
Tanpa menunda waktu lagi Ardi segera menuju ke kota di mana sang nenek bertempat tinggal selama ini, dia juga mengabarkan hal tersebut kepada Naya dan meminta maaf karena dia tak bisa hadir di acara pernikahan Laura
Sudah pasti Naya mengerti posisi Ardi saat itu karena Ardi sudah menceritakan semua tentang masa lalunya, walaupun tidak sampai tentang kesalahan sang mama di masa lalu. Naya juga meminta maaf karena dia tidak mungkin meninggalkan acara tersebut untuk menemani sang kekasih
Sesampainya di kota itu Ardi segera menuju ke rumah sakit tempat sang nenek di rawat, dia pun melihat sang nenek hanya berbaring di atas tempat tidur dan ada sang mama yang menjaga di tempat itu
"Bagaimana keadaan nenek?" tanya Ardi
"Seperti yang kamu lihat"
Ardi mulai mendekati sang nenek dan menggenggam tangan sang nenek dengan lembut, secara perlahan sang nenek mulai membuka kedua bola matanya
"Kenapa kamu ada di sini sayang? Apa nenek membuat kamu menjadi repot sayang?" tanya sang nenek dengan suara yang pelan
Ardi pun tersenyum tipis
"Nenek ngomong apa sih? Aku pasti akan datang untuk nenek"
Sang nenek tersebut bahagia mendengar hal tersebut, tak lama kemudian terdengar suara pintu di ketuk dan seorang wanita yang masih cukup muda masuk ke dalam ruangan tersebut
"Kamu sudah datang kak?" tanya wanita tersebut
Ardi hanya terdiam dengan wajah datarnya dan wanita tersebut berprofesi sebagai seorang dokter di rumah sakit tersebut
"Apa kamu masih ingat sama dia sayang?" tanya sang nenek
Ardi hanya terdiam seolah tak perduli dengan wanita tersebut
"Dia Anita, dulu waktu kecil Anita sering main ke rumah kita sayang. Sekarang dia sudah menjadi dokter sesuai cita-cita dia dulu," lanjut sang nenek
Ardi hanya tersenyum tipis untuk meladeni ucapan sang nenek tanpa ada rasa ketertarikan sama sekali dengan percakapan tersebut, sedangkan mama Renata merasa sedikit bingung dengan sikap sang mama. Mama Renata merasa seperti sang mama sedang berusaha untuk mendekatkan Ardi dengan wanita tersebut
Wanita tersebut memeriksa keadaan sang nenek dan segera meninggalkan ruangan tersebut, Ardi pun dengan setia menemani sang nenek yang tampak lemah pada saat itu
Di sisi lain satu persatu tamu undangan mulai memenuhi gedung di mana Farhan dan Laura mengadakan pesta pernikahan mereka, tiba-tiba saja Naya merasa bahwa keadaannya tidak baik-baik saja
"Aku mau ke ruang istirahat sebentar ya tante," bisik Naya kepada tante Airin
"Apa kamu sakit sayang? Kenapa wajah kamu pucat sekali?"
