
Aezar kasihan melihat penderitaan Kirana yang tiada habisnya. Lelaki itu menyentuh puncak kepala Kirana dan menarik ke dalam dekapan. Aezar berharap dengan perhatian kecil yang dia berikan akan mampu membuat Kirana sedikit lebih tenang.
"Za, bayiku marah padaku, dia marah padaku karena aku tidak menjaganya dengan benar." Kirana menangis di dada bidang Aezar. Kirana menumpahkan segala kesedihan yang dirasakan malam ini.
"Tidak, percayalah padaku itu hanya mimpi. Kamu terlalu memikirkan bayimu, kamu memang tidak salah, dia adalah calon anak pertama, yang pasti kamu sangat menanti kehadirannya dan menyayanginya."
Aezar sadar pernikahan Kirana sudah cukup lama, dan wajar kalau kirana terlihat sangat menyayangi calon anak dan suaminya.
Perlahan Kirana mulai tenang, Kirana menjauhkan diri dari dada bidang Aezar. Kecanggungan kembali terjadi.
Aezar beranjak dari ranjang, dia menyalakan banyak lilin aromaterapi di sekitar ranjang. Aezar berharap kamar Kirana menjadi harum dan menenangkan penghuninya.
"Terimakasih Za," ujar Kirana.
Lelaki itu mengangguk dan tersenyum. "Ya, beristirahatlah. Malam masih panjang."
Aezar menatap pada Kirana yang raut wajahnya masih menyimpan kesedihan yang amat mendalam
Tak lama Kirana kembali berbaring dengan posisi miring, dielus perutnya yang sudah kosong. Kirana terus menangis hingga dadanya terasa sesak dan air matanya kering.
Aezar tidak tahu lagi harus menghibur Kirana dengan cara apa. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi akhirnya Aezar memutuskan untuk duduk di sebuah kursi rias yang agak jauh dari ranjang dan mengamati Kirana hingga wanita itu kembali lelap.
Setelah Kirana tidur, Aezar merapikan selimut dan meninggalkan kamar Kirana, Aezar juga minta Bibi untuk menjaga Kirana, khawatir kalau tengah malam dia bermimpi lagi.
Bibi sengaja tidur di sofa dekat kamar Kirana, supaya bisa mengetahui lebih cepat kalau Kirana mengigau dan berteriak seperti tadi.
Kirana ternyata hanya pura-pura tidur, dia sebenarnya masih memikirkan tentang pernikahannya yang tak bisa diharapkan dan kepergian bayinya yang begitu tragis.
Kirana bertekad untuk menemui Reyhan. Kirana akan mengakhiri kesepakatan dengan Reyhan. Buat apa mempertahankan pernikahan yang tak lagi bahagia ini. Mengakhiri semuanya lebih cepat sepertinya lebih baik.
__ADS_1
Pagi hari Kirana hendak pamit pada Aezar. Tetapi lelaki itu masih tidur, mungkin karena semalam tidurnya terganggu hingga laki-laki itu baru bisa nyenyak di pagi hari.
Kirana memilih menuliskan sepucuk surat dan meninggalkan di atas nakas, di kamar Aezar. Surat itu hanya berisi beberapa kata saja.
'Terima kasih semalam sudah menjagaku, sekarang tidur yang nyenyak mumpung hari libur. Bangun siang dihari libur memang sangat menyenangkan. Aku pergi dulu, ada urusan yang harus aku selesaikan.'
Kirana meninggalkan rumah Aezar dengan surat gugatan cerai di tangannya. Wanita itu mengunjungi villa tempat Reyhan biasa menyendiri setiap kali ada masalah.
Dugaan Kirana tidak salah, mobil Reyhan terparkir di halaman villa yang lumayan luas. Kirana segera mengetuk pintu ternyata pintu villa tidak terkunci.
"Darimana saja kamu semalam tidak pulang? Apakah setelah bayi itu tiada, kamu berencana ingin hamil lagi dengan laki-laki selingkuhan mu itu!" kata pedas dari mulut Reyhan terdengar begitu Kirana melangkah masuk.
"Kamu memang manusia paling munafik di dunia Rey, belajarlah ngaca dengan diri sendiri, supaya tidak selalu menyalahkan orang lain," balas Kirana.
