
Iring-iringan mobil mewah tersebut memasuki sebuah gerbang yang terlihat sangat kokoh, bahkan untuk mencapai ke rumah utama di tempat itu masih harus melewati sebuah taman yang sangat luas. Tanpa sadar Naya langsung menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah sedikit tertekan
"Aku memang sudah mencari tau tentang dia dari berbagai artikel yang membahas tentang dia, tapi melihat rumah dia benar-benar membuat aku menyadari perbedaan di antara kami berdua. Apa aku pantas untuk berada di samping dia?" batin Naya
Saat Ardi sudah mulai menghentikan mobil tersebut dia pun mulai menatap ke arah Naya
"Kamu kenapa?" tanya Ardi
Ardi merasa sedikit bingung karena ekspresi wajah Naya tunjukkan pada saat itu, Naya pun mulai menatap wajah sang kekasih dengan ekspresi wajah yang sama
"Ini benar-benar rumah kamu?"
Ardi menganggukkan sedikit kepalanya
"Sampai kemarin ini memang masih rumah saya," jawab Ardi
Kini Naya tak lagi merasa tertekan melainkan merasa sedikit bingung dengan jawaban sang kekasih
"Maksud kamu?" tanya Naya
"Mulai saat ini rumah ini bukan lagi rumah saya tapi sudah berubah menjadi rumah kita"
Naya pun langsung memasang wajah malas mendengar hal tersebut, Ardi mulai bersiap untuk turun dari mobil tersebut dan tiba-tiba saja Naya langsung menggenggam tangan sang kekasih
"Ada apa?" tanya Ardi sambil menatap Naya
"Boleh ga kalau saya tetap tinggal di apartemen yang kemarin aja?"
"Kenapa? Kalau di sini akan ada banyak orang yang bisa menjaga kamu dengan baik"
Naya pun mendudukkan kepalanya masih dengan ekspresi wajah yang sama
"Saya merasa sedikit malu untuk tinggal di rumah ini," jelas Naya
Ardi seolah bisa memahami perasaan Naya pada saat itu dan mem memegang kedua pipi Naya agar pandangan mata mereka bisa saling bertemu, Ardi pun tersenyum hangat agar bisa menenangkan hati Naya
"Maaf karena saya ga mungkin mengabulkan permintaan kamu yang satu itu, saya hanya ingin kamu dan calon anak kita mendapatkan semua yang terbaik mulai saat ini." jelas Ardi dengan lembut
"Tapi.."
Ardi mencium ujung kepala Naya dengan lembut lalu melepaskan senyuman yang hangat
"Buang jauh-jauh semua pemikiran kamu saat ini ya, ga ada satupun orang perempuan di dunia ini yang pantas untuk tinggal di rumah ini selain kamu." ucap Ardi dengan lembut
Dengan hati yang terasa tak menentu Naya terpaksa ikut turun dari mobil tersebut, Ardi langsung menggenggam tangan Naya agar membuat Naya tak berkecil hati di tempat itu. Terlihat seorang pria yang sudah cukup berumur menyambut kehadiran sang tuan muda di depan pintu utama rumah tersebut
"Selamat datang tuan muda," ucap Imran selaku kepala pelayan di rumah tersebut
__ADS_1
Ardi menganggukkan sedikit kepalanya
"Beritahu yang lain bahwa dia adalah nyonya di rumah ini, mulai saat ini semua yang dia ucapan yang sama saja dengan ucapan saya." ucap Ardi dengan wajah dinginnya
"Baik tuan muda"
Saat itu Naya hanya bisa terdiam dan menatap wajah tampan sang kekasih dengan lekat
"Astaga!! Apa dia selalu bersikap dingin seperti terhadap semua orang?Apa sih susahnya bibir dia itu tersenyum terhadap orang lain?" batin Naya
Ardi pun mulai menatap ke arah Naya
"Gimana kalau istirahat dulu? Setelah kamu bangun baru kita melakukan yang tadi saya katakan," ucap Ardi dengan lembut
Naya han yg terdiam dengan tatapan mata yang tajam, Ardi pun tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut dan mulai melangkahkan kakinya. Tetapi Naya menahan tubuhnya tetap berada di tempat yang sama hingga Ardi kembali menatap Naya
"Ada apa?" tanya Ardi
Naya hanya menatap tajam ke arah Ardi lalu menatap sang kepala pelayan di tempat itu dengan senyuman ramah
"Terima kasih sudah menyambut kehadiran kami, mohon bantuannya ya pak." ucap Naya dengan sopan
Sang kepala pelayan pun di terkejut bukan main melihat sikap Ardi terhadap Naya, sedangkan Irvan yang berada tak jauh dari mereka hanya bisa tertawa dalam hati melihat ekspresi wajah sang kepala pelayan
"Itu cuma hal kecil pak Imran, kamu bisa kena serangan jantung pak kalau mengalami semua yang saya alami." batin Irvan
"Kamu bisa istirahat di kamar ini dan yang itu kamar saya," ucap Ardi sambil menunjuk ke arah sebuah kamar
Naya hanya menjawab dengan anggukan kepalanya masih dengan ekspresi wajah sedikit bingung
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Apa rumah sebesar ini kekurangan pekerja?" tanya Naya dengan polosnya
"Maksud kamu?"
