
Mama Renata sedikit canggung terhadap Naya karena mengingat apa yang telah dia lakukan di masa lalu, untung saja ada Sarah yang selalu menjadi penengah di antara mereka semua. Mama Renata berusaha untuk membuat acara pernikahan Ardi dan Naya menjadi sempurna walaupun dalam waktu yang sesingkat itu
Naya sendiri tak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan terasa sempurna seperti yang dia jalani saat itu, karena Ardi mulai menunjukkan segala perhatiannya tanpa ada kata dingin di setiap perbuatan yang dia lakukan terhadap Naya. Naya mulai merajut kebahagiaan di dalam hidupnya tapi di luar sana hal yang berbeda di rasakan oleh Laura
"Kenapa jam segini kamu baru pulang?" tanya Laura dengan wajah yang masam
Farhan menghembuskan nafasnya dengan kasar
"Apa kamu ga merasa bosan selalu mencari ribut setiap hari Ra?" tanya Farhan dengan nada sinis
"Gimana aku ga marah?!! Apa jam tangan kamu mati sampai kamu ga sadar kalau sekarang sudah jam sebelas malam?!!" teriak Laura dengan wajah penuh amarah
Farhan memberikan sebuah senyuman yang terlihat sinis
"Aku terpaksa seperti ini karena aku ga merasa nyaman di rumah ini Ra!! Setiap aku pulang dan melihat kamu hati aku benar-benar sakit Ra!! Kamu juga pasti tau kalau rumah ini adalah rumah yang aku sediakan untuk Naya!!" teriak Farhan
Laura pun mulai menjatuhkan air matanya
"Apa sampai detik ini kamu belum bisa melupakan kak Naya? Apa kamu ga bisa berusaha bersikap lebih baik untuk anak kamu yang ada dalam kandungan aku?" tanya Laura lirih
Farhan pun mulai menatap Laura dengan tajam
"Ga perlu membawa nama anak dalam kandungan kamu itu Ra!! Aku masih bersedia pulang ke rumah ini hanya demi anak itu!!" ucap Farhan dengan tegas
Hati Laura bagaikan teriris-iris mendengar ucapan Farhan pada saat itu, sedangkan Farhan memilih untuk keluar dari dalam kamar tersebut dan beristirahat di kamar yang lain. Keributan demi keributan selalu menghiasi keseharian rumah tangga Laura dan Farhan seolah tak pernah ada kata damai di antara mereka berdua
"Kenapa? Kenapa sekarang aku merasa menyesal telah melakukan banyak hal hanya untuk merebut kamu dari kak Naya?!! Karena semua yang ada di dalam bayangan aku bukan seperti ini," batin Laura
Hari demi hari terus berlalu dan hari penting di dalam hidup Ardi dan Naya pun tiba, Naya hari itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih. Naya yang saat itu sedang menatap dirinya di cermin pun mengembuskan nafasnya dengan kasar untuk menenangkan hatinya yang terasa gelisah
Tiba-tiba saja sebuah tangan menggenggam tangan Naya dan orang tersebut adalah tante Airin
"Tante tau pasti saat ini kamu sedang merasa tegang sayang," ucap tante Airin dengan lembut
Naya pun memaksakan bibirnya untuk tersenyum
"Perasaan seperti itu biasa di rasakan oleh orang yang akan menikah, tapi tante yakin kamu akan baik-baik saja setelah semua ini berlalu sayang. Tante punya firasat kalau kamu akan menemukan kebahagiaan kamu fi samping laki-laki itu," lanjut tante Airin
"Iya, aku yakin dia pasti akan membuat perjalanan hidup aku di hiasi oleh rasa bahagia. Jadi sekarang kamu harus menenangkan hati kamu Naya," batin Naya sambil menganggukkan sedikit kepalanya
__ADS_1
"Terima kasih ya tante"
Tante Airin pun tersenyum dengan tulus
"Tante mungkin bukan orang tua kandung kamu sayang tapi tante benar-benar merasa bahagia melihat kamu akan menikah sayang, sekarang tugas tante untuk menjaga kamu sudah selesai tapi sampai kapanpun kamu jangan ragu untuk mencari tante kalau kamu ada masalah sayang." ucap tante Airin dengan tulus
Naya membalas dengan senyuman tipis
"Maaf, tapi saya rasa Naya tidak akan punya kesempatan untuk melakukan hal itu karena saya yakin anak saya akan melakukan apapun untuk membuat dia bahagia." sela mama Renata
Tante Airin pun langsung memberikan senyuman yang terlihat sedikit canggung
"Maaf jeng, saya tidak bermaksud apapun.."