Kirana melempar surat perceraian di tangan ke hadapan Reyhan yang tengah duduk di kursi kecil dan kebetulan di depannya ada meja kecil yang diatasnya hanya terdapat sebuah bunga hias. Di tempat itu Reyhan biasa merenung.
"Rey aku sudah siapkan surat perceraian kita, kamu tinggal tanda tangani surat itu."
"Jadi selama ini kamu hanya pura-pura polos, sebenarnya kamu tidak lebih dari wanita murahan." kemarahan Reyhan memuncak.
"Jika kamu menganggap ku murahan, tidak layak lagi untuk menjadi istri laki-laki suci sepertimu, sebaiknya segera tanda tangani surat cerai itu," tantang Kirana.
Reyhan menggeleng, dia tak percaya dalam semalam Kirana sudah benar-benar berubah. Kirana sudah tak seperti beberapa hari lalu, yang selalu menginginkan dirinya.
"Jawab! Siapa laki-laki yang mengantarkan kamu ke rumah sakit?!" Tanya Reyhan. Lelaki itu berdiri sambil mencengkram kedua bahu Kirana, menatap dua mata indah dengan bulu lentik itu tajam.
Kirana menepis kedua tangan Reyhan di bahunya. Kirana membalas tatapan tajam Reyhan, mereka beradu pandang sangat lama.
"Kamu rupanya sangat penasaran?" Kirana tertawa keras membuat Reyhan semakin meradang.
__ADS_1
"Jawab Kirana? Jangan membuatku marah."
"Aezar! Kekasih baru aku, kita bertemu beberapa hari yang lalu. Dia lelaki yang baik, bisa menerima segala kekurangan yang aku miliki. Apa kamu puas mendengarnya?!"
Kilatan api amarah di mata Reyhan semakin terlihat jelas, sebenarnya Kirana takut melihat Suaminya begitu marah. Reyhan memang tak pernah bosan marah dan memakinya, tapi kali ini kemarahan itu seakan pada puncaknya.
"Rey aku ingin kita segera berpisah. Sudah tak ada lagi yang perlu dipertahankan, aku sudah memiliki Aezar, dan kamu juga sudah buta dengan cinta Clara. Wanita yang kata-katanya selalu kau percaya itu"
Kirana berusaha tenang dan tersenyum. wanita itu kembali berujar, "kamu adalah lelaki buta yang pernah aku temui, tidak pernah bisa membedakan wanita yang tulus mencintaimu.
Reyhan yang dikuasai amarah mendorong tubuh Kirana ke sofa, Reyhan mengungkung tubuh mungil istrinya dan mencekal kedua bahunya.
"Lepas Rey, jauh-jauh dariku, aku tidak sudi kau sentuh."
"Kau jangan lupa Kirana, beberapa hari yang lalu kau meminta aku supaya menjadi suami yang baik untukmu. Dan sekarang kau sendiri yang mengingkarinya. Perceraian juga kamu yang memintanya. Baiklah aku akan kabulkan semua yang kamu inginkan."
Reyhan yang dikuasai amarah merobek surat cerai menjadi robekan kecil-kecil, Kirana tercengang melihat surat cerai yang tidak mudah didapatkan itu lebur di tangan Reyhan.
"Rey, kenapa kau robek suratnya?"
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Rey tersenyum sinis. Reyhan kini mencium Kirana dengan bringas, Kirana mendorong tubuh Reyhan tapi tenaganya terlalu kecil untuk melawan tubuh Reyhan yang berotot
"Rey lepas!"
"Umpphh." Reyhan kembali mencium bibir Kirana dengan kasar hingga bibirnya terasa kebas.
Kirana kembali mendorong Reyhan dengan sekuat tenaga. Setelah tautan bibir mereka terlepas Kirana menampar pipi Reyhan sekuatnya. Pipi Reyhan memerah.
Bukannya marah, Reyhan justru tertawa mengejek.
__ADS_1
"Sayang kenapa kau sekarang berubah sangat galak, kenapa sekarang kamu menolak ku, bukankah kamu yang seharusnya memohon agar aku mencium mu." kata Reyhan sambil memegangi pipinya yang terasa perih.
"Aku muak denganmu, Rey." Kirana mengusap bibirnya yang disana masih menempel liur Reyhan