
"Jadi selama ini kamu masih terus mengharapkan cinta Kirana Rey?"
"Jujur iya, ternyata aku lebih nyaman bersama Kirana."
"Rey! Cukup! Kamu terlalu menyakiti aku." Clara menangis semakin histeris, kali ini dia langsung berdiri dan menarik kemeja Reyhan dengan brutal, Clara lepas kendali hingga menjatuhkan beberapa kancing kemeja Reyhan dan berceceran di lantai.
"Rey, katakan padaku apa kamu masih berharap kembali dengan Kirana?"
"Iya!! Puas! Aku akan terus berharap bisa kembali dengan wanita yang aku sia-siakan selama ini, karena aku sadar cinta dan perhatiannya lebih tulus."
"Plak!!" Clara menampar Reyhan. Reyhan yang merasa pipinya perih langsung mendorong Clara ke sofa. Klara tak percaya Reyhan mendadak menjadi kasar.
Jari telunjuk Reyhan mengarah pada Clara. "Clara kamu mengakui semua, atau aku cari buktinya sendiri? Jika kamu mengakui semuanya mungkin aku akan memaafkanmu. Tapi jika aku mencari bukti sendiri, jangan harap aku masih sama seperti Reyhan yang dulu."
Reyhan berkata tanpa menatap ke arah Clara. Reyhan tidak mau kembali rapuh saat melihat sorot mata lemah dari Clara.
"Rey, pengakuan seperti apa yang kau inginkan? Kamu pasti sudah termakan omongan orang-orang yang tidak pernah suka dengan hubungan kita. Semua memang tak pernah suka sama aku karena aku berasal dari keluarga miskin hiks hiks hiks beda dengan Kirana yang berasal dari keluarga kaya." Clara kembali histeris, sambil menangis dia meremas kepalanya dan pura-pura kesakitan.
Reyhan tidak peduli dengan Clara yang kesakitan, Rey beranjak pergi tapi tangan Clara menahan. "Rey, aku akan jujur."
"Katakan semuanya padaku, dan jangan berbohong lagi."
"Aku melakukannya berdasar cinta Rey, aku, melakukan semua karena ingin bersamamu, tapi jika kamu menganggap yang aku lakukan adalah kesalahan, aku minta maaf."
"Rey tapi aku mohon jangan pergi, aku sakit Rey." Clara memegangi kepalanya dan kemudian jatuh ke lantai.
Reyhan yang berusaha acuh kini membantu Clara tidur di sofa. Clara menatap Reyhan dengan lemah. "Sakit?"
Clara mengangguk. "Jangan pergi Rey, aku butuh kamu disini."
Reyhan tersenyum sinis. "Aku sudah bosan, dengan celoteh kamu yang seperti anak kecil ini"
"Rey, kamu lupa aku yang telah …."
"Menyelamatkan aku?" pangkas Reyhan.
"Jangan terus menekanku dengan alasan pernah menyelamatkan aku, aku akan memberimu imbalan yang pantas," kata Reyhan. Membuat wanita itu seketika tidak meneruskan kata-katanya.
"Rey!!" Clara menggelengkan kepala, kecewa, dan remuk sekaligus bercampur menjadi satu.
"Berapa harga yang pantas? Tulis saja angkanya disini, lima ratus juta atau satu milyar?" Kata Reyhan sambil menyerahkan cek kosong.
__ADS_1
Reyhan lalu pergi meninggalkan Clara sendiri yang menangis histeris. Dia biarkan wanita yang tengah pura-pura sakit itu dengan ambisinya.
"Rey, jangan pergi! Aku mohon Rey!"
Clara berusaha bangkit dan mengejar Reyhan, sedangkan laki-laki itu sudah membuka pintu lift. Clara segera memeluk tubuh Reyhan dari belakang, tapi lelaki itu melepaskan pelukannya dengan kasar membuat Clara semakin marah dan histeris karena gagal menahan Reyhan.
"Rey!"
Reyhan tetap saja pergi, dia tidak menggubris panggilan dari Clara.
Clara nyaris terjepit karena menahan pintu lift. Wanita itu akhirnya menyerah dan membiarkan Reyhan pergi.
"Rey, aku tidak akan diam dengan semua ini, Clara tidak boleh gagal dengan rencananya, kau harus menjadi milikku. Dan Kirana harus membayar semua ini. Kamu jadi seperti ini karena tidak bisa melupakan Kirana.
Tubuh Clara merosot ke lantai dan meremas rambutnya frustasi.