Mama Renata memberikan senyuman yang terlihat hangat
"Saya juga ga serius kok jeng"
Mama Renata mulai melangkahkan kakinya ke arah Naya dan menatap Naya dengan lekat
"Saya titip anak saya sama kamu ya, saya yakin cuma kamu yang bisa memberikan dia cahaya di dalam hidupnya." ucap mama Renata dengan tulus
"Apa kita akhiri aja acaranya sampai di sini?" bisik Ardi
Saat itu mereka sudah duduk di atas pelaminan
"Kenapa?"
"Aku ga rela mata para lelaki itu melihat kecantikan kamu," bisik Ardi
Naya pun tertawa kecil mendengar hal tersebut, mama Renata yang mengetahui hal tersebut langsung menatap sang anak dengan lekat
"Jangan punya pemikiran yang aneh-aneh Ardiansyah Herlambang, hari pernikahan adalah sesuatu yang sangat berarti bagi seorang perempuan. Apa kamu mau merusak hari bahagia istri kamu cuma karena perasaan cemburu ga jelas kamu itu?"
Mama Renata memang mengatakan hal tersebut dengan suara kecil tapi dengan nada yang tegas, Ardi pun terpaksa membuang jauh-jauh pikiran tersebut karena dia melihat kebahagiaan dari wajah Naya pada saat itu
"Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kamu, terima kasih karena telah hadir di dalam hidup aku." batin Ardi
Seorang Ardiansyah Herlambang benar-benar merubah sikapnya terhadap siapapun sesuai keinginan Naya, Naya selalu menjadikan alasan sang anak di dalam kandungannya sebagai senjata yang sangat ampuh untuk meminta Ardi berubah
__ADS_1
Hari-hari Naya hanya di penuhi oleh perhatian dan kehangatan dari seorang Ardiansyah Herlambang, Naya pun merasa bahwa hanya ada kebahagiaan di setiap waktunya
Pada suatu pagi seperti biasa Naya akan menyiapkan pakaian untuk kerja sang suami di saat sang suami sedang mandi, saat Ardi keluar dari dalam kamar mandi dia langsung memeluk tubuh Naya dari belakang yang saat itu sedang memilih dasi
"Kamu lagi apa?" tanya Ardi dengan lembut
"Menjalankan tugas aku sebagai seorang istri," ucap Naya lalu tersenyum
Ardi mencium ujung kepala Naya dengan lembut
"Apa kamu lupa kalau hari ini jadwal kamu untuk periksa kandungan?"
Naya pun langsung memutar tubuhnya dengan wajah serius
"Apa hari ini?"
Ardi menjawab dengan anggukan kepalanya dan senyuman tipis
"Astaga!! Kenapa aku bisa lupa ya?"
Ardi pun mencium kening Naya dengan lembut
"Kamu boleh kok melupakan apapun karena aku akan selalu ada untuk mengingatkan kamu, satu-satunya hal yang ga boleh kamu lupakan adalah kamu itu cuma milik aku seutuhnya." ucap Ardi dengan lembut
Naya pun langsung memasang wajah malas
"Berarti hari ini kamu ga ke kantor ya?" tanya Naya
Ardi menganggukkan sedikit kepalanya
"Ya sudah kalau begitu aku mau mandi dulu"
Ardi tetap tak melepaskan pelukannya dari tubuh Naya
"Gimana aku mau mandi kalau kamu ga lepasin aku?"
Ardi tak mengeluarkan suara apapun dan hanya menyodorkan pipinya, Naya yang mengerti maksud Ardi pun langsung menghadiahkan sebuah ciuman di pipi sang suami
"Dasar manja," ucap Naya sambil tersenyum
__ADS_1
Ardi pun menghujani ujung kepala Naya dengan ciuman sebelum melepaskan tubuh Naya