
Ardi pun tersenyum tipis di seberang sana karena membayangkan wajah panik Naya pada saat itu, sedangkan Irvan dan sang supir hanya bisa saling pandang dalam diam melihat tingkah laku sang gunung es yang mencair
"Apa anda ga punya rasa malu sama sekali? kenapa anda selalu berbicara tentang hal-hal seperti itu? padahal saya yakin pasti saat ini di dekat anda ada orang lain, anda itu seperti seseorang yang berotak mes...." ucap Naya dengan volume suara yang kuat
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ardi dengan lembut
Naya pun langsung menghentikan kicauannya saat mendengar pertanyaan yang Ardi berikan pada saat itu
"Apa maksud anda?" tanya Naya lirih
"Apapun yang terjadi jangan pernah menjatuhkan air mata kamu di hadapan orang lain, sekarang ada saya yang akan selalu berdiri di samping kamu dan selalu mendukung kamu." jawab Ardi dengan lembut
Naya sendiri tidak tau apa yang terjadi dengan hatinya pada saat itu, tetapi yang pasti Naya langsung menjatuhkan air matanya mendengar kata-kata tersebut
FLASH BACK
Ardi baru saja masuk ke dalam mobilnya setelah meninggalkan Naya di dalam apartemennya
"Bagaimana?" tanya Ardi dengan dingin
Irvan yang sudah lama mengikuti seorang Ardiansyah Herlambang bisa langsung mengerti keinginan sang tuan muda hanya dengan sebuah kata
"Farhan Pramono tuan muda"
Ternyata saat Ardi mengirimkan pesan singkat untuk mengambil sweater miliknya di mobil yang lain, dia juga memerintahkan untuk mencari tau siapa orang yang sedang di hindari oleh Naya pada saat itu
"Bukankah itu nama kekasih Naya?" batin Ardi
"Alasannya?"
"Menurut informasi yang kami dapatkan terjadi pertengkaran di apartemen Farhan Pramono pada malam itu tuan muda, hal tersebut terjadi karena nona Naya menemukan ada perempuan lain di dalam apartemen Farhan Pramono." jelas Irvan
Ardi pun tersenyum dingin
"Dasar laki-laki sampah," ucap Ardi dengan dingin
__ADS_1
"Em...."
Irvan tampak sedikit ragu untuk menyampaikan apa yang ingin dia katakan pada saat itu
"Ada apa?"
"Perempuan yang ada di dalam apartemen Farhan Pramono pada malam itu bernama Laura tuan muda," jawab Irvan
"Kalau tidak salah Laura itu nama sepupunya Naya," batin Ardi
"Jadi maksud kamu?"
"Perempuan yang di temukan nona Naya di dalam apartemen Farhan Pramono adalah sepupunya sendiri tuan muda," jelas Irvan
Dalam sekejap aura dingin langsung menyebar di dalam mobil tersebut, baik Irvan maupun sang supir yang sudah lama mengikuti seorang Ardiansyah Herlambang bisa mengetahui hal tersebut dengan mudah
"Dasar manusia-manusia sampah!! apa sebaiknya aku habisi saja mereka berdua? dengan begitu aku bisa membalaskan rasa sakit di dalam hati Naya," batin Ardi
"Sepertinya itu juga alasan nona Naya bisa bertemu dengan kita tadi malam tuan muda, dari penyelidikan yang kami lakukan selama ini nona Naya tidak pernah menginjakkan kakinya ke tempat seperti itu." jelas Irvan
Irvan dengan sengaja mengatakan hal tersebut untuk menghentikan hal gila yang sedang melayang bebas di dalam benak seorang Ardiansyah Herlambang pada saat itu, Irvan hanya tidak ingin hubungan antara Ardi dan Naya akan menjadi rumit jika Ardi melakukan sesuatu yang di luar batas
