Terlambat Menyadari CINTA

Terlambat Menyadari CINTA
Part 30


__ADS_3

terkena semilir angin puncak membuat Kirana mengantuk. Kirana masih betah bersandar di bahu Aezar.


"Kirana, kamu yakin nggak mau pulang?"


"Entahlah, aku mengantuk, udara disini sangat sejuk," jawab Kirana, enggan beranjak. Aezar tersenyum melihat Kirana yang langsung suka dengan tempat favoritnya.


Kirana tak bisa menahan kantuknya, dia sangat senang mendapatkan sandaran bahu gempal Aezar, jika terus di sini mungkin dia bisa benar-benar tertidur.


"Aku lihat kamu lelah, lebih baik kita pulang." Aezar tidak tega melihat wajah lelah Kirana.


"Kirana ... hm dah tidur aja, benar kan dia sangat lelah." Aezar memilih untuk membawa Kirana ke mobil dengan menggendongnya. Aezar dengan hati-hati membenarkan duduk Kirana.


Sebenarnya Kirana sudah tahu kalau Aezar menggendongnya, tapi wanita itu malas untuk membuka mata. kali ini bukan hanya tubuh saja yang lelah, tapi hatinya juga. Ada banyak yang tidak bisa Kirana ungkapkan pada Aezar, termasuk permintaan Reyhan supaya meminta maaf pada Clara.


"Aezar apakah aku sangat payah, kenapa hidupku begitu menderita, apakah cinta membawa penderitaan seperti ini," rancau Kirana yang ingin menumpahkan segalanya pada kawan curhatnya itu Kirana mengeratkan lengannya di tengkuk Aezar. Ketika Aezar membantunya duduk dengan benar di mobil.


Kamu harus istirahat Kirana, jangan buat dirimu lelah, aku yakin kamu bisa melewati dua ini. Aezar membelai rambut berantakan Kirana.


usai menghibur Kirana, Lelaki itu lalu memutari mobil dan pindah duduk di depan kemudi.


Aezar melajukan mobilnya menuju kediaman Kirana. Kirana turun dengan langkah lesu dan Aezar hanya memandanginya saja.


Aezar hendak membantu Kirana membawakan tasnya tapi wanita itu menolak., dan memilih mengalungkan di pundaknya.


"Kirana, lekas istirahat, jangan melamun, jangan begadang, minum vitamin." cuap-cuap Aezar sambil menatap punggung Kirana yang tengah membuka gerbang rumahnya.


Kirana membalas dengan senyuman. Serta anggukan kepala. "Siap Pak Dokter. Sampai ketemu." Kirana melambaikan tangan.


Aezar tersipu malu. Dia membalas lambaian tangan Kirana.


"Tiiiin! Tiiiiiiiiiiin!"

__ADS_1


Seseorang sengaja memencet klakson panjang. Padahal mobil Aezar sudah cukup menepi, dan sedikit saja mobil yang dibelakang itu dibuat sedikit geser ke kanan pasti bisa lewat dengan aman. akan tetapi sepertinya orang yang di belakang itu sedang ada masalah dengan Aezar hingga dia suka sekali mencari gara-gara.


Aezar buru-buru masuk dan melajukan mobilnya, tentu dia sedikit kesal. Setelah dia melihat ke spion sambil melaju, ternyata dia melihat yang di dalamnya adalah Reyhan dan Clara.


"Rey, kamu masih jeuleus ya lihat mantan istri kamu jalan sama pria lain."


"Kamu nggak lihat mobil dia tadi tuh ngehalangin jalan kita, dia parkirnya sembarangan," sungut Reyhan.


"Masa sih aku lihat mobil baik-baik aja tuh, mereka nggak ada yang ngeluh saat lewat di sebelahnya."


Reyhan tentu saja diam. Reyhan juga tak mengerti kenapa dia jadi jengkel begitu.


Reyhan kembali diam, enggan menjawab pertanyaan Clara.


Clara mencoba untuk mengerti, bersabar. Dia harus bisa mengambil hati Rehan untuk menikahinya dalam waktu yang dekat ini. Karena Clara tidak mau Reyhan menggantung hubungannya.


Clara menggamit tangan Reyhan dan menampilkan kepalanya di bahu, sesekali wanita itu memandang wajah tampan kekasihnya yang terlihat dingin.