***
Di salah satu bangsal rumah sakit, sepasang kekasih nampak bercengkrama karena keadaan si wanita sudah mulai membaik.
"Aku mau pulang!"
"Yakin sudah sembuh?"
"Baiklah Sayang, nanti aku buatkan resepnya." Aezar meninggalkan Kirana sebentar menuju kasir untuk membayar tagihan rumah sakit.
"Berapa total biaya tagihan untuk nona Kirana."
" Tuan, biaya tagihannya sudah di bayar, baru saja orangnya pergi," kata petugas yang sedang berjaga. Aezar langsung tahu siapa yang telah membayarnya. Siapa lagi kalau bukan Reyhan.
Aezar tahu Reyhan diam-diam sering menjeguk Kirana meski hanya dari luar, memastikan kalau wanita itu baik-baik saja.
Aezar kembali ke bangsal untuk membantu Kirana keluar dari kamar karena dokter sudah melepas selang infusnya. Aezar tidak tahan melihat jalan Kirana yang pelan akhirnya lelaki itu menggendongnya di punggung.
"Mas turunkan, malu dilihat orang."
"Tidak usah malu, kita akan lewat lift."
"Tetap aja malu, kita bukan ABG lagi."
"Malu itu kalau sama orang lain, kita ini calon suami istri."
__ADS_1
"Masih calon Mas, belum suami istri."
"Baiklah, kalau begitu minggu depan aku akan segera menikahimu." ujar Aezar yang terkesan bercanda, tapi sebenarnya dia berkata serius.
"Itu terlalu cepat, Mas," jawab Kirana sambil memegangi pundak Aezar. Tak terasa sambil ngobrol mereka kini sudah sampai di mobil. Seperti biasa, Aezar membantu Kirana memasangkan sabuk pengaman.
Tak sengaja tatapan mereka bertemu. Kirana dan Aezar saling pandang sesaat. Aezar ingin tertawa melihat bintik-bintik di wajah Kirana.
"Kenapa menatapku seperti itu, apa ada yang aneh?"
"Lucu aja," jawab Aezar.
"Mas kamu pasti menertawakan bintik-bintik di wajahku."
"Enggak."
"Bo'ong."
"Enggak, kamu tetap aja cantik."
"Gombal."
"Calon istriku paling cantik nomor satu di dunia."
"Terimakasih pujiannya, Mas. Tapi sayangnya meski disanjung setinggi langit, nggak bakal buat aku terbang ke angkasa.
"Ya nggak bakalan terbang, kan bukan burung, tapi kamu harus tau aku sangat mencintaimu meski kau cantik seperti ini, atau sudah keriput nanti," csnda Aezar sambil mencubit dagu Kirana gemas
Aezar lalu melajukan mobilnya keluar dari pelataran rumah sakit, sedangkan Reyhan yang sejak tadi melihat kemesraan mantan istrinya dan calon suaminya belum ada niatan pergi.
Reyhan bersandar di sandaran kursi sambil merenungi nasibnya yang terlambat menyadari cintanya pada Kirana.
"Ana, Aezar memang sangat baik dan pengertian, Apa yang tidak kau dapatkan dariku dulu, kini telah kau dapatkan dari lelaki itu. Tapi bagaimana denganku Kirana, bisakah aku terus bertahan hidup melihatmu bahagia dengan yang lain." Reyhan menutup kedua matanya dengan lengan kanannya. Saat ini tubuhnya begitu remuk, seperti baru jatuh dari ketinggian dan enggan bangkit. Mengingat Clara yang pernah diperjuangkan ternyata penuh tipu daya dan kepalsuan. Sedangkan ingin kembali pada Kirana, wanita itu terlanjur bersama yang lain.
"Tuan, sekarang kita kemana?" Niko membuyarkan lamunan Reyhan.
"Antarkan aku pulang saja, aku ingin istirahat."
"Baik Tuan." Niko segera melajukan mobil Reyhan menuju basement.
Di apartement. Reyhan segera merebahkan dirinya di sofa. Reyhan meminta Niko untuk menuangkan minuman keras yang ada di lemari kaca ke dalam gelas dan Reyhan meminumnya hingga mabok.
__ADS_1
Niko sebenarnya sudah berulang kali mengingatkan supaya berhenti pada gelas pertama. Tapi Reyhan tak mengindahkan peringatan Niko. Lelaki itu telah menghabiskan satu botol dan sekarang tubuhnya terkapar di sofa. " Ana, maafkan aku Ana." rancau Reyhan sebelum lelap.