"Perintahkan orang kita untuk selalu mengawasi handphone perempuan itu, beri tahu saya saat perempuan itu mulai menghidupkan handphonenya"
"Baik tuan muda"
FLASH OFF
"Terima kasih," ucap Naya dengan lirih
Ardi pun menghembuskan nafasnya dengan kasar karena dia merasa hampir gila saat mendengar suara Naya yang seperti itu, rasanya ingin sekali dia memerintahkan mobil tersebut untuk berhenti dan kembali ke sisi Naya agar bisa menemani Naya. Tapi sudah pasti Ardi tidak bisa melakukan hal tersebut
"Kalau kamu memang mau menangis kamu boleh menangis, tapi cuma saya yang boleh mendengar tangisan kamu. Saya hanya tidak ingin ada orang yang menilai kamu sebagai orang yang lemah, wanita Ardiansyah Herlambang tidak boleh di rendahkan oleh orang lain." ucap Ardi dengan serius
Seketika tangisan Naya pun menjadi pecah, sedangkan Ardi dengan setia hanya terdiam dan mendengarkan tangisan Naya. Seorang Ardiansyah Herlambang saat itu benar-benar merasa tersiksa menahan diri agar tak membuat kepustakaan kembali ke sisi Naya, setelah cukup lama akhirnya Naya pun mulai terdengar tenang
__ADS_1
"Maaf, seharusnya anda tidak perlu mendengarkan tangisan saya." ucap Naya dengan suara yang terputus-putus
"Seharusnya saya meminta maaf sama kamu karena saya ga bisa menemani kamu saat kamu menangis, setelah urusan saya selesai saya akan secepatnya pulang dan menemani kamu melakukan apapun yang ingin kamu lakukan." ucap Ardi dengan lembut
"Terima kasih untuk semua kebaikan anda," ucap Naya dengan tulus
"Apa saya boleh meminta sesuatu dari kamu?" tanya Ardi dengan nada suara yang terdengar serius
"Anda mau meminta apa dari saya?"
"Mulai sekarang jangan menginjakkan kaki kamu ke tempat hiburan malam lagi, apalagi kalau kamu pergi ke tempat itu seorang diri." ucap Ardi dengan tegas
"Saya mengerti," ucap Naya sambil tersenyum tipis
"Apa kamu tau alasan saya meminta hal itu dari kamu?"
"Agar saya tidak terjatuh di lubang yang sama seperti tadi malam," jawab Naya
"Kamu salah"
"Salah?" tanya Naya sambil mengerutkan keningnya
"Karena saat kamu kehilangan kendali kamu banyak melakukan hal gila," ucap Ardi
Naya pun hanya bisa terdiam dengan wajah malasnya
"Dan kamu hanya boleh melakukan semua hal gila itu bersama saya," lanjut Ardi dengan lembut
"Akh!! apa kepala anda isinya cuma hal-hal kotor?!!" teriak Naya di seberang sana
Ardi pun tertawa lepas
"Syukurlah, sepertinya keadaan dia sudah membaik." batin Ardi
Sepanjang perjalanan tersebut Ardi terus mengajak Naya berbincang banyak hal, di sela percakapan mereka sesekali Ardi melemparkan kata-kata konyolnya. Naya pun selalu di buat menjadi panik saat Ardi mengatakan kata-kata konyolnya, tanpa sadar di seberang sana Naya akan berteriak dan memarahi laki-laki tersebut
__ADS_1
Ardi pun mulai mengehentikan percakapan mereka setelah dia tiba di bandara dan bersiap untuk masuk ke dalam pesawat pribadinya, sesuatu yang sedikit aneh pun terjadi saat Ardi sudah memutuskan sambungan teleponnya karena tiba-tiba saja Naya tersenyum tipis
"Aneh!! ini semua benar-benar terasa aneh!! laki-laki dingin dan kasar itu yang menghibur hati aku di saat keadaan aku sedang seperti ini, yang lebih aneh lagi adalah sekarang aku merasa keadaan hati aku semakin membaik. Mungkin ini saatnya aku melanjutkan hidup aku dengan baik," batin Naya