Naya melepaskan sebuah senyuman terbaik yang dia miliki
"Sepertinya kurang istirahat tante"
"Ya sudah kamu ke ruang istirahat aja dulu sayang, biar tante yang urus di sini. Tante ga mau kamu sakit karena kecapean"
Naya pun memilih untuk beristirahat sejenak, tetapi tiba-tiba saja ponselnya berdering dan orang yang menghubungi Naya saat itu adalah Mila
__ADS_1
"Halo"
"Kamu ada di mana Nay? Aku cari-cari kamu tapi ga kelihatan"
"Aku ada di ruang istirahat Mil"
"Apa kamu sakit?" tanya Mila dengan perasaan sedikit cemas
"Aku cuma kecapean aja kok"
"Ya sudah aku ke sana ya"
Mila merasa semakin cemas saat melihat keadaan Naya saat itu karena wajah Naya tampak sangat pucat, sedangkan Nico yang mengikuti sang kekasih menatap Naya dengan lekat
"Astaga!! Aku antar kamu ke rumah sakit ya Nay"
Naya pun tersenyum tipis
"Ya ampun, aku baik-baik aja kok Mil"
"Baik-baik aja gimana? Muka kamu sudah seperti mayat hidup begitu!!" ucap Mila dengan tegas
"Aku ga mungkin tinggalin acara ini Mil"
"Kesehatan kamu jauh lebih penting dari apapun Nay"
"Kamu serius?" tanya Mila dengan wajah tak percaya
Naya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis
"Ya sudah kalau begitu aku keluar dulu ya, soalnya aku belum ketemu sama pengantin hari ini. Nanti aku ke sini lagi"
Mila dan Nico pun mulai meninggalkan ruangan tersebut, saat sudah mengucapkan kata-kata selamat kepada sang pengantin. Mila bertemu dengan rekan-rekan kerjanya dan berbincang sejenak, sedangkan Nico meninggalkan Mila dengan alasan bahwa ponselnya tertinggal di dalam mobil
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk," ucap Naya
Ternyata orang yang datang saat itu adalah Nico
"Kok sendiri? Mila kemana?" tanya Naya
"Mila lagi ketemu teman-teman kantornya, saya sengaja datang ke sini karena ada yang mau saya katakan sama kamu"
"Ada apa?"
"Sebaiknya kamu periksa keadaan kamu"
__ADS_1
Naya pun langsung memasang wajah malasnya
"Saya sudah bilang kalau saya cuma kurang istri belakangan ini"
"Tapi bagaimana kalau ternyata saat ini bukan kelelahan yang menyebabkan keadaan kamu seperti ini?" tanya Nico dengan wajah serius
"Apa maksud kamu?"
"Bagaimana pun juga kamu dan Ardi adalah dua orang dewasa yang sudah pernah melakukan hal itu, jadi saya rasa ga ada salahnya kalau kamu memeriksa keadaan kamu yang sebenarnya. Karena mungkin saja saat ini kamu sedang berbadan dua," jelas Nico
Dalam sekejap ekspresi wajah Naya menunjukkan perasaan bingung dan juga sedih
"Bukannya Ardi bilang kalau mereka sudah saling menyatakan perasaan mereka satu sama lain? Kenapa eskpresi dia seperti itu?" batin Nico
"Apa ada masalah?" tanya Nico
"Saya akan memeriksa keadaan saya, tapi saya minta jangan katakan apapun kepada Ardi." jawab Naya
"Kenapa? Saya rasa Ardi berhak tau walaupun itu baru sebatas kemungkinan yang terjadi," bantah Nico dengan tegas
Naya pun menatap Nico dengan tatapan mata yang terlihat memohon
"Untuk apa kami memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi? Saya akan memastikan hal tersebut terlebih dahulu, kalau sudah pasti saya sendiri yang akan memberitahukan hal tersebut kepada dia." jelas Naya lirih
Saat itu Nico hanya terdiam sambil menatap Naya dengan lekat
"Aku bisa memahami maksud dia, tapi kenapa aku merasa kalau dia seperti dalam keadaan bingung? Apa si gunung es itu sudah mengatakan sesuatu yang bodoh?" batin Nico
"Apa kamu bisa menutup rapat mulut kamu sampai semuanya jelas?" tanya Naya lirih
"Tapi ada syaratnya," jawab Nico dengan tegas
Sontak saja Naya langsung memasang wajah malasnya
"Kalian berdua cocok untuk menjadi teman dekat, kalian berdua selalu mengajukan syarat untuk melakukan sesuatu." ucap Naya dengan nada sedikit sinis
"Bagaimana?" tanya Nico dengan wajah serius
"Syarat apa yang kamu minta dari saya?"
"Kamu harus bilang ke saya, apa yang membebani pikiran kamu pada saat ini?" tanya Nico
"Maksud kamu?" tanya Naya sambil mengerutkan keningnya
"Apa gunung es itu sudah mengatakan sesuatu yang membuat kamu menjadi kepikiran? Bersangkutan tentang kehamilan," jelas Nico dengan wajah seriusnya
Naya membelalakkan kedua bola matanya, dia tidak menyangka seorang Nico yang tampak seperti itu bisa membaca semua perasaan orang lain dengan sangat jelas
__ADS_1