"Kenapa cuma ada bapak-bapak tadi di rumah sebesar ini?"
Ardi pun tersenyum tipis
"Sebaiknya sekarang kamu istirahat dulu, nanti kita akan membahas semua yang ingin kamu ketahui dari diri saya. Kamu memang harus tau semua tentang saya sebelum kamu menjadi istri saya," ucap Ardi dengan lembut
"Apa kamu benar-benar serius dengan semua ucapan kamu?" tanya Naya sambil menatap Ardi dengan lekat
Ardi pun melepaskan senyuman yang hangat
"Saya tidak pernah main-main dengan semua ucapan saya," jawab Ardi dengan yakin
__ADS_1
Bagaikan ada sebuah hembusan angin yang berdesir di dalam hati Naya pada saat itu, entah mengapa semua keraguan yang ada di dalam hati seperti menghilang begitu saja. Ardi pun mencium kening Naya dengan lembut
"Selamat beristirahat"
Naya pun menganggukkan kepalanya dengan wajah yang merona, sedangkan sang kepala pelayan yang berada tak jauh dari mereka benar-benar tak habis pikir melihat itu semua. Sang kepala pelayan tak menduga dia bisa melihat sang tuan mudah bersikap seperti itu kepada seseorang
"Astaga!! Kenapa aku jadi ketakutan sendiri melihat sikap tuan muda yang seperti ini? Apa ini tanda-tanda kiamat sudah dekat?" batin Imran
Setelah Naya masuk ke dalam kamar tersebut Ardi mulai memerintahkan sang kepala pelayan untuk memanggil Irvan dan menemui dirinya di ruang kerjanya, dia memerintahkan Irvan untuk menyiapkan semua kebutuhan Naya di tempat itu. Irvan pun segera undur diri untuk menyelesaikan tugas tersebut
"Aku harus memikirkan baik-baik cara agar Naya bisa merasa tenang dan nyaman berada di samping aku," gumam Ardi
Ardi sedang memikirkan hal-hal yang akan dia lakukan untuk Naya, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan panggilan telepon tersebut berasal dari mama Renata
"Halo"
"Konferensi pers Anita baru saja selesai, apa kamu sudah lihat?"
"Belum"
"Apa mau mama kirimkan ke kamu?"
"Boleh"
"Ya sudah kalau begitu mama tutup teleponnya ya"
"Mah," ucap Ardi dengan cepat
"Ya, apa ada yang bisa mama bantu lagi?"
"Apa mama bisa membantu aku mengurus pernikahan kami? Aku harus segera menikahi dia karena saat ini dia sedang mengandung anak aku," jelas Ardi
Untuk sesaat tak terdengar suara apapun dari seberang sana
"Kalau mama keberatan ga mas..."
Ucapan Ardi langsung terpotong karena mama Renata langsung membuka suara
"Apa kamu benar-benar mengizinkan mama melakukan hal itu?" tanya mama Renata dengan suara yang terdengar bergetar
"Itupun kalau mama bersedia"
"Mama akan langsung berangkat besok untuk mulai mengurus itu semua"
"Terima kasih"
"Mama yang seharusnya mengucapkan terima kasih sama kamu, terima kasih karena kamu memberikan mama kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara itu." ucap mama Renata dengan tulus
__ADS_1