
Bab 17.
"Aezar, ini …." Kirana kehabisan kata kata, kaget, bingung bercampur aduk. Kirana tidak percaya Aezar akan mengutarakan keinginannya secepat ini.
Kirana tidak bisa berbohong kalau dia sebenarnya senang Aezar melamarnya. Tapi Kirana benar-benar belum siap untuk menerima cinta yang baru, disaat luka yang lama belum mengering.
Kirana tidak mau menerima Aezar karena sakit hatinya pada Reyhan.
"Aezar, maaf aku tidak bisa menjawabnya sekarang." Kirana menarik tangannya. Dia berjalan menjauh dari Aezar yang masih berjongkok dengan satu kaki.
"Kenapa Kirana? Apakah aku bukan lelaki yang pantas untukmu?" Aezar ingin tahu alasan Kirana menolaknya.
"Bukan itu alasannya, Eza, bukankah aku sudah bilang kalau aku perlu waktu untuk menyembuhkan luka yang ada di dalam sini." Kirana mendekap dadanya.
Aezar sadar kalau dirinya terlalu cepat untuk mengutarakan isi hatinya, seharusnya dia bisa menahan diri dan memberi waktu untuk Kirana berpikir.
Kirana maafkan aku yang tidak pengertian. Seharusnya aku tahu kamu butuh waktu untuk menghapus kenangan masalalu. Aku minta maaf."
"Terimakasih Za, kamu adalah satu-satunya lelaki yang sangat pengertian." Kirana bersandar di dada bidang Aezar.
"Yeah, anggap saja hari ini tidak pernah terjadi, anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa-apa. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Harusnya aku yang minta maaf.
"Zar kamu lelaki baik, kamu lelaki sempurna dan masih lajang. Kamu masih bisa dapatkan yang lebih baik dari aku, Aku merasa bersalah jika kamu terus mencintaiku."
"Berhenti merendahkan dirimu Kirana, jika saat ini kamu belum siap, aku akan terus ada disisimu sebagai teman, hubungan kita akan baik-baik saja, dan tidak akan ada yang berubah." Aezar menahan bahu Kirana ketika wanita itu menjauhkan kepalanya dari dada Aezar.
"Aezar sebenarnya hati kamu ini tercipta dari apa? Kenapa kau baik sekali." Kirana menatap Aezar dengan sendu.
"Kirana kamu menolak cintaku. Tapi sekarang kamu malah merayuku." Aezar dan Kirana tertawa bersama, sebelum mereka melanjutkan dengan makan malam.
Aezar melihat rasa bersalah di mata Kirana, gadis itu mendadak menjadi pendiam meski berusaha untuk baik-baik saja.
Kirana lupakan apa yang aku katakan tadi. Aku akan sabar menunggu sampai kamu siap."
Kirana tersenyum, dia lebih dulu menggenggam jemari Aezar. Setelah semua tak ada lagi yang perlu dibicarakan Aezar pamit pada Kirana untuk pulang.
Tiba di mobil Aezar diam-diam terus melamun, dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Dia terus memikirkan kekurangan yang ada pada dirinya hingga Kirana menolak cintanya.
Setelah makan malam waktu itu, Aezar dan Kirana tidak saling bertemu, mereka sama-sama menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing.
***
Sebulan kemudian, kemampuan kinerja Kirana semakin bagus, banyak prestasi yang dicapai.
__ADS_1
Kirana berhasil menjalin kerja sama yang bagus dengan para klien, hubungannya semakin erat bahkan ada yang seperti saudara.
Kirana dikenal sangat ramah dan supel, dia tidak pernah menciptakan permusuhan terlebih dahulu pada siapapun.
Jeni juga nyaman bekerja dengan Kirana, dia bahkan mengatakan kalau akan betah meski selamanya menjadi Sekretaris Kirana.
"Bu Kirana ada Klien yang mengundang anda ke acara pesta malam nanti." kata Jeni sambil menyodorkan undangan.
"Siapa Jen?"
"Anda bisa lihat sendiri Bu, saya tidak berani membukanya."
"Baiklah, terima kasih, Jen." Kirana mengambil undangan dari Jeni dan membukanya.
Tidak cukup dengan undangan saja, Klien itu juga menelepon Kirana secara langsung. Dia mengatakan kalau ingin sekali Kirana datang. Karena dirinya adalah salah satu tamu spesial.
Kirana merasa tersanjung, ingin datang dalam undangan perjamuan tersebut, Tapi dia bingung datang dengan siapa, Aezar pasti sibuk, dia sudah lama tidak pernah datang lagi.