"Kamu dan Kirana sudah bercerai, Rey. kapan kamu mulai ada rencana menikahik ku, Kamu dengar sendiri bagaimana karyawan tadi bicara buruk tentangku."


"Kamu masih cinta sama Kirana? Terus selama ini perasaan kamu padaku apa Rey?" Clara sepertinya enggan bersabar lagi. Sudah dua kali dia membahas pernikahan tapi jawabannya masih sama. Clara mengusap wajahnya kasar, Sepertinya Reyhan semakin hari semakin dingin saja.


Clara menangis terisak, Drama baru apalagi yang akan dia mainkan? Clara bingung, berbagai drama sudah satu persatu dicoba.


Semua cara sudah dia tempuh, dari pura-pura hamil, sampai mengatakan Kirana telah mencoba menggugurkan kandungannya, tapi lelaki itu masih pada keputusan yang sama, yaitu jawabannya "Beri aku waktu."


"Clara, aku ingin periksakan si kecil ke dokter kandungan, bukankah kamu bilang habis meneguk obat penggugur kandungan yang diberikan oleh Kirana, aku khawatir terjadi apa-apa sama bayi kita nanti."


Clara terhenyak, dia mengangkat kepalanya dari bahu Reyhan. Ekspresi gugup tidak bisa disembunyikan lagi.


"Kenapa?" Reyhan seakan tahu ekspresi terkejut Clara.

__ADS_1


"Kamu gugup kenapa Clara?" Tanya Reyhan lagi


"Tidak Rey, aku senang, malah sangat senang kamu mau temenin aku datang ke dokter kandungan, tapi kita datang ke dokter langganan aku aja ya, selain dekat dengan apartement, aku sudah kenal baik sama orangnya."


"Oke," Reyhan mengangguk mantap, alasan Clara memang masuk akal.


Sepanjang perjalanan Clara mencoba untuk tenang, padahal hatinya sudah kalang kabut. Tanpa sadar dia terus menggigiti bibir bawahnya.


Bagaimana kalau dokter itu tidak bisa di bayar pake uang, bagaimana kalau rahasia kehamilan palsu terbongkar, bagaimana Kalau Reyhan marah dan memutuskan hubungan. Ah, semuanya Clara sampai lupa tidak kepikiran kalau Reyhan tiba-tiba mengajaknya ke klinik.


"Kamu tegang banget. Emangnya periksa kandungan sakit?" tanya Reyhan lugu.


"Enggak sih Rey, cuma aku juga khawatir kalau tahu janin diperut aku kenapa -napa. Aku nggak habis pikir ternyata Kirana itu sadis banget. Kenapa sih dia benci aku. Padahal aku selalu mengalah pada dia. Rey kalau sampai dia kenapa-napa, aku ingin Kirana mendapatkan balasan yang setimpal.


Clara terus merengek dan menjelekkan Kirana tiada henti. Sepertinya Reyhan mulai hafal. Tapi kenapa justru Reyhan terus memikirkan Aezar yang belakangan ini begitu dekat dengan Kirana.


"Aezar?"


"Iya Ana, aku lagi serius mengemudi."


"Ana ...." Clara dikejutkan dengan Reyhan yang menyebut nama Ana. Apakah sejak tadi Reyhan memikirkan Kirana.


"Clara, aku masih mengemudi, tolong kamu diamlah," ujar Reyhan lagi, sadar telah salah.


"Rey! Setelah kamu salah sebut nama mantan istrimu denganku, kamu masih menyuruh aku diam? Dimana hati dan perasaan kamu Rey?"


"Maaf, aku nggak sengaja, aku kepikiran Kirana," kata Reyhan jujur.


"Kamu berubah Rey, aku kecewa sama kamu. seharusnya kamu tidak melakukan hal keji ini padaku."


"Aku minta maaf, seharusnya tak lagi memikirkan dia saat ada kamu disini. Kirana sudah menemani aku selama tujuh tahun. Wajar jika aku sesekali ingat dia. Tapi tenanglah, aku janji akan melupakan dia.

__ADS_1


Clara diam, akan tetapi dia sangat kesal. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya yang hobi bicara itu.


Reyhan berhenti setelah tiba di depan klinik, alangkah lega hati Clara setelah melihat dokternya sedang tidak praktek, setidaknya Clara jadi punya kesempatan untuk mengulur waktu dan membuat rencana baru. Clara tidak mau rencananya pura-pura hamil justru akan menjadi jalan perpisahan dengan Reyhan.


__ADS_2