mencintai kamu"
__ADS_1
Untuk sesaat hati Mila menjadi goyah dan ingin memberikan kesempatan kedua kepada laki-laki tersebut, tetapi tiba-tiba saja ada sebuah tangan merangkul pinggang Mila
"Siapa yang datang sayang?" tanya Nico lalu tersenyum tipis
Mila pun terperanjat hingga melupakan semua yang sedang di rasakan pada saat itu, Mila berusaha melepaskan tangan Nico tapi Nico tak ada niat untuk melepaskan pinggang gadis tersebut. Sedangkan laki-laki yang berada di hadapan mereka langsung memasang wajah kurang bersahabat
"Siapa laki-laki ini Mil? kenapa dia bisa ada di dalam apartemen kamu?" tanya laki-laki tersebut penuh penekanan
Nico pun mulai menatap ke arah laki-laki tersebut dan coba memperhatikan wajah laki-laki tersebut dengan seksama, Nico pun melepaskan sebuah senyuman yang penuh arti
"Awalnya saya berniat mundur kalau anak ini masih mencintai kamu, tapi sekarang saya ga akan melepaskan anak ini untuk laki-laki seperti kamu." batin Nico
"Jawab aku Mila!! Siapa laki-laki ini?!!" teriak laki-laki tersebut
Mila pun mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa frustasi dengan keadaan yang ada saat itu, tetapi tiba-tiba saja Nico mencium ujung kepala Mila dengan lembut
"Saya ini pacar baru Mila, saya minta mulai sekarang kamu berhenti untuk mengganggu Mila." ucap Nico dengan tegas
Mila hanya bisa terdiam dan pasrah dengan semua yang sedang terjadi pada saat itu
"Pacar apa?!! saya pacar Mila!!" teriak laki-laki tersebut tidak terima
"Apa kamu ga punya malu? kamu masih menganggap bahwa kamu adalah pacar Mila setelah kamu banyak melakukan hal kotor di belakang dia?" tanya Nico dengan sinis
Laki-laki tersebut semakin merasa tidak terima dan langsung memegang salah satu tangan Mila dengan erat
"Aku sudah mengaku salah, tapi apa-apaan semua ini?!!" tanya laki-laki tersebut penuh penekanan
Nico pun memegang tangan laki-laki tersebut dengan sangat erat hingga laki-laki tersebut melepaskan tangan Mila sambil meringis, Nico pun langsung menghempaskan tangan laki-laki tersebut dengan wajah seriusnya
"Apa kamu pikir laki-laki seperti kamu pantas untuk Mila? Apa kamu ga bisa mengingat wajah saya dengan baik?"
Laki-laki tersebut akhirnya mencoba memperhatikan wajah Nico dengan seksama
"Kamu"
Nico hanya terdiam dan tersenyum penuh arti
__ADS_1