Kirana tahu dia kelewat kejam dengan lelaki yang tulus mencintainya, Tapi bagaimana lagi. Saat itu dia memang benar-benar belum siap.
Saat sedang melamun, Kirana dikejutkan dengan suara ponsel miliknya yang terus bergetar di atas meja. Kirana mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Aezar." Kirana senang Aezar meneleponnya.
"Hallo."
" Aezar, kau telah berhasil menghukum ku." Kirana mengerucutkan bibirnya saat mendengar suara laki-laki itu, seolah Aezar yang berada jauh di sana bisa melihat rasa kesal yang sedang dia lampiaskan.
Beberapa hari lalu aku ke luar kota, dan kebetulan susah sinyal, tapi sekarang aku sudah kembali." Aezar menjelaskan.
"Kenapa tidak memberitahuku?"Kirana merajuk.
"Maaf aku lupa."
"Lupa!" Kirana semakin kesal pada jawaban Aezar.
"Aku minta maaf."
"Tidak dimaafkan, maaf anda ditolak." Kirana masih ngambek.
"Baiklah bagaimana jika malam ini temani aku datang ke acara pesta, di sebuah Hotel Ibis pukul delapan malam nanti, jadilah teman dansaku malam nanti," pinta Aezar.
Hotel yang sama dan jam yang sama, Kirana yakin kalau mereka sebenarnya sama-sama diundang oleh orang yang sama.
__ADS_1
"Tidak mau, kau sudah buat kesalahan, sekarang kau menyuruhku menemani ke acara dansa," Kirana sok jual mahal.
Sebenarnya dia pura-pura menolak padahal dia sebenarnya beruntung sekali hari ini Aezar menghubunginya.
Kirana yang tadi bingung jadi memiliki teman untuk datang ke pesta.
"Kirana please, aku akan menjemputmu sekarang, kita cari gaun pesta yang cocok untuk acara nanti malam." Aezar menutup panggilannya.
Kirana senyum-senyum sendiri, dia yang sempat membayangkan akan datang sendiri, akhirnya akan datang bersama Aezar.
Sebenarnya sejak Aezar mengajaknya tadi hati kecilnya berteriak girang dan langsung setuju.
***
Kirana dan Aezar tiba di butik, Aezar memanggil pelayan butik dan meminta untuk menunjukkan dress yang terbagus yang ada di butik ini.
Pelayan hotel mengangguk sopan lalu mengajak Kirana dan Aezar melihat-lihat ke tempat kumpulan dress mahal itu dipajang.
"Eza, jangan disini, dress ini mahal banget." Kirana hendak mencari dress yang harganya dibawah dua puluh juta.
Sedangkan dress pilihan Aezar harganya mencapai ratusan juta.
"Kirana, kamu adalah wanita spesial harus memakai baju yang spesial." Aezar membuat Kirana kehabisan kata-kata.
Kirana tidak mau berdebat, dia akhirnya memutuskan untuk mengambil dress yang senada dengan kemeja Aezar.
Kirana mencoba sebentar di ruang ganti. Setelah baju menempel di tubuhnya dengan sempurna Kirana keluar untuk menunjukkan pada Aezar.
Aezar terpana melihat Kirana yang sangat cantik dan semakin anggun. dengan balutan dress maroon yang dipakai.
"Kirana kau kah itu." Aezar takjub melihat bidadari di depannya.
Kirana kesal melihat ekspresi Aezar yang berlebihan. Tapi sepertinya bukan Aezar saja yang takjub melihat kecantikannya.
Pengunjung butik yang melihat Kirana pun ikut terpana. Mereka semua nyaris tak berkedip.
"Beruntung sekali lelaki yang memiliki istri begitu cantik." Komentar dari salah satu pengunjung terdengar hingga telinga Aezar.
"Iya, tubuhnya bagus, kulitnya bersih, jadi memakai baju apapun akan terlihat sangat cantik." Komentar-komentar mulai terdengar ramai dari pengunjung.
Clara dan Reyhan yang baru masuk ikut penasaran, kepada siapa kalimat pujian itu diberikan oleh para pengunjung. Clara dan Reyhan segera masuk. Tanpa sengaja dia melihat Kirana yang sedang beranjak pergi karena hendak ganti baju lagi.
Reyhan melihat Kirana yang begitu cantik, tanpa sadar dia terus menatapnya hingga nyaris tak berkedip.
__ADS_1
Clara kesal melihat Reyhan yang terus menatap Kirana. Di wajah Reyhan terlihat sekali kalau dia juga ikut mengagumi mantan istrinya itu.
"Reyhan!" Clara kesal karena Reyhan mengabaikan dirinya.